Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
168. Lain waktu


__ADS_3

"Masa sih? Memangnya kenapa aku musti diawasi? Dan kamu sebenarnya ada di mana?" tanya Diana.


"Tante bisa tanya itu pada Om Sofyan. Aku sekarang berada di depan kasir, Tan. Di belakang Tante. Mungkin kalau Tante melihatku ... hanya punggungku saja yang terlihat."


Diana langsung memutar kepalanya, dan melihat Ihsan dari belakang. "Kamu pakai jaket jeans berwarna biru nevy?"


"Iya. Sepertinya kita nggak jadi mengobrol, aku takut Om Sofyan salah paham dan berpikir yang nggak-nggak."


"Kok begitu, sih? Lalu untuk apa kita janjian?"


"Kita bisa janjian lagi lain waktu, tapi Tante harus bilang dulu pada Om Sofyan ... supaya mereka tak mengawasi kita lagi," pintanya.


"Ah yasudah deh. Aku pulang saja kalau begitu." Diana mencebik bibirnya, lalu membenarkan kepalanya, supaya dua orang yang mengawasi mereka tak curiga.


"Jangan lupa bilang ke Om Sofyan, ya? Dan satu lagi ... Tante cantik memakai dress berwarna merah, terlihat sangat anggun. Terima kasih sudah mau datang, lain kali kita bisa bertemu."


Suara Ihsan terdengar begitu lembut dan seakan merayu Diana. Dan entah mengapa tiba-tiba jantung wanita itu berdebar dengan kencang.


Ihsan memang tak punya harta, tetapi jika untuk membuat wanita terpesona padanya—tentu dia pun bisa.


Dari segi tampang dia tampan blasteran, tubuhnya kekar karena rajin olahraga. Dia yakin—sebentar lagi Diana akan takluk dengan rayuan dan ucapan lembut dari bibirnya.


Terlebih dia sudah tahu kelemahan Diana. Wanita itu memang pencinta uang, tetapi juga senang akan belaian.


Pandangan Diana langsung mengikuti Ihsan yang baru saja lewat sampai keluar dari cafe itu. Ada rasa kecewa pada hatinya, saat tahu dia tak jadi mengobrol lantaran ada dua orang yang mengawasi.


Diana seperti termakan ucapan Ihsan, dia sekarang menghubungi Sofyan untuk membicarakan hal yang pria bule itu katakan.


"Halo, Pi," ucap Diana saat sambungan itu diangkat dari seberang sana.


"Kamu ada di mana? Dan kenapa dari tadi nomornya sibuk? Telepon dengan siapa?" tanya Sofyan.


Belum apa-apa dia sudah mencecar beberapa pertanyaan pada istrinya. Terlebih dia juga mendapatkan informasi dari anak buahnya yang kini berada di tempat yang sama dengan Diana.


Sofyan memang termasuk pria yang posesif, mungkin itu bisa dibilang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Maka tak heran jika Nella juga bersikap seperti itu pada Rizky.

__ADS_1


"Aku ada di cafe, tadi aku teleponan dengan temanku. Oya ... Papi menyuruh orang untuk mengawasiku, ya? Kenapa?"


"Nggak, Papi nggak menyuruh orang."


"Papi bohong, aku tahu kok ... sekarang dua orang itu sedang berada di dekatku." Diana menatap dua pria yang dimaksud itu dengan wajah cemberut.


"Iya, Papi mengaku. Itu semua Papi lakukan supaya kamu nggak berselingkuh," jawab Sofyan jujur.


"Dih, siapa yang selingkuh, sih?" tanya Diana kesal. "Papi nggak percaya padaku, kalau aku wanita yang setia? Aku hanya mencintai Papi seorang!" tegasnya.


"Iya, iya, Papi percaya kok. Lagian ... mereka akan mengawasimu hanya sampai Papi pulang."


"Sama saja! Itu namanya Papi nggak percaya padaku!" gerutu Diana sambil mengepalkan tangan kirinya. Setelah itu dia pun menutup sambungan telepon.


Sofyan menghubunginya lagi, tetapi teleponnya langsung dimatikan


'Nggak Papi, nggak Nella. Mereka berdua lebay dan sama-sama cemburuan,' gerutu Diana dalam hati.


***


Ceklek~


Kedua tangannya membawa dua tentengan yang berisi bubur dan sekilo jeruk.


Pria tampan itu langsung berbinar seraya mengulum senyum. Gegas dia menghampiri istrinya yang masih berbaring.


"Alhamdulillah ... lu sudah sadar. Bagaimana keadaan lu, Sayang?" Rizky membungkuk, lalu mengecupi seluruh wajah Nella. Dari mulai kening, kedua pipi, dagu dan terakhir bibir.


"Perutku sakit, Mas. Kata Mama ... aku hampir keguguran, ya?" Bola mata Nella seketika berkaca-kaca menatap mata Rizky, dia merasa sedih sekali dengan apa yang telah terjadi. Tetapi ada rasa lega sedikit, setidaknya dia tak jadi keguguran.


Rizky menaruh apa yang dibawanya di atas nakas, kemudian dia duduk di samping Nella sembari mengelus rambutnya. "Iya, lain kali ... kalau lu mau makan atau minum sesuatu, lu harus bilang dulu sama gue, ya! Apa lagi kalau itu belum jelas dari siapa," tegur Rizky lembut.


"Iya, Nell. Harusnya kamu tadi pagi telepon Mama dulu, sebelum meminum jamu itu," saran Gita.


Sebelum Rizky datang, Nella sudah menceritakan semuanya pada Gita dan begitu pun sebaliknya. Gita mengatakan jika memang jamu itu bukan dia yang kirim.

__ADS_1


"Terus bagaimana? Apa kamu sudah tahu pelakunya?" tanya Gita.


"Belum, ini sedang diselidiki sama Bi Yeyen dan Hersa, Ma. Mereka sedang mengecek CCTV gerbang rumahku."


"Pasti Mitha pelakunya, Mas," tuduh Nella.


Rizky dan Gita membulatkan matanya.


"Mitha? Kok lu bisa mikir itu perbuatan Mitha?" Rizky mendekatkan kepalanya untuk mengecup pipi kiri istrinya.


"Ya terus siapa lagi kalau bukan dia? Cuma dia 'kan yang nggak suka denganku. Rendangku saja dia buang, Mas."


"Tapi bukannya Mitha sudah minta maaf sama elu, kan? Kemarin juga dia ke rumah lagi untuk menemui elu."


"Iya, dia memang sudah minta maaf. Tapi tetap saja aku nggak percaya dia tulus atau nggak."


Rizky terdiam, tetapi justru dia langsung memikirkan mantan pacar istrinya itu. 'Bisa saja Ihsan pelakunya. Tapi ... bukannya dia sering mengaku-ngaku anak gue adalah anaknya, ya? Ah tapi bisa saja dia yang melakukannya gara-gara sakit hati karena Nella memilih gue.'


"Apa Mas tahu ... kemarin saat dia ke rumah, dia juga menitipkan salad buah untukku. Tapi masa kata Bibi ... salad itu sudah busuk, Mas. Padahal baru sehari lho," tutur Nella kemudian, dia masih membahas tentang Mitha.


"Masa sih, Nell? Berarti buahnya nggak higenis, ya?" sahut Gita.


"Iya, Ma. Untungnya Bibi sudah membuangnya." Nella menatap Gita sebentar, lalu kembali beralih pada Rizky yang sejak tadi terdiam. "Mas mikirin apa? Jangan bilang Mitha?" tuduh Nella sambil merenggut.


Rizky mengangguk, padahal dia sendiri tak mendengar apa-apa yang Nella ucapkan lantaran sejak tadi melamun. "Iya, gue mikirin dia."


"Dih! Kok Mas jahat!" berang Nella sambil memukul paha Rizky. "Aku 'kan sedang sakit, masa mikirin wanita lain, sih?" Sekarang Nella kembali menatap Gita seraya merajuk. "Mama, Mas Rizky tuh. Masa dia mikirin wanita lain, sih."


"Riz!" Gita mencubit kecil lengan Rizky sampai pria tampan itu terperanjat dan seketika menepis semua lamunannya.


"Aaww! Sakit!" Rizky meringis sembari menepis kasar lengan Gita.


"Itu Nella marah, kenapa kamu mikirin si Mitha, sih?" Sekarang giliran Gita yang kesal.


Rizky menggeleng cepat, rupanya Nella salah paham. "Aku nggak mikirin si Mitha, aku cuma mikirin masalah jamu saja." Rizky menoleh pada Nella yang sudah memalingkan wajahnya ke arah berlawanan. "Tapi ... kita nggak boleh asal nuduh dulu. Nanti kalau semuanya terbukti, baru Mitha kita kasih pelajaran."

__ADS_1


"Nanti si Mitha di penjara ya, Mas. Supaya nggak gangguan rumah tangga kita lagi," sahut Nella.


...Jangan lupa like dan komentarnya~...


__ADS_2