
Langkah Rizky saat mengajak Nella menyebrang jalan langsung terhenti lantaran kalimat yang Mbah Yahya lontarkan. Dia pun segera berbalik badan, lalu melirik ke sana kemari mencari keberadaan pria paruh baya itu.
Namun sayangnya dia tak ada di mana-mana, seperti hilang begitu saja.
"Mas cari siapa?" tanya Nella.
"Orang yang di mini market tadi, Nell. Apa lu tadi ikut dengarkan pas dia ngomong?"
"Memang dia ngomong apa, Mas?" Nella tak mengerti, dia sendiri memang tak mendengar apa-apa. Padahal ucapan Mbah Yahya tadi lumayan keras.
"Katanya Ihsan berbahaya, gue suruh hati-hati."
"Kak Ihsan berbahaya kenapa? Dia 'kan bukan penjahat, Mas."
Rizky terdiam beberapa saat, kemudian menggeleng cepat. "Ah sudahlah, nggak perlu bahas Ihsan. Ayok kita temui Papa lagi. Kasihan dia ditinggal."
'Apa mungkin gue salah dengar saja, ya? Tapi bener kok ... tadi seperti suara Mbah Yahya.' Rizky membatin.
"Iya, Mas." Nella mengangguk, lantas mereka pun menyebrang jalan raya dan masuk lagi ke dalam rumah sakit.
*
*
Ceklek~
Nella membuka pintu kamar inap Sofyan, lantas meraka pun berjalan masuk.
Terlihat Sofyan tengah duduk menyandar pada sisi ranjang. Mulutnya tengah mengunyah buat mangga yang dia ambil di atas piring.
Sofyan juga nampak segar seperti habis mandi dan sekarang dia memakai seragam pasien dengan lengkap.
Namun tak ada sosok Gita di dalam sana.
"Papa, bagaimana kondisi Papa sekarang? Kok alat di dada Papa sudah dilepas?" tanya Nella seraya duduk di atas kasur di dekat Sofyan. Sedangkan Rizky duduk di sofa.
"Papa sudah baik-baik saja, Sayang." Sofyan tersenyum lalu mengelus sebentar pipi kiri anaknya. "Kamu kok datang bersama Rizky?"
"Iya, tadi aku ketemu Mas Rizky diluar. Jadi sekalian aku membeli es krim bersamanya." Nella membuka penutup cup es krimnya, lalu perlahan mulai memakan es krim itu dengan sendok bawaannya.
"Kamu seperti anak kecil saja makan es krim." Sofyan terkekeh.
__ADS_1
"Biarin, ini enak dan buat cucu Papa juga." Nella tersenyum lalu menarik tangan Sofyan untuk menyentuh perutnya sendiri. Dia merasa bahagia saat mengetahui kondisi papanya sudah baik-baik saja sekarang.
"Mama Gita ke mana, Pa?" tanya Rizky.
"Tadi dia pamit mau pergi arisan," jawab Sofyan.
"Oh iya, tadi aku bawa jeruk, sepertinya tertinggal didalam mobil, Mas." Nella menoleh pada Rizky.
"Gue ambilin deh." Rizky berdiri.
"Kamu beli jeruk? Papa 'kan nggak suka jeruk, Nell," ujar Sofyan.
Nella menoleh lagi pada Sofyan. Benar juga, Nella sendiri tak ingat kalau Sofyan tidak suka dengan buah jeruk. "Aku nggak beli, itu dari Kak Ihsan, Pa."
Ucapan Nella sontak membuat langkah Rizky yang hendak keluar dari kamar itu terhenti, dia pun berbalik badan dan kembali menutup pintu.
"Lu bertemu dengan Ihsan? Kapan?" tanya Rizky seraya menghampiri istrinya, menatapnya dengan curiga.
"Tadi diluar sebelum Mas datang, tapi dia bilang hanya mau menjenguk Papa kok." Nella menatap takut mata Rizky, tergambar jelas jika pria tampan itu seakan tak suka dengan nama yang disebutkannya tadi.
"Kamu memberitahu pria bengkel itu kalau Papa masuk rumah sakit? Untuk apa, Nell?" Sekarang giliran Sofyan yang seakan marah pada Nella. Segera Nella menggeleng cepat sembari menggerakkan tangannya.
"Aku nggak memberitahu dia, tapi 'kan memang saat Papa pingsan Kak Ihsan ada di sana dan dia juga yang membantuku membawa Papa ke rumah sakit," jelas Nella seraya menoleh pada Sofyan.
"Tadinya dia mau masuk, tapi aku yang melarangnya. Papa juga pasti nggak suka melihat ada Kak Ihsan, jadi lebih baik dia nggak menemui Papa," jelas Nella.
"Kalau sudah tahu nggak suka, terus kenapa lu ngebahas Ihsan? Memangnya itu masih penting buat lu, ya?" tebak Rizky marah, lalu setelah itu dia pun keluar dari kamar inap Sofyan begitu saja.
Nella yang melihatnya ikut keluar juga dari kamar itu, dan terlihat Rizky tengah duduk di kursi panjang di depan. Nella pun langsung duduk di sampingnya dan memeluk tubuh Rizky. Dia yakin jika saat ini Rizky pasti marah lagi padanya.
"Aku nggak ada niat membahas Kak Ihsan, Mas. Aku hanya membahas buah jeruk yang ketinggalan di mobil Mas Rizky karena aku ingin memakannya. Maafkan aku, aku nggak ada maksud menyakiti Mas Rizky." Nella mendongak wajahnya memandangi Rizky yang tengah menatap lurus ke depan.
"Apa lu bisa, mulai sekarang jangan sebut namanya lagi di depan gue, Nell?" tanya Rizky pelan.
Nella mengangguk semangat. "Iya, aku janji, Mas."
Nella mengangkat jari kelingkingnya ke atas, tetapi Rizky tak menanggapinya sama sekali. "Aku mencintai Mas Rizky, sangat sangat cinta. Di hatiku cuma ada Mas Rizky, nggak ada yang lain," ungkapnya dengan sedih.
"Kalau lu benar-benar cinta sama gue ... terus kenapa lu malah nanya gue pelet lu apa, nggak?" Rizky menunduk hingga wajah mereka bertemu. "Apa lu sendiri nggak yakin kalau lu tulus mencintai gue, Nell?"
Nella menatap dalam mata Rizky. Terpancar banyak sekali ketulusan di dalam sana dan kini membuat hatinya sakit, sakit jika dirinya sudah meragukan cintanya sendiri untuk Rizky.
__ADS_1
"Aku ...."
"Gue mau jujur sama lu," sela Rizky lirih sembari mengusap pelan wajah.
"Jujur apa, Mas?"
"Jujur kalau dulu gue pernah diajak Mama pergi ke dukun." Lebih baik Rizky jujur saja, toh semua itu memang benar.
Nella membulatkan matanya. "Dukun?"
Rizky mengangguk. "Iya, dan dia adalah orang yang kita temui di mini market tadi."
Nella terdiam dan mengingat wajah seram Mbah Yahya.
"Gue nggak tahu dia dukun apa, tapi Mama Gita memang pernah punya niat pelet lu supaya tergila-gila sama gue lewat dia," imbuh Rizky.
Degh!
Jantung Nella langsung berdetak begitu cepat.
"Tapi itu nggak sampai terjadi," sambung Rizky seraya menggelengkan kepala. "Gue yang paksa Mama untuk pulang dan akhirnya rencana itu gagal."
"Itu kapan, Mas? Apa sebelum aku hamil?"
"Iya, mungkin Mama kira ... dengan begitu lu dan gue nggak akan bercerai. Tapi buktinya dengan kehadiran dia ...." Rizky menyentuh perut Nella seraya mengelusnya. "Kita nggak jadi bercerai. Memang gue bukan pria baik, tapi gue mau mendapatkan cinta dengan cara yang baik, Nell."
Ucapan Rizky seketika membuat hati Nella terasa hangat, dia pun segera menangkup kedua pipi Rizky, lalu mengecup sekilas bibirnya.
"Maafkan aku ya, Mas. Maaf karena telah meragukan cintaku sendiri untuk Mas Rizky. Tapi sekarang itu nggak akan terjadi lagi." Nella mengulum senyum.
Rizky mengangguk. "Yasudah, kalau gitu gue ambil jeruk dulu di mobil gue, ya?"
Rizky hendak melepaskan pelukan istrinya, tetapi Nella makin mempererat pelukannya sambil menggeleng cepat.
"Nggak usah, biarkan saja."
"Bukannya tadi lu bilang mau memakan jeruk dari dia, ya?"
Nella menggeleng lagi. "Sekarang nggak, Mas."
"Bener?"
__ADS_1
"Bener, sekarang aku malah maunya pisang, Mas. Tapi pisang yang disini." Tangan Nella perlahan-lahan meraba inti tubuh Rizky yang menonjol.