Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
194. Adiknya Rizky


__ADS_3

Rizky mengecap dan membelai inti tubuh istrinya dengan lidahnya. Tentu sensasi itu membuat Nella meremang tak karuan. Kedua tangannya dengan refleks meremmas-remmas rambut kepala suaminya.


'Ini sangat enak.' Nella membatin.


Setelah puas bermain di bawah sana, Rizky pun naik ke atas tubuh Nella sembari melakukan penyatuan.


*


*


*


Keesokan harinya.


Setelah mandi bersama Rizky, Nella keluar lebih dulu sebab suaminya itu hendak membuang hajat.


Lantas, Nella membuka lemari besar lalu mengambil pakaian yang di bawa Rizky dari rumahnya untuk mereka tinggal sementara waktu di rumah Guntur.


Namun saat dipakai, dress yang dikenakannya terasa begitu sempit, ditambah bra miliknya juga tak muat untuk menutupi seluruh bongkahan buah dadanya.


Sepertinya, bukan hanya perut Nella saja yang tambah besar, tetapi buah dadanya juga.


Nella pada akhirnya melepaskan semuanya yang semula dia pakai, lantas duduk di tepi kasur dengan wajah frustasi.


Ceklek~


Rizky keluar dari kamar mandi dengan memakai lilitan handuk di atas pinggang, lantas menghampiri istrinya yang hanya memakai cd berwarna merah tengah duduk di tepi kasur.


"Kok nggak langsung pakai baju, Sayang? Apa mau bercinta lagi?" Rizky mengelus puncak rambut istrinya sambil mengecup keningnya singkat.


Nella menggeleng cepat, lalu melilitkan kembali handuk di atas dada yang sempat dia lepaskan. "Bajuku nggak ada yang muat, Mas. Semuanya sempit. Apa aku gendutan, ya?" Nella mendongakkan wajahnya dengan sedih ke arah Rizky.


Rizky tersenyum hangat. "Bukan gendut, tapi dia yang tambah besar." Perlahan tangan Rizky meraba perut istrinya yang sudah membuncit itu.


"Terus bagaimana dong? Masa aku nggak pakai baju, Mas? BHku juga sama sempitnya." Nella menatap nanar kacamata kain yang berada di sampingnya.


"Pantes tambah enak, ternyata tambah gede juga." Sekarang tangan Rizky menjalar pada salah satu gunung kembar istrinya, meremmasnya dengan lembut.


Nella menepis tangan Rizky yang begitu nakal meraba-raba tubuhnya. "Ih, Mas. Aku 'kan lagi galau ini mau pakai apa. Tapi Mas malah mesum!" omel Nella kesal. Tetapi Rizky justru terkekeh.


"Begitu saja galau. Tenang saja ... Mama Gita pasti punya sesuatu yang lu butuhkan. Tunggu di sini sebentar ... gue akan mengambilnya."

__ADS_1


Rizky berjalan keluar dari kamar itu, dan selang beberapa menit saja—dia kembali dengan membawa beberapa dress dan pakaian dalam dengan ukuran yang lebih besar dari punya Nella sebelumnya.


"Kalau ini pasti muat, coba dipakai." Rizky menaruh apa yang dia bawa di atas pangkuan istrinya, lantas dia membuka lemari untuk mengambil pakaiannya sendiri.


"Ini baru 'kan, Mas? Apa sudah dicuci?" Mau langsung memakainya, tetapi rasanya Nella ragu.


"Itu bisa langsung dipakai, Sayang."


Nella mengangguk, kemudian berdiri dan memakai pakaian yang Rizky bawa tadi. Ternyata benar, dress mau pun bra-nya, semuanya muat untuk Nella.


"Mama hebat ya, Mas. Seperti toko, semuanya ada." Nella tersenyum sambil berlenggak lenggok di depan cermin meja rias, memandangi dress cantik dengan model ibu hamil berwarna fanta.


"Iyalah, Mama Gita dilawan. Ayok, sekarang kita turun ke bawah ... sarapan." Rizky merangkul bahu istrinya sembari mengecup pipi kirinya, lantas mereka pun keluar dari kamar hingga menuruni anak tangga.


Baru saja mereka sampai di ruang makan, secara tiba-tiba ada seorang gadis berambut pendek sebahu yang datang menghamburkan pelukan pada Rizky.


"Kakak! Aku rindu sama Kakak!" serunya dengan sumringah.


Nella yang melihat akan hal itu langsung terhenyak. Merasa tak terima, lantas dia pun menarik kasar lengan gadis itu hingga terlepas dari Rizky. Kemudian, langsung saja Nella memeluk tubuh suaminya.


"Siapa kamu! Jangan peluk-peluk suamiku!" seru Nella sambil melotot dan menodongkan jari telunjuknya di depan gadis cantik di depannya.


"Hahaha ...." Suara tawa Rizky pecah, apalagi saat melihat gadis di depannya mengerucutkan bibirnya.


"Risma?" Nella mengerutkan keningnya. Lalu mendongakkan wajahnya ke arah Rizky dan terlihat pria tampan itu mengangguk.


Semalam dia sudah tahu nama itu, tetapi Nella sendiri tak percaya jika Risma benar-benar adiknya Rizky.


"Kita baru bertemu, masa Kakak Ipar sudah jutek sekali pada ku," keluh Risma sedih.


Nella menatap gadis itu dari ujung kaki ke ujung kepala. Wajahnya terlihat cantik mirip dengan Gita. Dan dilihat dari usianya—dia masih sangat muda. Mungkin berumur 19 tahun.


Lantas, Nella yang merasa tak enak pada Gita segera mengulurkan tangannya, mengajak gadis itu berkenalan dengan benar.


"Aku Nella. Maafkan aku ... harusnya kamu nggak boleh langsung peluk-peluk Mas Rizky begitu, akunya kaget."


'Bilang saja lu cemburu, memang lu itu sangat mencintai gue ya, Nell. Manis banget,' batin Rizky.


Risma mengangguk dan mengulum senyum. Lantas dia pun menjabat tangan Nella dengan senang hati. "Aku Risma, adiknya Kak Rizky. Maafkan aku kalau mengagetkan Kakak."


"Panggil Mbak saja," sahut Nella seraya melepaskan tangannya dari Risma.

__ADS_1


Risma mengangguk.


"Yasudah, ayok kita sarapan bersama," ajak Gita seraya duduk kembali ke tempat semula, di samping Guntur yang sejak tadi menonton drama kecil antara adik ipar dan kakak ipar.


Rizky menarik kursi untuk Nella duduk, lalu dia pun duduk di sampingnya. Sedangkan Risma, dia berada di samping Rizky, tetapi masih berdiri.


"Kak Rizky mau aku ambilkan nasi gorengnya?" tawar Risma seraya mengambil piring yang ada di depan Rizky, namun dengan cepat piring itu direbut oleh kakak iparnya.


"Biar aku saja, aku istrinya!" tegasnya.


Gita dan Guntur langsung saling memandang melihat tingkah Nella, agak terkejut dan merasa aneh. Sedangkan Rizky justru terkekeh. Dia merasa senang melihat Nella yang seakan takut kalah saing. Padahal Risma hanya adik kandungnya dan sudah lama mereka baru bertemu.


Nella segera mengambilkan satu centong nasi goreng di atas piring Rizky, lalu menoleh pada suaminya. "Mau pakai telor apa ayam, Mas?" tanyanya lembut.


"Telor, Sayang."


Nella mengangguk. Setelah mengambilkan untuk Rizky, dia juga mengambil untuk dirinya sendiri.


Kemudian, Risma juga mengambil untuk dirinya sendiri. Dan mereka semua sarapan bersama.


"Kamu pulang kapan, Ris? Kok pagi-pagi sudah ada di rumah?" tanya Rizky seraya menoleh pada Risma.


'Sama Risma kok manggilnya kamu, giliran sama aku elu. Nggak adil banget.' Nella ikut menoleh ke arah Risma dengan wajah cemberut.


"Semalam, Kak," jawab Risma.


"Terus pulang ke Indonesia mau apa? Memang libur kuliahmu?" tanya Rizky.


Risma menggelengkan kepalanya. "Aku mau pindah kuliah di Jakarta, Kak."


"Kenapa? Bukannya dari kemarin-kemarin kamu seneng banget kuliah di Korea, ya?" tanya Rizky lagi.


"Kemarin iya, tapi sekarang nggak." Risma menggeleng cepat.


"Mama yang suruh dia pulang, karena dia diganggu teman cowoknya, Riz," sahut Gita.


"Diganggu bagaimana?" Rizky penasaran.


"Dia ngejar-ngejar terus si Risma. Mungkin karena suka, tapi Rismanya risih."


"Oh." Rizky terkekeh lalu mencubit hidung Risma dengan gemas. "Nggak nyangka ... ternyata adik Kakak sudah besar. Sudah ada yang suka."

__ADS_1


Perlakuan Rizky sontak membuat Nella membulatkan matanya. Memang perlakuan Rizky masih dibilang wajar dilakukan antara kakak ke adiknya, tetapi Nella sendiri seolah tak menyukainya.


'Kenapa pakai cubit-cubit segala? Hidungku saja nggak pernah Mas cubit,' gerutu Nella dalam hati.


__ADS_2