
Nella menggeleng cepat, lalu menoleh pada Rizky ketika suaminya itu menatapnya dengan binggung. "Kenapa harus Mas Rizky? Kenapa tidak minta sama Papa saja? Lagian ... besok aku dan Mas Rizky mau pergi ke dokter kandungan. Iya kan, Mas?"
'Kok gue mikir Nella seperti nggak suka sama Risma, ya? Apa hanya perasaan gue saja?' Rizky membatin sembari menatap Nella, terlihat wanita cantik itu kini tersenyum padanya.
"Aku mau dibeliin Kak Rizky sebagai kado ulang tahun. Bulan kemarin aku ulang tahun dan Kak Rizky belum memberikan aku kado," ujarnya dengan suara merengek.
"Nanti Kakak belikan besok," jawab Rizky.
"Nggak boleh!" tegas Nella dengan gelengan kepala.
"Kenapa?" tanya Rizky.
"Ada apa nih? Kok seperti ada keributan?" Gita yang baru saja datang segera mendekati mereka di ruang makan, lalu mengusap perut menantunya.
"Mbak Nella tuh, Ma. Masa dia nggak bolehin Kak Rizky untuk membelikan mobil untukku. Padahal itu 'kan kado." Risma mengadu dengan memasang wajah sedih.
'Menyebalkan sekali dia, kado kadoan segala ... seperti anak kecil saja!' Nella mendengus kesal. 'Mas Rizky saja belum pernah membelikanku kado. Nggak adil banget.'
"Kenapa nggak boleh, Nell?" tanya Gita dengan lembut. Dilihat wajah Nella kini cemberut. "Risma 'kan adiknya Rizky. Mobil paling berapa."
"Yasudah deh, terserah," jawabnya malas, lalu melahap satu sendok makan nasi dan juga lauknya dengan penuh kekesalan.
Sebetulnya bukan karena harga mobil, hanya saja Nella tak pernah suka melihat suaminya jauh lebih perhatian pada orang lain. Yang dia mau hanya untuk dirinya seorang.
"Hore!" Risma bersorak dengan penuh kebahagiaan. "Besok pagi-pagi kita langsung pergi ke sana ya, Kak. Aku mau minta Kakak pilihkan juga ... mobil mana yang paling bagus dan cocok denganku." Wajahnya tampak berseri memandangi Rizky.
Rizky menoleh pada Nella sebentar, mendadak perasaannya tak enak dengan sikap istrinya itu. Namun disisi lain dia juga tak tega menolak permintaan adiknya. Hanya sebuah mobil, masa dia tak mau membelikannya.
'Kenapa Nella nggak memperbolehkan gue beli mobil? Kan hanya mobil.' Rizky membatin.
"Eemm ... bagaimana kalau Kakak saja yang beli, kamu nggak usah ikut. Nanti mobilnya langsung diantar sampai ke rumah." Rizky memberikan penawaran, jika diingat tadi Nella seolah meminta untuk pergi ke dokter kandungan.
Risma menggelengkan kepalanya. "Nggak mau, aku mau pergi membelinya sama Kakak. Kakak 'kan jarang ada waktu denganku."
Rizky masih berada dititik kebingungan. Wajah Nella makin masam saja.
"Hanya sebentar kok, nggak akan seharian ini. Mau ya, Kak," rengek Risma dengan suara manja.
Rizky hanya menjawabnya dengan anggukan samar.
***
__ADS_1
Keesokan harinya.
Rizky yang sudah rapih dan wangi berjalan mendekati Nella. Wanita cantik itu tengah duduk di bangku meja rias sembari menyisir rambut panjangnya. Wajahnya juga terlihat begitu cantik memakai full make up.
"Sayang, kamu wangi dan cantik sekali. Padahal kita hanya mau periksa ke dokter kandungan, kan?" Rizky mendekap tubuh Nella dari belakang, lalu mencium rambut kepala istrinya yang beraroma mawar.
"Mas bukannya nggak jadi mengantarku, ya?' jawabnya malas.
"Dih, kata siapa?" Rizky menyentuh dagu istrinya seraya menatapnya dari pantulan cermin. Dilihat wajah istrinya begitu cemberut. "Jadi kok, kita pergi hari ini. Sehabis sarapan."
"Kemarin bukannya Mas bilang mau beliin Risma mobil hari ini, kan?"
Rizky mengangguk. "Iya, tapi kita bisa periksa kandungan dulu. Habis itu baru aku menemani Risma membeli mobil."
"Risma ikut juga berarti? Kalau dia ikut aku nggak mau." Nella menggelengkan kepalanya.
Rizky menghela nafasnya dengan berat, lalu memutar tubuh istrinya supaya menghadap ke arahnya. Perlahan tangan menangkup kedua pipi yang sudah merona itu, lalu membungkuk sedikit untuk mengecup bibir merahnya.
Cup~
"Boleh aku tanya sesuatu?" Rizky tersenyum dan berkata selembut mungkin.
Nella mendongakkan wajahnya sambil mengangguk.
Sebenarnya Rizky tak mau bertanya seperti itu pada istrinya. Tetapi sikapnya dari kemarin saat sedang makan siang hingga malam—sudah sangat membuktikan kalau Nella seperti tak menyukai adik iparnya.
Nella menggeleng cepat. "Nggak kok, biasa saja," elaknya.
'Apa aku kelihatan banget kalau nggak suka sama Risma, ya?' batin Nella.
"Bener?" Rizky memastikan sekali lagi.
"Iya."
"Terus kenapa tadi bilang kalau Risma ikut kamu nggak mau periksa ke dokter? Alasannya apa?"
"Aku maunya berdua, yang bikin dia 'kan kita berdua, Mas." Nella beralasan sembari menyentuh perut buncitnya.
Rizky terkekeh. "Iya, sih. Tadinya biar sekalian, habis periksa kita langsung cari mobil untuk Risma."
"Kalau hari ini Mas mau pergi dengan Risma, pergi saja. Aku mau minta diantar Papa atau Opa saja."
__ADS_1
Rizky menggeleng cepat. "Dih jangan, nanti dikiranya aku nggak mau antar kamu lagi, Nell."
"Yasudah, pilih saja. Mas hari ini mau antar aku periksa atau mengantar Risma membeli mobil? Simple, kan?" Nella bangkit dari duduknya, lalu berjalan keluar dari kamar. Rizky pun mengikutinya dari belakang sambil memikirkan mana yang harus dia pilih.
'Padahal ... berangkat bertiga jauh lebih enak dan menghemat waktu. Gue juga ada meeting di kantor. Dan kalau misalkan gue pilih pergi dengan Risma, Nella pasti ngambek. Ah, bagaimana ini?'
*
*
"Pagi, Ma, Pa," sapa Nella pada Guntur dan Gita yang tengah sarapan di ruang makan, ada Risma juga di sebelah Guntur. Lantas Nella pun menarik kursi untuk duduk di depan mereka.
"Pagi, Nell," jawab Gita dan Guntur berbarengan.
"Pagi, Mbak," ujar Risma yang mana dijawab dengan anggukan kepala saja oleh Nella.
Rizky duduk di samping istrinya, lalu melahap dua lembar roti yang sudah Nella olesi selai strawberry.
"Kakak jadi 'kan kita ke dealernya? Sekarang ya, Kak. Aku nggak mau nanti-nanti." Risma menagih permintaannya yang kemarin.
"Eemm ...."
Nella pun langsung menoleh pada Rizky, penasaran dengan pilihan suaminya.
'Apa Mas Rizky akan memilih pergi dengan Risma, daripada mengantarku periksa kandungan?'
Belum apa-apa Nella sudah sedih duluan, dia juga merasa tak rela jika itu semua terjadi.
"Iya, jadi. Tapi Kakak antar Mbak Nella ke dokter kandungan dulu, ya?" Mungkin jawaban itu akan aman. Tetapi Rizky mengorbankan waktu meetingnya yang diundur.
Senyuman Nella langsung mengembang. Jawaban itu benar-benar sesuai keinginannya. Yaitu memilih dirinya lebih dulu, baru Risma.
"Oh yasudah, itu lebih baik." Risma mengangguk seraya tersenyum.
*
*
Seusai sarapan, Nella dan Rizky masuk ke dalam mobil yang baru saja dibukakan pintunya oleh Ali.
Saat keduanya sudah duduk ke kursi belakang, tiba-tiba Risma juga ikut masuk. Tetapi dia duduk di kursi depan di samping Ali.
__ADS_1
"Mau ngapain kamu, Ris?" tanya Nella dengan kening yang berkerut. Dia tak mengerti mengapa gadis itu malah ikut masuk ke dalam mobil.