Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
35. Mengintip


__ADS_3

"Itu karena Rizky mencintai Nella sejak dulu, Pah," jawab Sofyan.


Nella dan Rizky terbelalak. Apa yang dikatakan Sofyan? Jelas sekali dirinya berbohong.


"Omong kosong! Papah itu menjodohkan aku, Opa!" Nella menoleh kearah Angga. "Dan Pak Rizky dan aku nggak saling mencintai," tambahnya lagi.


"Kata siapa gue nggak cinta, gue cinta sama lu, Nella." Sekarang giliran Rizky yang berbicara.


Nella melihat kearahnya, ia geleng-geleng kepala atas hal yang dikatakan Rizky.


"Apa apaan kalian ini? Pertama Papah yang berbohong, kedua Bapak! Kalian ini maunya apa, sih?" geram Nella seraya mengepalkan kedua tangannya di atas paha.


"Apa kamu berbohong pada Papah Sofyan?" tanya Angga merasa tak percaya.


"Aku jujur, Pah. Rizky suka sama Nella sejak dulu, dan dia sendiri datang melamar Nella bersama orang tuanya, meminta aku untuk bersedia menikahkan Nella," jelas Sofyan.


Apa-apaan ini? Papah dan Pak Rizky makin menyebalkan, aku menyesal pulang kalau begini ceritanya' batin Nella.


Angga menoleh kearah Nella dan menggeserkan dagu cucunya untuk bisa saling memandang. "Apa Papahmu jujur?" jelas sekali Angga seperti tak percaya dengan ucapan Sofyan, ia lebih percaya dengan cucunya.


"Papah bohong, yang sebenarnya dia menjodohkan aku karena lamaran pacarku dia tolak, Opa!"


"Lamaran pacar?" alis mata Angga bertautan. "Kamu punya pacar? Kok Opa nggak tau?"


"Nah itu dia," serang Sofyan berlanjut, nampaknya ia tak ingin dikalahkan oleh Nella. "Nella dan pacarnya itu pacaran diam-diam, Papah tau 'kan anak zaman sekarang seperti apa? Aku takut Nella hamil diluar nikah, jadi aku cepat-cepat menikahkannya," terang Sofyan kembali berbohong.


Angga langsung kembali melihat kearah Sofyan. "Lalu kenapa nggak kamu nikahkan saja Nella dengan pacarnya? Kenapa harus dengan Rizky?"


"Karena pacarnya nggak punya masa depan, dia hidup menumpang, nggak punya orang tua dan pekerjaan tetap. Bagaimana bisa aku menikahkan Nela dengan pria nggak jelas seperti itu?"


Kesabaran Nella sudah habis, rasanya begitu emosi. Segera ia berdiri.

__ADS_1


"Kak Ihsan punya masa depan! Dia punya tempat tinggal dan pekerjaan! Aku rela hidup miskin dan serba kekurangan dari pada hidup kaya tapi bukan dengan orang yang aku cintai!" tegas Nella. Setelah itu, ia berlari naik tangga. Masuk kembali ke kamar dan mengunci pintu. Tubuhnya langsung ia banting ke atas kasur dan menutupi wajahnya dengan bantal. "Aku yakin Kak Ihsan akan menjadi orang yang sukses. Iya ... perjuangannya nggak akan sia-sia. Aku akan membuktikan sama Papah, kalau Kak Ihsan bisa merebutku dari si Mesum itu!"


"Papah ini heran sama pola pikir kamu Sofyan, kamu kemarin menikah tanpa sepengetahuan Papah. Dan sekarang kamu menikahkan Nella, tanpa sepengetahuan Papah juga. Sebenarnya ... kamu ini masih anggap kita orang tua bukan, sih?" tanya Angga dengan wajah kecewa.


"Papah ini biacara apa? Jelas Papah dan Mamah adalah orang tuaku. Ya ... aku mengaku kalau aku salah karena nggak memberitahu Papah dan Mamah lebih dulu. Maafkan aku. Tapi semuanya sudah terjadi dan sudah baik-baik saja, Papah nggak perlu memikirkannya." Sofyan tersenyum hangat menatap tatapan sinis dari Angga.


"Baik-baik saja bagaimana? Jelas Nella terlihat nggak bahagia. Dia seperti tertekan dengan pernikahannya," celoteh Angga.


"Ini baru awal pernikahan, Pah. Nella bersikap seperti itu karena belum kenal Rizky lebih dekat. Kalau sudah dekat ...." Sofyan menoleh kearah Rizky sambil mengusap bahunya singkat. "Dia pasti suka sama Rizky, siapa sih wanita yang nggak suka padanya? Tampan dan mapan, dia begitu sempurna." Lagi dan lagi Sofyan memuji Rizky, hingga membuat pria tampan itu tersenyum malu-malu dengan pipi yang bersemu merah.


"Apa kamu yakin dengan ucapanmu Sofyan?"


"Iya lah yakin, Pah. Insting seorang ayah nggak pernah salah. Aku melakukan hal ini demi kebahagiaan Nella, aku sayang padanya. Memangnya Papah mau ... jika cucu perempuan Papah satu-satunya menikah dengan pria yang nggak jelas asal usulnya?" wajah Sofyan terlihat begitu meyakinkan, ia terus menerus mengambil hati Angga.


"Memang Rizky asal usulnya jelas?"


"Jelas dong, Pah. Dia anaknya Pak Guntur, rekan kerjaku. Rizky ini juga temannya Reymond suaminya Indah. Dan Indah adalah temannya Nella. Cocok, kan?"


"Kamu menginap di sini saja, Riz," ucap Sofyan pada Rizky yang sedari tadi diam saja, menepuk pelan salah satu paha menantunya.


"Kata Papah aku dan Nella tidur di rumah Papah?"


"Untuk semalam saja, Nella kalau sudah masuk kamar susah untuk keluar. Nanti pakaian ganti untukmu Papah kirim."


"Iya, Pah." Rizky mengangguk. Setelah itu, Sofyan berpamitan dengan Angga dan Sindi. Kemudian berlalu pergi dari rumah itu.


Sepeninggal Sofyan, Rizky merasa begitu canggung dengan nenek dan kakeknya Nella. Ia juga binggung harus melakukan apa.


Melihat Rizky duduk seperti tidak nyaman dan hari juga makin malam, Sindi bangun lantas berkata, "Ayok, Oma antar ke kamar Nella. Kamu pasti capek mau istirahat, kan?"


"Iya, Oma." Rizky mengangguk dan mengangkat bokongnya.

__ADS_1


Sindi dan Rizky menaiki anak tangga, namun disisi lain ada Angga yang terus memperhatikan Rizky dari jauh.


Apa dia benar-benar cinta sama cucuku? Dan apa dia benar-benar pria yang baik untuk Nella? Sepertinya aku harus cari tau tentang dia' batin Angga.


Sindi menurunkan handle pintu kamar itu, namun sepertinya terkunci dari dalam. Segera ia mengetuk pintu.


Tok ... tok ... tok.


"Nella, buka sayang."


Tok ... tok ... tok.


"Nella, ini Oma!" Sindi bicara agak keras, sebab tidak ada jawaban dan tanda-tanda Nella membuka pintu.


Hampir dua menit mereka berada diluar dan Sindi masih mengetuk pintu, namun Nella tak kunjung membukanya.


"Apa Oma punya kunci serep kamar ini?" tanya Rizky seraya menunjuk pintu.


"Oh ada, sebentar Oma tanya sama Bibi dulu."


Setelah itu, Sindi berlalu mencari pembantu rumahnya dan tak lama kunci serep itu diberikan kepada Rizky. Sekarang Rizky bisa masuk ke kamar.


Ceklek~


Di kamar itu tidak ada siapa-siapa, begitu sepi. Namun ada suara gemericik air dari kamar mandi.


"Pasti Nella sedang mandi," lirih Rizky seraya berjalan mengendap-endap menuju pintu kamar mandi.


Tangannya perlahan memutar handle pintu itu. Sebenarnya ia hanya ingin mengecek saja, apa pintu itu dikunci atau tidak. Namun saat tau pintu itu tidak dikunci, justru otak mesum Rizky berkelana. Ia berinisiatif untuk mengintip istri sendiri yang tengah mandi dari balik pintu yang ia buka sedikit, salah satu matanya bisa melihat tubuh Nella yang polos di bawah kucuran shower.


Rizky menelan salivanya dengan kelat, ia merasakan miliknya tiba-tiba saja memegang. Namun Rizky membiarkan saja, ia hanya fokus melihat kemolekan tubuh itu sampai netranya tidak berkedip.

__ADS_1


Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!


__ADS_2