
Rizky menelan savilanya dengan kasar. "Tapi aku 'kan kerja Nell, dan aku juga nggak bisa ngurus bayi."
"Kerja 'kan ada pulangnya, Mas. Mas tinggal atur dan bagi waktu. Kalau masalah nggak bisa nanti 'kan aku atau Mama bisa ajari, yang penting niat aja dulu. Ya ... itu juga kalau Masnya sayang Jihan, sih." Nella tersenyum penuh arti.
"Dih kok kamu bilangnya kayak gitu, sih? Masa aku nggak sayang anak sendiri. Ya sayang dong, Nell. Aku juga memang punya keinginan menghabiskan banyak waktu bersama Jihan kalau ada di rumah."
"Bagus itu, sebentar ... aku tulis dulu ya, apa aja yang harus Mas lakuin." Nella bangkit, lalu membuka laci nakas dan bolpoin. Setelah itu dia pun menulis.
"Memang harus ditulis, ya?" tanya Rizky.
"Iya, lah. Nanti Mas lupa. Mulai sekarang kita ngurus Jihan bareng-bareng. Dia 'kan sebentar lagi jadi Kakak." Hampir satu lembar buku kecil itu penuh apa yang Nella tulis. Dan setelah satu lembar itu disobek dari buku, Nella pun segera memberikan pada Rizky, supaya suaminya membaca isinya.
Jangan pernah pura-pura nggak dengar ketika Jihan bangun tidur, Mas harus langsung bangun dan mengeceknya di dalam boxs.
Menemaninya menjemur setiap pagi, biasanya Jihan berjemur di jam 7 atau jam 8. Hanya 30 menit saja kok, ya kalau mau sejam juga nggak masalah.
"Nella ...." Rizky ingin komplen pada bagian nomor dua. "Aku 'kan berangkat kerja jam segitu, bagaimana menemaninya?"
"Mas kalau kerja berangkatnya agak siangan. Kalau misalkan harus pagi karena ada meeting. Boleh kok pagi-pagi. Asal jangan bohong saja."
"Bohong bagaimana?"
"Ya bohong, bilang meeting tapi nyatanya enggak. Dan Mas lakuin itu supaya nggak mau urus Jihan."
"Mana mungkin aku seperti itu, Nell." Rizky langsung meneruskan untuk membacanya.
Setelah berjemur, pasti keringat tuh. Tunggu keringatnya hilang baru mandi, dan Mas juga yang mandiin. Nanti aku ajari.
Pakaikan baju juga sekalian.
__ADS_1
Berhubung Jihan sekarang mau disapih. Mas harus bisa membuat susu formula. Nanti aku ajari caranya.
Kalau ada di rumah habiskan waktu dengan Jihan, jangan di otak hanya isinya bercinta doang.
Selebihnya Mas isi sendiri.
"Tapi Nell, apa berarti aku nggak bisa bercinta denganmu lagi? Sekarang kamu melarangku?"
"Nggak melarang, kita boleh bercinta, Mas. Maksudku pikiran Mas jangan tentang itu dong, harus memikirkan Jihan juga," terang Nella.
"Aku sering kok mikirin Jihan, Nell. Kamu jangan begitu dong, seolah-olah aku kayak bukan Daddy yang baik. Aku sayang banget sama dia lho." Rizky menempelkan bibirnya ke pipi gembul Jihan, mengecupinya.
"Iya, Mas sayang dia. Sudah sana ajak main."
"Kamu mau tidur?" Rizky melihat Nella yang tengah membaringkan tubuhnya lalu menguap.
"Iya, aku ngantuk. Aku mau tidur sebentar deh. Nanti kalau Jihan nangis bangunin aku saja ya, Mas."
"Oke." Rizky keluar dari kamar Nella kemudian menutup pintu.
*
"Aku 'kan baru sembuh, mau istirahat di rumah dulu, Ma. Dan aku mau main dengan Jihan."
"Tumben. Mau main ke mana? Jauh?"
"Di taman belakang."
"Tapi ini 'kan siang bolong, panas, Riz. Kasihan Jihan." Gita mengusap dahi cucunya yang berkeringat kemudian mengecupnya sebentar.
"Taman belakang rumahku nggak panas, kan ada terasnya."
"Oh, belakang rumah. Ya sudah sana. Awas hati-hati bawa Jihannya. Tapi di mana Nella, Riz?"
"Nella tidur, katanya dia ngantuk. Sudah ya, Ma." Rizky berjalan keluar sambil menciumi Jihan.
*
*
Dia mendudukkan bokongnya di kursi taman, lalu anaknya itu duduk di pangkuannya. Di depan mereka banyak sekali beberapa tanaman bunga dan kolam ikan hias.
__ADS_1
Rizky saat masih bujang selalu duduk disini setiap dia merasa kesepian, tetapi saat sudah menikah mungkin ini untuk pertama kalinya dia duduk lagi di sana
Tetapi meski jarang diduduki, setiap sisi rumahnya selalu bersih. Memang pekerja yang ada di rumahnya tak perlu diragukan lagi. Bi Yeyen dan satpam depan benar-benar suka sekali dengan kebersihan dan merawat rumah Rizky.
Perlahan Rizky mengenggam kedua tangan anaknya dengan lembut, lalu menghirup udara. Cuaca hari ini tidak terlalu panas, rasanya pas untuk bersantai.
"Jihan ... Daddy ingin bicara sama kamu, deh. Tapi janji kamu jangan marah, ya?" tanya Rizky. Meski dia tahu jika anaknya itu belum bisa ngomong—tetapi Rizky ingin mengajaknya ngobrol.
"Daddy bawa berita bagus kalau kamu punya adik, Sayang. Nanti kamu harus sayang ya, sama adikmu. Dia nggak akan nakal kok. Pasti menurut sama sepertimu."
"Kata Mommy kamu juga nggak suka minum susu formula, ya?" Rizky perlahan mengusap rambut anaknya.
"Tapi nanti dicicip dulu lagi, ya? Daddy dan Mommy sudah beli merek yang lain dan tentu yang paling bagus. Semoga kali ini kamu suka."
"Bukan Daddy dan Mommy nggak ngizinin kamu minum ASI. Tapi itu semua biar kamu doyan susu lain saja. Nanti kalau sudah gede Daddy akan belikan kamu berbagai macam susu dengan varian rasa. Sama es cream juga."
"Eh, sama nanti besok Daddy pulang kerja akan belikan kamu mainan deh. Kamu mau mainan apa? Boneka apa?" Rizky menurunkan pandangan untuk menatap Jihan, dilihat anaknya itu sudah tertidur pulas dalam pangkuannya. Rizky menggembungkan senyum lagi terkekeh kecil. "Malah tidur, kan Daddy ngajak kamu ngobrol."
Rizky langsung berdiri dan mengendongnya lagi, padahal masih banyak yang ingin dia ceritakan pada Jihan. Tetapi tunggu nanti saja, setelah dia bangun.
***
Di tempat yang berbeda.
Jam sudah menunjukkan pukul 12, sudah waktunya istirahat dan makan siang. Maya cepat-cepat merapihkan mejanya kerjanya, lalu mengambil ponselnya di dalam tas.
Niatnya ingin menelepon Sofyan, menanyakan sudah makan siang atau belum. Tetapi tiba-tiba sudah ada panggilan masuk. Sayangnya bukan dari Sofyan, melainkan Yuni.
Maya membuang napasnya kasar, sejujurnya dia malas mengobrol dengan wanita itu. Namun tak mungkin juga kalau mengabaikannya, siapa tahu dia menghubungi karena ingin memberitahu kondisi Darus.
"Halo, Tante." Maya mendengar suara bising kendaraan dari seberang sana, sepertinya wanita itu berada di dekat jalan.
"Maya, apa kamu bisa jemput Tante? Tante ada di terminal Tanjung Priok."
"Terminal Tanjung Priok? Jakarta? Tante ada di Jakarta?" Maya mengerenyit dahi.
"Iya, cepat jemput Tante, ya ...." Tidak biasanya suara Yuni terdengar begitu lembut.
"Maksudnya dijemput mau apa? Dan Tante kenapa jualan gorengan sampai Jakarta?"
"Siapa juga yang sedang jualan gorengan. Tante ke Jakarta ingin main ke rumah suamimu."
"Main? Kok Tante nggak bilang dulu?"
"Iya, Tante lupa. Sudah cepat ke sini. Tante kepanasan. Pokoknya nggak pakai lama."
Tut!
Panggilan itu langsung dimatikan begitu saja. Padahal bibir Maya sudah menganga ingin menjawabnya.
'Harusnya Tante ngomong dulu, kan aku belum izin sama Pak Sofyan. Dan sama siapa Tante ke sini? Apa sama Om Darus dan keponakanku juga?'
__ADS_1
Maya perlahan bangkit dari duduknya. Belum sampai berdiri sempurna, tiba-tiba dia merasakan nyeri dan kram pada pinggang dan perutnya secara bersamaan. Kepalanya juga terasa kunang-kunang, serta apa yang dia lihat seolah berputar-putar.
"Aaww! Kenapa sakit sekali?" Akhirnya Maya duduk lagi, dia pun mengentuh perut sambil meringis kesakitan.