
"Opa serius? Opa ingin membantuku?" tanya Nella dengan penuh antusias.
"Iya, tentu saja. Opa akan membantumu untuk bisa bersama orang yang kamu cintai. Kamu cinta sama Ihsan, kan? Bukan sama Rizky?" Angga memastikan sekali lagi, jika semua informasi yang ia dapatkan adalah benar. Dan pertanyaannya langsung dianggukkan oleh Nella.
"Opa tau semua ini dari siapa?"
"Opa kemarin ke Restoran, ngobrol sama Tantemu. Dia menceritakan semuanya tentang Ihsan dan Rizky. Dan Opa yakin ... itu semuanya benar." Angga tersenyum, lantas mengelus pelan puncak kepala Nella.
"Itu memang benar Opa, aku dan Kak Ihsan berpacaran selama satu tahun. Bermula saat dia datang untuk melamarku, Papah ...." Nella kembali menceritakan semua yang ia alami yang belum sempat diceritakan pada sang kakek. Angga mendengarnya dengan serius, apa yang Nella ceritakan sama persis dengan apa yang diceritakan oleh Nissa. "Tapi Opa, bagaimana cara Opa memisahkan aku dan Pak Rizky? Papah sangat suka dengan pria mesum itu, dia nggak akan mengizinkanku."
"Itu sudah Opa atur, sekarang Opa mau bertemu dengan Ihsan. Apa kamu bisa mengajaknya untuk datang ke rumah Opa? Opa ingin bertemu dengannya."
"Kita ke bengkelnya saja, Opa. Opa juga harus lihat dia sedang bekerja."
"Baiklah, kita ke sana." Angga menyalakan mesin mobilnya lagi, mengendarai menuju bengkel.
"Opa, Papah pernah menyuruh orang untuk mrncelakai Kak Ihsan, dia hampir saja mau dibunuh jika aku nggak mau menikah dengan Pak Rizky." Kembali Nella mengadu.
Angga terbelalak. "Benarkah? Parah sekali Papahmu itu. Benar-benar nggak waras."
"Iya, aku juga takut jika nanti Kak Ihsan dicelakai lagi, Opa."
"Nanti Opa akan bayar orang untuk menjaga Ihsan dari kejauhan. Nggak akan ada yang berniat melukai dia nanti."
Nella memeluk lengan Angga dan mencium pipi kirinya, ia sungguh benar-benar bahagia. "Aku sayang Opa, Opa memang yang terbaik."
"Opa juga sayang kamu."
Alhamdulilah, masih ada Opa yang memihak padamu. Semoga semuanya berjalan lancar. Aku ingin bersama Kak Ihsan' batin Nella sambil menghela nafasnya dengan lega.
Sampainya mereka di bengkel, keduanya langsung turun dari mobil. Bengkel itu terlihat begitu ramai, Nella sampai susah untuk mencari pacarnya yang memakai seragam sama, seperti montir yang lain.
"Di mana Kak Ihsan?" Nella bertanya pada Salim yang baru saja lewat sambil menenteng kantong plastik hitam pada tangan kanannya.
"Eh Mbak Nella, Bang Ihsan pergi dengan Pak Irwan tadi naik mobil."
__ADS_1
"Pergi naik mobil? Mau ke mana?"
"Nggak tau, Mbak." Salim menggeleng samar. "Mbak Nella mau menunggu Bang Ihsan? Bisa tunggu di sini. Aku akan telepon dia."
"Boleh deh, tolong, ya?"
"Iya." Salim mengambil ponselnya di dalam kantong celana. Baru saja hendak menelepon Ihsan, tiba-tiba pria yang mereka cari turun dari mobil dan menghampiri mereka.
"Sore, Cantik, Opa," ucap Ihsan seraya mengelus pipi Nella sekilas dan mencium punggung tangan Angga. Tentunya ia sudah tau Angga, Nella sering menceritakan padanya juga memberitahu fotonya.
"Kamu yang bernama Ihsan?" tanya Angga setelah tangannya terlepas dari tangan Ihsan. Ia tersenyum menatap pria bule yang berada didekat Nella.
"Iya, saya Ihsan, Opa. Ada perlu apa Opa datang ke sini? Apa mobil Opa rusak?"
"Opa ingin membantu kita bersatu, Kak," sahut Nella cepat seraya memeluk tubuh Ihsan. Namun, segera Angga lepaskan. Kepala Angga menggeleng, seolah tak menyetujui dengan tindakan yang wanita itu lakukan. "Maaf, Opa. Aku terlalu senang," ucapnya tersenyum malu-malu.
"Ayok duduk dulu, Opa dan Nella masuk ke kamarku. Di sini terlalu ramai." Ihsan melihat sekitar, benar-benar begitu ramai, banyak mobil dan para memilik mobil yang menunggu.
"Jangan ke kamar, masuk saja ke mobil Opa. Opa hanya ingin mengobrol sebentar denganmu, Ihsan." Angga mengajak Ihsan masuk ke mobilnya, dan pria itu tampak setuju. Ia duduk di kursi depan bersamanya. Sedangkan Nella, ia juga ikut masuk dan duduk di kursi belakang.
"Apa kamu benar-benar cinta sama Nella?" tanya Angga kemudian, yang mana langsung dianggukkan cepat oleh Ihsan.
"Opa akan membantu kalian, besok Opa akan mengantar Nella untuk mendaftar ke pengadilan." Ucapan Angga membuat hati Nella dan Ihsan berbunga saat mendengarnya.
"Terima kasih, Opa. Terima kasih telah merestui aku dan Nella." Ihsan mencium punggung tangan Angga cukup lama, sampai akhirnya Angga mengusap perlahan rambut kepalanya.
"Itu pasti, Ihsan. Opa mau melihat Nella bahagia." Angga tersenyum.
***
Mobil Rizky telah terparkir rapih di depan halaman rumah Angga, dan anehnya ia tak melihat ada mobil di halaman rumah itu.
Di mana Opa dan Nella? Apa mungkin Opa datang naik taksi tadi?' batin Rizky.
Pria tampan itu turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama seraya memencet bel.
__ADS_1
Ting... tong.
Ceklek~
Tak menunggu waktu yang lama, pintu itu dibuka dengan lebar oleh wanita bersanggul yang memakai baju daster, ia adalah pembantu rumah tangga.
"Bapak suaminya Nona Nella, kan? Silahkan masuk."
Rizky mengangguk, ia masuk dan memperhatikan suasana di dalam rumah mewah itu. Begitu sepi seperti tak ada orang, Rizky makin dibuat penasaran.
"Ke mana semua orang, Bi? Opa, Oma dan Nella?" tanya Rizky saat duduk di sofa ruang tamu.
"Nona Nella?" Bibi pembantu merasa binggung, mengapa Rizky bertanya tentang Nella yang ia sendiri tidak tau. "Nona Nella nggak ke sini, Pak."
"Nggak ke sini?" Rizky mengerutkan kening, rasanya makin aneh. Jelas Angga yang lebih dulu pergi dari rumah orang tuanya. Lantas, di mana Angga dan Nella sekarang? Pertanyaan itu yang sedari tadi mengantung pada otak Rizky.
"Lalu Opa dan Oma?" tanyanya kemudian.
"Pak Angga pergi naik mobil, kalau Bu Sindi mungkin sedang mandi. Bapak mau minum apa? Biar Bibi buatkan."
"Kopi hitam, Bi."
"Baik, tunggu sebentar."
Sepeninggal Bibi pembantu yang berjalan menuju dapur, Sindi turun dari anak tangga dengan mata yang membola ketika melihat sang cucu menantu berdiri melihat ke arahnya. Tentunya keniatan Angga sudah ia ketahui dan Sindi ikut menyetujuinya. Sabab, apa yang Angga rencanakan adalah hal yang menurut mereka terbaik.
"Sore, Oma," ucap Rizky seraya mencium punggung tangan wanita paruh paya itu saat sudah berdekatan.
"Sore juga, ada apa kamu ke sini, Riz?"
"Aku menyusul Nella dan Opa, Oma. Opa bilang mau mengajak Nella ke rumah karena ingin berbicara tentang Om Steven. Tapi, kok ... Opa dan Nella nggak ada di rumah ini?" tanyanya binggung seraya duduk kembali di sofa tanpa disuruh.
"Kamu lebih baik pulang saja, Riz. Nggak usah menunggu Opa dan Nella," saran Sindi dengan nada mengusir.
"Kok begitu? Memang kenapa? Aku 'kan ingin menjemput Nella setelah urusannya dengan Opa selesai." Kembali Rizky melihat ada hal yang aneh. Wajah Sindi terlihat tak senang akan kehadirannya, sikapnya hampir mirip dengan Angga tadi.
__ADS_1
...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...
...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...