Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
181. Ada tuyul!


__ADS_3

...(Mas Rizky versi memakai kupluk)...



Ceklek~


Pintu kamar itu dibuka oleh Guntur lalu dia pun masuk, dia bersama Hersa dan dua anak buahnya. Mereka bertiga membawa kasur, selimut, dua bantal dan juga koper yang berisi pakaian ganti untuk Nella dan Rizky.


"Malam Pak Rizky," sapa Hersa dan dua anak buahnya.


"Cepat letakkan kasurnya di sana." Rizky menunjuk bawah ranjang Sofyan di sebelah kanan.


Mereka bertiga mengangguk lalu merebahkan kasur, dan menata bantal serta selimut.


"Papa mau pulang ya, Riz. Besok Papa ke sini lagi, nggak apa-apa, kan?" tanya Guntur saat melihat Rizky yang tengah menggendong Nella, lalu membaringkannya di atas kasur.


Rizky ingin bangkit, tetapi lengan Nella terus memeluknya. Rasanya tak tega untuk melepaskan pelukan hangat itu.


"Iya, Pa." Rizky mengangguk sembari menatap Guntur. "Besok suruh Mama ke sini juga."


"Iya." Guntur mengangguk, kemudian dia melangkah keluar bersama Hersa dan dua anak buahnya.


Melihat mereka semua sudah menghilang dari kamar itu, Rizky pun langsung melepaskan kupluk pada kepala botaknya, lalu menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.


Sudah digaruk beberapa kali, tetapi rasa gatal itu semakin menjadi ditambah tubuh Rizky juga terasa lengket.


Sepertinya memang dia harus mandi sebab dari sore belum mandi.


Rizky melepaskan pelukan Nella dengan hati-hati dan setelah terlepas, dia pun segera berlari menuju kamar mandi.


Tiga puluh menit kemudian, Sofyan mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan. Lantas dia pun menyapu pandangan pada ruangan yang tentu tak asing di matanya.


'Rumah sakit? Apa aku ada di rumah sakit?' batin Sofyan. Dia pun mengangkat tangannya tepat ke arah wajah dan meraba ventilator.


Secara tiba-tiba ingatannya langsung terlintas pada kejadian tadi dan seketika dadanya berdenyut nyeri. Kantung matanya mulai berair lalu perlahan air mata itu jatuh begitu saja.


Sofyan menangis tapi tak bersuara, dia pun menyentuh dadanya yang tertempel beberapa alat medis. Di dalam sana terasa sangat sakit. Bukan hanya hatinya, tetapi jantungnya juga.

__ADS_1


'Kamu tega sekali padaku, Diana. Kenapa kamu menyakitiku seperti ini?' batin Sofyan.


Ceklek~


Disesi kesedihannya, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar mandi yang tengah dibuka. Kemudian Sofyan melihat seseorang berjalan pelan melewatinya yang tanpa urat malu sebab telanj*ng bulat di hadapannya.


Rupanya dia adalah Rizky yang lupa jika saat mandi tak membawa handuk lantaran di dalam kamar mandi belum ada handuk. Tetapi Rizky sendiri tak sadar jika papa mertuanya sudah bangun dari pingsan.


Mata Sofyan melebar sempurna saat melihat ada benda yang bergelantungan pada inti tubuh menantunya. Ada juga yang lebih mengejutkannya lagi, yaitu kepala botak Rizky yang sukses membuatnya bergelak tawa.


"Hahahaha. Ada tuyul!"


Mendengar seruan yang dibarengi sebuah kekehan itu sontak membuat Rizky terbelalak kemudian menoleh ke sumber suara.


"Papa!" seru Rizky terkejut, dia pun segera menyambar selimut yang dipakai Sofyan lalu melilitkan pada pinggangnya, cepat-cepat dia mengambil kupluk dan memakainya.


"Alhamdulillah Papa sudah sadar, tolong lupakan kejadian tadi, Pa. Anggap Papa nggak lihat apa-apa," pinta Rizky dengan kedua telinga yang memerah. Sepertinya dia amat malu dan menggerutukki dirinya sendiri dalam hati.


Lantas Rizky pun menarik kursi kecil lalu duduk di sana. Perlahan tangannya mengusap pelan air mata yang ada di wajah mertuanya. "Bagaimana keadaan Papa sekarang?"


"Papa terkena serangan jantung."


Sofyan membulatkan matanya, dia merasa terkejut lantaran disaat kejadian dia sendiri tak ingat sama sekali. Tiba-tiba dadanya sakit lalu kehilangan kesadaran.


"Terus Nella kemana? Bukannya tadi saat di hotel ... Papa bersama dia? Apa Nella baik-baik saja, Riz?" tanya Sofyan cemas.


"Nella sedang tidur di bawah, Pa. Kasihan dia ... dari tadi nangis terus. Papa yang sabar, ya?" Rizky menatap teduh mata Sofyan sembari mengelus bahu kirinya. "Ambil hikmah atas kejadian yang telah terjadi, Pa."


Sofyan mengangguk samar, tetapi air matanya kembali mengalir. Rasanya dia masih sangat sedih.


"Dih, kok Papa nangis? Jangan dong." Rizky kembali menyeka air matanya. "Papa harus kuat, Papa 'kan sebentar lagi punya cucu diusia muda. Berapa umur Papa sekarang?"


Rizky mencoba mengalihkan pikiran Sofyan supaya dia tak sedih lagi. Sedikit menghibur mungkin akan jauh lebih baik.


"45. Papa sudah tua, Riz," keluh Sofyan. "Mungkin itu sebabnya Mami lebih memilih Pak Aji daripada Papa," ujarnya sedih.


"Kata siapa? Papa dan Pak Aji lebih tua Pak Aji, kok. Dan umur 45 belum tua," bantah Rizky.

__ADS_1


"Pak Aji jauh lebih muda dari Papa, mungkin dua tahun. Dan dulu kamu pernah bilang Papa sudah tua." Sofyan tahu jika menantunya itu pasti berkata dusta.


Rizky mengibaskan tangannya sambil terkekeh. "Itu aku hanya bercanda. Malah kita terlihat Kakak adik lho, Pa."


"Masa? Kamu pasti berbohong," bantah Sofyan tak percaya.


"Ih, beneran. Masa Papa nggak percaya. Sebentar aku akan tunjukkan ... kita 'kan sering selfi bersama."


Rizky berdiri lalu berjalan ke kamar mandi untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam saku jas. Setelah diambil, dia pun balik lagi sambil memperlihatkan foto mereka pada layar ponselnya.


Itu adalah foto mereka berdua pada saat Rizky menikah. Mereka sama-sama tersenyum lebar dan terlihat tampan, pakaiannya pun senada.


"Lihat, masih muda, kan?" Rizky kembali meyakinkan.


Sofyan hanya memandangi foto itu sambil tersenyum. Entah jujur atau tidak, tetapi Sofyan tahu jika saat ini menantunya sedang menghibur dirinya yang gundah.


"Papa bisa dapatkan wanita yang jauh lebih cantik bahkan lebih baik dari Diana, dia memang bukan wanita baik-baik, Pa," tambah Rizky.


Bicara tentang wanita tidak baik, Sofyan jadi ingat ucapan Diana yang dengan bangganya menyebutkan jika dirinya pernah tidur dengan Rizky. Apa itu benar?


"Oya, Riz. Papa sempat dengar kalau Mami bilang kamu dan dia pernah tidur bersama," ujar Sofyan yang mana membuat mata Rizky mendelik.


"Apa? Kapan?" tanya Rizky dengan keterkejutannya.


"Saat di hotel Mami bilang sama Nella. Apa itu benar?" tanya Sofyan penasaran.


Rizky terdiam dalam kebingungan, dia sebenarnya tak ingin membahas masa lalunya yang begitu kelam itu. Rasanya sangat malu.


Namun secara tiba-tiba Rizky berucap, "Tadi Papa bilang apa?" Rizky tak sadar dengan ucapan Sofyan barusan. "Mami mengatakan itu pada Nella? Lalu Nella jawab apa?"


Padahal Nella adalah satu-satunya orang yang tidak boleh tahu akan hal itu, tetapi mengapa wanita itu justru membeberkannya? Apa manfaatnya coba?


"Nella malah mengatai Mami. Ah, maksud Papa Diana." Sofyan meralat sebutan itu, mungkin setelah ini status wanita itu akan jadi mantan istrinya.


"Mengatai bagaimana?" Rizky mengerutkan keningnya.


"Mengatai kalau dia seorang jal*ng. Dan apa mungkin itu semua benar, Riz? Kamu juga pernah tidur dengannya?" tanya Sofyan.

__ADS_1


__ADS_2