Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
43. Apa gue harus diam saja?


__ADS_3

Rasa penasaran Rizky membawanya bangkit dari tempat tidur, lantas berjalan menuju nakas dan membuka tas silver milik Nella.


Ia merogoh apa saja di dalam sana, namun yang ia dapatkan adalah satu lembar obat. Rizky menarik tangannya yang sudah berhasil memegang satu lembar obat, memperhatikan obat itu seraya membolak-balikkannya.


"Obat apa ini? Kecil-kecil sekali," lirihnya seraya memasukkan kembali tangan kirinya ke dalam tas. Ia masih penasaran dengan isi tas Nella yang lain, dan untuk kedua kalinya Rizky mendapatkan dua lembar obat yang sama. Tetapi satu lembarnya sudah ada satu butir obat yang hilang, bekas diminum Nella barusan.


Sepersekian detik ia memperhatikan, barulah ia sadar obat apa itu. "Pil KB?"


Rizky membulatkan netranya seraya menoleh kearah Nella yang masih tertidur pulas dengan posisi semula. Seketika itu pun, ia mengingat percakapan Nella dan Ihsan dari sambungan video call. Ihsan meminta Nella jangan sampai hamil anak Rizky, dan inilah jawaban mengapa Nella pergi ke dokter kandungan.


Gue bahkan belum menyentuh lu lagi, tapi lu sampai sudah minum pil KB disaat lu lagi datang bulan. Apa segitu takutnya lu hamil anak gue, Nell? Takut kalau kita nggak jadi bercerai?' batin Rizky.


Rizky hendak membuang tiga lembar pil itu ke dalam tong sampah yang baru saja ia injak supaya terbuka. Namun, ia urungkan.


Kalau gue buang ini obat, Nella pasti marah-marah. Apa gue bilang sama Papah Sofyan dan Mamah tentang ini semua?' batin Rizky.


"Ah nggak, nggak." Rizky menggeleng cepat. "Nanti Nella makin membenci gue, gue nggak mau ini sampai terjadi."


"Terus ... apa yang gue lakukan sekarang? Apa gue harus diam saja?"


Hampir 20 menit Rizky terpaku di posisinya. Ia tengah berfikir mencari ide, namun ide itu tak kunjung muncul di dalam otaknya.


Alhasil, Rizky menaruh kembali tiga lembar pil itu ke dalam tas Nella dan menutup tasnya. Kemudian, Rizky membaringkan tubuhnya di atas kasur seraya memejamkan mata.


***


Keesokan harinya.


Bangun tidur, Nella langsung bangkit dari kasur dan berjalan masuk ke kamar mandi. Ia sempat melihat Rizky sudah tak ada di kamarnya, mungkin aja ia sudah bangun lebih dulu darinya.


Mau ada ataupun tidak adanya Rizky, Nella tidak peduli.


Terlebih dahulu Nella melepaskan celana luar dan dalamnya, ia melihat sudah tak ada bercak darah lagi pada pembalut, ini artinya ia sudah selesai datang bulan.


"Cepat sekali selesainya," kata Nella seraya mandi keramas.


*


Setelah mandi dan memakai pakaian serta make up, barulah Nella keluar dari kamar dan turun dari anak tangga.

__ADS_1


Ia memakai celana jeans panjang berwarna putih dan baju Sabrina berwarna hitam kotak-kotak. Rambut lurusnya ia gerai.


"Pagi Nella," sapa Rizky saat melihat Nella tengah menarik kursi di sampingnya, di ruang makan.


"Iya," jawab Nella singkat seraya duduk. Ia mengambil satu lembar roti dan mengolesi selai strawberry di atasnya.


"Kenapa kau nggak bangun lebih dulu dari Rizky?" tanya Sofyan yang juga ada di sana tengah mengunyah roti.


"Aku kesiangan," jawabnya seraya mengigit roti.


"Besok-besok Papah nggak mau lihat Rizky yang lebih dulu keluar dari kamar sebelum kau, Nella! Kau harus bangun lebih dulu dari Rizky dan siapkan pakaian untuk Rizky pergi bekerja," tegur Sofyan, ia menatap tajam wajah Nella.


"Iya, iya. Papah bawel, ah!" ketus Nella seraya mencebik bibirnya.


"Kalau kau nggak mau Papah bawel, kau berubah mulai sekarang. Jaga sopan santunmu di depan suamimu."


Nella menaruh roti yang baru satu gigitan di atas piring yang berada di depannya. Setelah itu, ia bangkit dari duduk. Selera untuk sarapannya sudah hilang, lantaran mendengar ocehan Sofyan pagi-pagi.


"Aku mau pergi ke Restoran dulu, Pah," ucapnya pamit seraya berjalan.


"Habiskan dulu sarapanmu!" perintah Sofyan dengan nada tinggi, namun sayangnya Nella tak menghiraukan. Wanita itu berlalu pergi dari ruang makan, meninggalkan Sofyan, Rizky, Diana dan Dirga yang masih sarapan.


Sofyan menghela nafasnya dengan berat, ia menatap Rizky yang sedari tadi hanya diam sambil melihat kepergian Nella. Namun, ia merasa kasihan pada menantunya, lantaran sikap Nella yang masih dingin padanya.


"Habiskan sarapanmu, Riz," kata Sofyan sambil melihat selembar roti yang masih utuh di atas piring Rizky.


"Iya, Pah." Rizky mengangguk.


*


"Nella cantik!" panggil seorang wanita paruh baya yang baru saja turun dari mobilnya di halaman rumah Sofyan, ia adalah Gita.


Nella yang hendak masuk ke dalam mobil merah miliknya tidak jadi, lantaran Gita menghampiri dan mencium keningnya singkat.


Mamah? Ngapain dia ke sini pagi-pagi, menyebalkan sekali' batin Nella.


Hidup Nella semenjak menikah benar-benar tak ada bahagianya sama sekali, semua orang-orang disekelilingnya terasa menyebalkan. Moodnya selalu jelek tiap hari.


"Lho, kamu kenapa? Kok wajahmu cemberut begitu? Nanti cantiknya hilang sayang." Gita mengelus lembut pipi kiri Nella dengan penuh kasih sayang. Ia tidak tau saja, alasan Nella cemberut juga gara-gara dirinya.

__ADS_1


Seketika itupun, Nella menyunggingkan senyum hingga wajah cemberutnya hilang. Namun, senyuman itu terlihat seperti terpaksa.


"Nggak apa-apa kok, Mah," jawab Nella.


"Kamu sudah sarapan belum? Dan di mana Rizky?"


"Mamah!" Baru saja ditanyakan, Rizky tiba-tiba keluar dari pintu utama bersama Sofyan, mereka berjalan menghampiri dua wanita yang baru saja menoleh ke arahnya.


"Pagi tampan, pagi Sofyan," sapa Gita pada Rizky dan Sofyan, ia memeluk tubuh Rizky sekilas.


"Pagi Bu Gita. Kok Ibu datang ke sini pagi-pagi? Ada perlu apa?" tanya Sofyan.


"Aku mau mengajak Nella dan Rizky pergi bersamaku, Sofyan."


"Oh begitu, silahkan, Bu. Ibu sudah sarapan belum? Sarapan dulu, masuk," tawar Sofyan.


"Aku sudah sarapan."


"Oh ya sudah, saya mau pergi ke kantor dulu, ada meeting," ucap Sofyan pamit seraya masuk ke mobilnya bersama Dirga yang baru saja datang untuk membukakan pintu.


"Aku nggak bisa ikut Mamah, hari ini aku sibuk di Restoran, Mah," kata Nella menolak, saat melihat mobil Sofyan keluar dari pintu gerbangnya.


"Libur dulu sehari."


"Memangnya Mamah mau mengajak kita ke mana?" tanya Rizky binggung.


"Supermarket, kemarin Nella bilang ingin masakin untuk Mamah. Jadi sekalian kita belanja bersama."


"Aku bisa masakin Mamah di Restoran, nanti aku kirim ke rumah Mamah kalau masakanku sudah jadi," sahut Nella.


"Nggak mau, Mamah maunya kamu masak di dapur rumah Mamah dan kita belanja sama-sama."


Nella membuang nafasnya dengan berat, permintaan Gita sungguh membuatnya kesal.


"Ya sudah, tapi kita berdua saja. Nggak usah ajak Pak Rizky, dia pasti sibuk mau ke kantor, Mah," kata Nella seraya menatap sinis Rizky.


Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!


Yuk follow IG Author: @rossy_dildara

__ADS_1


__ADS_2