
"Serius, kalau nggak percaya ... kita cek saat lu sudah buncit nanti, ya? Pasti lu seksi."
Perbincangan mereka tak terasa hingga sampai di parkiran mobil. Ali yang tengah berdiri di depan mobil Rizky gegas membukakan pintu belakang mobil itu untuk keduanya.
Setelah Rizky dan Nella masuk, dia membukakan pintu depan untuk Diana.
"Mami naik taksi saja ya, Nell," ujar Diana. Dia masih berdiri diluar mobil, belum masuk.
"Kenapa?" tanya Nella dari jendela mobil yang kacanya kebetulan terbuka.
"Mami ada urusan mendadak, kamu duluan saja."
Bukan urusan, tetapi lebih tepatnya dia ingin menghindar lantaran malas dengan keduanya.
"Urusan apa, sih? Bareng saja, Mi," pinta Nella.
"Mungkin memang ada urusan. Biarkan saja Mami pergi, Sayang." Rizky segera menyahut saat Diana hendak menjawab. Tidak adanya wanita itu justru akan jauh lebih bagus menurutnya. Tangan Rizky perlahan mengusap puncak kepala istrinya. "Nanti kita ketemu di rumah saja."
"Eemm ... yasudah, deh. Tapi kita makan malam bareng ya, Mi," pinta Nella.
"Iya, nanti malam kita makan bareng." Diana mengangguk, lalu berlalu pergi meninggalkan mereka di dalam mobil.
Ali pun menyalakan mesin mobil dan mengendarai dengan kecepatan sedang.
"Kita langsung pulang apa mau mampir dulu, Pak?" tanya Ali seraya melihat kaca depan mobilnya. Terlihat Rizky sedang mengelus-ngelus rambut Nella yang berada dipelukannya.
"Langsung pul—"
"Kita ke supermarket dulu, Pak," sahut Nella cepat hingga menyela ucapan suaminya.
"Ke supermarket mau ngapain?" Tangan Rizky menaikkan dagu Nella ke atas, supaya wanita cantik itu mendongakkan wajahnya.
"Aku mau masak untuk makan malam kita, Mas."
"Nggak! Nggak! Lu nggak boleh masak!" tegas Rizky.
"Kenapa?"
"Lu 'kan baru sembuh, nggak perlu capek-capek. Kita makan dari masakan Bibi atau beli saja."
"Dih, Mas. Aku—"
"Nella, apa lu nggak sayang sama anak kita?" Rizky mengelus perut istrinya seraya tersenyum hangat padanya.
__ADS_1
"Sayang, Mas. Masa nggak."
"Kalau sayang ... nurut ucapan gue, ya?" Rizky menganggukkan kepalanya sekali. "Lu bisa masak nanti, tapi sekarang-sekarang lu harus istirahat dulu."
"Eemm ... yasudah deh," jawab Nella murung. "Tapi jalan-jalan kita tetap jadi, kan?"
"Nanti Minggu depan saja, ya?"
"Kenapa nggak besok saja? Aku maunya besok," pintanya dengan wajah memelas.
"Nanti capek bagaimana?"
"Kalau capek aku akan bilang, nanti setelah sampai di rumah ... aku akan langsung istirahat, Mas. Biar tubuhku fit buat besok," terang Nella.
"Dari kemarin-kemarin 'kan nggak jadi. Lagian ... kita jalan-jalan nggak sambil lari-lari, kan?" imbuh Nella lagi, sekarang nada suaranya terdengar merayu. Dia juga langsung mengelus pipi kiri Rizky. "Ya, Mas ...."
"Jangan besok deh, besoknya lagi saja, ya? Bagaimana kalau besok lu seharian di rumah saja. Kan lu bisa menghabiskan waktu dengan Mami," saran Rizky. Sebenarnya tak tega untuk menolak, apalagi wajah memelas itu terlihat jelas di depan matanya. Tetapi sekali lagi Rizky akan bersikap tegas—dan itu juga demi kebaikan istrinya.
"Nanti bosen dong."
"Masa bosen, nggaklah."
"Yasudah deh, nggak apa-apa. Tapi Mas juga harus menemaniku di rumah, ya? Mas jangan kerja."
"Kan lusanya kita jalan-jalan, jadi besok gue harus kerja," jelas Rizky lembut.
"Ah Mas beralasan mulu, males aku." Nella melepaskan pelukan dari Rizky, lalu dia pun menggeser bokongnya sedikit seraya memalingkan wajahnya.
Rizky menghela nafasnya gusar, dia pun mengelus dadanya sebab merasa kesal dengan istrinya yang keras kepala itu.
"Bilang saja Mas nggak mau jalan-jalan besok karena ingin bekerja. Aku tahu kok ... memang pekerjaan Mas jauh lebih penting dariku," tambahnya lagi sambil merenggut.
Tak lama terdengar deringan panggilan masuk dari ponselnya di dalam saku jas.
Segera Rizky rogoh ponselnya, lalu mengusap layar ponsel itu ke atas.
"Selamat sore Pak Rizky," sapanya. Orang yang menelepon Rizky adalah Hersa.
"Sore, ada apa, Sa?"
"Pak, saya sudah berhasil menemukan pelaku pengirim jamu."
Rizky membulatkan matanya. "Siapa dia, Sa?"
__ADS_1
"Ibu-ibu, Pak. Sekarang saya sudah bersamanya di rumah sakit, tapi ternyata Nona Nella sudah pulang, ya?"
"Iya, gue dan Nella sudah pulang. Kita bertemu di rumah Papa Sofyan saja, ya! Lu bawa dia!" titah Rizky.
"Baik, Pak."
"Kita langsung pulang Al, percepat mobilnya," titah Rizky pada Ali, kemudian pria tampan itu menutup sambungan telepon dan menaruh ponselnya kembali ke dalam saku jas.
"Baik, Pak." Ali menarik gasnya, mempercepat laju kendaraannya.
"Nella, ada berita bagus. Ternyata orang yang mengirim jamu itu sudah ketemu, kita akan menemuinya di rumah Papa Sofyan," ujar Rizky dengan bahagia.
Nella segera menoleh pada Rizky dengan mata yang berbinar. "Alhamdulillah ...," ujarnya sambil menghela nafasnya lega. "Tapi kenapa nggak langsung di penjarakan saja, Mas?"
"Nanti kita penjarakan dia, tapi sebelum itu ... kita harus tanya dulu apa tujuannya melakukan semua itu," terang Rizky.
Nella mengangguk cepat. "Iya, Mas bener.
*
*
*
Rizky duduk menyilang kaki sembari merangkul bahu istrinya yang berada di sampingnya. Mereka tengah duduk di sofa ruang tamu dan tentu menunggu kedatangan Hersa.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Hersa datang bersama tiga orang. Yaitu dua orang diantaranya berbadan kekar, berkulit coklat dan berkepala plontos. Dua orang itu adalah anak buah Hersa yang sempat dia sewa untuk menemukan jejak tersangka pengiriman jamu. Dan satu orang lagi yaitu orang yang menjadi tersangkanya.
Pandangan Rizky dan Nella langsung tertuju pada seorang wanita paruh baya yang baru saja duduk di sofa single di hadapannya. Dia memakai baju daster batik lengan panjang, rambutnya disanggul dan sudah agak memutih. Dilihat dari usianya—dia sepertinya lebih tua dari Bi Yeyen.
Namun terlihat jelas, wanita itu duduk dengan sangat gelisah dan tubuhnya bergetar hebat. Dia merasakan hawa panas yang terpancar dari mata Rizky, yang sejak tadi menyorotinya dengan tajam.
Sebenarnya, saat melihat kedatangan wanita itu, Rizky sudah sangat emosi dan ingin menonjok wajahnya. Akan tetapi dia masih memilik adab, sebab orang tersebut adalah wanita dan juga sudah tua.
"Dia adalah Bu Sumiati, Pak. Seorang pedagang jamu gendong," ucap Hersa mengenalkan wanita tersebut. Dia berdiri di samping wanita itu.
"Oh, apa mungkin jamu untuk Nella ... Ibu racik sendiri juga?" tanya Rizky datar sembari menatap tajam wanita di depannya.
Wanita itu sejak tadi menurunkan pandangannya sembari meremmas kedua tangannya yang sudah berkeringat, dia merasakan bunyi detak jantungnya sendiri yang berdebar dengan kencang.
"Jawab!" pekik Rizky yang mana membuat wanita yang sejak tadi membeku langsung tersentak kaget.
Wanita tersebut langsung menangkup kedua tangannya di hadapan Rizky dan Nella. "Maafkan saya, Pak. Saya hanya orang suruhan. Saya nggak bermaksud mencelakai Nona Nella," jawabnya dengan bibir yang bergetar.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya~