Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
169. Aku hanya pusing memikirkan pelakunya


__ADS_3

"Iya, siapa pun yang ganggu rumah tangga kita ... mereka pasti gue penjarakan. Oya ... apa lu sudah menelepon Papa Sofyan? Tadi pagi gue telepon nomornya sibuk terus." Rizky mengalihkan kepala Nella supaya kembali memandanginya.


"Papa Sofyan nggak usah diberitahu, Mas," sahut Nella cepat seraya menggenggam tangan Rizky.


"Kenapa?"


"Papa 'kan sedang di Bandung, pasti sedang sibuk. Biarkan saja. Lagian ... aku juga baik-baik saja. Aku juga nggak mau membuatnya khawatir," terang Nella.


"Oh, yasudah." Rizky mengangguk.


*


*


*


Melihat Nella sudah tertidur pulas setelah makan dan minum obat, Rizky pun turun dari tempat tidurnya.


"Mama, aku keluar dulu, ya! Titip Nella," ujarnya pada Gita yang tengah duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.


Wanita paruh baya itu menjawabnya dengan anggukan kepala.


Lantas, Rizky pun berjalan keluar dari ruang inap itu dan menutupnya pelan-pelan.


Baru saja dia duduk di kursi panjang yang berada di depan ruang inap, sembari mengambil ponselnya di saku jas, hendak menghubungi Hersa. Tiba-tiba terdengar suara derap langkah menghampirinya dan membuat Rizky menoleh.


"Riz, sedang apa kamu? Bagaimana keadaan Nella?" tanyanya dengan wajah cemas, dia adalah Guntur yang datang bersama asistennya.


Guntur hendak masuk ke dalam ruangan itu, tetapi lengannya dipegang oleh Rizky.


"Nella sedang istirahat, Pa. Jangan diganggu," ujar Rizky.


Guntur pun mengangguk, lalu duduk di sampingnya. "Papa sudah dengar dari Mama ... kalau Nella hampir keguguran gara-gara jamu. Itu beneran Nella bilang jamu kiriman atau dianya sendiri yang sengaja mau meminumnya?"


Meskipun awalnya Guntur mencemaskannya, tetapi dia masih saja berpikir hal negatif tentang menantunya.


"Papa ini gila, ya?" Wajah Rizky yang semula tenang kini berubah menjadi masam, dia seakan tak terima dengan apa yang Guntur katakan. "Masa Nella tega ingin mengugurkan kandungan sendiri?"


"Ya bisa saja, barangkali dia takut kalau anak itu lahir dan ternyata bukan darah dagingmu," tebak Guntur.

__ADS_1


Rizky berdecak kesal sembari mengusap kasar wajahnya. "Papa masih belum percaya juga? Nella hamil anakku, Pa! Cucu Papa! Harusnya tuh Papa sekarang membantuku mencari pelakunya! Bukan berbicara yang aneh-aneh!" gerutu Rizky.


Guntur membuang nafasnya gusar. "Katanya Hersa sedang mencarinya, memang belum ketemu?"


"Dia—"


"Selamat malam, Pak Rizky, Pak Guntur," ujar Hersa yang tiba-tiba saja datang dan menyela ucapan bosnya. Dia datang tak sendiri, melainkan bersama Bi Yeyen dan seorang pria berkumis yang memakai jaket hijau. "Dia yang mengantar jamunya, Pak," papar Hersa seraya menoleh pada pria tersebut.


Rizky menatap pria di depannya itu dari atas sampai bawah, dilihat dari jaketnya—dia bukan kurir delivery, melainkan seorang ojeg online.


"Bapak ini ojeg online, atau kurir pengiriman makanan?" tanya Rizky untuk memastikan.


"Saya ojeg online, Pak. Tapi saya disuruh mengantar jamu itu ke rumah Bapak."


"Dia mengaku siapa namanya?" tanya Rizky.


"Bu Gita."


"Orangnya seperti apa?"


"Sudah Ibu-ibu, Pak. Mungkin seumuran dengan Ibu ini." Pria jaket hijau itu menoleh pada Bi Yeyen sebentar, lalu kembali melihat ke arah Rizky.


Rizky mengangguk-angguk. "Nama akun yang pesan ojegnya siapa?"


Pria berjaket itu segera memberikan ponselnya pada Rizky, dan terlihat dari layar—akun nomor itu terdaftar nama Gita.


"Apa sudah lu coba telepon nomornya?" tanya Rizky pada Hersa yang mana dianggukan olehnya.


"Sudah, tapi nomornya nggak aktif, Pak."


"Jadi nggak berhasil ketemu pelakunya?" tanya Rizky dengan wajah kecewa, dia terdiam sesaat. "Coba lacak nomornya, biasanya 'kan terdaftar sesuai KTP namanya siapa."


"Nanti saya coba. Tapi ... apa Bapak sekarang mencurigai seseorang?" tanya Hersa.


"Ada, tapi ... kita bicara berdua saja enaknya." Rizky melirik sebentar pada Guntur, rasanya dia tak enak jika bilang kalau mencurigai Mitha. Jika diingat, Guntur pernah berniat menjadikan wanita itu istrinya.


"Kenapa?" tanya Guntur menyahut. "Kamu nggak mau Papa denger? Paling kamu nggak jauh-jauh mencurigai Ihsan, kan?" tebaknya.


"Bukan hanya Ihsan, tapi Mitha juga," jawab Rizky seraya menoleh pada papanya.

__ADS_1


Guntur membulatkan matanya, lalu didetik selanjutnya dia menggeleng cepat. "Mitha nggak mungkin melakukan hal seperti itu, Riz. Kamu ini ada-ada saja."


"Tapi Mitha pernah membuang makanan kiriman dari Nella. Bisa saja dia pelakunya," jelas Rizky.


"Kapan? Masa sih dia seperti itu?" Wajah Guntur tampak tak percaya.


"Waktu itu, aku pernah melihatnya lewat CCTV kantor dan dia juga mengaku kok."


"Alasannya membuang makanan dari Nella apa?" tanya Guntur kembali.


"Apalagi kalau dia nggak suka dengan Nella. Ini juga gara-gara Papa! Coba saja dulu nggak perlu berencana menjodohkanku dengan Mitha, semuanya nggak mungkin terjadi!" gerutu Rizky emosi.


Guntur memukul dada Rizky dengan keras sambil melotot, darahnya seakan mendidih dan emosinya tiba-tiba memuncak lantaran suara Rizky yang cukup tinggi bicara padanya.


Dia benar-benar tak pernah suka jika diperlukan seperti itu, apalagi itu adalah anaknya sendiri.


"Lho kok kamu jadi nyalahin Papa?" Guntur menunjuk wajahnya sendiri dan seketika Rizky membulatkan matanya, melihat wajah masam Guntur. "Harusnya kamu berterima kasih sama Papa! Kalau Papa nggak berniat menjodohkanmu lagi ... Nella nggak mungkin mau bersamamu!"


"Tapi 'kan Nella juga hamil, itu juga alasan kita nggak jadi bercerai," elak Rizky.


"Ah terserah kamu deh, Papa malas sekali kalau membahas rumah tanggamu!" Guntur bangkit seraya berdiri.


"Papa mau pergi ke mana?" tanya Rizky saat melihat Guntur hendak melangkah.


"Papa mau pulang," jawabnya dengan ketus.


"Kok pulang? Papa nggak mau menginap nunggu Nella?" Rizky berdiri kemudian mendekati Guntur. Ada rasa bersalah pada hatinya, telah berbicara dengan nada yang cukup keras akibat pusing memikirkan masalah jamu. "Maafkan aku kalau ada ucapanku yang menyinggung Papa, aku hanya sedang pusing memikirkan pelakunya, Pa." Suara Rizky amat lembut, dia juga meraih tangan Guntur untuk digenggam. Tetapi segera ditepis olehnya.


"Kamu memang sudah berubah, Riz. Yang kamu sayang bukan Papa kandungmu, tapi Papa mertuamu." Guntur menatap wajah Rizky dengan sendu, matanya mulai berkaca-kaca.


Rizky pun segera memeluk tubuh Guntur, dia tak mau jika hanya masalah ini—membuat Guntur salah paham dan hubungannya makin jauh.


"Aku 'kan sudah pernah bilang ... jangan pernah berpikir seperti itu. Papa nggak akan tergantikan oleh siapa pun. Aku sayang Papa dan Mama." Rizky mengelus punggung Guntur.


"Tapi kamu juga sayang dengan Sofyan, kan?" tanya Guntur yang masih kesal. Entah mengapa dia merasa iri, sebab Rizky lebih sering bertemu dan menghubungi Sofyan ketimbang dirinya.


"Memangnya aku nggak boleh sayang sama Papa mertuaku sendiri, Pa?" Rizky melepaskan pelukannya, dia merasa malu dilihat orang-orang yang berada disekitarnya.


"Bukan nggak boleh, tapi kamu lebih sering berhubungan dengannya daripada dengan Papa. Buktinya sekarang ... kamu dan Nella menginap di rumahnya, kan?"

__ADS_1


__ADS_2