Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
96. Gaya baru


__ADS_3

"Oma perhatikan ... sepertinya hubunganmu dengan Rizky semakin baik. Kamu juga sedang hamil dan otomatis nggak bisa bercerai. Sekarang lebih baik kamu putus dan meninggalkan Ihsan."


Deg!


Nella terhenyak hingga membulatkan matanya. "Apa tadi? Oma bicara apa?" Sekali lagi Nella ingin memastikan jika dirinya tidak salah dengar, sebab apa yang dikatakan Sindi terdengar aneh dan mustahil.


"Kamu putusin Ihsan dan tinggalkan dia," ucapnya lagi.


"Oma bukannya setuju aku dan Kak Ihsan bersama? Kok sekarang memintaku putus?" tanya Nella dengan kening yang berkerut.


"Iya, Oma dan Opa setuju kamu bersama Ihsan. Tapi sekarang lihat dirimu ...." Perlahan tangannya menyentuh perut Nella. "Didalam sini sudah ada anak Rizky, suamimu. Kamu harus hargai dia dan ayahnya. Lupakan semua keinginanmu tentang bersama Ihsan. Coba untuk membuka hatimu untuk Rizky."


Nella terdiam dan menatap dalam mata Sindi, terlihat Sindi begitu sungguh-sungguh dengan yang dibicarakannya.


"Oma tadi sudah membicarakan masalah kehamilanmu dengan Opamu. Jujur Oma dan Opa kecewa ... tapi semua sudah terjadi dan itu membuktikan kalau kamu dan Ihsan nggak berjodoh."


Deg!


Ada rasa sakit didalam jantungnya saat berdetak.


"Aku dan Kak Ihsan nggak berjodoh?" Wajah Nella seketika menjadi sedih.


"Iya ...." Sindi tersenyum tipis lalu mengusap puncak kepala cucunya. "Memang Oma sendiri nggak suka dengan Rizky, tapi Oma juga nggak menutup mata kalau memang dia suami yang baik."


"Oma, Papa Guntur juga memintaku untuk memilih. Apa menurut Oma ... memilih Mas Rizky adalah keputusan yang tepat?" Nella yang masih ragu untuk memilih, memutuskan untuk meminta pendapat pada sang nenek, mungkin dengan begitu—dia tidak akan salah melangkah.


"Tentu saja, dia suamimu dan sebentar lagi jadi ayah dari anakmu. Jangan rusak pernikahan ini hanya karena keegoisan, kamu harus mencoba mencintai Rizky. Dia butuh cinta darimu," jawabnya dengan lembut.


"Tapi Oma ... apa aku bisa melupakan Kak Ihsan? Aku sangat mencintainya."


"Bisa, tentu bisa. Sekarang Oma tanya ... sejak pagi kamu 'kan bersama Rizky sampai tadi dia pergi mandi. Apa kamu mikirin Ihsan? Oma lihat ... selama kamu masuk rumah sakit, kamu nggak menghubungi Ihsan, malah kamu begitu menunggu Rizky saat belum datang."


Ya, Sindi tentu ada di sana dan menjadi saksi.


Nella kembali terdiam, semua yang diucapkan Sindi adalah fakta bukan sekedar menebak. Nella akui memang itu benar adanya.

__ADS_1


"Apa Mitha itu wanita yang cantik?" tanya Sindi tiba-tiba dan menepis semua pikiran Nella.


"Kok Oma tanyain Mitha?" Rasanya aneh, tadi membahas masalah perasaan Nella ke Rizky, sekarang malah membahas seseorang yang membuat darahnya mendidih.


"Iya, apa dia cantik dan jauh cantik darimu?"


"Oma ini bicara ngasal." Nella tersenyum miring dan geleng-geleng kepala. "Meskipun dia seorang model, tapi masih cantikan aku ke mana-mana," ucapnya dengan penuh percaya diri.


"Iya iya, Oma percaya," jawabnya sambil terkekeh. Sindi hanya mengetes saja sebetulnya, dan tadi terlihat wajah Nella langsung berubah menjadi masam.


Ceklek~


Pintu kamar mandi itu terbuka, dan Rizky yang sudah selesai mandi berjalan menghampiri Nella. Dia memakai celana jeans berwarna biru dan kaos putih polos. Aroma minyak wanginya begitu semerbak dan membuat Nella kembali curiga.


'Kok Mas Rizky wangi banget?' batin Nella.


"Gue pergi dulu beli sate, ya?"


"Nggak usah, aku sudah pesan sama Papa. Iya 'kan, Oma?" tanya Nella pada Sindi.


"Kamu duduk di sini saja temani Nella." Sindi berdiri, lalu berpindah posisi duduknya di sofa.


Rizky mengangguk kemudian duduk di kursi bekas bokong nenek mertuanya.


"Lu masih mual nggak perutnya?"


Nella menggeleng samar dan tersenyum menatap wajah Rizky.


***


Sofyan terbangun saat tengah tertidur di bawah ranjang Nella dengan menggunakan kasur, selimut dan bantal. Dia menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari keberadaan Rizky, tetapi tak terlihat batang hidungnya.


Yang menunggu untuk menginap menemani Nella hanya dia dan Rizky berdua. Sofyan sendiri memang sengaja menyuruh mereka pulang sebab dia tak mau jika kehadiran orang lain akan menganggu Nella dan Rizky. Kalau bagi dia sendiri—biarkan saja. Memang dia harus berada di antara mereka takut sewaktu-waktu bertengkar seperti tadi pagi.


Sofyan bangkit lalu berdiri, dia melihat Rizky tengah tertidur di kursi kecil dengan posisi membungkuk dan kepalanya menyangga lengannya sendiri. Tetapi terlihat tangan mereka saling menggenggam, seolah tidak mau dipisahkan.

__ADS_1


Sofyan menggembungkan senyum, merasa bahagia melihat pemandangan seperti itu. Tetapi lama-lama Rizky kasihan juga, jika harus tidur diposisi seperti itu hingga pagi.


Perlahan pria itu berjalan mendekati Rizky dan menepuk pelan bahunya namun berulang-ulang, supaya Rizky mengerjapkan matanya.


"Rizky, bangun," ucapnya lirih.


Rizky membuka mata dan membenarkan posisi duduk seraya menoleh ke arah mertuanya. "Iya, kenapa, Pa?"


"Papa 'kan bilang kamu tidur dengan Papa di bawah. Kok kamu nggak pindah-pindah? Nanti tubuhmu sakit kalau tidur begini," ucap Sofyan dengan penuh perhatian.


Rizky mengusap matanya dengan salah satu tangannya, kantuknya masih begitu terasa dan begitu berat. "Aku mau pindah, tapi tanganku dipegangi terus sama Nella." Rizky menaikkan dagunya ke arah yang dimaksud, dan Sofyan pun mengerti.


"Ya sudah ... kamu naik saja ke atas ranjang, sepertinya muat walau agak sempit. Papa kemarin lupa memesan tempat tidur yang agak besar untuk Nella."


"Nggak apa-apa memangnya?" tanya Rizky ragu-ragu.


"Nggak apa-apa. Kamu posisinya di sebelah kiri saja pas di bawah ada Papa. Jadi kalau nanti jatuh ... bisa jatuh ke kasur," saran Sofyan.


Usulan Sofyan kali ini benar-benar sangat bagus, tanpa bertanya lagi Rizky langsung melakukan apa yang dia katakan. Itu juga akan membuat Rizky diuntungkan disini sebab bisa tidur bersama Nella.


Pertama-tama pria tampan itu naik ke atas kasur, lalu melepaskan tangan Nella pada genggamannya dan cepat-cepat mengangkat tubuh wanita itu untuk bergeser sedikit supaya tubuhnya muat di sampingnya. Barulah—perlahan Rizky berbaring dan seketika itu pun, Nella berbalik menghadap ke arahnya seraya memeluk.


Rizky langsung terperajat dan membelalakkan mata, semua yang dialaminya bagaikan mimpi yang begitu indah.


Sofyan yang melihatnya hanya terkekeh dan mengangkat dua ibu jarinya ke atas untuk Rizky, memberikan tap jempol atas kesuksesannya. Setelah itu, dia kembali ke tempat tidurnya dan memejamkan mata.


Jantung Rizky berdetak begitu cepat saat melihat wajah Nella yang begitu dekat dengannya. Rasa kantuknya seketika sirna akibat hembusan nafas istrinya yang menyapu wajahnya hingga terasa hangat. Bibir merah muda itu seakan menguji imannya yang begitu dangkal. Milik Rizky sudah menegang dibalik celana dan nafs*nya bergejolak naik ke ubun-ubun.


Rizky menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya, perlahan dia memejamkan mata dan berusaha menepis semua pikiran kotornya.


'Tahan Riz, Nella sedang sakit. Besok Nella pasti sudah boleh pulang dan gue bisa mengajaknya bercinta. Sekarang harusnya gue mikirin gaya baru untuk kita bercinta nanti. Ya ... gaya baru, Nella saat mandi juga sudah mengajak. Gue tahu dia sudah nggak tahan,' batin Rizky.


...Jangan lupa like dan komentarnya...


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya....

__ADS_1


...1102...


__ADS_2