Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
62. Biarkan Nella berbaik hati padaku


__ADS_3

"Minta tolong apa? Tapi jangan aneh-aneh. Aku bisa lapor sama Opa, Pak!" tegur Nella seraya beringsut mundur agak menjauh dari Rizky yang masih diposisi sama, bahkan mata pria itu masih terpejam.


Didalam situasi seperti ini, Nella masih bisa berprasangka buruk padanya. Sebab yang dia tahu, Rizky selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan.


"Gue hanya butuh batu es ...," jawabnya pelan.


"Batu es? Untuk apa?"


"Kompres."


"Oh iya, sebentar aku ambilkan Pak."


"Kenapa di bawa?" Rizky membuka matanya dan melihat Nella mengangkat nampan yang berisi menu makan siangnya. "Gue laper, jangan di bawa."


"Ini sudah nggak enak, nanti aku buatkan bubur saja untuk Bapak. Bapak juga harus minum obat."


Rizky terdiam saat memandangi Nella yang tengah berdiri di ambang pintu. Hatinya terasa hangat mendapat perlakuan baik dari wanita yang membuatnya tergila-gila itu.


'Apa dia cemas sama gue?' batin Rizky seraya tersenyum tipis.


"Tunggu sebentar, Pak." Setelah mengatakan hal itu, Nella keluar dari kamar tamu dan turun dari anak tangga lalu menuju dapur.


Dia menaruh nampan itu di atas meja kemudian mengambil panci yang sudah diisi air dan beras, menaruhnya di atas kompor untuk membuat bubur.


"Bibi, tolong ambilkan baskom kecil lalu isikan batu es, ya?" pinta Nella pada Bibi pembantu yang tengah mencuci piring. "Sama dua handuk kecil juga."


"Iya, Nona." Bibi pembantu menunda aktifitasnya sebentar untuk mengambil apa yang diminta.


"Lho, ngapian kamu Sayang?" Sindi yang baru saja berada di dapur langsung menghampiri Nella, matanya melihat pada isi di dalam panci. "Kok kamu buat bubur, untuk siapa?"


"Pak Rizky, Oma. Dia sedang demam." Nella menoleh pada Sindi sebentar, lalu fokus untuk mengaduk bubur yang sebentar lagi hampir matang. "Oya ... Oma punya obat demam nggak? Boleh aku minta?"


"Obat demam untuk siapa?" Angga yang baru saja datang langsung menyahuti ucapan Nella, dia juga memperhatikan sang cucu begitu sibuk dengan kompor. "Malam-malam kok masak? Ngapain sih?"

__ADS_1


"Ini, Pa. Rizky demam katanya," jawab Sindi.


"Dia pasti pura-pura supaya ingin diperhatikan Nella. Sudah jangan diladenin." Angga menarik lengan Nella supaya menjauh dari panci, lalu bergegas mematikan kompor. Terlihat jelas dia tak menyukai situasi seperti ini.


"Opa kok gitu, sebentar lagi ini matang." Nella kembali menghampiri kompor dan menyalakannya lagi. "Pak Rizky beneran sakit Opa, badannya panas."


"Halah, Opa nggak percaya," tampik Angga. Dia berlalu pergi dari dapur, lalu naik ke lantai atas dan masuk ke kamarnya untuk mengambil termometer.


Setelah mengambil alat untuk memastikan Rizky benar-benar demam, lantas dirinya masuk ke kamar tamu tepat dimana pria itu beranda.


Terlihat Rizky masih mengigil kedinginan, hanya kepalanya saja yang tidak tertutup selimut.


"Apa kamu beneran sakit, Riz?" tanya Angga dengan tatapan sinis. Padahal, tidak perlu ditanya juga harusnya dia tahu sebab wajah Rizky terlihat pucat.


"Iya, Opa," jawabnya pelan.


"Coba pakai ini, cek suhu tubuhmu." Angga mengulurkan tangannya memberikan benda kecil itu pada Rizky.


"Itu apa?" Rizky mengerutkan kening, menatap benda yang sama sekali tidak dia ketahui.


"Opa, Opa sedang apa?" Nella berjalan masuk dan menghampiri mereka, ditemani Sindi dan Bibi pembantu yang membawa nampan berisi semangkuk bubur dan baskom batu es.


"Opa mau cek dia sakit atau nggak," jawabnya datar.


Sindi mendekati Rizky dan menyentuh dahi pria itu dengan punggung tangannya. "Rizky benar-benar demam, Pa." Sindi mengambil termometer di atas selimut Rizky dan memberikan padanya saat tangan Rizky muncul dari balik selimut. "Coba cek untuk melihat suhu tubuhmu, Riz. Jepit di ketiakmu."


"Tapi aku belum mandi, Oma. Nanti bau bagaimana?" tanya Rizky dengan wajah memelas. Angga yang melihatnya makin terasa mual dan ingin muntah.


"Memangnya benda itu mau dicium sama Nella?" hardik Angga sambil melotot. "Pakai cepat!" tekannya dengan emosi.


Rizky mengangguk dan memasukkan kembali tangannya ke dalam selimut, lalu menerobos kemejanya untuk menjempitkan benda kecil itu pada ketiaknya.


"Sudah," ucapnya kemudian.

__ADS_1


Nella mendudukkan bokongnya di atas kasur, di sampingnya. Dia memasukkan handuk kecil ke dalam baskom lalu memerasnya.


"Lu nggak usah kompres gue, gue bisa sendiri." Rizky memegang lengan Nella saat wanita itu hendak menaruh handuk di atas keningnya. Bukan Rizky tidak mau, justru dia sangat senang kalau Nella peduli padanya. Hanya saja sedari tadi Angga terus menatapnya dengan tajam, seolah tak mengizinkan Nella melakukan hal yang membuatnya bahagia.


"Memang bisa? Ini." Nella memberikan handuk kecil itu padanya, kemudian Rizky menaruhnya sendiri di atas dahinya. "Pipi Bapak juga sepertinya bengkak, di kompres saja." Nella mencelupkan lagi handuk yang satunya, tapi saat dirinya kembali untuk menaruhnya di atas pipi Rizky, lagi-lagi pria itu mencegahnya, mengambil alih handuk itu dan menempelkan sendiri.


Nella ikut meringgis saat melihat Rizky meringgis kesakitan, pipinya terasa berdenyut nyeri.


Setelah termometer itu berbunyi, Rizky mencabutnya dan memberikan pada Sindi. Wanita paruh baya itu dan suaminya langsung terbelalak saat melihat suhu tubuh Rizky 38 derajat.


'Ternyata dia benar-benar sakit,' batin Angga.


"Bapak mau makan sekarang?" tanya Nella seraya mengambil mangkuk di atas nakas, dia juga mulai menyendokkan satu sendok bubur itu padanya.


Sebelum Rizky menerima suapan dari Nella, dia melirik sebentar pada Angga. Hanya ingin memastikan saja dan ternyata matanya kini sudah tak melototinya.


"Kok diem? Ini makan? Hhmm?"


Melihat Nella yang sungguh-sungguh ingin menyuapinya, Rizky bergegas membuka mulut dan mengunyah bubur itu dengan mata berbinar.


Rizky merasa terharu bahagia, mendapatkan perlakuan hangat yang sedari dulu dia impikan.


Dia ingin momen seperti ini berjalan lama, tapi sayangnya itu tidak terjadi saat Angga berkata, "Nella, biar Bibi saja yang menyuapi Rizky, kamu lebih baik istirahat ke kamar." Angga menyentuh bahu Nella sebentar dan menoleh pada Bibi pembantu.


Sepertinya, Angga tidak berbaik hati begitu saja melihat rona bahagia yang terpancar dari wajah Rizky. Dia tetap teguh pada pendiriannya untuk memisahkan mereka dan tentunya tidak pernah suka pada setiap orang yang selalu memerdulikan Rizky.


"Biar saya yang menyuapinya Nona." Bibi pembantu mengulurkan tangannya untuk meminta mangkuk yang berada di tangan Nella.


Rizky sudah harap-harap cemas saat melihat Nella yang tengah menatap mangkuk pada tangannya. Mulutnya langsung komat kamit, berdo'a supaya Nella tak memberikan mangkuk itu pada Bibi. Rizky mau Nella yang menyuapinya.


'Ya Allah tolong, sekali ini saja ... biarkan Nella berbaik hati padaku,' batin Rizky dengan mata terpejam.


...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...

__ADS_1


...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...


__ADS_2