Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
216. Ngiler


__ADS_3

Ceklek~


Seorang Dokter dan suster masuk ke dalam kamar Nella, mereka juga bersama bayi cantik yang berada di dalam box.


Kemudian disusul oleh Guntur, Sofyan, Sindi dan Angga.


"Selamat pagi semuanya, ini dia si cantik yang semalam baru lahir," ucap Dokter itu lalu mendorong box di dekat ranjang Nella.


Wanita cantik itu tak jadi memijit tengkuk Rizky, fokusnya teralihkan pada anaknya.


Semua orang yang berada di sana tampak begitu antusias melihat bayi cantik itu, mereka sesekali mengelus-ngelus pipinya. Hanya saja tak ada yang berani menggendong sebab terlihat dia tertidur dengan pulas.



"Kamu seneng 'kan, Sayang? Dia perempuan dan cantik sepertimu?" Rizky yang duduk di samping Nella lantas mengusap puncak rambutnya, dilihat wanita cantik itu tengah memandangi anaknya dengan mata yang berbinar serta mengulum senyum.


Nella mengangguk semangat. "Aku mengeluarkannya sekuat tenaga, Mas. Pasti aku senang."


"Iya, aku tahu itu." Rizky ikut tersenyum. Tadi dia sempat takut jika Nella tak senang. Mengingat jika saat dikandungan dia menginginkan bayi laki-laki.


"Nggak nyangka Papa sudah tua ya, Ma? Sekarang Papa punya cicit," ucap Angga pada Sindi yang tengah menggendong cicitnya. Ingin menunggu bangun rasanya sudah tak sabar, mereka ingin menciumi pipi gembulnya.


"Iya, Pa. Mama juga nggak nyangka kalau kita sudah tua sekali." Sindi menyahuti ucapan suaminya.


"Perasaan baru kemarin Mama melahirkan Sofyan, ya? Eh, Sofyan sudah punya cucu."


"Iya, Sofyan sudah tua sekarang." Sindi menatap anaknya yang tengah berdiri di samping Rizky.


"Aku masih muda, Ma." Sofyan menyahut, dia tak suka disebut tua. "Aku dan Rizky seperti kakak adik. Iya 'kan, Riz?" Sofyan menoleh pada menantunya, meminta sahutan.


"Iya, Pa." Rizky menjawabnya cepat.


"Apa dia belum diberi nama?" Angga menatap ke arah Nella. "Bagaimana kalau Opa yang memberikannya nama."


"Namanya Jihan, Opa," jawab Rizky.


"Jihan doang?"


"Jihan Anastasia Putri Cantika Nella Nur Rizky Gumelang."


Mata mereka semua sontak terbelalak, kecuali Sofyan. Dia malah terkekeh. Dan bayi mungil itu juga langsung menangis. Dia lagi-lagi seperti tak suka mendengar nama panjang itu.

__ADS_1


Sindi segera menimang-nimangnya dan tak lama dia kembali tertidur.


"Panjang amat," ucap Angga. "Mana ada Rizkynya lagi."


"Kepanjangan itu, Riz. Nanti dia keberatan nama," ujar Gita yang berada di sofa. Duduk bersama Guntur.


"Beratnya bagaimana? Kan cuma nama."


"Istilah orang dulu mereka bilang berat kalau namanya kepanjangan. Lebih baik Jihan Gumelang saja."


"Terlalu simple."


"Jihan Putri Gumelang. Itu jauh lebih bagus dan mudah diingat." Sindi memberikan saran.


"Kasih nama ke anak nggak usah aneh-aneh deh, Riz." Guntur ikut menimpali, sepertinya tak ada yang memihak kepadanya.


"Aneh-aneh apa, sih? Orang bagus. Artinya juga bagus."


"Tapi kepanjangan, kata Mama juga berat." Gita menyahut.


"Berat apaan sih. Zaman sekarang 'kan nama lengkap yang panjang itu lagi ngetrend." Rizky tetap bersikukuh ingin memberikan nama yang panjang untuk anaknya.


"Nggak masalah, nama Jihan cantik dan manis. Cocok buat dia. Tapi memang sepertinya nggak usah terlalu panjang, Mas." Nella menoleh pada suaminya. "Nama lengkapnya seperti yang disebutkan Oma saja."


"Tapi aku suka nama itu, Sayang. Aku susah payah mencarinya di internet dan menggabungkan nama kita berdua supaya pas."


"Oh, yasudah deh. Terserah Mas Rizky saja." Nella menganggukkan kepalanya tanda setuju, dia tak tega untuk menolak permintaan suaminya. Namun tak lama terdengar suara isakan tangis Jihan.


"Oe ... oe ... oe."


Dokter segera mengambil alih bayi mungil itu dari tangan Sindi, dia menimang-nimangnya seraya berjalan mendekati Nella yang sedang duduk selonjoran. "Coba beri dia asi, Nona. Kira-kira sudah keluar atau belum?"


Nella langsung meraba dadanya, dan sontak saja Rizky menepisnya.


"Jangan sekarang, tunggu dulu." Rizky langsung panik, dia pun segera turun dari tempat tidur, kemudian menarik lengan Guntur sampai pria itu berdiri. Guntur sendiri binggung akan tujuan Rizky melakukan hal itu.


"Kamu kenapa sih, Riz? Papa lagi enak-enak duduk juga." Guntur mendengus kesal ketika anaknya itu sudah membukakan pintu untuk dia keluar.


"Yang merasa berjenis kelamin laki-laki silahkan keluar dulu, istriku tercinta ingin menyusui anakku," ucap Rizky. Setelah berhasil mengeluarkan Guntur dari kamar itu, kini beralih pada Sofyan dan selanjutnya adalah Angga.


Ketika tiga pria itu berhasil dikeluarkan, Rizky segera menarik hordeng yang berada di sisi pintu, siapa tahu mereka akan berniat mengintip dari kaca pintu itu.

__ADS_1


"Aku malu membukanya, Dok." Nella menyentuh kancing bajunya, ragu untuk memperlihatkan buah dadanya. Rizky berjalan pelan menghampiri mereka berlima, dia sangat penasaran ingin melihat istrinya untuk pertama kali menyusui.


"Kenapa malu? Kan kita semua disini wani ...." Ucapan Gita menggantung saat kepalanya menoleh ke samping, tepat dimana Rizky berada. Mata pria itu sudah melotot saat Nella melepaskan beberapa kancing baju dan menyembulkan salah satu buah dadanya. Sungguh, pemandangan itu begitu menggiurkan. Dia sampai menelan salivanya dengan kelat.


'Wih, besarnya. Jadi kepengen.' Rizky membatin.


"Biasa saja lihatnya! Kaya baru pertama kali saja!" tegur Gita seraya meraup kasar wajah pria tampan itu. Menyadarkan otak mesumnya.


"Aku sudah biasa kok," jawab Rizky.dengan agak terkejut.


Perlahan Nella mendekatkan puncak dadanya ke arah bibir Jihan yang saat ini dia gendong. Bayi mungil itu langsung melahapnya, dan mengem*tnya penuh semangat. Nella meringis geli, sensasi itu sangat baru dia rasakan.


"Apa ASI-nya sudah keluar, Nell?" tanya Gita.


Nella mengangguk. "Sudah, Ma. Tapi sepertinya masih sedikit."


"Nanti saya beri vitamin untuk memperlancar asi, kalau begitu saya permisi," ucap Dokter itu.


"Terima kasih, Dok," ujar Nella.


"Sama-sama."


Dokter dan suster itu lantas berjalan keluar dari kamar itu kemudian menutup pintu.


Tak berselang lama kepergian mereka, tangan Gita yang berada di atas kasur mendadak basah. Ada beberapa tetes air yang menimpa di atas punggung tangannya.


Lantas dia pun menoleh dan melihat tangannya sendiri, lalu mendongakkan wajahnya sedikit saat melihat di mana asal air tersebut.


"Astaga Rizky! Joroknya!" omel Gita seraya mengusap punggung tangannya pada jas pria tampan itu. Asal air itu ternyata dari air saliva Risky yang tak terasa menetes akibat terus melihat buah dada istrinya.


Rizky terhenyak. Dengan cepat dia mengusap bibirnya, kemudian berlari masuk kamar mandi sebab merasa malu. Wajahnya pun sudah merah padam.


Sindi yang melihatnya langsung terkekeh sambil geleng-geleng kepala.


"Ada apa sih, Oma?" tanya Nella yang tak tahu apa-apa. Sejak tadi dia hanya fokus menatap anaknya.


"Itu, si Rizky tadi ngiler di tangan Mamanya." Sindi melihat pada Gita yang tengah menggerutu sambil membersihkan tangannya dengan segelas air di bawah tempat sampah.


"Kok bisa Mas Rizky ngiler? Bukannya dia nggak tidur?" Alis mata Nella bertaut.


"Dia nggak tidur, tapi otaknya mesum. Pasti dia kepengen itu lihat dadamu, Nell." Gita menimpali.

__ADS_1


__ADS_2