
"Reymond!" panggil Rizky saat melihat sang sahabat berada di lobby kantornya. Reymond diberitahu oleh Guntur kalau Rizky sudah pulang dari acara bulan madunya. Niatnya datang ke kantor Rizky tidak lain adalah untuk menanyakan perihal pernikahan dadakannya itu. Sabab, yang Reymond tau—Rizky tak pernah serius dengan wanita.
Reymond yang tengah duduk langsung berdiri, ia menghampiri Rizky yang berdiri di depannya. "Lama banget lu datang? Gue nunggu lu dari tadi juga," ucapnya seraya melihat arloji pada pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 8, namun Reymond sendiri baru saja sampai ke kantor Rizky. Ia hanya berbohong tadi.
"Sorry, Rey. Gue habis sarapan dulu di mobil." Rizky menghabiskan nasi goreng itu saat dirinya baru saja sampai di parkiran kantor, ia begitu tak sabar untuk segera memakan dan menghabiskannya.
"Di mobil? Tumben banget, memangnya nggak ada tempat lain?"
"Lu ada apa ke kantor gue? Kita ke ruangan aja, biar enak ngobrolnya."
Reymond mengangguk, lantas dirinya mengekori Rizky dari belakang.
Sebelum sampai di ruangan Rizky, Rizky memesan kopi hitam pada OB untuknya dan Reymond.
"Ada apa, Rey? Kita nggak ada meeting hari ini, kan?" tanya Rizky saat keduanya telah duduk di sofa sambil menyeruput secangkir kopi hitam.
"Memang nggak ada, gue ke sini mau tanya-tanya soal pernikahan lu aja. Kok bisa lu tiba-tiba nikah dengan Nella? Awalnya bagaimana?" sejujurnya, Reymond sendiri sudah tau dari istrinya. Namun, ia ingin mendengar cerita langsung darinya.
"Awalnya ...." Rizky mulai menceritakan kembali saat dirinya dijodohkan, tanggapan Reymond hanya mengangguk-angguk saja. Namun, ada senyuman tipis yang terukir dari wajah sahabatnya itu. Nampaknya, Reymond ikut bahagia mendengarnya. "Menurut lu, gue dan Nella cocok nggak, sih?" tanya Rizky, setelah selesai bercerita.
"Cocok, memang kenapa? Lu nggak pede jadi suami Nella?"
"Ah, hahahaha, pede lah ...." Rizky terkekeh. "Oya, cara buat nyenengin hati cewek gimana ya, Rey? Biar luluh."
Tidak ada salahnya ia meminta saran dari Reymond. Mungkin saja, Reymond bisa membantunya, dan bisa membuat hubungan ia dan Nella jauh lebih baik. Sebab, Rizky sendiri seperti enggan untuk bercerai dengan Nella, ia masih ingin berumah tangga dengannya.
"Nyenengin hati cewek?" Reymond mengerutkan kening dan seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Iya, hal apa yang buat Indah senang? Dia dan Nella 'kan temenan. Mungkin punya kesamaan?" tanya Rizky kembali.
"Kalau Indah, sih. Dia nggak neko-neko, dikasih apa aja dia mah seneng. Apalagi kalau diajak melakukan tugas negara," ucapnya sambil terkekeh.
"Ish, lu mah." Rizky menyenggol lengan Reymond, menghentikan khayalan mesum sang sahabat. "Kalau gitu mah susah," keluh Rizky.
__ADS_1
"Susah apanya? Wanita paling suka diperhatiin suami dan dimanjakan, coba aja lu lakukan itu, dan belikan barang-barang atau makanan kesukaannya, tanya sama papahnya, dia pasti tau, nanti hati Nella akan luluh," terang Reymond memberikan saran.
"Tapi masalahnya dia punya pacar, Rey. Dan setau gue ... dia sangat mencintai pacarnya, bagaimana cara mengambil hatinya, coba?"
"Dia 'kan istri lu sekarang. Sebisa lu aja ambil hatinya tiap hari. Coba saran dari gue tadi, berawal dari ajakin bercinta dulu."
"Kalau dia nggak mau?" tanya Rizky ragu.
"Dih, nggak usah izin. Perkosa aja langsung, nanti kalau udah ngerasain enaknya juga dia ikut mendessah ...," saran Reymond kembali, sambil terkekeh.
Apa gue ikutin saran Reymond aja apa, ya? Dulu gue lihat Nella ikut menikmati kok, saat bercinta dengan gue' batin Rizky.
"Lu juga temui pacarnya itu, kasih dia pelajaran supaya putus dengan Nella," tambah Reymond kembali.
"Kalau masalah itu sudah pasti, Rey. Gue akan temui dia nanti." Rizky mengangguk, memang ia sudah punya niat untuk menghancurkan hubungan Nella dengan Ihsan.
***
Di Restoran.
Tok ... tok ... tok.
"Tante ...," panggil Nella.
"Ya, masuk Nella," sahut Nissa dari dalam.
Ceklek~
Nella membuka pintu ruangan itu, ia tersenyum dan segera masuk, duduk di sofa ruangan Nissa. Sedangkan Nissa, wanita itu tengah duduk di kursi putar miliknya.
"Tan ... aku mau bicara," pinta Nella dengan suara manja. Ia melihat sedari tadi sang tante sibuk dengan buku catatannya.
"Iya sebentar Sayang." Nissa menyelesaikan catatannya, lantas dirinya menutup buku dan bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Sekarang dirinya pindah posisi duduk di sofa di samping Nella. Ia memeluk tubuh keponakannya singkat dan mencium keningnya.
"Bagaimana pernikahanmu? Apa kamu bahagia habis menikah dan berbulan madu dengan Rizky?"
"Tante ini bicara apa? Jelas aku nggak bahagia!" Nella mencebik bibirnya. "Aku mau tanya masalah KB sama Tante."
"KB?" Nissa mengerutkan kening. "Kamu mau di KB?"
Nella mengangguk semangat. "Iya, aku nggak mau hamil anaknya Rizky, Tante. Apa Tante mau menemaniku pergi ke dokter kandungan?"
"Nggak mau hamil anaknya? Tapi kamu 'kan sudah menikah dengannya Nella."
"Iya, memang aku sudah menikah. Tapi 'kan Tante tau sendiri pernikahanku seperti apa. Dan aku sama Kak Ihsan ...." Nella menceritakan semua rencana yang Ihsan buat untuknya. Rencana untuk mengambil Nella dari tangan Rizky. Nampaknya Nella sendiri begitu yakin—jika itu benar menjadi kenyataan.
"Terus masalah papahmu bagaimana? Memangnya kamu yakin ... Ihsan akan dapat restu?"
"Papah 'kan hanya memintaku untuk menikah dengan pria yang punya masa depan, intinya punya banyak uang. Kalau Kak Ihsan sukses ... Papah pasti setuju padanya," jawabnya dengan penuh percaya diri.
"Tapi Tante takut ... usaha kamu dan Ihsan sia-sia saja, Nell," ujarnya murung. Nissa mengingat sikap Sofyan saat dirinya dan Ihsan datang ke kantor, itu membuatnya kasihan pada Ihsan.
Nella menyentuh punggung tangan Nissa pelan. "Aku dan Kak Ihsan akan mencobanya dulu. Tapi sekarang, Tante tolong antarkan aku ke dokter kandungan. Aku mau di KB, aku nggak mau hamil anak Rizky." Nella menyentuh perut datarnya.
"Jadi kamu dan dia belum berhubungan badan?"
"Sudah, tapi besoknya aku datang bulan. Tapi aku takut, Tan. Jika nanti setelah datang bulan Rizky kembali menyentuhku. Aku pernah baca di internet ... kalau saat wanita selesai datang bulan, lalu berhubungan badan. Peluang hamil begitu besar, aku nggak mau itu sampai terjadi," terang Nella dengan wajah ketakutan.
"Iya, memang itu benar." Nissa mengangguk. "Ya sudah, Tante akan antar kamu ke dokter kandungan." Nissa bangkit dari tempat duduknya, lantas mengambil tas jinjing mewah miliknya di atas meja. Setelah itu, ia dan Nella pergi menaiki mobil menuju rumah sakit.
"Nanti kamu mau di suntik atau minum pil saja?" tanya Nissa seraya menoleh pada Nella yang menyetir mobil.
"Yang baik untuk kesehatan yang mana?"
"Setau Tante sih pil, kalau suntik nanti datang bulan kamu nggak lancar," terang Nissa. Ia sendiri melakukan KB dengan cara seperti itu dan memang cocok.
__ADS_1
Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!
Yuk follow IG Author: @rossy_dildara