
Sebelumnya....
Sofyan dan Aldi sudah tiba di Singapura sore hari sekitar pukul 15.00. Mereka langsung memesan hotel dengan kamar yang berbeda.
Dan saat ini, Sofyan tengah duduk di atas kasur sembari menunggu Aldi yang sejak sejam yang lalu pergi untuk mencari informasi, tentang di mana letak pelelangan itu.
Sofyan sangat penasaran dengan gadis yang diyakini adalah Maya, dan itulah alasan mengapa dia sampai jauh-jauh datang ke Singapura.
"Kalau memang dia Maya, semoga saja aku nggak telat menyelamatkannya." Sofyan perlahan menyentuh dadanya yang tiba-tiba saja berdebar kala mengucapkan nama gadis itu, pipinya juga ikut-ikutan merona. "Kenapa jantungku sangat berdebar? Apa jantungku kumat lagi?"
Sofyan terdiam beberapa saat sampai dia pun menggeleng cepat. "Ah semoga saja nggak. Meskipun aku tua, aku juga mau sehat. Aku nggak mau jadi beban dan ... aku juga mau menikah lagi. Dan menikahinya dengan Maya."
Sofyan terdiam beberapa saat, lalu tertawa entah apa itu sebabnya. "Apa jangan-jangan aku cinta pada pandangan pertama sama Maya, ya? Ah konyol sekali, ini benar-benar gila."
Tak lama bel kamar itu dipencet oleh seseorang yang berada diluar. Lantas Sofyan segera beranjak dan membuka pintu.
Ceklek~
"Saya menemukan ini, Pak." Dia Aldi. Tangan kanannya memberikan selembar brosur yang bertuliskan 'Virgin Woman' dan Sofyan langsung terkejut saat melihat gambar pertama yang tertera di sana. Lagi-lagi ada wajah Maya di sana.
"Kita langsung ke sana saja, Di. Nanti malam." Sofyan tampak antusias sekali mendapatkan informasi itu. Bahkan isi dari selembar brosur itu juga tertera lokasi tempat pelelangan itu. Akan lebih mudah untuk pergi ke sana.
"Kita bisa ke sana, tapi kita harus pastikan dulu sebelum membeli gadis itu. Takutnya dia bukan Nona Maya. Coba Bapak lihat nama ketiga gadis itu." Aldi menunjukkan brosur yang masih di tangan Sofyan. "Nggak ada nama Maya, Pak."
Sofyan mengangguk. "Iya, mangakanya kita harus pastikan dulu."
*
*
Pelelangan itu akan buka pada jam 11 malam, tetapi Sofyan sudah stay di depan bar bersama Aldi dari kejauhan. Hanya ingin memantau kapan datangnya Mucikari dan para gadis itu.
Sofyan sebenarnya ingin masuk ke dalam, tetapi petugas yang berjaga tidak memperbolehkan sebab itu sudah khusus untuk tamu 10 orang. Para pria yang akan menghadiri dan tentunya mengikuti ajang tawar menawar itu.
Tepat jam 12.00. Seorang wanita seksi berjalan di depan mereka, dan di belakangnya ada tiga anak buah yang bersama ketiga gadis-gadis cantik.
__ADS_1
Ketiga gadis berjalan seperti diseret-seret oleh pria kekar itu, karena sangking kasarnya menarik lengannya. Ketiganya berulang kali berontak, ingin melepaskan diri namun sayangnya tidak bisa.
Sofyan langsung melepaskan kaca mata hitam yang sejak tadi menempel pada pangkal hidungnya saat melihat orang-orang itu lewat. Matanya lansung menyorot tajam pada gadis yang dia yakini adalah Maya, meski gadis itu sama sekali tak memperhatikan keberadaannya.
"Pak, saya mohon lepaskan saya! Saya nggak mau dijual!" pekiknya dengan hentakkan tangan. Dia berusaha berontak tetapi justru pergelangan tangannya makin dicengkeram hebat oleh pria itu.
"Diam!" bentaknya.
Sofyan langsung membulatkan matanya. Hanya dari suara gadis itu yang lumayan samar didengar—tetapi mampu meyakinkan hati Sofyan jika dia benar-benar Maya.
'Maya, dia Maya. Dia Maya sekertarisnya Rizky sekaligus calon istri dan jodohku yang sempat tertunda,' batin Sofyan.
Sofyan hendak mengejar orang-orang itu yang baru saja masuk ke dalam bar, tetapi lengannya dicekal oleh Aldi hingga langkahnya terhenti.
"Jangan gegabah, Pak. Kita harus main cantik," tegur Aldi. Dia melihat wajah Sofyan sudah merah padam, dan yakin jika pria itu begitu emosi.
Sofyan mengangguk, dia pun menghela napasnya dengan kasar.
"Tapi bagaimana kalau Maya berhasil dijual oleh salah satu pria hidung belang itu, Di? Bagaimana nasibku nanti?" keluh Sofyan, raut wajahnya seketika muram.
"Nasib Bapak?" Aldi mengerenyitkan dahi. Dia tak paham dengan ucapan Sofyan. "Maksudnya bagaimana? Memang Bapak dan Nona Maya punya hubungan?"
"Iyalah, Maya calon istriku, Di," ucap Sofyan dengan pede. Padahal kemarin malam dia sudah ditolak.
Aldi membulatkan matanya dengan sempurna. "Bapak yakin? Nona Maya bahkan seumuran dengan Nona Nella, Pak."
"Iya, aku yakin. Dan memang kenapa kalau seumuran Nella? Masalah?" tanya Sofyan dengan tatapan sengit.
Aldi menggeleng. "Nggak sih, cuma aneh saja. Dan apa Nona Mayanya juga mau? Apa jangan-jangan Bapak paksa dia? Oh ... apa jangan-jangan Pak Rizky yang paksa dia, ya?"
"Apaan sih?" Sofyan mendengus kesal. "Mana ada paksa paksaan. Maya memang mau kok menikah denganku. Katanya dia mau punya suami yang sudah berumur, biar lebih pengalaman," ujarnya dengan bangga. Bahkan sampai menepuk dada sambil tersenyum lebar.
"Oh, mungkin supaya cepat dapat harta warisan ya, Pak," celetuk Aldi
Sofyan langsung melolot, tangannya refleks menoyor kepala Aldi. "Kurang ajar banget kau, Di! Kau mendoakan aku cepat, mati, hah?" bentaknya emosi.
__ADS_1
Aldi menggeleng cepat, lalu terkekeh. "Maaf, Pak. Saya hanya bercanda."
"Bercanda-canda, kalau saja aku nggak membutuhkanmu ... aku akan mencekikmu sekarang juga!" ketus Sofyan.
Aldi tertawa, entah mengapa kemarahan di wajah pria itu sangat mirip dengan Rizky. "Maaf, Pak. Saya do'akan deh, supaya Nona Maya benar-benar wanita yang tulus sama Bapak."
"Do'akan juga supaya dia jatuh cinta padaku," tawar Sofyan sambil menadah tangan. Dia menganggap serius do'a anak buahnya itu. Padahal awalnya Aldi hanya menjadikan itu semua supaya merayu Sofyan untuk tidak marah.
"Iya, saya do'akan. Ada lagi, Pak?"
"Pas malam pertama dia ketagihan, dan minta digoyang terus," imbuh Sofyan.
"Dih, itu do'anya terlalu mesum, Pak. Memang boleh?" Alis mata Aldi bertaut.
"Nggak apa-apalah, kan itu demi keharmonisan rumah tangga."
"Ya sudah semoga saja ya, Pak." Aldi mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Nanti rencana Bapak mau punya anak lagi? Eh, tapi Bapak sudah punya cucu 'kan, ya? Malu nggak itu, Pak?"
"Ah masalah itu sepertinya kejauhan, nanti saja kamu nanyanya."
***
Mobil yang ditunggangi Maya itu melaju dengan kecepatan full, jalan raya di kota itu juga cukup sepi karena sudah menjelang tengah malam.
Maya berkali-kali mengoceh memohon untuk melepaskan dirinya, bahkan dia terus mencoba membuka pintu mobil meskipun tak ada gunanya sama sekali.
"Lepaskan saya, Pak!"
"Kau bisa diam nggak, sih!" bentak pria itu emosi.
"Saya akan diam kalau Bapak lepaskan saya!" teriak Maya seraya menggerakkan lengan kanannya yang sejak tadi dicengkeram kuat oleh pria di sampingnya.
Pria itu pun membuang napasnya dengan kasar, lalu membungkukkan badannya dan tangannya meraih sesuatu ke bawah kursi.
Sebuah botol minuman beralkohol dengan kadar tinggi sudah ada di tangan. Dia pun segera membuka penutup botol itu lalu mencengkeram dagu Maya.
__ADS_1
"Saya nggak ... eemmpp."
"Minum cepat!" tekan pria itu seraya menenggakkan botol air haram itu ke dalam mulut Maya secara paksa. Dia merasa geram sekali melihat Maya yang terus memberontak. Lebih baik gadis itu dibuat mabuk supaya lebih enak membawanya.