Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
172. Senang melihatku masuk rumah sakit


__ADS_3

Ihsan pun segera berbalik badan, saat melihat Diana menoleh pada pria berjas itu.


'Siapa dia?' batin Ihsan.


"Om ...." Diana memperhatikan wajah pria yang berada di sampingnya. Jika dilihat dari usianya—mungkin dia lebih muda tiga tahun dari Sofyan.


"Kamu lupa padaku, ya?" Pria tersebut menebak saat Diana seperti kesusahan mengingat wajahnya.


Ihsan berjalan beberapa langkah menuju kursi panjang yang berada di dekat mereka, lalu duduk sembari mengambil koran dan menutupi wajahnya.


"Aku Aji, Aji Wijaya," ucap pria tersebut yang mana membuat Diana mengangguk dan tersenyum.


"Ah Om Aji. Maaf ... aku sampai nggak mengenali Om." Diana menjabat tangan Aji saat pria itu mengulurkan tangannya.


'Aji?' batin Ihsan.


Tentu Ihsan dapat mendengar apa yang mereka ucapkan dan kini tangannya merogoh ponselnya yang berada di dalam kantong celana.


Ihsan pun tak mengerti dengan tujuan yang dilakukannya sekarang, tetapi saat ini dia tengah memvideokan mereka berdua lewat ponselnya.


"Nggak apa-apa, kamu tambah cantik saja sekarang." Aji mengelus puncak rambut Diana dan seketika membuat pipi wanita itu merona.


"Jangan begini, Om. Aku takut dilihat orang-orang." Diana menarik tangan Aji supaya pria itu tak lagi menyentuh kepalanya.


"Sombong sekali kamu, menikah dengan Pak Sofyan nggak memberitahuku. Padahal dua bulan yang lalu aku mencarimu," ujarnya kesal.


"Om kenal suamiku?"


"Kenal, dia 'kan rekan bisnisku. Kenapa kamu lebih memilih menikah dengannya daripada denganku?" tanya Aji penasaran.


Deg!


Mata Ihsan membulat sempurna mendengar apa yang sampai ke telinganya. Jelas sekali dalam mata kepalanya sendiri, mereka sangat akrab bahkan begitu mesra.


Sesekali pria yang bernama Aji itu mengelus pipi Diana dan terlihat wanita itu juga seperti malu-malu.


'Ada hubungan apa mereka?' batin Ihsan.


"Itu salah Om. Kata aku juga dulu apa, aku minta Om bercerai dengan istri Om, tapi Om nggak cerai-cerai dengannya!" hardik Diana sambil bersedekap, bibirnya mengerucut. "Dan lebih baik aku menikah saja dengan Sofyan yang jelas berstatus duda."


"Tapi sekarang aku juga duda, Diana. Aku sudah bercerai dari sebulan yang lalu."

__ADS_1


Mata Diana seketika berbinar dan dengan refleks memeluk tubuh Aji. "Benarkah?"


Mata Ihsan kembali melebar melihat pemandangan aneh di depannya. 'Kok mereka peluk-pelukkan segala?' batinnya.


"Iya, benar sekali." Aji baru saja hendak membalas pelukan itu, tetapi tak jadi lantaran Diana sudah melepaskan tubuhnya. "Eemm ... apa nanti malam kita bisa bertemu?"


"Bertemu?" Diana terdiam sesaat lalu mengangguk cepat. "Di mana?"


"Nanti aku beritahu." Aji merogoh kantong celana bahannya untuk mengambil dompet, setelah itu dia memberikan kertas kecil persegi empat padanya. "Pegang ini, nanti kamu hubungi aku."


Diana melihat kertas itu yang ternyata adalah kartu nama, gegas dia menaruhnya di dalam tas, sebab takut hilang.


"Apa Om akan mengajakku—"


"Tante Diana," panggil seorang wanita yang datang bersama seorang pria. Ucapan Diana sampai terhenti padahal Ihsan sangat penasaran.


Ihsan segera mengakhiri video itu saat tahu orang yang menghampiri Aji dan Diana adalah Indah dan Reymond.


Ihsan bangkit lalu berlalu pergi keluar dari rumah sakit.


Sepertinya hari ini rencananya gagal lagi. Padahal tadi niatnya ingin menjebak Diana. Namun dibalik itu semua—ada yang jauh lebih membuatnya penasaran. Yaitu hubungan antara Aji dan Diana.


*


*


"Kamu siapa?" tanya Diana seraya menatap wajah wanita cantik yang terlihat asing di matanya.


"Aku Indah, Tante. Temannya Nella," jawab Indah lembut.


"Oh, kamu ingin menjenguk Nella, ya? Ayok bareng saja kalau begitu," ajak Diana.


"Oh, Nella sakit?" Aji ikut menyahut dan ucapannya sukses membuat Reymond menoleh padanya. Tatapan mata pria itu begitu sengit, tentunya Reymond tak pernah menyukai Aji. "Aku boleh ikut menjenguknya, Diana?" tawarnya.


"Boleh, ayok pergi bersama." Diana mengangguk, kemudian mereka pun sama-sama berjalan menuju kamar inap Nella.


Diana menurunkan handle pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Dan seketika itu pun—dua orang yang tengah asik berciuman di dalam sana terperangah kemudian bergegas mengakhiri aktifitasnya.


Nella yang sejak tadi berada di pangkuan Rizky, langsung dia angkat dan membaringkannya di atas tempat tidur, tidak lupa menyelimutinya juga.


'Menganggu orang lagi pacaran saja, siapa, sih?' gerutu Nella dalam hati sambil cemberut.

__ADS_1


"Nella Sayang." Diana berjalan cepat menghampiri Nella, lalu memeluk tubuh wanita itu. "Maafin Mami karena baru datang, bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanyanya dengan suara sedih.


Nella segera melepaskan pelukan itu dan mendorong tubuh Diana supaya tak terlalu dekat dengannya.


Bukan Nella tidak mau, tetapi aroma minyak wangi milik ibu sambungnya itu tak pernah dia sukai dan malah membuat perutnya mual.


"Kok kamu begitu? Kamu marah sama Mami?" tanya Diana dengan alis mata yang bertaut, dia merasa heran atas perlakuan Nella yang sedikit kasar padanya.


"Aku nggak marah, Mi. Cuma minyak wangi Mami bau. Aku nggak suka," bantah Nella seraya menggelengkan kepala dan menutupi hidungnya.


Diana mundur beberapa langkah hingga tepat di samping Aji. "Ah kamu ini ada-ada saja, Mami wangi kok dibilang bau," sanggahnya dengan bibir yang mengerucut.


"Aku jujur, Mi," jawab Nella.


"Nella, ini aku bawa bolu kukus untukmu. Aku dan Papaku yang membuatnya, lho," ucap Indah. Dia dan Reymond berjalan menghampiri Nella dan Rizky. Lalu Indah menaruh paper bag yang dibawanya di atas nakas.


"Wah terima kasih, Indah. Kamu sampai datang ke sini," ujar Nella sumringah.


Rizky berpindah posisi duduknya di sofa, bersama Reymond yang baru saja duduk. Sedangkan Indah menarik kursi kecil di dekat ranjang, lalu duduk di sana.


"Nggak apa-apa, aku hanya ingin menjengukmu. Bagaimana keadaanmu?" Indah menyentuh lengan Nella sambil tersenyum. "Aku dengar dari Mas Reymond ... kalau kamu hampir keguguran, ya?"


"Iya, tapi alhamdulilahnya aku baik-baik saja sekarang," jawab Nella sambil tersenyum.


Pandangan mata Nella sejak tadi tertuju pada Aji, wajahnya terlihat asing tetapi herannya mengapa dia juga datang bersama mereka tadi?


"Om itu siapa, Ndah? Kamu mengenalnya?" tanya Nella beralih menatap Indah namun melirikkan matanya sekilas pada Aji.


"Dia Pak Aji, Nella sayang." Yang menjawab bukan Indah, melainkan Diana. "Dia rekan bisnisnya Papi."


Nella terdiam sesaat dan didetik selanjutnya dia membulatkan matanya. Tentu nama itu Nella ingat betul jika dia adalah ayahnya Mitha.


"Om Papinya Mitha?" tanya Nella seraya menatap pria yang berdiri di samping Diana.


Aji mengangguk dan tersenyum. "Iya, salam kenal, Nell."


"Terus kenapa Om ada di sini dan datang dengan siapa? Jangan bilang dengan Mamiku?" tuduh Nella. Kini tatapannya menjadi curiga sebab terlihat Diana sesekali melirik pada pria itu.


Aji menggeleng cepat. "Nggak, Om nggak sengaja ketemu dengan Mamimu di lobby tadi." Aji menoleh pada Diana sekilas.


"Terus Om mau apa ada di sini? Apa Om senang melihatku masuk rumah sakit?" tebak Nella.

__ADS_1


__ADS_2