Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
64. Tidak beres


__ADS_3

Keesokan harinya.


Nella yang sudah mandi dan cantik berjalan menuju kamar Rizky, sekedar ingin mengecek kondisinya.


Saat dia telah sampai di depan kamar—pintu kamar itu terbuka dengan lebar dan ada Bibi pembantu yang tengah membereskan tempat tidur. Namun, tidak ada Rizky di sana.


"Di mana Pak Rizky? Ah ... maksudku Mas Rizky?" tanya Nella seraya menghampiri Bibi pembantu.


"Pak Rizky sudah berangkat ke kantor, Nona. Dia tadi meminta Bibi untuk membereskan kamarnya," jawabnya.


Nella melihat jam weker di atas nakas yang menunjukkan pukul 6 pagi. Ini terlalu pagi untuk seseorang yang akan berangkat ke kantor dan rasanya aneh juga.


'Apa Mas Rizky sangat sibuk? Sampai pagi-pagi ke kantor? Dan apa tubuhnya sudah sembuh?' batin Nella.


"Tadi Bibi lihat ... dia sudah sembuh atau masih sakit?" tanya Nella penasaran.


"Sepertinya sudah sembuh, Nona."


Nella menghela nafas lega, dia berjalan keluar dari kamar itu dan tiba-tiba ponselnya berdering hingga membuat langkahnya terhenti. Panggilan itu dari Ihsan pacarnya.


"Halo, Kak," ucap Nella saat panggilan itu diangkat.


"Halo Cantik, selamat pagi."


"Pagi juga."


"Kamu ke mana saja? Dari semalam aku telepon tidak diangkat."


Dari semalam sehabis bertemu Rizky, Nella sama sekali tak mengecek ponselnya. Itu sebabnya dia tak tahu jika pacarnya sudah menelepon hingga tiga kali tapi tidak diangkat.


"Maaf Kak, aku kemarin membantu Rizky."


"Membantu? Maksudnya bagaimana? Bukannya kamu dan dia sudah nggak ketemu?" tanya Ihsan penasaran.


"Rizky sekarang tinggal di rumah Opa denganku, Kak."


"Kok bisa? Kenapa? Bukannya Opa Angga mendukungku? Apa dia berubah pikiran?" Mendadak hati Ihsan tak enak, dia juga begitu cemas saat tau Rizky berada satu atap lagi dengan pacarnya.


"Bukan karena itu, tapi kemarin aku menemukan dia di jalan. Dia ...." Nella menceritakan kembali apa yang telah terjadi pada Rizky, juga tentang Gita dan saat Rizky sakit semalam.


"Oh, jadi kamu nggak angkat teleponku karena mengurus Rizky? Jadi sekarang ... Rizky lebih penting dariku, ya?" Suara Ihsan terdengar seperti marah. Wajar saja, dia merasa cemburu mendengar pacarnya secara tidak langsung lebih memedulikan Rizky ketimbang dirinya.


"Bukan seperti itu, Kak. Aku hanya nggak tega padanya. Masa aku diam saja melihat orang sakit? Sudah begitu ... Papa dan Mamanya Rizky menintaku untuk selalu menengoknya saat di kamar. Dan aku hanya melakukan apa yang mereka mau, nggak lebih dari itu." Nella mulai menjelaskan semuanya. Dia tak mau hanya lantaran Rizky tinggal lagi bersamanya, itu membuat Ihsan sakit hati.

__ADS_1


"Benar ya hanya itu, kamu nggak suka padanya, kan?"


"Kakak ini bicara apa, sih?" Nella terkekeh. "Mana mungkin aku suka padanya, aku hanya suka dan cinta sama Kakak."


"Ya sudah, kalau begitu nanti siang kita bertemu, ya? Aku rindu padaku."


"Aku juga rindu, kita bertemu di mana Kak?"


"Di restoran Tante Nissa, seperti biasa, Cantik."


"Oke, Kak."


***


Rizky pergi pagi-pagi dari rumah Angga bukan lantaran ingin ke kantor, tetapi Gita yang menyuruhnya untuk datang ke rumahnya. Entah ada urusan apa, tapi yang jelas seperti urusan penting dan masalah keluarga.


"Lho, kamu kok datang sendiri? Mana Nella?" tanya Gita saat melihat kedatangan Rizky seorang diri di ruang keluarga. Gita juga sebetulnya meminta Rizky untuk mengajak Nella, tetapi Rizky tidak mengajaknya sebab dia pikir—Nella belum bangun. Yang Rizky tahu juga, Nella selalu bangun lebih lambat darinya.


Di dalam ruang keluarga itu bukan hanya ada Gita dan Guntur saja, melainkan ada Ridho Gumelang, alias adik kandung Rizky. Pria berumur 26 tahun itu lantas bangkit dari duduknya seraya memeluk tubuh Rizky. Sudah lama mereka tak jumpa, Ridho baru pulang dari Amerika karena mengurus perusahaan Guntur di sana.


"Gimana kabar Kakak gue yang tampan ini?" tanya Ridho seraya melepaskan pelukan.


"Gue baik, lu sendiri? Kapan sampai di Indonesia?"


"Kenapa kamu nggak ngajak Nella?" Gita mengulang pertanyaannya lagi lantaran Rizky belum menjawabnya.


"Nella sedang sibuk tadi, Ma. Jadi nggak aku ajak."


"Sedang sibuk atau dia nggak mau datang ke sini?" tanya Guntur dengan tatapan curiga.


"Ah, sebenarnya aku nggak mengajaknya. Aku juga nggak enak sama Opa," jawab Rizky sambil tersenyum kecut.


Guntur menghela nafas. "Memang harusnya kamu nggak perlu mengajaknya juga," ucapnya dengan ketus.


"Eemm ...ada apa nih? Tumben kita berkumpul?" tanya Rizky seraya menoleh pada Gita dan Guntur yang sedang duduk berdua.


"Ridho besok mau menikah, Papa dan Mama juga sudah pesan hotel dan acara ijab kabulnya jam 8 pagi. Tapi kamu datangnya malam saja pas pesta, ya?" pinta Gita.


"Kok cepat, katanya bulan depan?"


"Iya, tapi pacarnya sudah minta cepat-cepat menikah." Gita melirik sebentar pada Ridho yang tengah senyum-senyum sendiri. "Si Inggit sudah kebelet mau dinikahi," imbuhnya sambil menarik turunkan alisnya, menggoda Ridho yang terlihat malu-malu.


Rizky menyenggol lengan adiknya saat pipi dan telinga Ridho memerah. Mungkin jika Rizky tidak menikah karena dijodohkan, bisa-bisa Ridho duluan yang menikah sebab dia dan Inggit pacarnya sudah lama pacaran.

__ADS_1


"Kamu hari ini sibuk nggak, Riz?" tanya Gita.


"Memangnya mau apa? Aku ada meeting sih sama Papa Sofyan, tapi jam 9."


"Ya sudah, kamu ikut Mama dulu sebentar, yuk! Mumpung masih pagi." Gita bangkit dari duduknya seraya mengambil tas jinjing yang berada di atas meja.


"Mama mau ke mana? Arisan?" tanya Rizky. "Arisan pagi-pagi amat? Ibu-ibu belum pada mandi kali, Ma."


"Nanti kalau sudah di jalan Mama beritahu." Gita mencium punggung tangan Guntur dan Rizky juga melakukan hal yang sama, sebelum keduanya keluar dari rumah.


*


*


*


"Jangan naik mobilmu, naik mobil Mama." Gita menarik lengan Rizky saat pria itu berjalan menuju mobilnya, dia langsung mengajak Rizky masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang. Sedangkan di depan sudah ada Tata sang sopir.


"Lho, kalau Mama pergi sama Pak Tata, kenapa harus meminta antar padaku?" tanya Rizky binggung.


"Terus masalahnya apa? Kamu keberatan memangnya?" gerutu Gita. "Jalan, Pak," perintahnya yang mana dianggukki oleh pria berkumis tebal itu.


"Syarat-syaratnya sudah dibawakan, Bu?" tanya Tata, dia melihat Gita dari spion depan sambil mengemudi.


"Sudah. Tapi bener jam segini orangnya sudah buka praktek?"


"Sudah, Bu. Ibu tenang saja."


"Buka praktek? Praktek apa?" tanya Rizky dengan dahi yang berkerut. Dia tak mengerti maksud dari percakapan Gita dan Tata.


"Kamu diam dan menurut saja, jangan banyak bicara!" tegas Gita.


"Katanya mau memberitahuku kalau di jalan?"


"Nanti kalau sudah sampai."


Beberapa menit berlalu, mobil yang mereka tunggangi sudah tak berada di jalan raya, melainkan di jalan setapak yang dikelilingi pepohonan besar. Rumah-rumah di kawasan itu juga terbilang sedikit.


Rizky melirik ke kanan dan kiri jendela mobil dan tiba-tiba perasaannya mendadak tak enak, seperti ada hal yang tidak beres.


...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...


...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...

__ADS_1


__ADS_2