Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
59. Patah semangat


__ADS_3

Seketika itu pun, hati Nella mulai goyah dan melunak. Dia merasa tak tega untuk menolak permintaan Gita. Meskipun aslinya, dia sendiri tak mau mengajak Rizky untuk tinggal bersama.


"Iya, aku akan ajak Pak Rizky tinggal di rumah Opa."


Jawaban dari Nella sontak membuat mata orang yang berada di sana berbinar, kecuali Angga dan dua bodyguardnya. Dia justru mendelik mendengar apa yang Nella ucapkan.


'Nella mau ngajak gue? Gue nggak salah dengar, kan?' batin Rizky.


"Nella, apa yang kamu ucapkan?" Angga menoleh pada Nella dengan alis mata yang bertaut. "Rizky nggak boleh tinggal denganmu."


"Nggak apa-apa, Opa. Ini hanya sementara sampai aku dan dia sidang. Mungkin hanya lima hari," jelas Nella.


"Tapi tetap saja, kamu nggak perlu mengajak dia tinggal bersamamu. Opa juga nggak mengizinkan dia tinggal di rumah Opa," tegasnya.


"Papa tolong jangan seperti ini, walau bagaimanapun ... Rizky masih suaminya Nella. Biarkan dia tinggal walau hanya sebentar," pinta Sofyan dengan nada lembut. Dia mencoba membantu Rizky.


"Nanti aku dan Pak Rizky tidur terpisah. Dia bisa tidur di ruang tamu, Opa," ujar Nella.


"Maaf sebelumnya ...." Guntur berkata seraya berjalan mendekati mereka, lebih tepatnya pada istrinya. "Mama, kalau Pak Angga nggak mau mengizinkan Rizky untuk tinggal bersama Nella ... sudah, biarkan saja. Jangan memaksanya."


Sejak awal, Guntur selalu diam dan menuruti semua ucapan istrinya yang mengatur hidup Rizky. Semua orang seakan tak pernah meminta pendapat padanya, termasuk Gita.


Namun, semakin lama—dia semakin merasa kasihan pada nasib anaknya. Sejelek apapun Rizky, Dia tetaplah anaknya. Guntur juga mau melihat Rizky hidup bahagia bersama orang yang dicintai, tapi mungkin bukan Nella orangnya.


"Biarkan saja mereka tinggal masing-masing. Lagian, cepat atau lambat ... mereka akan bercerai juga," imbuhnya lagi dengan suara datar.

__ADS_1


"Papa ... kok Papa bicara seperti itu? Aku nggak mau bercerai dengan Nella, Pa," bantah Rizky dengan suara lirih.


Guntur berbalik dan menghampiri Rizky kembali. "Papa yang salah di sini. Sejak awal, harusnya Papa nggak usah setuju dengan usulan Sofyan untuk melakukan perjodohan. Jadi kamu nggak perlu menikah dengan Nella." Tangannya mengelus lembut lengan Rizky, dia begitu terenyuh melihat kondisi Rizky saat ini. "Lepaskan Nella, dia nggak akan bisa mencintaimu, Riz. Kamu hanya menyakiti diri sendiri kalau terus menginginkannya. Di hatinya hanya ada Ihsan, bukan Rizky."


Guntur kembali mengingatkan padanya, supaya Rizky sedikit sadar akan posisinya di hati Nella.


Tidak ada, benar-benar tak ada sedikitpun nama Rizky di hati wanita yang masih berstatus istrinya itu. Akan tetapi, entah mengapa—beberapa kata demi kata yang Guntur ucapkan mampu menyentuh hati Nella. Ada rasa mengganjal dan bersalah. Tapi, Nella sendiri tak tau, apa kesalahannya. Dia hanya meminta keadilannya untuk bisa bersama pria yang dicintainya, dan itu bukan Rizky.


Lantas, apakah itu adalah kesalahan?


Semuanya terdiam, sampai beberapa menit akhirnya Angga menghela nafas panjang kemudian berkata, "Oke, Rizky bisa tinggal bersama Nella di rumahku sampai hari persidangan. Tapi dia harus berjanji dulu, dia nggak akan menolak untuk bercerai dengan Nella." Angga menatap wajah Rizky yang tengah terdiam dengan ekspresi sedih. "Opa tunggu kamu di rumah, Opa pulang duluan kalau begitu."


Setelah mendengar perkataan Angga, Nella menghampiri Gita, Guntur dan Sofyan. Dia mencium punggung tangan mereka bergantian dan yang terakhir adalah tangan Sofyan.


"Papa, maaf. Sepertinya ... aku nggak akan tinggal lagi dengan Papa sebelum aku bisa menikah dengan Kak Ihsan." Nella tersenyum dan memeluk tubuh pria itu sebentar. "Papa tahu, kan? Aku sangat mencintainya. Aku mau hidup dengannya dan hanya Opa yang sekarang berada dipihakku. Jadi sekali lagi, aku minta maaf ...." Setelah mengatakan hal itu, Nella berlalu pergi bersama Angga.


'Aku nggak mau Nella menikah dengan Ihsan. Aku hanya ingin Rizky yang menjadi menantuku,' batin Sofyan.


"Menurut Papa, lebih baik Rizky nggak usah tinggal dengan Nella saja, Ma. Percuma," ujar Guntur. Dia masih tak setuju dengan permintaan Gita pada Nella barusan.


"Papa, sudah dong. Ini adalah kesempatan emas buat Rizky dan Nella memperbaiki hubungan." Gita begitu yakin, mungkin saja akan ada perubahan dalam hubungan mereka. Setidaknya menjelang sidang pertama.


"Pak Guntur, Bu Gita. Maafkan saya, saya nggak tau kalau jadinya seperti ini. Saya kira ... Nella akan menerima dan mencintai Rizky setelah mereka menikah," ungkap Sofyan dengan rasa sesal di hati. Dia berjalan pelan menuju sofa dan duduk.


"Nggak apa Sofyan. Lagian, ini sudah terjadi," jawab Gita santai.

__ADS_1


Tak lama dokter datang dan mengecek kondisi Rizky. Dokter itu mengatakan kalau Rizky sudah boleh pulang saat ini juga. Dan memang, dia tidak kenapa-kenapa. Hanya akting yang Rizky lakukan.


"Nanti Bapak kompres wajah Bapak sebelum tidur dengan batu es, dan jangan lupa untuk mengolesi salepnya." Dokter itu memberikan satu lembar kertas yang berisi resep pada Rizky. "Ada obat untuk pereda nyerinya juga. Kalau begitu saya permisi."


"Terima kasih, Dokter," ucap Rizky dan Gita berbarengan. Kemudian dokter itu pergi dari kamar inap itu.


"Papa yang akan antar kamu ke rumah Opanya Nella," ucap Sofyan saat melihat Rizky bangkit untuk duduk.


"Iya, Pa," jawab Rizky pelan. Sebetulnya, ada rasa senang bisa tinggal bersama Nella. Tapi masalahnya, hanya tinggal bersama—bukan tidur bersama. Padahal, dia sudah sangat merindukan istrinya, rindu akan kembali menyentuhnya.


"Rizky dengar ucapan Mama ...." Gita menyentuh pundak Rizky dan dia pun menatapnya dengan serius. "Kamu harus jaga sikapmu pada Nella. Jangan pernah buat dia kesal. Kamu harus membuat dia nyaman saat berada didekatmu."


"Caranya?" Rizky mengerutkan kening. Entahlah, semua usul dari orang lain yang selalu dilakukannya belum ada yang berhasil. Rizky merasa patah semangat untuk kembali berjuang.


"Jangan banyak bicara pada Nella," sahut Sofyan. "Dia terkadang suka kehilangan kalau ada seseorang yang begitu cuek padanya," usul Sofyan. Sudah tak terhitung usulan darinya, tapi belum ada yang berhasil juga, sama saja.


"Aku harus puasa ngomong sama dia? Kalau aku butuh dia bagaimana, Pa?" tanya Rizky.


"Kamu butuh apa? Kalau masalah di rumah, kamu minta saja bantuan Bibi pembantu."


"Kalau masalah di ranjang bagaimana? Kalau aku kepengen? Aku rindu sama Nella, Pa."


Itu adalah salah satu keinginan Rizky untuk bisa bersama Nella. Kebutuhan biologis yang tak pernah bisa Rizky tahan sejak dulu.


"Ah sudahlah." Gita mengibaskan tangannya. "Nggak perlu memikirkan hal itu dulu. Yang terpenting ... kamu bisa bersama Nella. Sekarang kamu dan Sofyan pergi, nanti Mama akan kirim ponsel baru dan mengurus isi dompetmu yang hilang." Gita menarik tangan Rizky supaya berdiri.

__ADS_1


...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...


...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...


__ADS_2