Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
13. Apa aku akan menikah?


__ADS_3

"Apa aku akan menikah?" tanya Nella menatap Sofyan dengan serius.


Sofyan tidak menjawab, pria itu diam saja. Nella memegangi lengan papahnya.


"Pah ... apa Papah mau nikahin aku sama Rizky?" tanyanya sekali lagi, ia menggoyangkan lengan Sofyan. "Pah, aku tidak mau menikah dengannya!"


Hampir selama diperjalanan, Nella terus menerus bertanya, tapi Sofyan sama sekali tidak menjawabnya, mulutnya seakan terkunci. Nasi goreng dari Sofyan bahkan tidak tersentuh sama sekali, Nella tidak nafs* makan, pikirannya begitu tak tenang.


Rasa curiga Nella kini terungkap sudah, saat mobil yang dirinya tunggangi berada di parkiran Hotel. Nella tercengang melihat Hotel berbintang lima yang sudah terpampang nyata tulisan 'Rizky Gumelang dan Nella Pujiati' sebagai nama kedua mempelai. Ini sungguh benar-benar nyata, hari ini adalah hari pernikahannya.


Sofyan dan Guntur sudah menyiapkan, tanpa sepengetahuan Nella tentunya.


"Papah, ini tidak benar, Pah. Papah tidak boleh melakukan ini padaku!" bantah Nella.


Sofyan menarik lengan Nella, mengajak untuk turun. Mereka langsung masuk pada gedung besar itu, sudah banyak beberapa tamu undangan yang datang. Sofyan benar-benar niat menjodohkannya, bahkan sudah menyebarkan undangan pada seluruh rekan bisnisnya.


"Papah, aku mohon jangan gila!" teriak Nella memberontak, ia mencoba melepaskan cengkraman tangan sang papah dan menghentikan langkahnya yang sedari tadi di paksa melangkah.


"Kau yang jangan gila! Sekarang ikut Papah!" tekan Sofyan.


Karena terlalu susah untuk menarik Nella ikut bersamanya. Sofyan akhirnya berbuat nekat, ia mengendong tubuh putrinya bagaikan karung beras. Ia membawanya untuk masuk kedalam ruangan make up.


Kejadian itu sontak menjadi pusat perhatian para tamu undangan. Sama halnya dengan Rizky, pria tampan itu sedang duduk di kursi akad nikah, bersama papah dan mamahnya. Mengenakan setelan jas berwarna putih dan sangat mewah.


Ia melihat apa yang Sofyan lakukan, jelas sekali itu sebuah pemaksaan. Ia makin dibuat kalut, tak yakin jika pernikahannya akan berjalan lancar.


"Mah, apa kita akhiri saja?" tanya Rizky seraya menoleh pada Gita. Ia juga tau, kalau wanita paruh baya itu melihat kejadian tadi.


"Akhiri apanya, sih? Kau dan Nella sebentar lagi akan menikah."


"Tapi, Nella sepertinya tidak--"


"Riz! Sudahlah. Lebih baik kau mengingat kalimat ijab kabulmu!" tegur Gita menyela ucapan Rizky. Ia mengelus lengan anaknya. "Kau tenang, semuanya akan baik-baik saja."


Apanya yang baik-baik saja? Aku tidak yakin.


Rizky menunduk, ia memegangi jari jemarinya yang terasa basah. Tiba-tiba jantungnya berdebar hebat, merasa grogi. Ini adalah momen yang pertama Rizky rasakan, sebentar lagi akan menjadi seorang suami. Tapi, bagaimana rumah tangganya nanti?

__ADS_1


***


Ceklek~


Seorang wanita membuka pintu ruangan make up, ia adalah salah satu team WO.


"Pak, putri Bapak tidak mau didandani. Dia justru mengacak-acak alat make up," ucapnya dengan kesal, memberitahu pada Sofyan yang tengah berdiri didepan pintu.


Sofyan terbelalak, ia segera masuk kedalam dan menghampiri Nella yang tengah membanting bedak hingga pecah, berhamburan di lantai. Ada dua wanita lagi disana, mereka ingin merias wajah Nella. Namun justru alat-alatnya sudah sebagian hancur, akibat dibanting oleh gadis cantik itu. Nella tampak tak terima jika dirinya akan menikah.


"Nella, sini kamu!" bentak Sofyan seraya menarik lengan Nella, mengajaknya untuk duduk di sofa.


Nella sudah berganti pakaian. Walaupun awalnya susah, akhirnya team WO itu berhasil memakaikan ia gaun pengantin. Gaun putih terjuntai panjang dan mewah, terlihat sangat cantik dan anggun melekat pada tubuh seksinya. Namun sayang, wajahnya tampak cemberut dan begitu polos karena belum tersentuh make up.


"Papah, please ... jangan nikahkan aku dengan Rizky. Aku tidak suka padanya Pah ...," lirihnya dengan sendu. Nella memasang wajah memelas pada Sofyan, demi meluluhkan hati papahnya.


"Masalah suka lagi? Setelah kau menikah, kau bisa suka padanya!"


"Tidak, aku tidak akan pernah suka dengan pria hidung belang seperti dia!" Nella menggeleng kepalanya dengan cepat.


Deg!


Nella terbelalak. "Mati? Apa maksud Papah mati? Papah mau membunuhnya?"


"Iya, itu kalau kau tidak menuruti apa kata Papah."


Nella menatap wajah Sofyan dengan nanar, pria paruh baya itu tampak begitu serius.


"Ah, tidak-tidak. Papah pasti berbohong, Papah tidak mungkin sekejam itu." Nella menggelengkan kepalanya lagi, mungkin saja Sofyan hanya mengancamnya.


"Oh, kau tidak percaya dengan Papah? Oke, tunggu sebentar." Sofyan merogoh ponsel pada kantong celana. Setelah berhasil mengambil, ia menelepon seseorang dengan panggilan video call.


Saat sambungan telepon itu diangat, layar ponsel Sofyan terlihat wajah Ihsan. Pria tampan itu tengah berbaring di lantai dengan mata terpejam.


Nella terbelalak. "Kak Ihsan ...," panggil Nella seraya menatap layar ponsel, kemudian ia menoleh pada Sofyan. "Apa ... apa yang Papah lakukan? Kenapa Kak Ihsan seperti pingsan begitu?"


"Papah belum apa-apa 'kan dia."

__ADS_1


"Belum apa-apa 'kan? Maksudnya? Papah jangan sakiti dia, Pah."


"Iya, kau tidak mau Ihsan kenapa-kenapa, kan? Jadi kau harus turuti omongan Papah."


"Papah mengancamku?" Bola mata Nella sudah berkaca-kaca.


"Kalau kau menganggap itu sebuah ancaman, tidak masalah." Sofyan mengelus pelan rambut Nella yang berantakan. "Kau sekarang berdandan, jangan buat ulah. Semua menunggumu di luar."


"Tapi, Pah ... aku tidak mau menikah dengan Rizky, aku hanya mau menikah dengan Kak Ihsan," lirihnya.


Air mata Nella sudah mengalir membasahi pipi, ia masih berusaha untuk meluluhkan hati Sofyan. Tapi nyata tidak berhasil, pria paruh baya tetap bersikukuh pada pendiriannya. Lantas, ia langsung berdiri dan membereskan jasnya.


"Hapus air matamu." Sofyan menyeka kedua pipi putrinya. "Papah tunggu diluar, jangan buat Papah malu. Kau akan cantik nanti."


"Tapi, Papah harus berjanji padaku dulu." Nella memegang lengan Sofyan.


"Janji apa?"


"Papah jangan sakiti Kak Ihsan."


"Iya, kau tenang saja. Itu tidak akan terjadi, asal kau turuti ucapan Papah!" ancamnya. Setelah itu, Sofyan berlalu pergi meninggalkan Nella.


"Ayok, Mbak!" Salah satu wanita yang masih di ruangan itu menarik lengan Nella, mengajaknya untuk duduk didepan meja rias.


Kak Ihsan, maafkan aku. Aku sangat mencintai Kakak, tapi Papah sangat jahat padaku, Kak.


Nella diam dan pasrah saat wajah polosnya kini tengah didandani oleh wanita itu. Dua wanita yang lainnya menyisir rambut panjang Nella, dan yang satunya tengah memberikan cat pada kuku cantiknya.


Dengan waktu kurang dari tiga puluh menit saja, Nella sudah tampak seperti bidadari. Begitu cantik dan sangat anggun. Setelahnya, ketiga wanita itu mengajak Nella keluar dari ruangan, menghampiri Sofyan yang sudah berdiri stand by.


Pria paruh baya itu menggembung senyumnya dengan lebar, saat melihat kecantikan yang terpancar dari rona wajah putrinya.


"Kamu cantik sekali, Sayang. Memang kecantikan putri Papah ini tidak ada yang menandingi!" pujinya sambil merangkul bahu Nella. Ia mengajaknya menuju tempat akad nikah.


Nella hanya menunduk dengan memendam rasa kesal di dada, ingin rasanya ia berteriak dan memberontak. Tapi ancaman Sofyan membuat nyalinya menciut, ia takut kalau Ihsan disakiti.


Jangan lupa like 💕

__ADS_1


__ADS_2