Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
208. Hanya bercanda


__ADS_3

"Dih, kok Mas bicara seperti itu." Indah ikut menyahut, dia merasa tak enak karena melihat wajah Nella begitu masam. Pasti wanita itu sakit hati dengan ucapan suaminya.


Bukannya ikut tak enak hati, Reymond justru terkekeh melihat Nella. Dia tadi hanya bercanda, tetapi istri temannya itu pasti menganggapnya serius.


"Maaf, Nell. Aku hanya bercanda," ujar Reymond.


"Kita memang sering saling menghujat, Nell." Rizky mengelus puncak rambut istrinya, mencoba untuk meredakan amarah yang terlihat jelas pada sorotan matanya pada Reymond. "Nggak perlu diambil hati, Reymond hanya bercanda."


Nella menoleh pada Rizky. Pria itu langsung tersenyum padanya. "Tapi Mas tampan, masa dibilang gembel? Apa nggak berlebihan bercandanya?"


"Nggak apa, kita sering melakukannya kok." Rizky mengangguk kecil.


"Mas nggak sakit hati?"


"Nggak." Rizky menggeleng. "Kan itu hanya bercanda, Sayang."


Nella berbalik menatap mata Reymond. "Menurut Bapak, Mas Rizky jelek?" Mimik wajahnya sudah tak lagi marah, tetapi dia masih penasaran dengan ucapan Reymond barusan.


"Nggak, dia tampan, Nell." Reymond terpaksa bicara seperti itu karena di bawah meja Indah tengah mencubit besar paha kirinya. Seperti tengah mengancam untuk tidak meledek Rizky di depan Nella.


Mendengar jawaban yang begitu memuaskan, Nella langsung mengulum senyum pada sudut bibirnya. Lalu dia pun bangkit sedikit untuk mengecup pipi kiri Rizky secara tiba-tiba.


Cup~


Reymond agak terkejut, matanya sedikit membulat tetapi dia langsung geleng-geleng kepala. Rasanya lucu sekali melihat sikap Nella yang sangat mencintai dan mengagumi suaminya. Namun tak dipungkiri ada rasa hangat di dalam dada. Dia bersyukur karena Rizky telah sukses membuat Nella jatuh ke dalam pelukannya, tentu dia juga ikut bahagia.


"Aku mencintai Mas Rizky," ucap Nella.


"Aku juga, Sayang." Rizky mengecup bibir Nella singkat.


Melihat kemesraan itu jelas membuat dua orang di depan mereka merasa iri. Dan akhirnya mereka juga melakukan hal yang sama. Saling mengecup satu sama lain meski hanya sebentar.


Tak lama pesanan mereka datang, disajikan dengan begitu rapih oleh kedua pelayan yang mengantarkannya.


"Berapa bulan kamu, Nell?" tanya Indah sembari menatap perut buncit temannya.


"Empat, Ndah."


"Sudah melihat jenis kelaminnya?"


"Belum."


"Ngidam apa saja kamu selama hamil? Coba ceritakan." Indah terlihat begitu antusias ingin mengetahuinya.


"Apa ya?" Nella terdiam sesaat, lalu berkata, "Ikan bakar."

__ADS_1


"Hanya ikan bakar?"


"Ada lagi. Tapi waktu itu ikan bakarnya Mas Rizky lansung menangkapnya dari kolam langsung, dan itu seru banget, Ndah." Nella tersenyum lebar, lalu menoleh sebentar pada Rizky.


"Pak Rizky nyebur ke kolam? Apa memancing?"


"Awalnya memancing, tapi nggak boleh sama Mama Gita. Terus akhirnya Mas Rizky mengambilnya pakai jaring."


"Ikan apa itunya?"


"Gurame. Terus aku yang membakarnya. Kasihan juga Mas Rizky kena kail pancing, Ndah."


"Kok bisa kena?"


"Dia terpeleset dan nyebur ke kolam. Pas di dalam kolam jempol kakinya tertusuk." Nella bercerita panjang lebar, terlihat ekspresi wajahnya berubah-ubah. Kadang senang dan sedih, sesuai dengan apa yang diceritakannya.


Rizky dan Reymond hanya terkekeh mendengar cerita itu. Ingin ikut menyahut rasanya tak enak. Mereka terlalu seru dalam bercerita.


"Terus Pak Rizky nangis nggak saat tertusuk?"


Nella menggeleng cepat. "Nggak, aku yang nangis." Dia pun terkekeh kecil.


"Kok malah kamu yang nangis?"


"Aku nggak tega, Mas Rizky begitu 'kan salahku juga."


Nella mengangguk semangat. "Iya, kamu benar. Aku juga sangat mencintainya, Ndah."


"Pegang tuh hidungmu, Riz. Takutnya terbang." Reymond memperingati Rizky. Kedua pipi temannya itu sudah merona.


Rizky tertawa kecil, lalu memajukan sedikit tubuhnya mendekati Reymond. "Sudah tergila-gila dia sama gue, nggak mau lepas," bisiknya dengan bangga sembari melirik ke arah istrinya.


"Pakai pelet pasti lu, Riz."


"Enak saja, nggak dong," bantah Rizky.


"Habis itu apa ada lagi?" tanya Indah.


"Ada, saat aku ingin Mas Rizky botak."


Rizky terbelalak, kepalanya segera menoleh pada Nella. Sepertinya istrinya itu lupa jika tak boleh mengatakan hal itu pada orang lain.


"Terus dibotak nggak?" Indah sudah terkekeh duluan, padahal Nella belum memberikan jawaban.


"Sayang, ayok makan dulu." Rizky menyahut dengan cepat, saat bibir istrinya itu menganga hendak memberikan jawaban. Dia sengaja melakukan hal itu sebab takut jika nanti Nella benar-benar membongkar semuanya.

__ADS_1


Memang kepalanya sekarang sudah tak botak, tetapi sama saja dia malu jika diketahui oleh Reymond.


"Ah, iya, Mas." Nella mengangguk lalu memulai makan dan tak jadi meneruskan obrolannya.


***


Malam hari.


Guntur, Gita, Rizky, Nella dan Risma tengah makan bersama di ruang keluarga.


"Menurut Mbak, mobilku bagus, nggak?" Risma memulai obrolan kepada Nella yang berada di depannya.


"Bagus." Nella menjawab singkat tanpa melihat ke arahnya.


"Oya, Riz. Kamu pasti diundang juga untuk ikut lomba masak, kan? Pasti kalian menang," tanya Gita pada Rizky.


"Aku diundang, tapi aku nggak ikut, Ma," jawab Rizky sambil mengunyah.


"Lho, kenapa? Nella bukannya pintar masak? Ikut saja seru, Riz. Mama dan Papa saja ikut."


"Dih, kata siapa? Papa nggak mau ikut." Guntur menyahut. Gita pun menoleh ke arahnya.


"Kenapa, Pa?"


"Lebay sih, Ma. Ngapain ikut-ikutan lomba memasak. Lagian Mama 'kan nggak bisa masak. Nanti malu-maluin diri sendiri," celetuknya. Guntur kalau bicara memang suka benar.


"Dih, jahatnya Papa! Mama bisa masak air lho."


"Memang ada lomba suruh masak air doang?" Alis mata Guntur bertaut. "Mana ada, Ma? Aneh-aneh saja Mama ini." Guntur mendengus kesal.


"Tapi hadiahnya lumayan lho, Pa. Rugi kalau kita nggak ikut."


"Memang apaan?"


"Mobil Toyota Alphard keluaran terbaru, sama vocer makan gratis di restoran."


Guntur membulatkan matanya, seketika dia merasa tergiur mendengar hadiah itu. Padahal tadi tak ada keniatan sedikit pun untuk ikut. "Yasudah, kita ikut."


"Kamu ikut saja, Riz." Gita menawari Rizky lagi, lalu melirik ke arah Nella yang diam saja dan hanya fokus makan. "Kamu memangnya nggak mau ikut, Nell? Bukannya suka masak?"


"Aku ikut, Ma," jawab Nella. "Tapi sama Omku."


"Kok sama Ommu? Kenapa nggak sama Rizky saja?"


"Akunya telat mengajaknya, Ma." Rizky menyahut cepat. "Nella sudah lebih dulu diajak oleh Omnya," imbuhnya.

__ADS_1


"Kakak ikut saja denganku." Risma ikut-ikutan menyahut.


__ADS_2