
Masuknya Sofyan ke dalam ruangan itu bertepatan dengan dua perawat pria yang baru saja mendorong brankar keluar pintu. Di atas sana ada seseorang yang tengah berbaring tetapi sudah tertutupi kain putih.
"Tunggu dulu!" Sofyan langsung berlari mengejarnya kemudian mencekal salah satu lengan perawat, hingga langkahnya terhenti. "Apa dia Rizky? Rizky menantuku?" tanyanya penasaran. Sofyan sudah menyentuh ujung kain yang berada di kepala hendak dia buka, tetapi terjeda lantaran terdengar suara seseorang yang memanggil.
"Papa! Di mana Mas Rizky?" Dia adalah Nella, wanita itu datang bukan hanya bersama Maya dan Jihan saja, melainkan dengan Guntur dan juga Gita. "Dia siapa, Pa?" tanya Nella dengan gugup. Mereka semua menghampiri Sofyan.
"Apa kalian semua keluarganya Rizky Gumelang?" tanya Dokter itu yang mana membuat mereka yang baru datang menoleh.
"Iya, saya istrinya, Dok." Nella menyahut.
"Kalian semua yang sabar, pasien baru saja meninggal dunia." Dokter itu menatap seseorang yang tertutup kain putih.
Mata mereka semua sontak melotot, tetapi tidak dengan Sofyan yang sudah tahu dengan apa yang disampaikan oleh dokter. Tetapi dia masih belum percaya.
Nella menggeleng cepat, seluruh tubuhnya seketika lemas dan dia hampir saja jatuh kalau tak dipegang oleh Sofyan. Jihan segera diambil alih oleh Maya, dia takut jika nanti bayi cantik itu terjatuh dalam gendongan Nella.
"Nggak! Ini nggak mungkin! Mas Rizkyku nggak mungkin meninggal!" Nella tampak tak percaya, perlahan tangannya terulur ke arah kain.
Dia hendak menyibakkannya, tetapi secara tiba-tiba wanita itu malah melepaskan kain yang baru dia sentuh. Kedua tangannya beralih menyentuh kepala yang berdenyut hebat, sakit dan sangat pusing.
Bruk!
Tubuh Nella seketika ambruk di atas tubuh pria yang dibalik kain itu. Mata Sofyan langsung terbelalak melihat anaknya jatuh pingsan dan dengan segera dia angkat tubuhnya.
"Astaghfirullah, Nella." Cepat-cepat Sofyan membawa Nella ke dalam ruang UGD dan perlahan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Dokter yang tadi menyusulnya masuk, begitu pun dengan Maya yang masih mengendong cucunya.
"Tolong periksa Nella, Dok." Setelah mengatakan hal itu, Sofyan langsung berlari keluar. Dia ingin menghampiri pria yang dokter maksud itu adalah Rizky.
Namun saat berada diluar, Sofyan tak melihat siapa pun di sana. Baik pria yang berbalut kain, kedua perawat, bahkan Guntur dan Gita juga tak ada. Mereka seperti hilang entah ke mana.
"Sus, apa Suster melihat orang-orang yang tadi ada disini?" Sofyan bertanya pada seorang suster yang baru saja lewat. Wanita berseragam itu menghentikan langkahnya.
"Kalau nggak salah mereka ke arah pintu keluar, Pak," jawabnya sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.
"Terima kasih, Sus."
"Sama-sama."
__ADS_1
Sofyan langsung berlari terbirit-birit ke arah pintu keluar, setelah sampai dia langsung menoleh ke kanan dan kiri. Mencari-cari mereka, tetapi lagi-lagi dia tak dapat menemukannya.
Di sana ada seorang satpam yang tengah berdiri, gegas Sofyan menghampirinya seraya mengambil ponsel di kantong celana. Mungkin saja dia tahu.
"Apa Bapak melihat dua orang ini?" Sofyan menunjukkan sebuah foto Guntur dan Gita pada layar ponselnya, saat dimana mereka berfoto dengannya di acara pesta pernikahan adiknya Rizky.
Satpam itu memperhatikannya dengan seksama, lalu menjawab, "Kalau nggak salah tadi mereka berdua naik mobil ambulan, Pak. Bersama satu jenazah yang dimasukkan ke dalam peti."
Sofyan membulatkan matanya dengan lebar. 'Jenazah? Apa tadi benar-benar Rizky? Apa jangan-jangan Rizky benar-benar meninggal?'
"Pak!" Satpam itu menepuk pundak kiri Sofyan hingga membuat pria itu terhenyak, terlihat Sofyan seperti melamun. "Apa tadi jawaban saya kurang jelas, Pak?"
"Jelas kok, terima kasih, Pak." Sofyan mengangguk, cepat-cepat dia pun menghubungi Guntur.
Jika mereka sudah membawa jenazah itu ke rumah, otomatis mereka pasti sudah tahu wajahnya. Meskipun kecil kemungkinan jika pria itu bukan Rizky, tetapi dalam lubuk hati Sofyan dia tentu masih berharap. Berharap kalau itu bukan Rizky, mungkin ada kesalahan atau semacam kemiripan saja.
"Nomor yang Anda tuju sedang sibuk, mohon ...." Suara operator terdengar, sepertinya Guntur tengah menelepon seseorang. Sekarang Sofyan beralih menghubungi Gita, sayangnya nomornya tidak aktif.
Sofyan langsung berlari menuju parkiran dan masuk ke dalam mobilnya Rizky, dia berencana untuk menyusulnya. Tetapi sebelum itu dia menelepon Maya terlebih dahulu.
"Halo, May. Aku titip Nella dan Jihan dulu sebentar, ya. Nanti aku akan telepon Mamaku untuk datang, supaya menemani kamu," ucap Sofyan saat sambungan telepon itu diangkat dari seberang sana.
"Iya."
Setelah mematikan sambungan telepon, Sofyan segera menyalakan mesin mobilnya dan keluar dari gerbang rumah sakit. Kemudian menancapkan gas dengan kecepatan full ke arah rumah Guntur.
Sayang, didalam perjalanan itu mendadak mobil Rizky tiba-tiba saja mati. Sudah begitu matinya di tengah jalan.
"Ck! Menyebalkan sekali ini mobil!" Sofyan mendengus kesal seraya menonjok stir.
Takut akan ditilang seperti kejadian kemarin, Sofyan cepat-cepat keluar dan mengecek bagasi depan mobil. Setidaknya orang-orang akan tahu alasan Sofyan berhenti ditengah jalan.
"Mobil Bapak kenapa?" tanya seorang polisi yang baru saja mematikan mesin motornya. Dia turun dari motor kemudian berjalan menghampiri Sofyan.
"Mobil saya mogok, Pak. Maafkan saya, saya nggak bermaksud parkir di—"
"Tata!" sela polisi itu.
Panggilan nama itu entah mengapa terasa tak asing di telinga hingga membuat Sofyan menoleh.
__ADS_1
Sofyan terbelalak, dunia terasa sangat sempit sekali. Kedua kalinya dia bertemu dengan polisi yang bernama Hartono.
Pria itu langsung memeluk tubuh Sofyan sekilas, pandangan mata Sofyan seketika tertuju pada motor gede polisi itu. Mungkin saja pria yang dia akui teman SMPnya itu akan membantunya.
"Tono, boleh aku minta bantuanmu?"
"Bantuan apa?"
"Aku ingin pinjam motormu, aku mau pergi ke rumah besanku. Ini darurat." Sofyan sudah menadahkan tangannya, meminta kunci yang berada di tangan Hartono.
"Itu motor nggak bisa sembarang orang lain pakai, Ta. Lebih baik aku saja yang mengantarmu," tawarnya.
"Ya sudah, ayok!"
Mereka berdua mendorong mobil Rizky dulu sampai ke sisi jalan raya, kemudian Sofyan menuju motor gede itu dan langsung duduk di jok belakang motor. "Mana helmnya?"
"Di boxs belakang." Hartono naik ke atas motornya lalu menyalakan mesin. Sofyan sudah mengambil helm itu dan memakaikannya di atas kepala.
*
*
"Cepat sedikit, Ton. Naik motornya!" pekik Sofyan di belakang. Motor itu melaju dengan kecepatan sedang dan rasanya Sofyan begitu tak sabar.
"Pelan-pelan asal sampai dengan selamat," jawab Hartono tenang.
"Tapi masalahnya aku ingin menyusul mobil ambulan."
"Katanya tadi ke rumah besanmu?"
"Iya, tapi kencangkan sedikit lagi gasnya. Besanku ada di dalam mobil ambulan itu. Ini tentang masa depan putri dan cucuku. Percepat sedikit."
"Oke deh, tapi kamu pegangan dulu."
Sofyan yang sejak tadi hanya memegang jok motor kini beralih memeluk pria itu dari belakang. Tak peduli, asalkan bisa ngebut.
Motor itu melintas lebih cepat dari tadi, bahkan melesat jauh dan menerobos beberapa kendaraan roda empat.
Tak lama, terlihat ada sebuah mobil ambulan berwarna putih di depan. Ia membunyikan sirine dan begitu kencang melaju. Entah mengapa Sofyan begitu yakin jika mobil itu adalah mobil ambulan yang dimaksud satpam tadi.
__ADS_1
"Cepat susul mobil itu sampai dia berhenti, Ton!" perintah Sofyan seraya menepuk-nepuk punggung Hartono dengan keras.