
Selang beberapa detik wanita itu keluar sembari menyentuh perutnya. Dia berjalan pelan lalu duduk di kursi kecil didekat Rizky.
"Kamu sudah makan belum dari pagi, Nell?" Rizky ikut-ikutan menyentuh perut istrinya. Wajahnya terlihat cemas.
"Belum."
"Makan dulu, kamu 'kan ada riwayat sakit maagh."
"Mas juga belum makan, aku beli makan dulu deh kalau begitu, ya? Nanti kita makan bareng." Nella mengangkat bokongnya, dia hendak melangkah tetapi lengannya langsung dicekal oleh Rizky. Rasanya tak bagus jika Nella pergi dengan tubuh yang lemas seperti itu, apa lagi jika sendiri. Nanti kalau pindang bagaimana? Itulah yang terpikir di otak Rizky.
"Jangan, Nell. Coba kamu telepon Papa Guntur atau Mama Gita saja. Bilang pada mereka kalau aku masuk rumah sakit, sama minta bawakan makanan saja," saran Rizky.
"Aku nggak bawa hape, Mas."
"Pakai hapeku." Rizky menatap nakas, tetapi Nella langsung menunjukkan benda pipih yang sejak tadi berada di tangannya.
"Ini, hapenya ada sama aku." Nella memencet tombol untuk menghidupkan ponsel tersebut, tetapi ternyata mati total. "Hape Mas Rizky mati, nggak hidup."
"Masa, sih? Coba sini." Rizky mengulurkan tangannya, Nella pun segera memberikan ponselnya.
Tok ... tok ... tok.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, mereka berdua langsung menatap ke arah sana dan perlahan handle pintu itu diturunkan.
Ceklek~
"Rizky!"
Dua orang pria tua datang bersama, keduanya mengulum senyum dengan mata yang berbinar kala pandangannya jatuh pada Rizky. Cepat-cepat mereka pun berlari kemudian memeluk tubuh pria yang masih berbaring itu. Tak hanya memeluk, keduanya juga sambil mengecupi wajah pria tampan itu bertubi-tubi.
Tak peduli meski sesama laki-laki atau pria itu belum mandi, yang terpenting adalah melihat Rizky masih bernapas.
Nella yang melihat adegan itu langsung meringis geli, kehadirannya seperti tak dianggap. Mereka hanya fokus pada suaminya.
Meski begitu—dia dapat memaklumi sebab apa yang mereka lakukan adalah bentuk dari rasa bahagia dan sayangnya terhadap Rizky, tentu Nella juga ikut merasakan kebahagiaan.
"Alhamdulillah kamu baik-baik saja, Riz. Papa benar-benar frustasi saat tahu kamu meninggal," ujar Guntur dengan suara bergetar.
"Maafin Papa, Riz. Papa nggak bermaksud menyiksamu sampai begini, Papa menyesal," ujar Sofyan. Suaranya juga tak kalah bergetar.
"Aduh ...." Rizky memekik kesakitan saat merasa sesak di dada akibat pelukan erat yang dilakukan oleh Guntur dan Sofyan. "Papa lepaskan aku, kalian bisa membunuhku," ucapnya dengan suara tertahan.
__ADS_1
Mereka berdua langsung saling melepas diri dari tubuh Rizky. Dilihat kini pria itu tengah mengatur napasnya yang tersendat-sendat.
"Maaf, kami terlalu senang, Riz," kata Sofyan sambil tersenyum.
"Iya, aku tahu. Tapi nggak usah terlalu lah, dadaku 'kan sakit." Rizky menyentuh dada yang naik turun. Dia mengerucutkan bibirnya.
"Apa mau Papa panggilkan Dokter?" tawar Guntur dengan penuh perhatian. Dia mengelus puncak rambut Rizky.
Rizky menggeleng. "Nggak perlu, Pa. Tapi aku mau minta tolong sama Papa."
"Apa?"
"Tolong ajak Nella makan siang, kasihan dia dari pagi belum makan." Rizky menatap Nella yang sudah berpindah posisi duduknya di sofa. Wanita itu terus menatapnya sejak tadi.
"Kita makan disini saja bareng-bareng. Nanti Papa yang belikan." Sofyan menawarkan diri.
Tak lama terdengar suara isak tangis bayi. Jihan lah yang menangis saat masuk bersama Sindi dan Jihan. Cepat-cepat Sindi memberikan Jihan pada cucunya.
"Jihan kenapa, Oma?" tanya Nella seraya mengusap dahi anaknya yang berkeringat, kemudian menggendongnya.
"Dia haus dan seperti ngantuk. Susuin dulu biar tidur, kasihan, Nell," jawab Sindi.
"Papa berdua saja yang beli, sana cepat! Nella mau menyusui Jihan." Rizky terlihat panik saat istrinya hendak membuka kancing dress.
"Aku dan Nella sup ayam saja, Pa. Eh sama perkedel deh."
Nella berdiri kemudian menghadap ke arah tembok, setelah itu dia pun membuka kancing dressnya lalu mengeluarkan sebelah dadanya dan menyusui Jihan. Anaknya itu terlihat begitu tak sabar dan sangat haus.
"Minumnya apa?"
"Aku nggak usah, air putih saja, tapi nggak tahu Nella."
"Aku mau es jeruk, Pa," kata Nella tanpa berpindah posisi.
"Ya sudah, Papa pergi. Ayok, Pak." Sofyan menarik lengan Guntur, pria itu mengangguk. Sebelum pergi mereka berdua mengusap puncak kepala Rizky dahulu, lalu tersenyum.
***
Tengah malam.
Rizky terbangun dari tidurnya lantaran merasa haus pada tenggorokannya yang kering kerontang. Lantas, dengan hati-hati dia pun menarik tubuhnya untuk duduk, kemudian mengulurkan tangannya ke arah nakas untuk mengambil air minum pada teko kaca.
__ADS_1
Satu gelas penuh berhasil Rizky habiskan. Sorotan matanya langsung terjatuh pada tiga perempuan yang sedang tidur dengan lelap di atas kasur busa di lantai, di sebelah kanan ranjang Rizky.
Mereka tiada lain adalah Gita, Jihan dan Nella. Tiga wanita yang sangat berarti dalam hidupnya. Rizky tersenyum memandangi wajah cantik anaknya yang begitu pulas. Dia tidur dengan kedua tangan yang diangkat ke atas, ingin rasanya Rizky bangun dan mencium ketiak kecilnya itu. Pasti aromanya akan harum sekali.
Kebetulan memang Jihan memakai baju tanpa lengan. Hampir setiap malam dia tak pernah memakai baju berlengan, baik panjang mau pun pendek. Sebab dia tak betah, selalu kepanasan dan tak bisa tidur.
Disaat sedang asik-asiknya memandangi Jihan, lagi-lagi Rizky salah fokus pada ibu dari anaknya. Sudah sangat sering Rizky seperti itu, dan itulah alasannya mengapa dia selalu tergoda oleh Nella.
Padahal Nella juga sedang tidur, sama sekali tak sedang menggodanya. Dia juga tak memakai pakaian seksi. Malah pakaian yang dia kenakan terbilang tertutup sebab memakai baju tidur lengan panjang.
Namun, yang membuat Rizky salah fokus adalah satu kancing yang terbuka tepat di arena dada. Belahan dada itu terlihat sedikit dan membuat birahinya tiba-tiba saja memuncak. Sepertinya Nella tadi habis menyusui, dan lupa memasang semua kancing bajunya.
'Nella kebiasaan, nggak buat s*nge nggak bisa kayaknya dia. Kepengen 'kan gue,' batinnya seraya menyentuh miliknya dari dalam celana. Lagi-lagi tegang dan berdiri.
Rizky menoleh ke arah samping sebelah kiri, dia menjatuhkan pandangannya ke arah kasur yang kosong. Malam ini memang kedua orang tua Rizky ikut menginap, dan Guntur lah yang harusnya tidur sendiri di sana.
'Di mana Papa? Kok belum tidur? Apa dia begadang diluar, ya?'
Rizky mengambil ponselnya di bawah bantal, itu adalah ponsel baru yang dibelikan oleh Sofyan sebagai permintaan maaf. Semua kontak pada ponsel lamanya sudah dipindahkan.
Pria itu pun mencari nama di kontaknya, kemudian menelepon. Tetapi dia bukan menelepon Guntur, melainkan Ali. Pria berotot itu tadi sore datang untuk melihat keadaannya.
Satu panggilan langsung diangkat dari seberang sana.
"Halo, Al. Lu di mana?" tanya Rizky.
"Saya lagi di restoran, Pak. Ngopi sambil main catur."
"Apa lu masih ada disekitar rumah sakit? Eh, lu main sama siapa? Papa Guntur?"
"Bukan, Aldi. Iya ... saya masih ada disekitar rumah sakit. Saya di restoran depan."
"Bagus kalau begitu." Rizky tersenyum lebar. "Tolong belikan gue komd*m, Al. Cari yang paling bagus, tipis tapi anti bocor, ya!" titah Rizky.
"Kond*m? Buat siapa, Pak?"
"Buat gue lah."
"Dih, memangnya Bapak kalau bercinta masih pakai kond*m? Dan bukannya Bapak sedang sakit, ya? Eh, Bapak juga masih dirawat. Masa iya bercinta, sih? Di rumah sakit lagi."
Kebiasaan Ali, setiap siapa pun yang ingin menyuruhnya—dia pasti selalu mengajukan beberapa pertanyaan dulu. Padahal, kadang itulah yang membuat orang lain jengkel, begitu pun dengan Rizky sekarang.
__ADS_1
"Bawel amat sih lu, Al. Tinggal beli saja apa susahnya, sih? Lagian lu juga dapet uang jalan nanti!" Rizky mendengus kesal sembari mengusap kasar wajahnya, namun secara tiba-tiba dia pun bersin kala hidungnya terasa gatal. "Haccim ...!"
Itu disebabkan karena tangannya tadi bekas menyentuh burung, dan ada bulunya yang rontok lalu menempel pada lubang hidung.