Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
58. Bawa Rizky bersamamu


__ADS_3

'Ah sial! Mama terlalu banyak memberi minyak angin. Salah gue, kenapa lupa memberitahunya,' batin Rizky.


"Papa ... kok Rizky belum sadar-sadar sih, Pa?" tanya Gita pada suaminya.


Lain halnya dengan Gita yang terlihat cemas, Guntur justru begitu santai. Ia sedari tadi hanya memegangi tangan Rizky.


"Mungkin dia harus di dekat Nella, Bu. Biar Rizky cepat sadar," ucap Sofyan. Kembali ia mengajak Nella untuk lebih dekat dengan Rizky.


Guntur segera bangkit dari duduknya dan meminta sang menantu duduk. Nella bagaikan boneka, ia menuruti semua ucapan dari Sofyan. Mau pamit pergi dari sana, rasanya susah. Ia seperti berada dalam genggaman Sofyan.


"Rizky, bangun. Lihat, ada siapa. Katanya kamu rindu dengan Nella." Sofyan ikut berakting.


Ia menarik tangan Nella supaya menyentuh punggung tangan Rizky. Nella hendak menarik kembali tangannya. Namun, ada tangan Sofyan yang seakan menjadi perekat mereka.


Rizky yang sudah tak tahan pada panasnya minyak angin, terpaksa mengerjapkan matanya dengan perlahan. Padahal, niatnya ingin pingsan sampai malam.


"Aku ada di mana? Kenapa panas sekali?" tanya Rizky dengan suara lemah. Ia gegas mengusap dahinya yang masih basah akibat minyak angin.


Mata Gita dan Guntur langsung berbinar, melihat sang anak sudah sadarkan diri.


"Rizky? Apa ada yang sakit?" tanya Gita seraya menangkup kedua pipi Rizky yang membiru. Sentuhan tangan Gita terasa kasar, Rizky itu sampai meringis kesakitan. "Ah, maafkan Mama." Gita gegas melepaskan tangannya pada wajah sang anak.


"Bagaimana bisa kamu dirampok? Bagaimana kejadiannya?" tanya Guntur.


"Aku ingin ke kamar mandi dulu, tubuhku panas sekali."


Sofyan dan Guntur langsung membantu Rizky yang hendak mengangkat tubuhnya untuk bangkit.


"Ke kamar mandi mau apa, sih?" tanya Gita cemas.

__ADS_1


"Aku mau cuci muka."


"Ih jangan, wajah kamu baru di obati," cegah Gita saat Rizky baru saja hendak turun dari kasur. Tangan Rizky masih mengenggam tangan Nella sedari tadi, semenjak bangun dari pingsan.


"Tapi dahiku panas sekali, Ma. Perut, leher, kaki dan tanganku. Aku ingin membasuh semuanya."


"Mama terlalu banyak memberi minyak angin pada Rizky kayaknya," tebak Guntur.


"Nggak apa-apa, minyak angin 'kan obat. Kamu juga nggak perlu membasuhnya. Nanti juga panasnya hilang," sanggah Gita seraya menekan paksa tubuh Rizky, sampai pria itu berbaring kembali.


"Kamu belum jawab pertanyaan Papa dan Mama tadi. Siapa yang merampokmu? Apa kamu tau orangnya? Papa akan lapor polisi!" Guntur mencecar beberapa pertanyaan padanya. Rizky sendiri binggung untuk memberi jawaban apa. Akan tetapi, matanya masih menatap lekat pada Nella yang sama-sama menatapnya.


'Apa kira-kira alasannya? Gue mau lihat Nella iba sama gue. Gue nggak mau dia pergi,' batin Rizky.


"Ditanyain malah bengong!" Gita menepuk pundak Rizky hingga anaknya terkesiap.


"Ah itu. Tadi pagi aku 'kan mau pergi ke kantor naik taksi, gara-gara mobilku masuk ke bengkel. Terus pas di jalan ... mobil taksinya kehabisan bensin. Aku turun dari mobil, lalu tiba-tiba ada orang berbadan tinggi besar datang terus langsung nonjok," terang Rizky mengarang.


"Mereka tiga orang dan dua orang itu memegang lenganku, Pa. Yang satunya ngambil dompet dan ponselku. Aku coba melawan, tapi mereka langsung menghajarku sampai babak belur begini," papar Rizky dengan ekspresi sesedih mungkin.


"Kasihan banget kamu, Riz. Untung mereka nggak melukaimu," ujar Sofyan seraya mengelus puncak kepala Rizky. Rona kesedihan itu ia terbitkan pada wajahnya.


"Kamu ingat wajah mereka? Apa kita ke kantor polisi saja?" tanya Guntur.


Rizky menggeleng samar. "Aku nggak ingat wajah mereka," jawabnya lirih.


Ceklek~


Terdengar suara handle pintu, seseorang membukanya dan masuk. Mereka semua yang berada di dalam menjatuhkan pandangan padanya. Orang itu adalah Angga. Ia datang bersama dua bodyguard yang tadi bersama Nella.

__ADS_1


Genggaman tangan itu langsung dilepas oleh Nella. Kemudian, ia bangkit dari duduk. Langkahnya yang hendak menghampiri sang Kakek langsung dicegah oleh Sofyan. Pria itu memegang tangannya.


"Mulai hari ini, kamu tinggal dengan Papa lagi," ujar Sofyan yang seakan tak mau Nella pergi darinya lagi. Ia sudah tau niat kedatangan Angga ke sini, pasti mau membawa Nella.


Angga hendak bersuara. Namun tidak jadi lantaran Rizky mengucapkan, "Terima kasih Opa mau menjengukku."


Hanya basa basi saja, Rizky melihat wajah kakek mertuanya itu begitu dingin. Lirikan matanya tadi saat melihatnya benar-benar sinis.


"Siapa yang mau menjengukmu? Opa mau menjemput Nella pulang," jawabnya seraya tersenyum simpul.


"Pak Angga, bawa Rizky bersama Bapak. Biarkan mereka tinggal bersama." Gita maju menghampiri pria paruh baya itu. Asli di dalam hatinya, ia amat geram padanya. Akan tetapi, ia masih berusaha bersikap tenang. Senyumannya itu tergambar jelas di wajahnya, meskipun terlihat terpaksa.


"Kenapa aku harus bawa Rizky? Aku hanya mau bawa Nella pulang." Angga menarik lengan Nella hingga berhasil terlepas dari Sofyan. Ia gegas merangkul bahu sang cucu.


"Papa ... apa Papa nggak lihat kondisi Rizky?" Sofyan menunjuk wajah Rizky yang muram dan babak belur. Pria itu terlihat begitu memelas. "Kasihan dia, masa Papa tega memisahkannya dengan Nella? Dia butuh Nella."


"Dia hanya babak belur, diobati juga sembuh. Memang Mama dan Papanya sendiri nggak bisa ngobatin?" tanya Angga dengan ketus.


"Nella, Nella." Gita menyentuh tangan menantunya, saat Nella hendak melangkah. "Mama tau, kamu memang mau bercerai dengan Rizky. Tapi untuk sekarang ... tolong tinggal bersama Rizky, sampai kalian bertemu di meja persidangan." Suara Gita terdengar amat memohon. Ia binggung harus bagaimana. Memaksa pun rasanya tak bisa. Mungkin dengan Nella mau tinggal lagi bersama Rizky, wanita itu bisa berubah pikiran dan tidak jadi meminta cerai.


"Apa Mama mendukung aku dan Nella bercerai?" tanya Rizky. Ia sempat kaget mendengar permintaan sang mama pada Nella, yang seolah mendukung istrinya untuk bercerai dengannya. Jauh di lubuk hati Rizky yang terdalam—ia tak mau bercerai. Ia mau hidup bersama Nella selamanya. "Aku nggak mau bercerai sama Nella, Ma."


Gita menoleh pada Rizky, tatapan matanya begitu sendu. "Mama juga nggak mau. Tapi ... Mama binggung, Riz." Setelah menatap Rizky, Gita beralih menatap dalam mata Nella. "Nella Sayang ... Mama nggak akan memaksamu untuk mencintai Rizky, karena Mama yakin itu nggak mungkin. Kamu juga nggak perlu mencabut gugatan cerai kalian." Tak terasa, air mata Gita berlinang, mengalir membasahi kedua pipinya. Dadanya bergemuruh, ia tak bisa membayangkan akan sesedih apa jika perceraian itu sampai terjadi. "Tapi Mama mohon ... bawa Rizky bersamamu. Mama mau kalian hidup bersama sampai hari persidangan itu datang."


Nella dengan cepat mengusap pelan pipi mertuanya. Ia tak tega melihat Gita sampai menangis seperti itu.


Meskipun Gita terkadang menyebalkan, tapi Nella akui. Ia adalah sosok mertua yang baik. Nada suaranya saja ketika bicara dengannya selalu lembut. Bahkan lebih lembut dari nada bicaranya pada Rizky.


"Mama mohon sama kamu, Sayang," pinta Gita kembali.

__ADS_1


...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...


...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...


__ADS_2