
"Itu murah, May. Lagi dapet diskon. Aku juga beli dapet satu, kan?"
"Iya, sih."
"Ya sudah pakai. Kenapa diam? Lihat nih! Dia sudah nggak sabar." Sofyan mengelus si Jumbo sambil mengigit bibir bawahnya, seolah-olah sudah sangat tak sabar ingin mendapatkan belaian.
"Iya, sebentar aku ke kamar mandi dulu." Maya melilitkan selimut pada tubuhnya, kemudian berlari menuju kamar mandi sambil membawa pakaian dinas.
Tak lama terdengar suara rintikan air hujan, begitu deras dan juga ada sedikit gemuruh. Entah mengapa pikiran Sofyan langsung tertuju pada Rizky.
"Apa Rizky masih ada diluar?" gumam Sofyan.
Dia berjalan perlahan menuju jendela, kemudian membuka gordennya sedikit. Kebetulan arah kamarnya tepat di depan gerbang, jadi bisa melihat siapa saja yang ingin bertamu.
Mata Sofyan seketika membulat kala melihat menantunya itu tengah berdiri di depan gerbang, kedua tangannya memegang besi dan kepalanya nonggol pada celah besi.
Dari kejauhan—terlihat pria itu seperti tengah menangis. Meskipun memang wajahnya terguyur air hujan, tetapi sangat jelas jika rona wajahnya merah dan berkali-kali dia mengusap kedua pipi sembari sesenggukan. Entah benar-benar sedih, atau hanya pura-pura. Tetapi bagi Sofyan—itu pasti hanya akting. Sebab yang dia tahu, Rizky memang jago akting seperti dirinya.
"Ngapain si Rizky masih di situ, mana sambil nangis lagi. Seperti anak kecil saja," gumam Sofyan.
Tak lama terdengar suara deringan ponselnya yang berada di kantong celana, pria tua itu segera membungkuk lalu memungut celananya yang ada di lantai.
Terlihat pada layar jika ada panggilan masuk dari Rizky menelepon. Sofyan tersenyum miring.
"Sekarang telepon, giliran tadi siang saja hapenya dimatikan," gerutunya, lalu mengusap layar ponsel ke atas dan menempelkan benda pipih itu ke telinga kanan.
"Papa ... apa Papa tahu kalau sekarang hujan? Aku kedinginan Papa ... tolong buka gerbangnya, nanti kalau aku sakit bagaimana?" Suara Rizky terdengar lirih dan merengek, juga dibarengi isakan tangis.
"Siapa suruh hujan-hujanan? Kamu 'kan bisa pulang atau minimal masuk ke dalam mobil, Riz!" omel Sofyan.
"Siapa yang hujan-hujanan, sih? Aku 'kan nunggu gerbang dibuka. Apa Papa melihatku?"
Rizky mendongakkan wajahnya dan tepat pada jendela yang kini ada Sofyan di dalamnya. Cepat-cepat papa mertuanya itu menutup gorden supaya tak ketahuan jika dirinya melihat Rizky dari kejauhan.
"Haccim ...!" Terdengar suara bersin, tetapi suaranya seperti dibuat-buat. Dan tak lama suara batuk. "Uhuk ... uhuk! Papa, sepertinya aku demam. Aku juga ada alergi air hujan, nanti tubuhku bisa gatal-gatal."
"Sekarang kamu masuk mobil, terus pulang ke rumahmu."
__ADS_1
"Dih, Papa ngusir aku? Kok Papa tega? Jahat sekali ... kan aku sudah minta maaf. Hik ... hik ... hik."
Rizky menangis lebih kencang hingga membuat Sofyan menjauhkan ponselnya, telinganya terasa berdengung mendengar pria itu menangis.
"Rizky, sudahlah. Kamu bukan anak kecil lagi, kenapa musti menangis? Sekarang pulang ke rumahmu!"
"Memang orang dewasa nggak boleh menangis? Papa juga pernah menangis. Aku nggak mau pulang, Pa. Aku mau masuk. Aku mau ketemu Nella dan Jihan, aku kedinginan, aku butuh kehangatan."
Sofyan memijat pelipis matanya, mendadak kepalanya terasa pening. "Ya sudah terserah kamu deh, mau pulang atau nggak. Tapi Papa nggak akan buka gerbang! Ini hukuman untuk menantu yang durhaka sepertimu!" tukasnya emosi.
"Dih, Papa jangan—”
Tut!
Panggilan itu langsung dimatikan oleh Sofyan, kemudian dia mematikan ponselnya supaya Rizky tak mencoba menghubunginya lagi.
"Aku akan tidur disini kalau Papa nggak membuka gerbang!" Terdengar suara samar-samar yang berasal dari kejauhan, sepertinya Rizky yang mengatakan hal itu.
Lantas, Sofyan membuka lagi gorden jendela untuk memastikan lagi.
Sofyan pun geleng-geleng kepala. Merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Apa benar dia menantuku? Kok seperti orang setres? Ya ampun ... Rizky! Kamu menyebalkan sekali, sih!" gerutunya emosi seraya meremmas hordeng.
"Ayank kenapa?" tanya Maya lembut seraya menyentuh bahu kiri Sofyan. Sontak pria itu pun terkejut dan langsung berbalik badan. "Ayank tadi seperti marah-marah. Marah ke siapa?"
Mata Sofyan langsung berbinar dan menatap takjub dengan apa yang dilihatnya saat ini. Maya begitu cantik, lucu dan sangat seksi memakai pakaian dinas darinya.
Wajah tegang dan emosi itu hilang seketika, merah di wajahnya yang awalnya karena marah kini berganti hanya merah di kedua pipi saja. Menandakan kalau dia tengah kasmaran.
Sofyan menelan salivanya, kemudian dengan cepat menggendong tubuh istrinya. "Kamu cantik dan seksi sekali, May. Aku sangat menyukaimu." Sofyan mendekatkan bibirnya ke arah wajah wanita itu, kemudian menciuminya bertubi-tubi.
Wajah Maya langsung merah padam, jantungnya juga berdebar kencang.
"Masa, sih? Tapi tadi Ayank kok marah-marah?"
"Tadi ada orang gila diluar, dia minta masuk. Aku kesal saja."
Sofyan pelan-pelan membaringkan tubuh Maya di atas kasur, tetapi mendadak wanita itu memekik dan langsung memiringkan tubuhnya seraya menyentuh bokong.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Sofyan. Dia ikut menyentuh bokong Maya seraya mengelus-elusnya.
"Sakit, Ayank. Ketusuk buntut." Maya meringis kesakitan.
"Ah, maaf May. Aku lupa kamu punya buntut sekarang." Sofyan terkekeh. Lantas dia pun naik ke atas kasur dan duduk selonjoran. "Kamu yang mimpin saja kalau begitu, sini duduk." Menepuk kedua pahanya.
"Maksudnya aku yang di atas?"
"Iya, kamu bisa, kan? Aku pernah mengajarimu."
"Tapi katanya tadi Ayank yang belum keluar? Kok aku yang mimpin?"
"Ya nggak apa-apa. Kamu juga nanti akan keluar lagi kok, ayok!" Sofyan menarik lengan Maya hingga wanita itu bangun, kemudian mengangkat tubuhnya untuk duduk di pangkuan sembari melakukan penyatuan. "Kok sudah basah gini, jangan bilang kamu sudah nasf* sekarang, ya? Sudah nggak sabar kelonan denganku, kan?" Sofyan mengedipkan mata kiri, lalu mengelus-elus permukaan milik Maya dan membuat wanita itu mengigit bibir bawahnya.
"Itu basah karena air, aku habis pipis."
"Masa? Kamu elus-elus dulu kali karena kepengen," goda Sofyan. Perlahan kedua tangannya meremas dua gunung kembar yang bergelayut manja. "Ayok dong mulai, kok diem?"
"Ah iya." Maya perlahan-lahan mengayunkan bokongnya dan seketika tubuhnya langsung menegang. Rasa nikmat itu menjalar keseluruh tubuh, Sofyan yang ikut menikmati kini ikut serta menggenjotnya dari bawah.
Ruangan ber-AC itu menjadi sangat panas, mendadak ada gempa buatan di atas kasur.
"Ayank ...," desah Maya seraya meremat kedua bahu Sofyan. Suaminya itu tengah melahap salah satu puncak dadanya dengan penuh semangat, dia seperti bayi yang tengah kehausan.
*
*
Berbeda dengan Sofyan yang tengah asik memadu kasih, Rizky diluar sana justru masih berbaring di atas aspal sambil memejamkan mata.
Dia tidak tidur, hanya sedang memikirkan cara untuk meluluhkan hati mertuanya.
"Pak! Bapak masih waras, kan? Ini hujan, lho," ujar satpam seraya menghampiri Rizky dari gerbang, dia menggunakan payung.
Rizky diam, dia pura-pura tak mendengar apa pun.
"Pak! Pak Rizky!" pekik satpam itu memanggil, wajahnya terlihat khawatir melihat Rizky. Dia pun memperhatikan wajah pria tampan itu dengan seksama. "Bapak nggak pingsan 'kan di situ? Lebih baik Bapak pulang saja. Pak Sofyan nggak akan mengizinkan Bapak masuk," ujarnya memberitahu.
__ADS_1