
"Kamu ada mual nggak, May? Terus ngidam apa?" tanya Darus penasaran.
"Mual? Ngidam? Maksudnya?" Kening Maya mengerenyit.
"Ya itu gejala orang hamil, May. Oh ... apa mungkin belum kali, ya?"
"Belum, Om." Maya menggeleng cepat. "Aku belum merasakan tanda-tandanya."
Jangan 'kan tanda-tanda, bercinta saja tidak jadi.
"Iya, mungkin belum. Nanti besok coba USG, Om mau lihat cucu Om, May."
Mata Maya seketika membulat sempurna.
"Masih kecil, Om. Belum kelihatan," sahut Sofyan dari bawah. Dia ikut mendengarkan percakapan mereka. Dan paham kalau Maya pasti akan kebingungan dalam menjawab.
"Sekarang kamu tidur saja, May. Ini sudah malam." Darus tersenyum lalu mengusap puncak rambut Maya. Gadis itu mengangguk.
"Iya, Om. Om juga tidur, ya? Selamat malam dan selamat beristirahat."
"Iya."
Maya menaruh piring yang sisa beberapa potong buah apel di atas nakas, kemudian berdiri dan perlahan membaringkan tubuhnya di samping Sofyan.
Sofyan segera menarik selimut ke tubuh gadis itu sampai di atas dada, lalu mendekapnya dari belakang seraya menyusupkan kedua tangannya pada baju tidur panjang yang istrinya kenakan.
"A-ayank ...," lirih Maya, dia segera menutup mulutnya ketika merasakan jari suaminya sudah memilin puncak dadanya.
Sofyan mendekatkan wajahnya ke arah telinga kirinya seraya berbisik. "Kita menginap di hotel saja yuk, May."
"Memangnya kenapa, A-yank?"
"Aku ingin kelonan."
Maya menahan kedua tangan suaminya untuk menghentikan aktivitas nakalnya. Dia tak bisa menjawab pertanyaan jika sedang merasakan hal seperti itu, seluruh tubuhnya seketika merinding.
"Tapi bukannya kita sudah bilang sama Om dan Tante kalau kita mau menginap di sini? Masa kita ke hotel, Ayank? Sama saja bohong dong."
"Iya, sih. Tapi aku kepengen bagaimana dong?" Tangan Sofyan kini beralih menyusup masuk ke dalam celana tidur Maya sembari membuka kedua pahanya lebar-lebar. Lantas jari jemarinya membelai rawa indah itu dan bermain-main di sana.
__ADS_1
"Ayank ... jangan lakukan ...." Maya menahan lengan Sofyan, tetapi suaminya itu justru sudah menekan jari tengahnya untuk masuk ke dalam sana. "Aaa ... eemmppp!"
Sedikit lagi dessahan itu lolos dan bisa terdengar kalau saja Sofyan tidak membungkam bibir Maya dengan bibirnya sendiri.
Dia pun makin menjadi-jadi bermain pada inti tubuh istrinya, gerakan maju mundurnya makin cepat hingga membuat tubuh gadis itu menegang.
Tak berselang lama Maya yang dibuat melayang itu lantas mengangkat pinggulnya, kemudian sebuah cairan itu langsung keluar, menandakan jika dirinya telah mencapai pelepasan.
Napas Maya terdengar terengah-engah, keringat pada seluruh wajahnya mengalir.
"Kamu basah, May." Sofyan terkekeh, lalu tubuhnya masuk ke dalam selimut dan menarik celana tidur gadis itu beserta CDnya.
Maya terkejut, kedua matanya membulat. Dia pun ikut masuk ke dalam selimut ingin melihat apa yang tengah dilakukan oleh suaminya pada miliknya. Dan ternyata suaminya itu tengah menghisap sisa pelepasannya di bawah sana.
"Ayank ...," desahnya pelan seraya menutupi bibirnya dengan salah satu tangan. Kedua matanya terpejam, napasnya berhembus dengan kasar. Dia merasakan lidah Sofyan begitu lincah menyapu miliknya, terasa geli-geli nikmat. 'Kenapa Pak Sofyan suka sekali bermain di bawah? Apa yang dia lakukan pada milikku? Tapi ini enak.'
Setelah itu, Sofyan memakaikan kembali celana istrinya, lantas segera dia pun bangkit dan mengangkat tubuh Maya untuk duduk. Kemudian menarik gadis itu masuk menuju kamar mandi.
Sofyan sempat melihat Darus sudah tertidur pulas, begitu pun dengan Yuni yang berada di kasur di bawah sebelah kanan.
"Kok kita ke kamar mandi, Ayank? Mau ngapain?" Maya mengerutkan keningnya melihat Sofyan yang tengah mengunci pintu kamar mandi.
Sofyan menaikkan dagu Maya dengan salah satu tangan, lalu mengelus bibir merah merekah itu dengan ibu jari.
Maya menelan salivanya dengan kelat, lalu menatap Sofyan yang begitu dekat. Hembusan napas keduanya saling menyapu wajah masing-masing. Terlihat wajah pria itu sangat merah, kabut gairahnya sudah menggebu-gebu.
"Ayank ... bagaimana kalau kita melanjutkannya nanti saja kalau sudah pulang ke rumah?" tanya Maya dengan hati-hati. Bibirnya terasa bergetar, sejujurnya dia takut mengatakan hal itu. Takut jika Sofyan marah.
Maya tahu, pasti pria itu akan melanjutkan aksinya. Tapi masa iya di kamar mandi?
'Kalau nanti aku menjerit bagaimana? Bisa-bisa Om dan Tante bangun,' batin Maya.
Sofyan membuka bibirnya, lantas meraup lembut bibir Maya.
Cup~
Kedua tangannya perlahan pelepasan kancing baju tidur gadis itu, dari atas hingga ke bawah. Kemudian meraba pada punggungnya, meraih pengait bra untuk dia lepaskan.
"Kalau malam jangan pakai bra, May."
__ADS_1
"Memang kenapa?"
"Nggak baik buat kesehatan. Besok-besok setiap malam jangan pakai bra lagi, ya?"
Maya mengangguk, dia perlahan mengigit bibir bawahnya ketika dua gunung kembarnya kini diremmas oleh suaminya.
"Tapi lebih bagus lagi mending kamu nggak pakai apa-apa, May. Aku suka kamu bugil." Setelah bra itu terlepas, Sofyan segera membungkuk lalu melahap salah satunya.
"Aaah!" desah Maya pelan.
Selanjutnya, Sofyan melepaskan celana tidur gadis itu, lalu mengendong tubuhnya hingga duduk di atas kloset duduk yang tertutup.
Kedua paha Maya dibuka lebar-lebar oleh Sofyan, lalu perlahan dia mendekatkan si Jombo yang sudah tegang sedari tadi pada inti tubuh istrinya.
Maya sudah bersiap-siap membungkam bibirnya dengan salah satu tangan, sebab takut akan menjerit kesakitan.
Baru saja Sofyan hendak menekan miliknya untuk masuk, tetapi keberuntungan lagi-lagi seakan tak memihak kepadanya.
Terdengar suara handle pintu kamar mandi yang dinaik turunkan, kemudian tak lama ada suara seseorang wanita dari luar kamar mandi.
"Lho, kok dikunci? Apa ada orang di dalam?"
'Ah sial! Kenapa gagal lagi?! Padahal sedikit lagi!' umpat Sofyan dalam hati.
Aktivitas itu tak jadi diteruskan, terjeda begitu saja.
"Ayank ... ada Tante."
Sofyan membuang napasnnya gusar, seketika dia merasakan kepalanya pening, begitu pun dengan rasa pegal pada helm si Jumbo, karena untuk kesekian kalinya dia gagal menyalurkan hasrat.
Cepat-cepat Sofyan memakaikan kembali pakaiannya, begitu pun dengan Maya.
Ceklek~
Pintu kamar mandi itu dibuka oleh Sofyan, terlihat wajah pria itu merah dan rahangnya begitu mengeras. Aslinya dia benar-benar jengkel sebab diganggu, tetapi untuk marah sepertinya tak bisa. Karena di depan mereka adalah Yuni, tantenya Maya.
"Eh ada kamu dan suamimu, May? Ngapain berduaan di kamar mandi?" tanya Yuni. Dia menatap curiga keduanya, bahkan sorotan matanya dari ujung kaki ke ujung kepala. 'Apa mereka berdua di kamar mandi ...? Ah tapi masa, sih?'
"Maya mau kencing katanya, jadi aku mengantarnya karena takut terpleset, Tante," jawab Sofyan berbohong. Dia tersenyum tetapi terlihat seperti dipaksakan.
__ADS_1
"Oh ...." Yuni mengangguk-angguk sambil tersenyum miring. "Perhatian juga suamimu ya, May. Meskipun tua juga," sungutnya sambil menatap sinis Sofyan.