
"Ah, ya. Aku sekarang sembuh. Semua penyakit di tubuhku sembuh." Sofyan mengangguk dengan penuh keterpaksaan.
Hartono menatap Sofyan dari ujung kaki ke ujung kepala, matanya terlihat berbinar. "Kamu kerja kantoran, ya? Hebat sekali. Padahal dulu kamu yang paling bodoh. Kok bisa sih kamu di terima kerja? Tulisanmu saja seperti ceker ayam."
"Aku lagi beruntung. Ah bagaimana urusan kita jadinya? Kamu nggak jadi tilang aku, kan?" Sofyan membahas pada poin pertama alasan dia berbohong.
"Nggak jadi, tapi sebagai gantinya aku minta nomormu. Kapan-kapan kita harus pergi nongkrong bareng di warkop biasa. Aku akan ajak Bejo, Wawan dan Jaya."
"Aku lupa nomor hapeku, aku juga lupa nggak bawa hape sekarang." Sofyan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia berusaha untuk tidak memperpanjang kebohongan ini. Apa lagi sampai bertemu dengan teman-teman Hartono. Tidak lucu rasanya kalau dia berpura-pura menjadi orang lain. "Bagaimana kamu saja, berikan kartu namamu. Nanti aku yang menghubungimu, Ton."
Ya, kalau Hartono yang memberikan kartu nama itu akan lebih bagus. Sofyan juga tak punya niat untuk menghubunginya.
"Boleh." Hartono tersenyum. Lantas dia pun mengambil dompetnya, lalu memberikan kertas persegi empat padanya. "Tapi jangan lupa hubungi aku, ya? Awas saja!" serunya mengancam.
"Kamu tenang saja, itu pasti, Ton." Sofyan tersenyum dengan anggukan kepala.
***
"Ayank, kok kita bisa nggak jadi ke kantor polisi? Ayank bicara apa pada Pak Polisi tadi? Dan kelihatannya kok Ayank seperti kenal dengannya?" Maya dan Sofyan berdiri sambil menatap mobil polisi yang berlalu pergi meninggalkannya. Dilihat suaminya itu melambaikan tangan dan tersenyum manis.
"Aku berbohong kalau aku dan dia teman SMP. Tapi dia percaya," jawab Sofyan sambil tertawa lepas. Dia merasa bangga karena telah berhasil membohongi pria itu.
"Dih, kok Ayank bohong? Kan dosa."
"Ini demi kebaikan."
"Tapi kalau misalkan Ayank kapan-kapan ketahuan bagaimana? Bisa-bisa Ayank masuk penjara."
"Itu nggak mungkin terjadi." Sofyan terkekeh. Lantas pria itu pun menyetop taksi yang baru saja lewat, lalu menarik lengan istrinya.
"Kita mau ngapain?" Maya mengerutkan keningnya saat melihat suaminya tengah membuka pintu belakang mobil itu.
"Naik taksi, kan mobilmu mogok."
"Terus mobilku bagaimana? Masa ditinggal, Ayank?"
Sofyan mengangguk. "Iya, ditinggal saja. Nanti aku akan suruh Aldi untuk membawanya ke bengkel."
"Memang Pak Aldinya sekarang ada di mana? Kita tunggu dia sampai saja, Yank."
"Lama dong. Aku mau meneleponnya saja nanti, kalau sudah naik taksi."
"Tapi kalau nggak ditungguin nanti mobilku ada yang nyuri bagaimana, Ayank?" Lengan Maya sudah ditarik oleh suaminya hingga dirinya masuk ke dalam mobil taksi. Tetapi wanita itu justru turun lagi kemudian menyentuh badan mobilnya.
"Mana ada orang yang mau nyuri mobil mogok, May? Lagian mobilnya juga butut. Pencurinya malah nggak mau."
"Katanya tadi mobilku keren? Kok Ayank bilang mobilku butut, sih?" Maya menatap sedih pada Sofyan. Sejujurnya dia begitu sakit hati jika siapa saja menghina barang-barang miliknya termasuk mobil. Meskipun memang yang dikatakan orang-orang itu memang benar.
"Ah, aku hanya bercanda kok." Sofyan mengaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tak enak hati karena telah keceplosan. "Mobilmu memang keren. Sudah kita masuk saja, nanti mobilmu biar Aldi yang urus." Sofyan merangkul bahu istrinya, lalu mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil. Lantas mobil taksi tersebut melaju.
__ADS_1
Maya memutar kepalanya ke belakang, menatap sedih mobil putihnya yang sudah terlihat sangat jauh. 'Kasihan banget kamu, Bil. Kemarin dikatain butut sama Pak Rizky, sekarang sama Pak Sofyan. Tapi kenapa juga kamu harus mogok lagi? Kan habis diservise.'
*
*
*
Maya dan Sofyan turun dari mobil taksi tepat di depan halaman kantor Rizky, lantas keduanya berjalan masuk ke dalam sana.
"Eh, Sofyan." Mawan memegang lengan Sofyan saat pria itu hendak mengikuti Maya yang masuk ke dalam pintu lift.
Akhirnya dia tak jadi ikut lantaran pintu lift itu sudah tertutup duluan.
"Iya, Pak."
"Aku dengar dari Rizky, katanya kamu sudah menikah, ya? Dan katanya dengan Maya. Benar atau, nggak?" tanya Mawan penasaran.
Sofyan tersenyum dengan kedua pipi yang merona. "Iya, Pak. Itu benar."
"Selamat, ya." Mawan mengelus pundak kiri Sofyan. "Ngopi bareng, yuk. Aku nggak ada teman ngopi, Yan."
"Maaf, Pak. Saya ada perlu dengan Rizky. Nanti saja kapan-kapan, ya."
"Oh ya sudah kalau begitu." Mawan mengangguk. Setelah itu Sofyan masuk ke dalam pintu lift.
*
Sofyan mengetuk pintu ruangan Rizky, sudah dua kali tetapi tak terdengar suara dari dalam. Pria itu melirikkan matanya ke arah pintu di samping ruangan itu. Pintu tersebut adalah ruangan sekertaris.
Lantas dirinya melangkah ke sana. Namun ketika tangannya yang sudah mengepal terangkat menuju pintu, seorang OB datang menghampirinya.
"Mbak Maya sedang meeting, Pak."
Sofyan menoleh, pria berbaju biru tua itu tengah memeluk nampan.
"Oh meeting. Sama siapa? Rizky?"
Pria itu mengangguk. "Iya, ada Pak Rizky, Pak Hersa, Pak Reymond, asistennya dan sekertarisnya."
"Di mana mereka meeting? Apa di ruang rapat?" Sofyan menunjuk ruangan yang dimaksud.
"Iya. Kalau begitu saya permisi ya, Pak."
"Iya." Sofyan mengangguk. Setelah kepergian pria itu, tak lama ponselnya yang berada di kantong celana berdering. Sofyan segera mengambilnya dan melihat ternyata itu panggilan masuk dari Aldi.
"Halo, Di."
"Halo, Pak. Pak saya ingin memberitahu kalau mobil Nona Maya ringsek."
__ADS_1
"Ringsek?" Sofyan mengerutkan keningnya. "Ringsek bagaimana?"
"Tadi 'kan saya datang untuk membawa mobil Nona Maya ke bengkel. Eh pas saya tiba di lokasi ... Mobil Nona Maya sedang diangkut oleh mobil derek. Kata orang-orang sih tadi sempat ada kecelakaan mobil, lalu orang tersebut menabrak mobil Nona Maya, Pak," jelas Aldi memberitahu.
"Terus orang yang menabrak mobil Maya tanggung jawab, nggak? Terus apa parah kondisinya?"
"Orangnya meninggal, Pak. Sebentar ... saya video call dulu biar Bapak tahu kondisi mobilnya." Sambungan telepon itu kini berubah menjadi via video call. Kemudian terlihat pada layar ponselnya ada sebuah mobil putih yang sudah ringsek disisi sebelah kanan, tetapi semuanya hancur.
"Itu kamu bawa ke mana? Bisa nggak kira-kira kalau diservise?" Sofyan menatap prihatin dengan kondisi mobil istrinya, pasti kalau Maya tahu dia akan ikut sedih.
"Kata montirnya sih lebih baik ganti mobil saja, Pak. Rusaknya parah sekali dan mesinnya juga mati total."
"Dicoba dulu saja diservise, Di. Soalnya Maya sendiri sayang dengan mobil itu. Tapi kalau nggak bisa coba kamu cari mobil yang mirip dengan mobil itu, lalu beli."
"Itu mobil jadul, Pak. Keluaran lama. Sekarang mah sudah nggak ada."
"Carinya yang bekas dan nggak terlalu bagus. Pokonya seperti itu saja. Supaya nanti Maya nggak curiga kalau mobilnya diganti."
"Oh begitu, baiklah. Ya sudah, Pak. Selamat siang."
"Siang."
Sofyan mematikan sambungan teleponnya, kemudian beberapa orang dari ruang rapat itu keluar dan melewatinya.
"Siang Pak Sofyan," sapa Dion dan Melly. Reymond juga ikut menyapa pria itu kemudian berjalan menghampirinya bersama Rizky.
Namun, sejak tadi sorotan mata Sofyan terus menatap terhadap Maya yang tengah mengobrol serius di depan pintu ruang rapat dengan Hersa. Mereka sepertinya tak melihat kehadiran Sofyan di sana.
'Ngapain Hersa mengobrol dengan Maya istriku, menyebalkan sekali,' gerutu Sofyan dalam hati. Tentunya dia merasa panas di dalam dada. Api cemburu itu berkobar pada kedua bola matanya yang melotot tajam.
...***...
Hai, Author mau kasih visual Ayank Sofyan sama Maya. Tapi nggak jauh-jauh dari negara Korea 😁
Maaf, ya... Soalnya author suka sama Oppa korea 🙈 semoga kalian nggak bosen.
Kalau kalian nggak suka skip boleh, tapi jangan gara-gara nggak suka visual novel malah berhenti baca. Jangan begitu, ya...
Sofyan Prasetyo~
Maya Angelia~
__ADS_1