
Rizky dan Guntur yang tengah menggendong Jihan menghentikan langkahnya tepat di ruang keluarga. Di sana ada Nella dan Gita yang tengah duduk di sofa.
Wajah Gita terlihat masam dan merah, tampaknya dia seperti marah dan memendam sesuatu.
"Ada apa, Ma?" tanya Rizky. Baru saja dia mendudukkan bokongnya di sofa single, secara tiba-tiba Gita bangun dan menghampirinya seraya memelintir telinga kiri Rizky kuat-kuat.
Sontak—kedua mata anaknya itu membulat dan langsung meringis kesakitan. "Aaww sakit, Ma! Kenapa Mama jewer telingaku?!" Rizky menarik lengan Gita, upayanya untuk melepaskan tangan wanita itu yang seakan mencengkeram telinganya. Namun bukannya terlepas, Gita justru menjadi-jadi memutarnya. "Sakit!"
"Mama ... kasihan—"
"Ini hukuman untukmu yang gila, Riz!" pekik Gita lantang. Nella yang sempat membuka suara langsung terhenti akibat suara bariton mertuanya.
"Salahku apa?" tanya Rizky binggung. Wajahnya merah dan berkerut menahan sakit.
Guntur yang masih berdiri sambil menggendong Jihan hanya diam dan menonton. Dia sama sekali tak berniat ingin membela Rizky karena tak mau ikut-ikutan, selain itu juga dia tak mengerti kesalahan apa yang Rizky perbuat.
Jihan yang ikut melihat justru malah tertawa, Daddynya yang meringis kesakitan di depannya itu seolah tengah mengajaknya bercanda.
"Mama ingin kamu jujur, apa selama ini Nella diKB?!" Pelintiran tangan Gita terhenti, tetapi dia masih memegang telinga Rizky.
"Iya, Nella diKB, Ma."
"Jujur!" tekan Gita, mulutnya begitu lebar hingga ludahnya terciprat ke wajah Rizky.
Cepat-cepat Rizky mengusap wajahnya, sebab dia merasakan bau jigong dari ludah sang mama. "Iya, aku jujur ... Nella memang diKB. Aawww!" Gita memperkuat pelintiran tangannya, Rizky merasa telinganya seperti akan copot.
"Kalau kamu nggak mau jujur, Mama akan buat telingamu putus! Lalu buat gantungan kunci!"
"Jangan!" pinta Rizky sambil menangis. Air matanya tiba-tiba saja lolos membasahi pipi, keringat pada wajahnya seketika mengalir. "Ya ... ya, aku jujur. Nella nggak diKB, tapi aku yang diKB."
"Mama ... kita bisa bicarakan baik-baik, tapi jangan pakai kekerasan." Nella bangun lalu menghampiri Gita. "Nanti kalau telinga Mas Rizky putus beneran susah nempelin laginya, Ma. Kan nggak ada yang jualan telinga di sini."
__ADS_1
Gita menoleh pada Nella, perlahan tangannya terlepas dari telinga Rizky. Pria itu pun langsung menyentuh telinganya yang terasa berdenyut-denyut dan akhirnya dia bisa menghela napas lega meskipun hanya sebentar.
Nella mengajak Gita kembali duduk di sampingnya, lalu memberikan jus mangga yang sejak tadi berada di atas meja. Mungkin dengan minum minuman dingin—itu bisa menyegarkan otak dan meredakan emosi Gita.
"Kenapa sih kamu bohongin Mama? Mama 'kan sudah bilang kalau Nella diKB! Bukannya waktu itu Mama pernah menyuruhmu untuk mengantarnya ke dokter kandungan? Terus kenapa dia bisa hamil?" Gita sudah nyerocoh dengan kedua tangan yang mengepal, dia begitu gemas sekali pada Rizky yang sok polos dan berwajah memelas.
Pria itu membelalakkan matanya, lalu menoleh pada Nella dengan raut wajah binggung. Istrinya itu mengedipkan kedua matanya dan mengangguk sedikit, seolah memberi isyarat pada Rizky.
'Jadi Mama sudah tahu? Kenapa Nella memberitahunya? Ah Nella ... kataku juga tunggu dua bulan saja. Kenapa kamu jahat sekali padaku? Telingaku jadi korban.'
"Rizky!" bentak Gita yang mana membuat Rizky terpenjat dari duduknya. "Mama tanya jawab!"
"Mama tahu dari mana Nella hamil? Aku sendiri baru tahu." Rizky masih mencoba mengelak, padahal dia sudah disemprot oleh Gita.
"Dari Dokter, Mama tadi antar Nella periksa karena dia itu sejak kemarin-kemarin muntah-muntah. Ditambah wajahnya pucat dan kamu juga harusnya sadar kalau Nella kurusan sekarang." Gita menoleh pada Nella sebentar, lalu menatap tajam anaknya. Rizky sedikit lega meski tak sepenuhnya. Sebab Nella juga sepertinya belum menceritakan semua alasan dia bisa hamil lagi.
"Kemarin pas aku periksa kata dokter hanya magh, jadi kukira Nella memang magh," jawab Rizky.
Kembali Rizky lah yang menjadi tersangka disini, sejak tadi di rumah sakit sebenarnya Gita sudah bertanya pada Nella. Tetapi wanita itu hanya menjawabnya tidak tahu dan meminta untuk bertanya langsung saja pada Rizky, sebab itu ulah anaknya.
"Pas aku dan Nella ke dokter ... kata dia Nella belum boleh suntik KB atau minum pil. Soalnya nanti berpengaruh pada ASI," jelas Rizky. "Kan Mama tahu sendiri ASI Nella kurang lancar, lagian aku minta nggak boleh." Rizky mengerucutkan bibirnya, mengingat setiap kali dia minta untuk menyusu tetapi selalu dilarang oleh Nella dan istrinya itu pasti membawa-bawa nama Gita.
"Terus yang tadi kamu bilang ... kalau kamu diKB itu apa?"
"Ya aku yang diKB. Aku KB pakai kond*m."
"Yakin kamu pakai komd*n? Terus kenapa Nella bisa hamil?"
"Mungkin komd*mnya bocor."
"Mana ada? Memangnya pas kamu pakai nggak dilihat dulu itu bocor apa nggak?"
__ADS_1
"Ya pas aku pakai mah nggak bocorlah, Ma. Masa iya komd*m bocor aku pakai? Mama pikir aku gila?" Rizky menunjuk wajahnya sendiri. Padahal memang Rizky ada gila-gilanya.
"Ya mungkin saja kamu sengaja. Soalnya seumur-umur Mama dan Papa bercinta pakai komd*m ... nggak ada tuh yang namanya komd*m bocor."
"Mama suka pakai kond*m kalau bercinta? Mana enak?" tanya Rizky. Secara mendadak jiwa keponya langsung meronta.
"Enak mah enak, cuma kurang mantep aja." Gita menjawab dengan jujur dan seketika membuat kedua pipi Guntur merona. Pria paruh baya itu lantas berlalu pergi menaiki anak tangga, dia seperti merasa malu.
"Ngapain pakai komd*n segala?" tanya Rizky lagi.
"Dih, ya 'kan supaya Mama nggak hamil. Mama 'kan kalau KB suntik nggak cocok, pil juga kadang suka lupa minum."
"Memangnya Mama bisa hamil lagi? Bukannya Mama sudah menopause, ya?"
"Enak saja menopause!" sungut Gita. "Mama masih muda!" Gita menyempatkan untuk bangun lalu menoyor kepala Rizky, kemudian duduk kembali di samping Nella.
"Muda apanya? Orang sudah tua. Mama 'kan sudah kepala lima."
"Kepala Mama satu, Riz." Gita mendengus kesal. "Jadi intinya bagaimana Nella bisa hamil? Kamu 'kan tahu Jihan masih kecil."
"Bukannya aku sudah menjawab karena itu kemungkinan kond*mnya bocor, ya? Mungkin saja itu karena aku mainnya terlalu keras, Ma."
"Setres kamu, Riz." Kembali Gita bangun dan menoyor kepala Rizky, pria itu terlihat begitu pasrah. Yang penting bukan telinganya saja yang dijewer. "Kasihan tahu Mama sama Nella dan Jihan. Nella juga belum lama melahirkan ... resikonya besar kalau hamil diwaktu yang secepat ini."
"Aku tahu, Ma. Cuma mau bagaimana lagi? Kan sudah terjadi. Lagian ... anak 'kan adalah rezeki. Aku juga akan bertanggung jawab kok." Rizky kembali mengeluarkan jurus kata mutiara.
"Ya iyalah tanggung jawab, kan kamu yang bikin." Gita menarik sudut bibirnya sebelah, lantas dia pun membuang napasnya kasar. Sebenarnya dia masih emosi pada Rizky, tetapi mendengar penjelasannya cukup membuat Gita untuk lebih sabar dan ikhlas, yang terpenting Nella dan calon cucunya serta Jihan sehat selalu—pikirnya.
"Kalian ini kadang aneh, ya. Dulu ... pas Jihan jadi itu karena KB kadaluarsa. Sekarang hamil lagi gara-gara komd*m bocor. Lain kali kalau bercinta itu harus lebih teliti dulu, jangan asal enaknya saja," tegur Gita menatap Nella dan Rizky bergantian.
"Mas Rizky tuh, Ma." Jika tadi Nella membantu Rizky untuk menyelamatkan telinganya, sekarang justru dia ingin mengungkapkan kebiasaan dulu suaminya yang menyebalkan. "Dia kadang suka langsung tusuk, mana suka maksa. Kalau nggak aku tegur terus menerus dia nggak akan inget pakai pengaman."
__ADS_1
"Tapi 'kan kamu yang keluar duluan, Nell. Ngapain nyalahin aku? Kan kamu enaknya duluan?" Rizky menyahut dan tak mau kalah.