
Hai Tante Diana, maaf kalau aku lancang sampai membuat surat ini untuk Tante. Aku nggak ada niat apa-apa sebenarnya, hanya saja gara-gara bedak Tante yang tertinggal di paperbagku, itu membuat aku ingin mengirim surat.
Apa kita bisa bertemu, Tan? Ada sesuatu yang ingin aku obrolkan. Aku juga merasa ... kemarin aku sangat nyaman ngobrol dengan Tante. Ternyata selain cantik, Tante juga sangat baik.
Deg!
Surat itu bahkan belum tuntas Diana baca, tetapi pipinya langsung merona mendapatkan sebuah pujian itu.
Jangan lupakan jantungnya, ikut berdebar sangat kencang.
Om Sofyan sangat beruntung mempunyai istri seperti Tante. Tante benar-benar sempurna. Nella juga sangat beruntung, mempunyai ibu sambung seperti Tante.
Kalau Tante bisa dan ada waktu, aku ingin kita bertemu lagi. Aku harap ... Tante juga mau menghubungiku 08125×××××
'Mengobrol apa? Apa ada sesuatu yang penting?' batin Diana penasaran.
Banyak tanda tanya didalam otaknya, dan entah mengapa hal tersebut membuat jarinya mengetik nomor Ihsan pada layar ponselnya.
Setelah itu, dia pun menelepon Ihsan.
"Halo," ucap Ihsan.
Panggilan itu baru tersambung dan langsung diangkat dari seberang sana. Sepertinya Ihsan memang sudah menunggu telepon dari Diana.
"Halo, aku Diana. Kamu ada perlu apa?"
"Ah Tante Diana?" Suara Ihsan terdengar seperti bahagia sekali. "Aku kira ... Tante nggak akan menghubungiku."
"Kamu ada perlu apa Ihsan?" tanya Diana.
"Aku ingin kita bertemu, Tan. Apa bisa?" tanya Ihsan.
"Kenapa harus bertemu? Bicara saja sekarang, ada perlu apa?"
"Aku perlunya bertemu dengan Tante. Bagaimana kalau nanti siang kita bertemu di cafe? Ada cafe yang baru buka. Aku ingin mentraktir Tante ... karena Tante sudah baik memilihkan pakaian untuk sepupuku. Dia sangat senang, ternyata pilihan Tante sangat cantik seperti orangnya."
Merayu, lagi-lagi Ihsan mencoba merayu wanita itu. Dan seketika wajah Diana merona.
"Tan ...," ucap Ihsan pelan. Dia belum mendapatkan jawaban yang keluar dari bibir Diana.
Wanita itu terdiam sembari memikirkan tentang ajakan Ihsan. Jujur saja dia masih kesal dengan anak dan menantunya yang belum keluar kamar, terlebih sekarang dia merasa kesepian.
Memang setiap hari Diana selalu menghabiskan waktunya sendiri, entah untuk belanja atau jalan-jalan. Sebab Sofyan juga sering sibuk ke kantor.
Jika kemarin dia merasa biasa saja, tetapi sekarang seperti ada yang aneh. Dia seakan membutuhkan seorang teman.
Sebenarnya Diana sempat meminta ikut dengan Sofyan, tetapi suaminya sendiri yang melarangnya dan malah memintanya untuk tinggal bersama Nella.
Kebenarannya adalah—Sofyanlah yang berinisiatif untuk mempererat hubungan Diana dan Nella. Padahal, Diana sendiri tak peduli mau dekat atau tidak dengan putri sambungnya itu. Baginya itu tak terlalu penting.
'Apa aku terima saja tawaran Ihsan? Aku juga kesepian butuh teman mengobrol.'
__ADS_1
"Tante nggak mau, ya? Apa karena malu bertemu dengan orang sepertiku?" tanya Ihsan dengan nada sedih.
"Mau, tapi sekarang saja bagaimana?"
"Boleh, itu malah lebih bagus. Tante mau kita ketemu di mana? Cafe?"
"Iya."
"Ya sudah ... aku akan kirim alamatnya, kita ketemu di sana."
"Iya."
Setelah menutup telepon, Diana berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Baru saja handle itu diturunkan, tiba-tiba telinga Diana terdengar suara seseorang yang tengah meracau. Asalnya dari kamar Nella yang berada tepat di samping kamarnya.
Merasa penasaran, Diana pun berjalan mendekati kamar itu lalu menempelkannya telinga kirinya.
Seketika suara itu terdengar makin jelas dan ternyata itu suara milik Rizky.
"Ah, ah. Ini enak sekali, Nell."
Suara desahhan itu sudah sangat meyakinkan jika di dalam sana ada dua insan yang tengah memadu kasih.
Dada Diana seketika bergemuruh dan emosi, tangannya mengepal dan tanpa pikir panjang dia langsung mengetuk-ngetuk pintu tersebut. Seperti sengaja ingin menghentikan aksi panas mereka.
Tok ... tok ... tok.
"Mas ... Mami mengetuk pintu," ucap Nella sembari mengigit bibir bawahnya, menahan suara seksi yang lolos akibat nikmatnya bercinta.
"Biarkan saja kenapa, sih?" Rizky tak peduli, dia masih sibuk memainkan pinggulnya maju mundur di atas tubuh Nella. Rasanya nanggung jika terhenti ditengah jalan.
Rizky pun mengangkat tubuh Nella, membuatnya duduk dalam pangkuannya dan pinggulnya kembali bekerja.
Hentakkan yang begitu keras dan sangat terasa itu membuat darah Nella berdesir lebih cepat. Seketika miliknya langsung berdenyut mencapai pelepasan dan kebetulan berbarengan dengan suaminya.
Rizky mengerang dengan kuat seraya meremmas dua gundukan kembar yang menantang itu, olahraga pagi mereka benar-benar sangat indah dan menguras banyak tenaga.
Diana yang masih berada di depan pintu sontak membeliak mendengar suara Rizky yang memenuhi gendang telinganya.
'Apa Rizky sudah berhasil keluar?' batin Diana.
Sudah beberapa menit dia berdiri di depan pintu itu, tetapi anak dan menantunya tak kunjung membukakannya.
Kesabaran Diana sudah habis, lagian percuma juga menunggu. Niat ingin menghentikan aktivitas mereka juga sudah sia-sia saja, mereka yang di dalam sudah selesai bercinta.
Pada akhirnya Diana memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil tas jinjing, lantas dia pun pergi untuk bertemu Ihsan.
*
*
__ADS_1
"Bagaimana rasanya? Apa lu puas, Sayang?" tanya Rizky seraya membaringkan tubuh polos Nella di atas kasur, lalu menarik selimut sampai di atas dada.
Mereka baru saja keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri.
"Sangat puas, Mas," jawab Nella sambil tersenyum. Nafasnya masih terdengar tersengal-sengal.
"Berangkat jalan-jalannya kapan? Sekarang?" Rizky membaringkan tubuhnya setelah memakai boxer di samping Nella. Dia pun menyeka keringat pada kepala botaknya.
"Kita istirahat dulu deh, Mas. Aku cepek."
"Lu laper, nggak? Mau makan apa? Apa kita pesan makanan saja?" tawar Rizky.
"Eemm ... tapi aku nggak enak sama Mami, Mas. Apa kita keluar saja menemuinya? Sekalian sarapan?"
"Terserah lu, tapi tadi katanya capek?"
"Iya sih." Nella mengangguk samar. "Aku masih mau berbaring sebenarnya. Tapi kayaknya aku ...." Ucapan Nella menggantung kala merasakan perutnya sangat sakit bagaikan diremas-remas.
"Aaww!!" Nella meringis kesakitan sambil menyentuh perutnya sendiri.
"Lu kenapa? Apa yang sakit?" tanya Rizky khawatir, dia pun ikut menyentuh perut istrinya.
"Mas ... sakit sekali perutku, rasanya ada yang ingin keluar," rintih Nella sambil menangis, salah satu tangannya meremmas lengan Rizky.
"Kita ke rumah sakit, ya!"
Rizky gegas bangkit dari kasur dan berlari menuju lemari. Setelah dibuka, pria tampan itu mengambil setelan jas berwarna abu muda dan dress panjang untuk Nella.
Seusai memakai pakaian untuk tubuhnya sendiri, Rizky pun menghampiri Nella untuk membantunya memakai pakaian.
Baru saja dia menyibakkan selimut yang sejak tadi menutupi tubuh polos istrinya, tetapi matanya langsung membulat kala melihat darah segar pada seprei, yang berasal dari inti tubuh istrinya.
"Astaga, Nell. Lu berdarah!" pekik Rizky terkejut.
Merasa panik dan melihat wajah istrinya sudah pucat menahan rasa sakit di perutnya, Rizky pun buru-buru memakaikan Nella dress.
Lantas dia pun mengangkat tubuh Nella dan berlari keluar dari kamar itu hingga keluar dari rumah.
Setelah masuk sama-sama ke dalam mobil, Rizky segera memasang sabuk pengaman pada Nella lalu menyalakan mesin mobil.
"Lu bertahan, Nell. Kita akan secepatnya ke rumah sakit." Rizky menarik gas mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah sakit.
"Mas ... sakit," lirih Nella pelan sembari menyentuh perutnya.
Dia merasa ada sesuatu yang hendak keluar dari inti tubuhnya, tetapi sulit sekali keluar.
Akibat terus menahan rasa sakit itu, Nella akhirnya menyerah. Dia pun perlahan memejamkan matanya.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
__ADS_1
...1150...