Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
154. Mau disuapi Mas Rizky


__ADS_3

"Terus apa masalahnya?" Nella menarik sebelah sudut bibirnya. "Aku nggak bercinta sebulan juga kuat kok," jawabnya malas.


"Masa, sih?" Rizky mengelus dagu Nella sekilas. "Bukannya lu suka nggak tahan mau gue belai?"


"Dih kapan? Itu Mas Rizky kali. Mas yang sering mengajakku duluan, ya!" bantah Nella tak terima.


"Tapi lu yang keluar duluan." Rizky tertawa terbahak hingga begitu nyaring terdengar di dalam kamar itu. Namun suara Rizky membuat telinga Nella sakit dan dadanya bergemuruh.


Gegas Nella menutup bibir pria itu dengan salah satu tangannya, dan seketika tawa itu terhenti.


"Sudah, jangan banyak tertawa. Aku kesal mendengarnya, pergi sana ke kantor!" titahnya sambil melotot.


Rizky melepaskan tangan Nella dari bibirnya, lalu mengulum senyum. "Tadi bukannya lu nggak mau gue tinggal, ya? Kok sekarang ngusir gue supaya cepat-cepat pergi, sih?"


"Ya lagian ... Mas menyebalkan! Sudah dirayu tetap saja nggak mau. Aku 'kan hanya ingin ditemani."


"Gue ...." Ucapan Rizky menggantung tatkala mendengar suara deringan ponsel pada saku jasnya. Dia pun mengambil benda pipih itu lalu menempelkannya ke pipi kanan. "Halo, May."


'May? Pasti dia Maya,' batin Nella sambil merenggut.


"Bapak ada di mana? Kok belum datang ke kantor? Katanya mau pergi ke kantornya Pak Andre? Dia sudah menunggu kita, Pak."


Rizky menjauhkan ponselnya untuk bisa melihat jam, dan seketika matanya membulat saat tahu jam sudah menunjukkan pukul 9.30. Pertemuannya dengan rekan bisnisnya setengah jam lagi.


"Kita ketemu di kantornya Pak Andre saja deh, ya! Biar cepat."


"Oh begitu, baik, Pak."


Setelah itu Rizky memutus sambungan telepon dan menaruh ponselnya di dalam saku jas.


"Nella gue ...."


"Akh! Aku mau pipis, Mas." Nella meringis sambil memegangi perut bagian bawahnya, padahal tadi Rizky hendak pamit untuk pergi.


"Ayok, gue antar lu ke kamar mandi." Rizky segera menggendong tubuhnya sembari mengambil bungkus infusan, menuju kamar mandi.


Perlahan-lahan dia menurunkan Nella didekat kloset.


"Bukain celanaku juga, masa Mas tega. Aku 'kan lemes," ucap Nella manja saat melihat Rizky tengah membuka penutup kloset duduk.


"Iya, lu tenang saja." Rizky gegas menurun celana luar dan dalam Nella. Lantas menunggu Nella selesai buang air kecil.


Setelah selesai, dia pun kembali menggendong istrinya dan keluar dari kamar mandi.


Perlahan dibaringkannya tubuh itu, lalu menarikkan selimut sampai di atas perut Nella.

__ADS_1


"Nona ini susu dan buahnya. Maaf lama, tapi pisangnya Bibi membelinya mendadak," ujar Bi Yeyen yang baru saja datang, lalu menaruh nampan yang dia bawa di atas nakas.


"Nggak apa-apa, Bi. Terima kasih."


"Bibi, aku titip Nella, ya!" pinta Rizky, kemudian mendekat pada Nella dan mencium keningnya. "Gue berangkat dulu, gue usahakan pulang cepat supaya bisa menemani lu."


"Tunggu, Mas!" ujar Nella agak berteriak, saat melihat Rizky baru saja menurunkan handle pintu.


"Ya." Rizky menoleh.


"Aku cinta sama Mas Rizky."


"Gue juga cinta sama lu."


"Hati-hati di jalan, jangan selingkuh."


"Iya, Sayang. Lu juga harus istirahat, jangan capek-capek." Setelah itu Rizky keluar dari kamarnya, meninggalkan Nella yang bersedih dan hanya ditemani Bi Yeyen.


"Mau Bibi kupas pisangnya, Nona?" tanya Bi Yeyen seraya duduk di dekat Nella yang masih berbaring. Tangannya memegang pisang yang lumayan besar.


"Iya, Bi." Nella mengangguk, lalu memperhatikan tangan Bi Yeyen yang tengah mengupas pisang. Tetapi entah mengapa otaknya langsung berkelana dan membayangkan senjata suaminya. Gegas dia pun menggelengkan kepala. "Aku nggak mau makan pisang, Bi."


Padahal Bi Yeyen hendak memberikannya.


"Kenapa memangnya? Katanya tadi mau pisang?" tanyanya dengan kening yang berkerut.


"Terus, Nona mau makan buah apa?" tanya Bi Yeyen.


"Aku nggak mau makan buah, aku mau minum susu saja. Tapi tolong bawa pisang itu keluar dari kamar ini, Bi. Aku nggak mau melihatnya." Nella menunjuk 3 buah pisang di atas nampan, dia tentu tak mau otaknya makin mengingat hal yang tidak-tidak, dan itu akan membuatnya makin rindu dengan suaminya.


'Padahal baru beberapa menit Mas Rizky pergi ke kantor, tapi aku sudah rindu padanya,' batin Nella dengan sedih.


*


*


"Di mana Nella, Bi?" tanya Gita saat langkahnya terhenti di ruang tamu, dia melihat Bi Yeyen tengah membersihkan sofa menggunakan kemoceng.


Sebelum datang, dia dihubungi Rizky untuk datang ke rumah menemani Nella, supaya istri tercintanya tak sedih ditinggal bekerja.


Bi Yeyen menoleh. "Sedang tidur di kamar, Bu."


"Oh, Bibi masak apa untuk makan siang Nella? Ini aku bawa kue brownies, tolong taruh di piring dan antarkan ke kamar Rizky, ya!" perintah Gita seraya memberikan tentengan pada Bi Yeyen, yang sejak tadi dibawa.


"Bibi masak semur ati ayam, Bu."

__ADS_1


"Oh bagus itu, nanti sekalian diantar juga. Nella harus makan siang."


Bi Yeyen mengangguk. "Baik, Bu.


Setelah itu Gita berjalan menaiki anak tangga, lalu menuju kamar Rizky.


Dibukanya pintu itu pelan-pelan dan seketika wanita yang tengah berbaring itu menoleh ke arah pintu.


"Siang Sayang, apa Mama menganggu tidurmu?" Gita tersenyum lalu berjalan mendekati Nella, kemudian duduk di atas kasur.


Nella mengusap kedua matanya, sebab pandangannya buram. Dia memang baru saja bangun dan kedatangan Gita adalah alasannya. "Nggak apa-apa, aku sudah kenyang tidur dari tadi, Ma. Mama kok ke sini? Ada apa?"


"Mama mau menjengukmu, kata Rizky kamu sakit." Gita menempelkan punggung tangannya pada dahi Nella, lalu menangkup kedua pipi dan leher menantunya. Memastikan suhu tubuhnya. "Alhamdulillah, kamu sudah nggak panas lagi. Tapi ... apa kamu masih sakit kepala?"


Nella menggeleng samar. "Nggak, aku hanya lapar, Ma."


Tok ... tok ... tok.


"Nah, itu dia makanannya, pas banget, kan?" ucapnya saat mendengar suara ketukan pintu. "Masuk saja, Bi!" pekik Gita.


Ceklek~


Bi Yeyen yang membawa nampan lantas membuka pintu kamar itu, lalu berjalan dan menaruh apa yang dibawanya di atas nakas.


"Bibi masak semur ati ayam, semoga Nona suka," ujarnya.


"Aku suka kok, Bi. Terima kasih."


"Sama-sama, Nona." Bi Yeyen tersenyum, kemudian berjalan keluar dari kamar itu.


"Mau makan sekarang? Mama suapi, ya?" tawar Gita seraya mengambil piring yang berisi nasi, lalu menaruh ati di atasnya. "Mau dikasih kuah?"


"Aku mau disuapi Mas Rizky, Ma," ucap Nella pelan, wajahnya tampak sedih.


"Rizky 'kan sedang di kantor. Mama saja yang menyuapimu, ini ... buka mulutmu." Gita menyodorkan sendok yang berisi ati dan nasi pada bibir Nella, tetapi wania cantik itu malah menggelengkan kepalanya.


"Nggak mau, aku maunya Mas Rizky yang menyuapiku. Jam berapa sekarang, Ma?"


Gita melirik ke arah jam weker yang berada di atas nakas, lalu berkata, "Jam setengah dua belas."


"Mama coba telepon Mas Rizky, ah jangan ... Pak Hersa saja, takutnya Mas Rizky sedang sibuk."


...Jangan lupa like dan komentarnya...


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...

__ADS_1


...1052...


__ADS_2