Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
299. Takut melahirkan


__ADS_3

Rizky langsung meraup kasar wajahnya, tetapi dia tak berkata apa-apa.


Di kursi paling ujung, sorotan mata Maya tertuju pada Sofyan yang tengah duduk dan saling menatapnya. Di sekeliling meja persegi panjang itu juga bukan hanya ada Sofyan saja, melainkan banyak beberapa rekan bisnis. Mungkin berjumlah 10 orang di dalam ruangan itu.


Melihat wajah Maya yang panik dan keringat, Sofyan juga ikut panik. Dia bergegas bangkit dari duduknya lalu berlari menghampiri istrinya.


"Serius kamu mau melahirkan sekarang?" tanya Sofyan seraya merangkul pinggang istrinya, dia langsung meraba perut buncit itu.


"Iya, Ayank. Aku ingin melahirkan sekarang. Cepat antar aku ke rumah sakit."


"Ah, baiklah." Sofyan berbalik badan dan menatap beberapa rekan bisnisnya. "Saya permisi dulu, biar asisten dan sekertaris saya yang menghandle," ujarnya yang mana dianggukan oleh semua orang.


Lantas, Sofyan langsung mengendong Maya. Kemudian berjalan menuju lift.


"Ayank! Kenapa aku digendong? Aku malu." Maya tersentak kaget atas apa yang suaminya itu lakukan. Padahal, apa yang dilakukan Sofyan semata-mata karena mencemaskannya.


"Katanya kamu mau melahirkan, nanti kalau sambil jalan takut anak kita brojol."


"Memangnya bisa begitu, Ayank?" Wajah Maya seketika tegang, dia menelan saliva dan melingkarkan lengannya pada leher suaminya.


"Takutnya begitu. Sekarang kamu tahan dan sabar dulu sebentar, kita akan segera ke rumah sakit."


Setelah memasukkan Maya ke dalam mobil dan memakaikan sabuk pengaman, Sofyan bergegas ikut masuk kemudian mengemudikan mobil itu.


***


"Dokter! Dokter! Istriku mau melahirkan!" seru Sofyan pada seorang dokter wanita yang tengah berdiri di depan ruangan bersalin.


Dia mengendong Maya, wanita itu sejak tadi menyentuh perutnya yang masih kram. Namun mendadak bulu kuduknya seketika berdiri, jantungnya juga berdebar tak beraturan.


'Kok aku takut, ya? Bagaimana kalau rasanya sakit banget?' batin Maya dengan gelisah.


"Ayok masuk, Pak." Dokter itu melebarkan pintu untuk Sofyan masuk. Gegas pria itu masuk ke dalam kemudian membaringkan Maya pada ranjang khusus untuk persalinan.


"Ayank ... aku takut," lirih Maya. Dia mengenggam lengan suaminya.


"Nggak usah takut Sayang, kan ada aku." Sofyan tersenyum hangat, lalu mengecup mesra keningnya.

__ADS_1


"Saya cek dulu ya, Nona." Dokter itu menarik CD merah Maya hingga terlepas, kemudian memposisikan kakinya untuk terbuka dan menjajarkannya pada ranjang itu. Jari telunjuk dokter yang sudah berbungkus sarung tangan itu kini sudah masuk ke dalam inti tubuh.


Sontak—Maya membulatkan matanya, keningnya mengerenyit sebab heran dengan apa yang dilakukan dokter tersebut.


"Kok Dokter nusuk punyaku pakai jari? Seperti Ayank Sofyan saja."


Dokter itu menoleh pada Sofyan, begitu pun sebaliknya. Terlihat wajah pria berumur itu merona.


"Saya hanya periksa saja, Nona. Memang seperti itu," jawabnya sambil terkekeh.


"Jadi bagaimana, Dok? Apa Maya benar-benar mau melahirkan?" tanya Sofyan.


"Belum, Pak. Masih jauh." Dokter itu menggelengkan kepalanya, lalu memakaikan kembali cellana dalam Maya dan membereskan roknya yang tersingkap.


"Tapi, Dok. Perut dan punggung saya tadi kram. Bukannya itu ciri-ciri wanita yang mau melahirkan, ya?"


"Iya. Tapi wanita hamil tua memang wajar merasakan seperti itu, Nona. Tapi saat dicek ... sepertinya bayi Nona belum waktunya lahir," terang Dokter itu.


Brak!


"Dokter! Istriku mau melahirkan!" seru Rizky. Ya, dia yang masuk ke dalam sana sambil menggendong Nella. Dilihat wanita itu tengah merintih kesakitan sambil menyentuh perutnya, aliran darah segar menetes pada rok dressnya di area bokong.


"Ayok kemari, Pak." Dokter itu langsung mengajak Rizky ke sebuah kamar yang tertutup hordeng panjang. Itu berada di samping posisi ranjang Maya.


Di dalam sana juga ada ranjang khusus untuk melahirkan. Bahkan bukan hanya dua tapi banyak. Memang kamar tersebut diperuntukkan para ibu hamil yang melahirkan secara bersamaan, dan Dokter kandungan di rumah sakit itu juga lebih dari satu.


Sofyan hendak melangkah, niatnya ingin menghampiri anak dan menantunya itu. Tetapi dengan cepat Maya mencekal lengannya sebab merasa ketakutan.


"Ayank jangan pergi," pinta Maya. Bulu kuduknya seketika berdiri, dia takut lantaran mendengar suara jeritan Nella yang hendak melahirkan, juga disusul jeritan Rizky yang entah apa penyebabnya.


"Aawww! Sakit, Mas!" pekik Nella lantang.


"Aaaww!" pekik Rizky. Sofyan menoleh ke arah hordeng yang sedikit terbuka di bagian ujung, terlihat menantunya itu sedang di jambak oleh Nella. Wajahnya merah padam dan tampaknya Rizky benar-benar kesakitan.


"Tarik napas ... perlahan keluarkan, Nona," ujar Dokter. "Sekarang Nona dorong."


"Eeeuughhhh ... huh ... huh ... eeeuughhhh!"

__ADS_1


Lenguhan panjang itu makin membuat wajah Maya pucat, tenggorokannya kering dan seluruh tubuhnya menegang. Segera dia pun menggoyangkan lengan Sofyan, pria itu masih menatap kamar sebelah dan sambil bergumam.


"Lancarkan persalinan anakku, ya Allah. Semoga bayi dan ibunya selamat."


"Ayank! Kita pergi dari sini! Aku takut, Ayank!"


Sofyan menoleh, wajah Maya sudah basah dan bibirnya terlihat bergetar.


"Takut kenapa? Katanya kamu mau melahirkan?" Sofyan membungkukan badannya lalu mengusap keringat pada seluruh wajah istrinya itu.


Maya menggeleng cepat. "Nggak! Aku mau pulang sekarang Ayank! Aku takut. Kata Dokternya juga aku belum waktunya," pinta Maya.


Sejujurnya Sofyan ingin ikut menyaksikan proses melahirkan anaknya itu, tetapi melihat kepanikan Maya—rasanya Sofyan tak tega. Dia juga takut jika nantinya akan berpengaruh pada kandungannya.


Sofyan langsung menggendong Maya, lalu berlari cepat keluar dari ruangan itu.


"Kamu nggak perlu takut, orang melahirkan memang seperti itu, May."


Saat sampai di dalam mobil tubuh Maya masih bergetar dan berwajah pucat. Dia mengerti kalau istrinya itu pasti benar-benar takut, sebab ini juga akan menjadi pengalaman pertamanya.


"Tapi rasanya ini sangat horor. Tadi Nella saja sampai menjerit, aku takut." Maya langsung memeluk Sofyan dan menciumi dada bidangnya.


"Kalau kamu takut ... Cesar saja bagaimana?" tawar Sofyan sambil membuang napasnya kasar.


"Memang perbedaan melahirkan Cesar sama normal itu apa, Ayank? Apa nanti nggak akan sakit?" tanya Maya penasaran.


"Sakit mah pasti ada. Cuma mungkin ada perbedaan. Kan jalannya saja beda, kalau Cesar itu lewat perut tapi kalau normal pada inti tubuhmu."


"Nanti lewat perut digimanain?" Maya meregangkan pelukan itu hingga terlepas, lalu menurunkan pandangannya ke arah perut buncitnya.


"Ya diiris, kan biar anak kita bisa keluar."


Degh!


Maya langsung membelalakkan matanya, salivanya dia telan dengan susah payah.


"Nggak mau! Itu juga horor Ayank. Aku takut!" Maya menggeleng cepat dan kembali memeluk tubuh Sofyan dengan erat. "Aku takut melahirkan, nanti pasti sakit dan kata Nella ... itu taruhannya nyawa. Kalau aku meninggal pas melahirkan bagaimana? Ayank jadi duda lagi dong?"

__ADS_1


__ADS_2