
"Nggak, nggak salah, Sayang. Papa memang suka dengan Maya," jawab Sofyan. Pria itu mendekati putrinya, lalu mengendong Jihan dan mengecup pipi gembulnya.
"Apa Mbak Maya juga suka dengan Papa?" Nella sama sekali tak keberatan Sofyan menikah dengan siapa pun, apalagi Maya. Hanya saja dia merasa takut jika gadis itu tak tulus pada papanya.
"Saya ...."
"Maya belum suka dengan Papa," sela Sofyan cepat. Dia tak mau mendengar Maya berbohong atau pun Nella dibohongi, lebih baik jujur apa adanya saja. "Tapi Maya akan berusaha mencintai Papa. Benar 'kan, May?" Sofyan menoleh padanya. Gadis itu mengangguk pelan, sebagai jawaban mengiyakan pertanyaan Sofyan.
"Tapi Mbak nggak kepaksa menikah dengan Papaku, kan? Dan bagaimana ceritanya kalian bisa menikah? Kok aku nggak tahu Papa suka dengan Mbak Maya? Sejak kapan itu?" Begitu banyak pertanyaan di dalam otak Nella, dia sangat penasaran ingin mengetahuinya.
"Iya, kamu ceritakan pada kami, Sofyan. Kamu nggak paksa Maya, kan? Masa sih dia bisa mau dengan pria tua sepertimu?" tanya Angga. Dia juga sama halnya penasaran.
Sofyan membuang nafasnya dengan berat, dia pun duduk di samping Maya yang baru saja duduk di sofa panjang.
"Sebenarnya awalnya aku dikenalkan oleh Rizky, dia ...." Sofyan melirik ke arah menantunya yang sejak tadi senyum-senyum sendiri. Dia pun mulai menceritakan kembali awal mula bertemu dengan Maya sampai bisa menikahinya.
"Mudah-mudahan pernikahanmu ini yang terakhir, Papa berdo'a yang terbaik untukmu, Sofyan," ujar Angga saat mendengar semua cerita dari anaknya. Sebagai orang tua dia tentu ikut merasakan kebahagiaan jika memang anaknya itu bahagia.
"Amin, aku juga berharapnya seperti itu, Pa ... Ma. Aku ingin Maya menjadi wanita yang terakhir untukku," jawab Sofyan.
"Papa mau undang rekan bisnis Papa atau nggak? Nanti biar semaunya kuurus, kita bisa adakan pesta," usul Rizky. Siapa tahu papa mertuanya itu mau mengadakan acara, dia tentu akan membantunya.
Sofyan menoleh pada Maya, sejujurnya dia sendiri tak memusingkan itu semua yang terpenting sekarang mereka sudah sah. Tetapi tak tahu dengan pendapat Maya sendiri.
"Bagaimana menurutmu, May? Apa mau dibuat acara?"
"Aku nggak tahu, Yank. Tapi aku mau Om dan Tanteku tahu dulu kalau aku sudah menikah," jawab Maya.
"Yank?" Rizky mengulang kata itu dengan kening yang mengerut. Kedua telinganya mendadak sangat gatal. "Kamu panggil Papa tadi apa?"
"Panggil Mama dong, Riz. Maya 'kan Mama mertuamu sekarang," titah Sofyan.
"Iya, maksudku Mama."
__ADS_1
"Yank, Pak. Aku memanggilnya dengan sebutan Ayank," jawab Maya.
"Yank? Geli amat? Kenapa pakai yank-yank segala?" Rizky meringis geli.
"Apanya sih yang geli? Itu Maya sendiri yang mau. Kamu nggak usah sirik, Riz," sungut Sofyan sambil memutar bola matanya dengan malas. Kedua pipinya langsung merah karena malu.
"Mana ada aku sirik, aku hanya geli aja mendengarnya." Rizky terkekeh.
"Ya sudah, ini 'kan sudah malam. Lebih baik kita istirahat saja. Apa kalian ingin menginap di sini?" tawar Sofyan.
"Papa dan Mama mau pulang saja, nggak enak ganggu pengantin baru." Sindi berdiri, lalu menoleh ke arah Nella. "Kamu juga pulang saja, Nell."
"Kita bertiga mau menginap Oma." Yang menyahut Rizky.
"Pulang saja deh, Mas. Nggak enak sama Papa dan Mbak Maya."
"Dih, nggak enak kenapa?" Rizky mengerutkan keningnya, lalu menatap Sofyan. "Aku, Jihan dan Nella mau menginap di sini semalam saja ya, Pa. Nanti besok pagi-pagi langsung pulang."
"Iya lah. Masa aku tidur di kamar Papa." Rizky terkekeh.
Setelah Angga dan Sindi pulang, mereka sama-sama menaiki anak tangga. Tetapi Nella dan Maya sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
"Memang kamu sudah boleh tidur dengan Nella?" tanya Sofyan seraya menghentikan langkahnya di depan kamarnya sendiri, menantunya itu juga berdiri di depan kamarnya.
"Cuma tidur, masa nggak boleh. Oh ya, aku punya sesuatu untuk Papa." Rizky merogoh kantong dalam jaketnya, lalu memberikan plastik kresek berwarna putih pada Sofyan.
"Apaan ini?" Sofyan mengerutkan keningnya, kemudian membuka isi di dalam plastik yang ternyata adalah botol obat. Di sana tertera tulisan 'obat encok dan pegal linu'
"Apa maksudmu memberikan Papa obat encok? Papa nggak sakit encok, Riz."
"Siapa tahu besok sakit. Kan malam ini Papa mau goyang ngebor. Jadi minum itu dulu buat jaga-jaga." Rizky menarik turunkan alis matanya, menggoda Sofyan.
"Dih, kamu kira Papa kakek-kakek? Papa masih kuat kali ngebor sampai pagi juga, nggak musti minum obat encok." Sofyan mendengus kesal seraya memutar bola matanya dengan malas.
__ADS_1
"Iya, aku tahu Papa kuat. Tapi 'kan kataku juga buat jaga-jaga."
"Nggak ah. Ini ambil saja untukmu." Sofyan memberikan plastik itu secara paksa kepada menantunya. Tampaknya dia tersinggung dengan obat itu.
"Dih kok untukku? Kan aku belinya juga untuk Papa."
"Papa nggak mau pakai. Sudah ah, Papa mau tidur. Papa capek mau istirahat. Kamu sana balik ke kamar."
"Tapi, Pa. Aku ...."
Brak!
Ucapan Rizky belum selesai, tetapi pintu kamar itu sudah langsung ditutup begitu saja.
"Ah dasar abg tua. Menantu sayang ngasih obat malah nggak diterima," gerutu Rizky pelan.
Kakinya sudah melangkah hendak menuju kamar Nella yang berada tepat di sampingnya. Tetapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Selanjutnya Rizky malah mendekati daun pintu, lalu menempelkan telinga kirinya ke sana.
Jiwa kepo Rizky meronta, entah mengapa dia sangat penasaran ingin mendengar suara dari balik kamar itu.
'Papa sudah perawanin Maya belum, ya? Kalau belum berarti malam ini dong. Ah aku penasaran, pasti Maya menjerit dengan kencang gara-gara burung Papa. Eh, tapi burung Papa dan burungku lebih besar siapa ya kira-kira?' batin Rizky.
Cukup lama Rizky berdiri di depan pintu kamar itu, mungkin sudah setengah jam. Tetapi belum ada suara-suara yang terdengar dari sana.
'Kok nggak ada suaranya? Minimal mendessah kek, ini mah sepi. Pakai jurus apa Papa kira-kira?' Rasa penasaran Rizky yang makin menjadi akhirnya membuat salah satu matanya mendekati lubang kunci. Namun sayangnya dia tak melihat apa-apa dari sana.
Rizky memperhatikan pintu kayu yang terlihat kokoh itu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 'Ini pintu rapet amat, sih? Orang mah kasih lubang sedikit buat ngintip. Nggak seru amat.'
"Mas Rizky ngapain? Ngintip?" Nella yang baru saja keluar dari pintu kamar segera menghampiri suaminya. Dia melihat bokong Rizky sejak tadi nungging di depan pintu yang tertutup.
Rizky terhenyak sambil mengelus dadanya yang tiba-tiba berdebar. "Ah, nggak. Masa aku ngintip. Memangnya aku nggak ada kerjaan?" elaknya sambil menggeleng.
"Terus itu ngapain? Daritadi nggak masuk kamar dan berdiri di pintu Papa." Nella menatap curiga.
__ADS_1