
Entah mengapa ada rasa penasaran di dalam hati hingga menarik kakinya untuk melangkah menuju kamar Rizky. Diketuknya pintu kamar itu, mungkin saja Rizky sudah pulang tanpa sepengetahuannya.
Tok ... tok ... tok.
"Mas ... Mas Rizky."
"Mas ... apa sudah tidur?" Sudah hampir dua kali pintu itu diketuk, namun belum ada tanda-tanda Rizky menyahut. Kamar itu juga terasa sangat sepi, hampir tidak ada suara dari dalam.
Dengan ragu-ragu Nella melebarkan pintu dan masuk, seketika itu pun matanya terbelalak.
"Kosong."
Ya, kamar itu kosong tak ada Rizky. Nella merasa heran, tidak biasanya Rizky belum pulang sampai larut malam begini.
"Apa Mas Rizky nggak pulang ke sini gara-gara takut sama Opa?"
Kembali Nella bertanya pada hatinya, namun tiba-tiba pikirannya malah jauh ke arah kecelakaan. Dia teringat tentang cerita Indah saat menceritakan suaminya tidak pulang dan itu disebabkan kecelakaan.
Khawatir dan cemas langsung menghantui hati dan pikirannya. Kemudian dia kembali mengingat sang kakek yang tidak pernah suka pada Rizky, dia juga melihat jelas kemarahannya ketika menatap wajah Rizky.
"Apa jangan-jangan Opa menyuruh orang untuk membunuh Mas Rizky?"
Beberapa menit dia terdiam dan langsung menggeleng samar.
"Nggak, nggak mungkin. Opa itu orang baik, dia nggak mungkin melakukan hal seperti itu."
Nella melirik ponsel yang ada dalam genggamannya, dia berinisiatif untuk menelepon Rizky. Namun sayangnya dia tak punya nomor suaminya. Baik dia ataupun Rizky, mereka belum pernah saling menghubungi satu sama lain, jelas sekali tak ada komunikasi di antara mereka. Rizky yang jelas mempunyai nomornya pun tak pernah menghubungi lantaran takut jika dirinya akan diabaikan.
"Oh iya, Mama Gita."
Orang itu jangan sampai dilewatkan, mungkin saja hanya dia satu-satunya yang tahu keberadaan Rizky saat ini. Nella gegas menghubungi nomor mertuanya dan duduk di atas kasur.
Satu panggilan tidak terjawab, Nella mengerti, mungkin Gita sudah tidur. Akibat rasa cemas sudah menggerogoti isi otaknya, Nella untuk kedua kalinya menelepon Gita. Panggilan itu akhirnya diangkat meskipun agak lama.
"Halo, Sayang ...." Suara Gita terdengar terengah-engah.
"Halo, maaf aku menganggu Mama malam-malam," ucap Nella tak enak.
"Nggak apa-apa, ada apa Sayang? Kamu kangen sama Mama?"
"Bukan itu, tapi kok ... Mas Rizky belum pulang, ya, Ma? Apa Mama tahu di mana Mas Rizky?"
"Apa?!" Suara Gita langsung memekik. Dia yang tengah berada di atas tubuh suaminya langsung turun dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
"Ada apa sih?" tanya Guntur kesal, sebab sesi bercinta belum usai dan Gita mengakhirinya begitu saja.
__ADS_1
"Ini, Rizky katanya belum pulang, Pa," jawab Gita dengan wajah cemas.
Guntur mengerut kening. "Masa belum pulang, Papa tadi antar dia ke rumah Pak Angga, kok."
Ya, Guntur masih ingat, setelah mereka makan malam—dia mengantar Rizky tepat di depan gerbang rumah itu. Namun mengapa Rizky belum pulang sampai sekarang?
"Coba Papa bicara sama Nella." Gita menyerahkan ponselnya pada sang suami dan Guntur langsung menempelkannya di telinga kiri.
"Halo, Nell."
"Halo, Pa."
"Tadi jam 7 Papa ajak Rizky makan malam dan sekitar jam 9 Papa antar dia pulang, Nell. Kamu sudah hubungi Rizky belum?"
"Masalahnya aku nggak punya nomornya, Pa."
"Ah kamu ini, punya suami nggak punya nomornya, gimana sih?" Tiba-tiba Guntur merasa kesal pada menantunya itu, mengingat semua hal yang sudah terjadi. "Giliran nomor Ihsan punya, Rizky nggak. Tega kamu, Nella."
Tut ... tut ... tut.
Sambungan telepon itu langsung dimatikan secara sepihak oleh Guntur. Hal itu membuat perasaan Nella tak enak dan ditambah tak tenang.
Nella mengigit bibir bawahnya. "Sudah di antar pulang tapi kok belum sampai? Mas Rizky pergi ke mana?"
***
"Terima kasih makan malam ya, Pa," ucap Rizky saat Guntur menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Angga.
"Sama-sama, kapan-kapan kita makan sama-sama lagi."
"Iya." Rizky mencium punggung tangan sang papa lantas turun dari mobil. "Papa hati-hati di jalan."
"Iya." Guntur mengangguk dan melajukan mobilnya hingga meninggalkan Rizky.
Untuk masuk ke dalam rasanya Rizky enggan, dia takut jika Angga akan memarahinya. Rizky hanya terdiam dan memandangi rumah itu.
'Apa gue pulang ke rumah gue sendiri saja? Ah tapi rugi ... lumayan sehari lagi ketemu Nella,' batin Rizky.
"Bapak kok nggak masuk?" tanya satpam yang baru saja membuka gerbang untuk Rizky, dia melihat pria tampan itu tengah melamun.
Rizky langsung terkesiap dan dia berjalan ragu-ragu memasuki ke halaman rumah itu.
"Opa Angga kira-kira sudah tidur belum ya, Pak?" tanya Rizky seraya menghampiri sang satpam yang tengah berdiri di pos.
"Saya kurang tahu, Pak," jawab Pak Satpam seraya menggeleng. "Memang kenapa, Pak?"
__ADS_1
"Nggak, hanya tanya saja." Rizky menggeleng samar. Sungguh, rasanya seperti tak sanggup untuk melangkah masuk.
'Masuknya nanti saja deh, kalau sudah jam 12 malam,' batin Rizky.
"Apa Bapak bisa main catur?" tanya Rizky basa basi.
"Bisa, memang kenapa, Pak?"
"Ada nggak papan caturnya? Kita main catur bagaimana?"
Sembari menunggu waktu, lebih baik Rizky memanfaatkannya untuk main catur. Dia juga suka sekali bermain catur dengan teman-temannya.
"Punya. Wah kebetulan sekali ... saya sudah lama nggak main catur. Tapi ngomong-ngomong mainnya di mana?" Satpam itu merasa ragu, tidak mungkin seorang Rizky mau bermain catur di dalam posnya.
Tapi tiba-tiba pria tampan itu malah masuk begitu saja dan duduk di kursi.
"Di sinilah, di mana lagi? Tapi aku mau kopi juga, apa Bapak bisa buatkan untukku?" Rizky melirik ke arah dispenser yang berada di dekatnya, ada beberapa kopi hitam sachet dan juga gelas di atas meja.
"Tentu, saya akan buatkan." Satpam itu mengangguk, lalu membuat dua gelas kopi untuknya dan Rizky.
...(Flashback Off)...
Mereka bermain catur sambil menyeruput kopi hingga waktu bergulir begitu cepat. Rizky bahkan sudah menang dua kali.
Saat mereka ingin main untuk ketiga kalinya, ponsel Rizky tiba-tiba saja berdering hebat. Panggilan itu dari Gita.
"Halo Riz, kamu pergi ke mana?"
Yang telepon Gita, tapi anehnya suara laki-laki yang terdengar.
"Suara Mama kenapa? Kok berubah? Lagi sakit tenggorokan?" tanya Rizky dengan alis mata bertaut.
"Ini Papa, kamu ke mana saja? Kamu nggak masuk ke rumah Pak Angga?" tanyanya sambil menggerutu.
"Aku masuk, memang kenapa, Pa?"
"Nella mencarimu, dia tadi telepon Mama katanya kamu belum pulang."
"Mencariku? Ah Papa pasti bohong, Nella nggak mungkin berkata semanis itu," sanggah Rizky tak percaya.
"Beneran, Papa nggak berbohong. Sekarang Papa tanya kamu ada di mana?"
"Aku di pos satpam."
"Pos satpam? Pos satpam mana dan sedang apa?"
__ADS_1
...Like itu gampang dan gratis, jadi jangan lupa tinggalkan, ya!...
...Yuk follow IG Author: @rossy_dildara...