
"Aku mau cari pohonnya saja, aku mau memetiknya langsung."
"Memetik? Memang bisa? Pohon mangga 'kan tinggi. Dan disekitaran sini juga Bibi ragu kalau masih ada yang punya pohon mangga."
Mereka berjalan di trotoar, banyak sekali kendaraan yang lalu lalang. Motor dan mobil silih berganti bolak-balik.
"Coba dulu saja, Bi."
"Eh tapi ... apa Nona sudah izin dulu sama Pak Rizky? Nanti takutnya nggak boleh."
"Ngapain nggak boleh? Kan aku hanya cari mangga. Memangnya salah?"
"Nggak salah, tapi nanti Nona capek. Kan lagi hamil." Bi Yeyen terlihat mencemaskannya, sebab dia juga takut—jika Nella kenapa-kenapa dia bisa disalahkan oleh Rizky. "Apa lebih baik kita beli saja ke pasar, nggak usah mencarinya."
Nella menggeleng cepat. "Aku nggak mau, aku juga nggak capek kok. Oh ... apa mungkin Bibi yang capek, ya?" Nella menoleh pada Bi Yeyen dan seketika wanita itu menggeleng cepat.
"Nggak kok."
Hampir sudah ada setengah jam mereka berjalan pelan sembari melihat-lihat sekelilingnya, takutnya melihat ada pohon mangga, tetapi belum ketemu.
Lama-lama Nella merasa sangat panas dan sinar matahari seakan menyoroti tubuhnya. Lantas kepalanya mendongak ke atas dan tidak ada payung yang sejak tadi memayunginya. Nella menoleh ke belakang, ternyata Bi Yeyen tertinggal dan kini wanita paruh baya itu tengah mengangkat telepon.
"Kok Bibi malah berhenti, bukannya jalan," gerutu Nella seraya menghampirinya.
Bi Yeyen terdengar seperti tengah menjawab telepon, tetapi tiba-tiba panggilannya terputus begitu saja.
"Maaf Nona, tadi Pak Rizky telepon," ucap Bibi seraya menaruh ponselnya di dalam kantong daster.
"Mas Rizky? Dia telepon mau apa, Bi?" tanya Nella penasaran.
"Bibi nggak tahu, tapi tadi tanya Nona ada di mana."
"Kok nanyanya ke Bibi? Kenapa nggak telepon padaku saja?"
Seketika Nella menjadi sedih, mungkinkah itu karena Rizky tak mau menghubunginya? Itulah yang saat ini Nella pikirkan.
"Terus Bibi jawab apa tadi?" tanya Nella kembali.
__ADS_1
"Belum sempat dijawab, tapi ponsel Bibi eror Nona. Mati sendiri." Bi Yeyen mencoba menghidupkan ponselnya lagi. Tetapi tak kunjung hidup.
"Oh," desahnya murung.
"Mau cari mangga lagi nggak? Apa mau beli saja? Nona terlihat capek." Bi Yeyen melihat keringat pada seluruh wajah cantik Nella, dia juga sejujurnya sudah capek lantaran jalan jauh. Tetapi tak enak jika menolak permintaan Nella, apalagi dia tengah hamil.
"Mau cari lagi, tapi aku mau pergi mencarinya sama Mas Rizky," jawabnya dengan wajah sedih. Terlihat kantung mata Nella mulai berair, dia seketika menyentuh perutnya sendiri sembari mengusapnya. Dia teringat jika Rizky belum bisa mempercayai bayi yang ada di dalam kandungannya.
'Dia anakmu, Mas. Hasil kita bercinta, masa kamu nggak sadar? Aku nggak pernah mengkhianatimu meskipun aku dulu masih bersama Kak Ihsan.'
Bi Yeyen menoleh ke arah kiri, mereka sekarang tepat berdiri di depan gerbang sekolah dasar dan ternyata di dalam sana ada sebuah pohon mangga besar dan beberapa biji mangga muda yang menggantung.
"Wah Nona, coba lihat ...." Bi Yeyen mengusap pelan lengan Nella saat dia baru saja menangis. "Itu pohon mangganya."
Nella ikut menoleh dan segera menyeka air matanya, dia begitu senang melihat pohon mangga itu. Namun tetap saja hatinya merasa sedih, sebab terus kepikiran Rizky.
"Ayok masuk Nona, kita ambil buah mangganya." Bi Yeyen menarik lengan Nella dengan penuh antusias, tentu dia senang sebab pencarian mereka telah berhasil. Tetapi tiba-tiba Nella menahannya kakinya, seolah enggan untuk masuk ke dalam sana.
"Aku ingin Mas Rizky yang mengambilkannya untukku Bibi," ucapnya pelan.
"Ya sudah ... Nona telepon Pak Rizky saja,” saran Bi Yeyen.
"Biar Bibi yang ngomong nanti, sini teleponnya, Nona." Bi Yeyen menadah tangannya dan Nella pun membuka tasnya, tetapi setelah dicari-cari—ternyata benda pipih itu tidak ada.
"Kok nggak ada, apa tertinggal di kamar, ya?" gumam Nella.
"Mbak Nella, sedang apa Mbak ada di sini?" tanya seorang wanita berambut panjang yang baru saja datang menghampirinya.
Lantas dia menoleh dan Nella pun mengetahui dia siapa.
"Wulan."
Dan ternyata Wulan tidak sendiri, dia bersama seorang pria berbadan kekar berkulit hitam dan berkepala botak, wajahnya juga menyeramkan. Wulan ini adalah salah satu pelayan restorannya dulu.
"Dia siapa, Wulan?" Nella melirik pada pria yang berada di sampingnya sambil melepaskan kacamata hitamnya, lalu menaruhnya di dalam tas.
"Dia Pak Indra, supir Mas Rio, Mbak."
__ADS_1
"Oh, terus kok kamu ada di sini?" Nella menatap ke arah gedung sekolah dasar yang terlihat banyak sekali anak kecil berseragam merah putih berhamburan keluar, sebab sudah jam pulang.
"Aku mau jemput adikku, dia sekolah di sini. Mbak sendiri ngapain ke sini? Jemput adik atau keponakan?"
"Aku mau mengambil buah mangga yang berada di sana, apa ada yang punya?" Nella menunjuk satu pohon besar di sana.
"Nggak ada yang punya, Mbak Nella bisa mengambil sesuka hati," jawab Wulan.
"Mau saya ambilkan Nona?" tawar pria plontos tersebut pada Nella.
"Memangnya Bapak bisa mengambilnya?" tanya Nella. Sebenarnya dia ingin Rizky yang mengambil, tetapi rasanya itu tidak mungkin. Dia saja tidak tahu saat ini Rizky berada di mana.
"Bisa, nanti saya cari galahnya."
Pria plontos yang bernama Indra itu langsung masuk ke dalam gerbang sekolah dasar tersebut, saat seluruh murid meninggalkan gedung itu. Nella dan Bi Yeyen yang sejak tadi bermain ponsel langsung ikut masuk, sedangkan wanita yang bernama Wulan lebih memilih masuk ke dalam mobil bersama adik perempuannya.
"Kalau dipanjat bisa nggak ya, Pak?" tanya Nella pada Indra yang tengah berkeliling disekitaran pohon besar itu, mencari kayu panjang.
"Maksudnya Nona minta saya untuk manjat pohon?" tanyanya sambil menunjuk wajahnya sendiri.
Nella menggeleng cepat. "Nggak, aku yang memanjat."
"Nona jangan memanjat, bahaya," ucap Bi Yeyen.
Galah tidak berhasil ditemukan, tetapi Indra berhasil menemukan tangga kayu lalu dia menaruhnya di badan pohon.
"Ibu bisa tolong pegang tangganya? Saya mau naik." Indra berucap pada Bi Yeyen dan langsung dianggukan olehnya.
Namun saat wanita paruh baya itu memegangi tangga kayu, Nella lah yang hendak naik.
"Nona nggak usah naik, biar saya saja. Nanti jatuh." Indra memegang lengan Nella saat wanita itu berhasil naik satu injakan tangga.
"Nggak apa-apa, biar—"
"Jangan pegang-pegang istri gue!" Suara bariton dari seorang pria langsung membuat mereka terperangah, dia pun berjalan cepat lalu menepis tangan Indra dari lengan Nella. "Kurang ajar sekali lu, Botak! Kenapa lu pegang-pegang istri orang? Mau jadi pebinor, ha?" makinya kesal. Dia menarik tangan Nella hingga wanita itu turun dari tangga, lalu segera memeluk tubuhnya.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
__ADS_1
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
...1123...