Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
254. Jangan dilepas!


__ADS_3

Rasa sakit yang menjalar pada inti tubuh Maya sekarang berubah sedikit menjadi sensasi yang tak biasa. Yaitu enak.


'Kok rasanya aneh begini? Tapi ada enak-enaknya,' batin Maya.


Tubuh Maya yang awalnya menegang kini menjadi rileks dan ikut terbawa oleh gerakan yang Sofyan berikan.


"Bagaimana rasanya? Enak, kan?" tanya Sofyan sambil menyeka keringat pada dahinya dan dahi Maya. Dia menatap mata istrinya yang sudah merem melek, bibir bawahnya terus digigit. "Jangan digigit, nanti berdarah. Keluarkan saja. Malam ini hanya milik kita berdua." Sofyan mendekat, lalu meraup kasar bibir istrinya.


Gerakan yang awalnya lambat dan lembut itu kini berubah agak cepat. Gesekan demi gesekan membuat tubuh Maya terguncang dengan hebat di atas kasur.


"Aaahh!" Akhirnya dessahan itu lolos di bibir Maya. Sofyan yang mendengarnya makin membuat semangat.


"Panggil namaku, May." Sofyan tersenyum, dia memompa miliknya lebih kencang lagi.


"Aahhh ... Ayank Sofyan."


"Iya, Ayank Maya." Sofyan meremmas kedua gunung kembar istrinya, lalu melahapnya bolak balik.


"Ayank, aku mau pipis."


"Ayok pipis, cepat!" Sofyan tersenyum lebar. Lantas mengangkat tubuh Maya untuk duduk bersamanya. Dia mendudukan bokongnya di pangkuannya, selanjutnya Sofyan kembali menekan pinggulnya dari bawah.


"Ayank, aku mau pipis ... aaahh! Nggak tahan."


"Ya sudah, pipis saja."


Maya memegang pinggang Sofyan, berupaya ingin mencoba menghentikan aktivitas panas itu. Tetapi tenaga Sofyan yang jauh lebih besar justru makin mengguncangnya.


Maya tak kuasa menahan apa yang hendak dia keluar, dan pada akhirnya dia menyerah.


"Eh ... kok basah?" Aktivitas itu langsung terhenti kala Sofyan merasakan milik Maya mengeluarkan air. Seluruh bokongnya ikut basah juga dengan kasur. "Kamu pipis beneran, May?"


Sofyan kira, gadis itu bilang pipis adalah saat dimana dia mencapai pelepasan, tetapi ternyata memang kencing beneran.


Wajah Maya merah merona. Dia hendak bangkit dan berusaha mencabut milik Sofyan pada inti tubuhnya, tetapi pinggangnya langsung ditahan oleh suaminya.


"Jangan dilepas! Aku susah-susah payah masukinnya, May!" tegas Sofyan sambil menggeleng. Lagi enak-enaknya rasanya tak sanggup juga harus berhenti ditengah jalan.


"Tapi aku pipis Ayank. Bau pesing, aku mau cebok dulu."


Tanpa banyak bicara Sofyan langsung mengendong tubuh istrinya, lalu membawanya masuk ke kamar mandi. Pelan-pelan Sofyan membaringkan tubuh Maya di dalam bathtub, begitu pun tubuhnya yang berada di atas gadis itu.

__ADS_1


"Kita kelonan di sini saja, biar enak." Sofyan perlahan memainkan pinggulnya, dilihat Maya hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.


Namun, lagi-lagi ada saja yang menghentikan aktivitas panas mereka. Padahal Sofyan sudah hampir melayang, sedikit lagi sampai tetapi tak jadi lantaran Maya melepaskan ciumannya.


"Ayank ... udahan dulu, ya?" pinta Maya.


"Memang kenapa?"


"Aku mules, mau berak." Maya menyentuh perutnya yang melilit tak karuan, wajah gadis itu juga terlihat merah. Merahnya bukan karena kabut gairah, tetapi menahan kentut sejak tadi.


"Serius kamu, May?" Kedua alis mata Sofyan terangkat.


"Iya, cabut dulu, Ayank. Nanti keburu keluar seperti air pipis."


Sofyan menghela napasnya kasar. Jujur dia kesal dan marah, tetapi tak bisa apa-apa selain menuruti permintaan istrinya. Tidak lucu juga rasanya jika bercinta sambil berak. Apa lagi di dalam bathtub, bisa-bisa akan banyak pisang goreng yang mengambang dan membuat selera bercintanya tidak indah seperti apa yang dibayangkan sebelumnya.


Lantas dia bangkit dari kungkungan gadis itu hingga miliknya yang masih menegang terlepas, lalu keluar dari kamar mandi dengan wajah kecewa.


Sofyan menghentakkan bokongnya di sofa sambil meraup kasar wajahnya. "Banyak banget gangguan, sih? Padahal tinggal cr*t doang. Maya ... Maya ...."


*


*


*


'Alhamdulillah Pak Sofyan tidur,' batin Maya.


Entah mengapa ada perasaan lega pada hati gadis itu, karena itu juga berarti aktivitas mereka tak jadi diteruskan.


Jujur saja, saat ini Maya merasakan miliknya begitu perih dan sakit. Langkah kakinya terasa pelan saat menghampiri Sofyan sambil membawa selimut.


"Eh, kamu sudah selesai, ya?"


Maya terperanjat ketika melihat Sofyan mengerjapkan matanya, padahal dia baru saja hendak menyelimuti tubuh polos pria itu.


"Iya, Ayank." Maya mengangguk kecil.


Sofyan menarik lengan gadis itu hingga tubuhnya duduk di atas pangkuannya.


"Kita lanjutkan di sini, ya?" Sofyan mendekap tubuh istrinya seraya meremmas dada, puncaknya langsung dia mainnya.

__ADS_1


"Aaahh Ayank, apa kita bisa lanjutkan besok saja?" tanya Maya sambil mendessah.


"Nggak ada tunda-tundaan lagi. Pokoknya si Jumbo harus muntah di kandangnya." Sofyan mengangkat bokong istrinya, kemudian mengarahkan senjata pamungkasnya pada inti tubuh Maya. Pelan-pelan dia masukkan ke dalam sana dan terlihat gadis itu meringis kesakitan.


'Perih banget, sakit,' batin Maya.


Bibir Maya langsung dikunci oleh Sofyan karena pria itu sudah melummat dengan kasar, dia tak mau istrinya kembali mengoceh dan menghentikan aktivitas mereka lagi. Cukup mendessah saja.


Maya akhirnya pasrah, meskipun memang miliknya terasa begitu perih dan sakit. Tetapi pada akhirnya semua rasa itu berubah menjadi enak, pompaan yang Sofyan lakukan membuat desiran darah di seluruh tubuhnya seperti mendidih.


Selang beberapa menit, miliknya seketika berkedut, sesuatu di dalam sana keluar begitu saja.


"Eeeuughhhh ...." Maya melenguh dalam ciuman mereka, dan tak lama Sofyan pun mendessah karena telah berada dititik puncak kenikmatan.


"Aaaahhhh!" Sofyan menekan miliknya lebih dalam hingga larva panasnya meledak di dalam sana.


Akhirnya dia telah berhasil, berhasil mencapai pelepasan setelah beberapa kali gagal. Cairan kental itu terasa hangat masuk ke dalam rahim Maya, gadis itu sampai membulatkan mata saat merasakannya.


'Kok hangat?' batin Maya.


"Ini sangat enak, May. Terima kasih." Sofyan mengendong tubuh istrinya, lalu membaringkannya di atas kasur yang tidak basah karena air kencing tadi, deru napas keduanya sudah tersengal-sengal.


"Sama-sama." Maya tersenyum manis.


Pelan-pelan Sofyan mencabut miliknya yang sudah mengecil, lalu menarik beberapa lembar tissue di atas nakas untuk membersihkan milik Maya. Setelah itu dia berbaring di sampingnya, kemudian menarik selimut untuk keduanya.


"Ayank ... kenapa Ayank berbohong sama Om dan Tante? Kan aku nggak lagi hamil?" Maya meringkuk ke sebelah Sofyan, kemudian tangan suaminya mengelus pipi.


"Kalau aku nggak bohong nanti mereka akan meminta kita bercerai, May. Kan kamu tahu sendiri mereka seperti apa saat melihatku. Mereka nggak suka karena aku tua. Iya, kan?"


Maya terdiam, ingin menjawab iya rasanya tak enak.


"Tapi kalau misalkan kamu hamil anakku ... apa kamu keberatan, May?" Sofyan meraba secara perlahan perut rata istrinya sambil berdoa dalam hati. 'Semoga kamu cepat jadi. Aku mau memberikan adik untuk Nella dan Rizky.'


"Ayank 'kan suamiku. Masa aku keberatan?"


"Eh, jadi mau?" Mata Sofyan seketika berbinar.


"Iya." Maya mengangguk.


"Ya sudah kita bikin anak lagi kalau begitu." Sofyan tiba-tiba saja naik lagi ke atas tubuh Maya, lalu membuka kedua pahanya lebar-lebar.

__ADS_1


__ADS_2