
"Aku nggak mau," jawab Nella datar.
"Nggak mau memberikan nomor atau pergi ke salon denganku?" Mitha mengerutkan keningnya binggung.
"Dua-duanya, aku juga nggak mau berteman denganmu."
Deg!
Jantung Mitha langsung berdebar dan dadanya terasa tertusuk. Sangat jelas jika Nella menolaknya mentah-mentah.
"Kenapa?"
"Menurutku, nggak perlu kamu tanya juga sudah pasti kamu tahu. Awal aku bicara denganmu lewat telepon saja ... aku nggak suka denganmu, Mit," jawab Nella jujur. Setelah itu dia bangkit untuk berdiri. "Sudah, ya. Aku masih banyak kerjaan."
Lantas, Nella berlalu pergi meninggalkan Mitha yang tengah menggerutu dalam hati. 'Cih! Menyebalkan sekali dia, dasar wanita sombong!'
Pandangan Mitha mengikuti langkah Nella sampai masuk ke dalam ruangannya. Sejenak dia terdiam, sembari memikirkan ide untuk bisa mendekati Nella.
*
*
Nella baru saja duduk di kursi kerjanya dan membuka laptop, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok ... tok ... tok.
"Masuk!" ucap Nella sedikit berteriak.
Ceklek~
Pintu itu dibuka dengan lebar, dan ternyata Nissa yang datang ke ruangannya.
"Tante," ucap Nella sembari tersenyum.
"Tante kira kamu sudah mau berhenti kerja gara-gara hamil." Nissa mengulum senyum sembari menarik kursi lalu duduk di depan meja kerja keponakannya.
"Tante sudah tahu aku hamil? Siapa yang memberitahu?"
"Opa. Maaf ya, Nell. Gara-gara pil kb kadaluarsa ... kamu jadi hamil dan nggak jadi bercerai dengan Rizky."
__ADS_1
Ada rasa tak enak dan bersalah dalam hati Nissa, sebab dia sendiri tak tahu jika Nella sudah memilih Rizky ketimbang Ihsan.
Nella menarik senyumnya sembari mengelus perut. "Nggak apa-apa, Tan. Mungkin ini adalah jalan supaya aku dan Mas Rizky tetap bersama."
Wajah Nella tampak berseri, ingatannya langsung tertuju pada Rizky dan momen saat bercinta. Jantungnya tiba-tiba berdebar sangat kencang, entah mengapa sekarang dia seakan menginginkannya lagi.
'Kok aku jadi ketagihan gini, ya. Sedang apa Mas Rizky kira-kira? Apa aku pergi ke kantornya saja? Tapi kerjaanku banyak,' keluhnya dalam hati.
"Kamu kok sepertinya bahagia, Nell?" Ternyata sedari tadi Nissa tengah memperhatikan keponakannya yang senyum-senyum sendiri. Ucapannya mampu membuyarkan lamunan Nella seketika.
"Hamil adalah rezeki 'kan, Tan? Apa aku salah kalau bahagia?"
Nissa menggeleng cepat. "Nggak kok, itu malah bagus. Tante juga ikut senang mendengarnya. Tapi ... rasanya ada yang aneh saja denganmu." Nissa terdiam sejenak sambil menatap Nella yang tengah mengerutkan kening. "Apa Tante ketinggalan sesuatu? Kok kamu nggak cerita apa-apa."
"Sebenarnya aku mau cerita, tapi rasanya aku malu, Tan." Pipi Nella merona, sunggingan senyumnya terlihat malu-malu.
Nissa yang melihatnya tentu menjadi gemas dan terkekeh, tingkah Nella yang manja memang selalu membuatnya lucu.
"Ada apa, sih?" tanya Nissa penasaran.
"Aku mencintai Mas Rizky, Tan."
Sontak Nissa terbelalak sangking terkejutnya. "Apa? Apa kamu nggak salah?"
Nissa bergidik ngeri sambil geleng-geleng kepala, lantas dirinya berdiri dan mendekati keponakannya. Ditempelkannya punggung tangannya sendiri pada dahi Nella, dan tidak terasa panas sama sekali.
"Badan kamu nggak panas tapi ya, Nell." Setelah itu tangan Nissa menangkup kedua pipi nya lalu turun ke leher. Seolah mengecek suhu tubuh wanita itu.
"Aku 'kan nggak sakit. Tante ini kenapa?" Nella memegang tangan Nissa dan seketika menghentikan aktivitas menyentuh kulitnya.
"Rasanya aneh saja dan terdengar gatal di telinga, saat kamu bilang cinta sama Rizky. Apalagi kamu tadi bilang apa? Perkasa? Apa nggak terdengar menjijikkan?" Tatapan aneh itu terlihat pada bola mata Nissa. Dia tak habis pikir dengan ucapan Nella yang terkesan sangat tak masuk akal.
Tentunya dia adalah orang pertama yang tahu, jika Nella sangat membenci Rizky. Kalau perlu jujur—alasan Nissa ikut membenci pria tampan itu adalah Nella juga.
"Kok jijik, sih? Apanya yang menjijikkan? Memang itu kenyataannya kok. Apa Tante tahu ... setiap kali aku dan Mas Rizky bercinta, aku selalu keluar duluan. Sedangkan Mas Rizky belum, Tan. Hebat 'kan dia?" Nella tersenyum dengan penuh antusias, tetapi senyumnya itu entah mengapa membuat perut Nissa mual. "Eh, Tante mau ke mana?"
Nissa sudah berjalan menuju pintu lalu membukanya sembari menutupi mulutnya dengan salah satu tangan. "Tante mau ke toilet, mual mendengar ucapanmu." Setelah mengatakan hal itu, Nissa berlalu meninggalkan Nella di ruangannya.
"Kok mual? Apa Tante Nissa hamil juga?" Monolog Nella. Setelah itu dia meraih ponselnya di atas meja untuk menghubungi suaminya.
__ADS_1
Satu panggilan tidak dijawab dan akhirnya panggilan kedua Rizky jawab.
"Halo, Mas."
"Iya. Halo Nell, ada apa? Apa kepala lu sakit atau perut lu sakit? Kata Hersa ... lu masuk kerja lagi, ya? Kalau lu capek ... lu nggak usah kerja dulu." Rizky mencecar beberapa pertanyaan untuk Nella, dan yang pasti pertanyaan itu mengandung sebuah perhatian yang mampu membuat hati Nella meleleh.
"Aku baik-baik saja, Mas Rizky sedang apa?" tanya Nella dengan pipi yang merona.
"Gue sedang melihat data laporan di laptop. Oya, gue juga sekalian mau beritahu lu, kalau gue kerja pulang malam, Nell."
"Dih, kok begitu? Kenapa? Mas Rizky mau pergi bersama wanita lain, ya?"
"Lu ini bicara apa?" Rizky terkekeh. "Gue pulang malam karena lembur, tapi nggak terlalu malam kok. Paling jam 7."
"Kenapa harus lembur, sih? Nanti aku di rumah sendirian dong," keluh Nella dengan wajah sedih.
"Iya, gue banyak banget kerjaan. Kemarin nggak masuk kantor dan banyak meeting yang gue tunda juga. Bagaimana kalau saat pulang kerja, lu ke rumah Opa atau Mama Gita. Biar nggak sendirian? Tapi di rumah juga ada Bi Yeyen, kan?"
"Mereka 'kan beda. Aku maunya Mas Rizky. Mas pulang sore saja seperti biasa, atau kalau nggak ... sekarang saja pulangnya." Suara Nella terdengar seperti merengek.
"Memangnya lu mau apa? Apa lu kepengen sesuatu? Coba bilang. Nanti pulang kerja gue beliin."
"Aku nggak mau apa-apa, aku maunya ketemu Mas Rizky."
"Iya, nanti malam juga ketemu kok. Eh sebentar-sebentar ...." Terdengar Rizky tengah mengobrol dengan seorang wanita, suaranya agak jauh dan samar-samar. Untuk sejenak Nella bertanya dalam hati, tetapi mendadak malah ada rasa curiga. "Nanti gue telepon lagi, ya. Gue harus meeting sekarang. I love u Nella istri gue yang cantik, emmmuuah ...."
"Mas aku ...."
Tut ... tut ... tut. Nella belum selesai bicara, tapi panggilan itu terputus begitu saja. Lalu dia mencoba menelepon lagi, namun sayangnya tak ada jawaban.
"Mas Rizky menyebalkan sekali!" Nella mendengus kesal sembari meremmas ponselnya. "Tadi Mas Rizky ngobrol dengan siapa? Apa jangan-jangan dia selingkuh?" Nella terdiam sejenak sampai akhirnya dia menggeleng cepat.
"Nggak, ini nggak boleh terjadi. Aku harus pergi menemuinya dan melabrak mereka berdua. Mas Rizky nggak boleh selingkuh dengan wanita lain, dia hanya milikku seorang!" Hati Nella mendadak tak tenang dan gelora api yang mendadak menyala di dadanya. Sepertinya dia harus bertindak, sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Setelah mengatakan hal itu, lantas Nella berdiri dan menyambar tasnya. Kemudian bergegas keluar dari ruangannya sampai keluar restoran.
Niat awalnya ingin masuk kerja, tetapi sepertinya Rizky jauh lebih penting dari pada pekerjaannya.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
__ADS_1
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
...1122...