
"Bibi nggak tau, Pak." Bi Yeyen menggeleng samar. "Terus bagaimana, Pak? Apa dibuang saja?"
"Berikan saja, kalau dia mau tinggal diminum, kalau nggak ya dibuang." Sofyan memberikan kantong plastik itu lagi ke tangan Bibi. "Nggak enak juga ... itu 'kan dari mertuanya."
"Jadi Bibi boleh masuk ke dalam?" tanya Bi Yeyen ragu-ragu.
"Masuk saja, kamar Nella pintunya ada inisial hurufnya," terang Sofyan, lalu dia pun mengecup kening Diana dan pamit untuk pergi.
Setelah itu, Bi Yeyen menaiki anak tangga lalu berjalan menuju kamar Nella. Kebetulan kamar wanita cantik itu juga searah dengan tangga untuk turun.
"Nona, ini Bi Yeyen," ucapnya sembari mengetuk pintu.
Tok ... tok ... tok.
"Nona," panggil Bi Yeyen sekali lagi dan kembali mengetuk pintu.
Nella yang sejak tadi tertidur pulas lantas mengerjapkan matanya secara perlahan, lalu menyingkirkan lengan Rizky yang sejak tadi berada di perut.
Wanita cantik itu menarik tubuhnya untuk duduk seraya menyibakkan selimut.
"Nona, ini Bi Yeyen mengantar baju," ujar Bi Yeyen yang masih setia mengetuk pintu dari luar, meskipun belum ada tanggapan.
Nella pun segera turun dari tempat tidur lalu membukakan pintu.
"Ah Bibi, maaf aku merepotkan." Nella tersenyum manis sembari mengambil baju couple itu dari tangan Bi Yeyen.
Sebelumnya, Nella memang sudah meminta jika nanti paketan baju couplenya sudah sampai—Bi Yeyen harus segera mencucinya dan harus kering esok pagi, lalu mengantarkannya ke rumah Sofyan secara langsung.
Entah kehebatan apa yang Bi Yeyen gunakan, perintah dari Nella bisa dilakukan hanya dalam semalam.
"Nggak, Nona." Bi Yeyen menggeleng samar. "Oya ... ini jamu penguat kandungan untuk Nona." Bi Yeyen memberikan plastik putih yang sejak tadi dibawa pada Nella.
"Jamu?" Nella segera mengambil botol itu dari dalam plastik. "Jamu dari siapa, Bi? Aku nggak suka minum jamu."
"Dari Bu Gita, Nona. Kata Pak Sofyan tadi ... kalau Nona nggak suka, boleh dibuang saja."
"Oh begitu." Nella masih memperhatikan botol kaca yang berukuran sedang itu, tetapi jika dibuang—rasanya tak bagus. Apalagi pemberian dari sang mertua. "Nanti aku minum deh, Bi. Terima kasih."
"Sama-sama, Nona. Kalau begitu Bibi permisi."
"Hati-hati, Bi."
"Iya." Bi Yeyen mengangguk, kemudian pergi meninggalkan Nella.
__ADS_1
Setelah menutup pintu, Nella berjalan menuju kasur dan mendudukkan bokongnya. Dia pun segera membuka tutup botol jamu tersebut.
Sebelum meminumnya, Nella menempelkan hidungnya pada botol itu, untuk mengendus aromanya. Dan seketika itu pun—mengguar aroma bau dan membuat perutnya mual.
"Belum juga minum, aku udah enek duluan." Nella menarik nafasnya perlahan lalu membuangnya, setidaknya minum sedikit demi menghargai Gita, benar, kan?
Itulah yang terlintas dalam pikirannya saat ini. Dia pun menjepit hidungnya dengan jarinya, lalu tangan kanannya yang sejak tadi memegang botol—kini diarahkan pada bibir.
Jamu itu langsung menyirami lidahnya dan dengan susah payah Nella pun menelannya.
Ada rasa pahit, asam dan agak pedas. Bercampur menjadi satu.
Mungkin hanya tiga tegukan saja sampai akhirnya Nella memilih mengakhiri dan buru-buru meminum air putih.
"Ah, nggak enak banget." Nella mengulas bibir sisa jamu itu seraya menyentuh perutnya sendiri, lalu mengelusnya perlahan-lahan. "Semoga kamu sehat-sehat di dalam sana, ya?"
"Selamat pagi, Sayang," sapa Rizky seraya mendekap Nella dari belakang, Nella sempat terperangah lantaran kaget.
"Pagi juga, Mas." Nell meletakkan gelas dan juga botol jamu itu ke atas nakas.
"Ayok kita bercinta," ajak Rizky. Dia menempelkan dagunya di bahu kiri istrinya, lalu mengecupi leher putih Nella.
Nella menggeliat, baru segitu saja tubuhnya meremang tak karuan. Memang sejak semalam dia begitu menginginkannya. "Kita mandi dulu deh, Mas. Biar seger."
"Oke deh." Rizky menurunkan kakinya ke lantai, lalu berdiri. Setelah itu dia pun mengendong tubuh istrinya, membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
"Enaknya gimana, Mas?" Nella menatap Rizky yang tengah melucuti pakaiannya satu persatu.
"Dua-duanya juga enak, tapi lebih bagus mandi dulu. Nanti kalau lama-lama di dalam kamar mandi ... lu bisa masuk angin."
"Ya sudah ... kita mandi dulu, Mas." Nella menyalakan kran shower dan air itu pun turun membasahi rambut hingga kakinya.
*
*
Sementara itu di ruang keluarga, Diana tengah duduk santai di sofa sambil nonton televisi, ditemani secangkir teh manis hangat. Dan tiba-tiba datang seorang wanita menghampirinya, setelah baru saja masuk dari rumah itu.
"Pagi Kak Diana," sapa wanita tersebut yang mana membuat Diana menoleh ke arahnya.
Diana mengerutkan keningnya, dia merasa asing dengan wajah wanita itu lantaran memang belum pernah bertemu. "Mbak siapa?"
"Aku Nissa, adiknya Kak Sofyan." Wanita tersebut adalah Nissa.
__ADS_1
"Oh, yang punya restoran itu, ya?" Diana tersenyum dengan penuh antusias, Nissa pun mengangguki pertanyaannya. "Ayok duduk," ujarnya seraya menepuk sofa yang berada di samping bokongnya.
"Aku hanya sebentar kok, mau mengembalikan bedak Kakak." Nissa memberikan benda yang sejak tadi dia bawa pada Diana.
"Ah bedakku, akhirnya ketemu juga." Diana terlihat begitu senang saat benda persegi itu ada di tangannya. Sejak pagi dia sibuk mencari-carinya di dalam tas tapi tak kunjung menemukannya. "Tapi ngomong-ngomong ... kok bisa sama kamu, sih?" tanyanya dengan kening yang berkerut.
"Itu dari Ihsan, katanya nggak sengaja jatuh pas Kakak dan dia ke mall," jawab Nissa seraya menoleh ke kanan dan kiri mencari-cari keberadaan kakaknya. "Kak Sofyan mana, Kak?"
"Papi pergi ke Bandung sama Dirga, Nis. Oya, kapan kamu bertemu dengan Ihsan?"
"Kemarin. Itu diluar ada mobil siapa?" Nissa tadi sempat melihat mobil asing berwarna hitam, terparkir rapih di halaman rumah.
"Mobilnya Rizky, dia dan Nella sedang menginap."
"Oh, di mana sekarang orangnya? Masih di kamar, ya?" tebak Nissa.
"Iya, belum keluar dari tadi," jawab Diana dengan raut wajah kesal.
Semenjak tadi ditinggal Sofyan dan Dirga pergi, Diana merasa kesal bercampur bosan. Tetapi lebih tepatnya ada rasa cemburu melihat Nella dan Rizky yang tak kunjung keluar kamar.
Mereka berdua asik bercumbu di dalam kamar, sedangkan Diana seorang diri di ruang keluarga.
'Mana yang katanya Nella mau menemaniku? Sudah siang bolong begini tapi belum juga keluar kamar, ini sama saja aku sendirian di rumah!' gerutu Diana dalam hati.
"Ya sudah, Kak. Aku pamit dulu kalau begitu."
Melihat Diana yang sejak tadi diam dengan wajah cemberut, membuat Nissa tak enak hati. Tetapi yang dia pikirkan mungkin kedatangannya menganggu waktu santainya.
Diana menepis semua rasa gundah di dalam hatinya, lalu dia pun kembali menatap mata Nissa.
"Iya, nanti agak siang aku pergi ke restoranmu dengan Nella. Kita makan bersama, dan terima kasih sudah mengantar bedaknya."
"Sama-sama, aku tunggu kalian berdua." Nissa tersenyum, kemudian berlalu keluar dari rumah.
Diana pun membuka bedak padat itu, ingin mengecek apakah bedaknya rusak atau tidak.
Namun saat dibuka, ada selembar kertas yang terlipat di sana dan seketika membuat alis mata Diana menaut.
"Kertas apa, nih?"
Diana mengambil kertas tersebut lalu membuka lipatannya. Dan ternyata kertas tersebut bukan sembarang kertas, melainkan sebuah surat.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
__ADS_1
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...
...1113...