
"Aaaww!" Maya memekik dan aktivitas itu langsung dihentikan oleh Sofyan. Miliknya bahkan baru nongol di depan pintu, ingin menyapa penghuni di dalam goa itu. Tetapi pemiliknya sudah shock duluan.
"Apa sakit, May? Tahan sedikit ...." Sofyan mendorongnya sedikit, tetapi kali ini Maya menjerit dengan kencang.
"Aaaww! Sakit, sakit, Ayank!" Maya meringis dengan mata yang berkaca-kaca, dia merasakan inti tubuhnya begitu sesak dan sakit.
Sofyan menatap miliknya, baru setengah masuk, tetapi dia sudah merasakan miliknya seperti terjepit. Nikmat sekali.
"Sedikit lagi, ya? Tahan, May." Sofyan baru saja hendak menekan pinggulnya, tetapi Maya justru sudah menangis. Melihat itu semua membuat Sofyan tak tega, dia lantas mencabut miliknya dan cepat-cepat menyeka air mata pada kedua sudut mata cantik istrinya. "Maaf, May. Apa sakit sekali?"
Maya mengangguk. "Iya, sakit sekali. Maafkan aku, Ayank. Perih. Aku nggak kuat."
"Ya sudah, nanti malam kita coba lagi. Sekarang cukup di sini dulu." Sebenarnya Sofyan kecewa, dia bahkan tadi sudah ingin terbang, tetapi dia dapat memaklumi itu semua. Maya butuh proses.
'Padahal sudah becek begitu dan sudah aku kasih pemanasan, tapi kenapa Maya malah nangis? Ah gagal deh.' Sofyan menarik tubuhnya lalu berjalan menuju kamar mandi dengan wajah gusar.
Maya manatap punggung Sofyan yang sudah menghilang, ada rasa bersalah di dalam hatinya. Tetapi dia sungguh tak kuat menahan rasa sakit dan perih pada inti tubuhnya. Baru setengah tetapi sudah terasa lecet.
'Apa Pak Sofyan marah padaku? Ah payah sekali aku. Kenapa aku nggak bisa tahan sedikit lagi. Tapi ini sungguh sakit sekali.' Maya meraba inti tubuhnya yang masih terasa basah. Rasa perih itu seketika menjalar pada permukaan miliknya, dan membuatnya kembali meringis. 'Tadi sudah masuk belum, sih? Kok sakit banget. Milik Pak Sofyan juga kenapa gede banget, sih? Apa nanti milikku akan robek kalau semuanya sudah masuk?' batin Maya.
Lamunan Maya seketika buyar lantaran tiba-tiba terdengar deringan panggilan masuk dari ponselnya yang berada di sofa, Maya cepat-cepat menyelimuti tubuhnya lalu berjalan untuk mengambil benda pipih itu.
Panggilan itu dari nomor baru, tanpa berlama-lama Maya segera mengangkatnya.
"Halo?"
"Maya."
"Apa ini Tante Yuni?" Maya kenal betul suara wanita itu, tetapi dia sendiri heran karena nomornya tidak sama seperti nomor Tantenya.
"Iya, ini Tante Yuni. Tolong kirim uang ke rekening Tante. Ommu kecelakaan dan sekarang ada di rumah sakit, Tante nggak punya biaya untuk membayarnya."
Maya membulatkan matanya dengan lebar, jantungnya langsung berdegup kencang. "Apa? Kecelakaan? Kok bisa, Tan?"
__ADS_1
"Iya, dia tertabrak mobil. Tante butuh biaya untuk rumah sakit, kirim cepat 10 juta. Tante tunggu sekarang juga."
"Iya, aku akan kirim sekarang."
Maya menutup sambungan telepon itu bertepatan dengan Sofyan yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pria itu bahkan sudah mandi keramas tiga kali diwaktu yang masih terbilang pagi.
"Kamu kenapa, May? Apa ada masalah?" Sofyan berjalan mendekati istrinya, lalu memeluk tubuh rampingnya dari belakang. Maya tengah mengetik layar ponsel, hendak mengirim uang.
"Omku masuk rumah sakit, Yank. Tadi Tante telepon minta transfer uang." Maya menyeka air mata yang baru saja lolos membasahi kedua pipinya, lalu menatap Sofyan.
"Masuk rumah sakit? Ya sudah ... kita sekalian ke sana saja. Sekalian memberitahu Om dan Tantemu juga kalau kita sudah menikah." Sofyan mengecup puncak rambut istrinya, lalu memakai kembali pakaiannya.
"Aku mandi dulu sebentar, ya? Tunggu."
"Iya." Sofyan mengangguk. Dia tersenyum menatap istrinya berlari masuk ke dalam kamar mandi.
***
"Kok bawa koper segala Ayank?" Maya mengerutkan keningnya saat berjalan bersama suaminya keluar rumah sambil mendorong koper. Dia juga sempat melihat Sofyan memasukkan pakaiannya dan pakaian dirinya di dalam sana.
"Di Karawang, Yank. Kampungku juga di sana."
"Oh oke deh. Kita langsung ke sana saja." Sofyan memakaikan sabuk pengalaman untuk istrinya, lalu setelah itu untuk dirinya sendiri. Namun, antah mengapa jantungnya tiba-tiba saja berdebar, dia merasa gerogi bercampur takut ingin bertemu dengan keluarga Maya.
Rasa takut Sofyan tiada lain karena takut jika dua orang itu akan menolaknya. Mengingat akan umurnya dan umur Maya selisih sangat jauh. Tingkat kepercayaan diri Sofyan seketika turun, dan kembali dia merasa tak pantas bersama istrinya.
'Nggak, semuanya akan baik-baik saja, Sofyan. Lagian aku dan dia juga sudah menikah. Aku juga nggak mau cerai. Aku dan dia bahkan belum mantap-mantap,' batin Sofyan.
***
Setelah menghabiskan waktu 5 jam, akhirnya mobil Sofyan berhenti di depan parkiran rumah sakit besar yang berada di kota Karawang.
Lantas keduanya turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah sakit, Sofyan membawa parsel buah di tangannya.
__ADS_1
"Permisi, Bu. Saya ingin membayar biaya administrasi untuk pasien yang bernama Darus Sholihin korban kecelakaan mobil," ujar Maya pada wanita bersanggul yang tengah berdiri di depan resepsionis.
"Biar aku saja yang membayarnya, May," tawar Sofyan. Dia mengambil alih kertas yang baru saja diberikan wanita itu beserta bolpoinnya.
"Nggak perlu, Yank," tolak Maya sambil menggeleng.
Setelah menandatangani kertas tersebut dan membayar semuanya, lantas keduanya berjalan sama-sama mencari kamar perawatan yang sudah diberitahu oleh wanita tadi.
Sofyan menurunkan handle pintu di kamar perawatan bernomor 111, lalu membuka pintunya dengan lebar untuknya dan Maya masuk.
Ceklek~
"Om ...," panggil Maya seraya berlari menghampiri seorang pria yang tengah berbaring dengan kepala yang dililit oleh kain kasa.
Dia adalah Darus, Omnya Maya. Sebenarnya umurnya sebaya Sofyan. Tetapi banyak sekali kerutan di wajahnya dan kulitnya hitam manis, jadi tampak jauh lebih tua.
"Maya ...." Darus mengulum senyum ketika melihat keponakan datang dan langsung memeluk tubuhnya. Di sana ada Yuni, istrinya. Dia tengah duduk di kursi kecil di dekat ranjang pasien. "Kok kamu pulang, May? Tumben? Apa nggak sibuk?" tanyanya sambil mengelus puncak rambut Maya.
Maya menggeleng. "Nggak, Om. Aku juga sekalian ...."
"Ah, dia siapa?" Pandangan mata Darus langsung teralihkan pada Sofyan yang tengah tersenyum sambil berjalan mendekatinya.
"Nama saya Sofyan, Om. Salam kenal," ujar Sofyan lembut, dia meletakkan parsel buah di atas nakas. "Ini ada buah untuk Om."
"Salam kenal juga." Darus membalas senyuman Sofyan, tetapi terlihat keningnya mengerenyit heran apa lagi saat memperhatikan Sofyan yang tengah merangkul bahu keponakannya. "Pak Sofyan ini siapamu, May? Apa bos barumu?" tanyanya.
"Bukan, Om." Maya menggeleng cepat, dia melirikkan matanya sebentar ke arah Sofyan, kemudian menatap kembali ke arah Darus. Mendadak dia merasa gugup untuk mengenalkan siapa Sofyan sebenarnya. "Dia adalah ...."
"Suami, aku suaminya Maya, Om," sela Sofyan cepat.
"Apa? Suami?" pekik Darus dengan keterkejutannya, kedua bola matanya membulat sempurna begitu pun dengan Yuni istrinya.
"Apa kalian bercanda?" Yuni tampak tak percaya.
__ADS_1
"Masa dia suamimu, May? Yang benar saja!" ujar Darus dengan tatapan heran dan tak suka pada Sofyan. Dia memperhatikan pria berumur yang masih terlihat tampan itu dari ujung kaki ke ujung kepala.