Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
16. Pria yang baik


__ADS_3

"Papah lihat Nella seperti tidak suka dengan Rizky, Papah juga mengerti alasannya. Tapi ... Papah takut nanti dia minta cerai."


Rupanya diam-diam Guntur memperhatikan sikap Nella sedari tadi. Sebetulnya, bukan hanya dia sendiri yang memperlihatkan, hampir semua orang tau. Tapi semua orang itu seakan berpura-pura tidak mengerti didalam situasi apa Nella saat ini berada.


Tertekan! Iya, sudah sangat jelas sekali disini Nella tertekan. Bahkan senyuman pada wajah cantiknya itu hilang begitu saja, berganti dengan wajah yang masam.


"Ih, Papah! Kenapa bilang seperti itu? Mereka baru saja menikah, mereka tidak akan bercerai!" tegas Gita penuh percaya diri. Memang dari awal, hanya dirinya seorang yang begitu percaya diri akan semuanya berjalan mulus. Ia tidak tau saja hati Rizky bagaimana.


"Iya, iya. Maafkan Papah, Mah. Papah hanya takut saja."


"Kita kesana, temenin Sofyan dan Diana yang sedang menyambut tamu," ajak Gita seraya menarik lengan Guntur.


Nella merasa sangat capek, kakinya terasa begitu kram karena sedari tadi ia berdiri menyalami beberapa orang yang hadir menghampiri mereka. Nella akhirnya duduk, dan menghela nafasnya dengan berat.


Coba saja aku menikahnya dengan Kak Ihsan, mungkin aku tidak akan secapek ini. Aku ingin menikah dengan sederhana saja, tidak perlu mewah-mewah.


Netra Nella mengelilingi gedung Hotel yang ramai itu. Namun tiba-tiba ia mendengar ada yang memanggil namanya.


"Nella."


Suara perempuan arahnya di samping Rizky, ia menoleh pada asal suara itu dan seketika itu pun, Nella terbelalak. Ternyata wanita itu adalah Indah temannya. Wanita cantik itu memakai gaun dibawah lutut berwarna putih senada dengan jas suami dan anak laki-lakinya.


"Indah," lirih Nella.


Indah langsung memeluk Nella yang tengah duduk, banyak sekali tanda tanya dalam benaknya. Lagi dan lagi isakan tangis Nella pecah, ia menangis sejadi-jadinya di pundak temannya itu.


"Nella, kenapa kamu menangis? Ada apa? Cerita sama aku," tanya Indah seraya mengelus punggung Nella.


"Tidak perlu cerita juga harusnya kamu sudah mengerti, kan?"


"Iya, aku mengerti. Tapi, apa kamu bisa bicara denganku? Cerita padaku, Nell."


Nella melepaskan pelukan dan menarik lengan Indah, mengajaknya untuk turun ke pelaminan. Ia mencari tempat duduk yang agak jauh dari Rizky dan Reymond.


"Kita duduk disitu." Nella menunjuk dua kursi kosong. Indah duduk bersebelahan dengannya.


"Ceritakan pelan-pelan, Nell." Indah mengusap air mata Nella menggunakan tissu yang baru saja ia ambil didepan meja.


"Aku dijodohkan dengan Rizky, Indah," ungkapnya.


Indah terbelalak. "Dijodohkan? Lalu, Kak Ihsan bagaimana? Bukannya kamu bilang dia adalah pacar sekaligus calon suamimu?"

__ADS_1


"Iya, harapan aku memang begitu. Tapi Papah tidak merestuiku. Dia memaksaku untuk menikah dengan pria Mesum itu." Nella melihat sekilas pada Rizky yang tengah cekikikan dengan Reymond dan anaknya. "Aku benci dengannya!"


"Benci? Kenapa benci?"


"Dia pria mesum yang tidak tau malu, aku pernah memergokinya bercinta di toilet Restoran dengan pacarnya," celoteh Nella.


Indah kembali terbelalak. Ia merasa kaget karena dirinya sendiri pun tidak mengenal Rizky seperti apa. "Benarkah? Kau melihatnya secara langsung saat memergokinya?"


Nella mengangguk samar.


"Lalu sekarang bagaimana? Tentang hubunganmu dengan Kak Ihsan?" tanya Indah lagi.


Nella menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau, mungkin setelah acara ini selesai, aku akan minta cerai padanya."


Deg!


"Lho, kok begitu? Kamu baru saja menikah, masa langsung bercerai?"


"Lalu, aku harus bagaimana? Aku tidak suka padanya bahkan benci. Aku tidak mau hidup bersama pria seperti Rizky."


"Tapi Pak Rizky orang yang baik, Nell."


"Baik? Apanya yang baik? Memang kamu mengenalnya?" Nella menatap intens wajah temannya yang berada didepan.


"Itu 'kan sama temannya. Lagian, memangnya Pak Reymond dan Rizky itu berteman?" tanya Nella.


"Iya, apa yang dikatakan Indah benar Sayang, Rizky memang pria yang baik." Sofyan tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua, ia menimpali apa yang Indah ucapkan barusan.


Nella memalingkan wajahnya, tak mau menatap wajah Sofyan.


Sejak kapan Papah disini?


"Indah sayang, Om mau ngajak Nella kembali ke pelaminan dulu, ya? Tidak enak rasanya, masa pengantin duduk disini."


"Iya, Om." Indah mengangguk dan tersenyum.


Padahal obrolan mereka belum sepenuhnya selesai, tapi Sofyan sudah memaksa Nella untuk kembali ke pelaminan. Ia memang sedari tadi memantau gerak gerik putrinya.


Nella kembali duduk di sofa pelaminan itu.


"Rizky, apa kau lapar?" tanya Sofyan pada Rizky yang tengah mengobrol dengan Reymond.

__ADS_1


"Belum, Pah."


"Ajak Nella makan bersama, kalian masuk ke ruang make up," titah Sofyan.


"Aku tidak mau makan!" Nella langsung menyahut dengan cepat, hingga membuat Sofyan menoleh kearahnya.


"Kamu bukannya dari pagi belum makan? Makan dulu nanti sakit."


"Apa aku boleh pulang, Pah?"


"Papah bukannya menyuruh kamu makan? Kenapa kamu justru mau pulang?" emosi Sofyan tiba-tiba saja naik.


"Iya, aku mau makan, tapi di rumah saja."


"Aneh sekali kau! Masa pengantinnya pulang. Kau dan Rizky akan menginap di Hotel. Papah sudah pesan kamar untuk kalian berdua. Kalau kau ingin istirahat, kau bisa kesana."


Hotel? Ah tidak-tidak. Aku tidak mau tinggal sekamar dengannya.


Nella menggeleng kepalanya dengan cepat. "Aku tidak mau menginap di Hotel, aku mau tidur di kamarku saja!" tolaknya.


"Oh, syarat Papah kamu lupakan lagi?" Sofyan mengingat untuk kembali mengancamnya.


"Syarat dari Papah 'kan hanya menyuruhku tidak membuat ulah dari ijab kabul sampai acara selesai. Papah tidak bilang aku menginap di Hotel!" tegas Nella.


"Kalau kau tidak mau menginap di Hotel, yasudah. Kau tidur saja disini sampai pagi! Karena Papah dan Mamih juga tidak ada yang pulang ke rumah! Kami menginap juga di Hotel!" cetusnya.


Sofyan merasa capek berdebat terus dengan Nella. Lebih baik ia akhiri saja, ia berlalu pergi turun dari pelaminan.


Sebenarnya siapa sih yang nikah? Aku atau Papah? Kenapa aku terus saja di atur. Aku sudah menuruti ucapannya untuk menikah dengan pria mesum ini. Papah benar-benar jahat! Aku benci Papah!


Nella menggerutu dalam hati, ia mem*ras jari jemarinya sendiri.


"Gue dan Indah makan dulu ya, Riz. Lu masih banyak hutang cerita sama gue." Reymond menepuk pelan pundak Rizky. "Tapi selamat atas pernikahan lu, do'a gue selalu yang terbaik. Jangan lupa kadonya dibuka." Reymond mengedikkan kepala kearah kotak besar yang sempat ia berikan tadi, Rizky menaruhnya di sofa dekat Nella duduk.


"Iya, lu tenang aja. Terima kasih, Rey!"


"Sama-sama." Reymond berlalu pergi bersama istri dan anaknya.


Krukuk-krukuk.


Cacing didalam perut Rizky tiba-tiba saja berbunyi, ia merasa sangat lapar karena dirinya juga dari pagi belum makan, efek grogi yang berlebihan. Ia memegangi perut dan menoleh kearah Nella yang tengah cemberut.

__ADS_1


"Apa lu mau makan bareng gue?" ajaknya dengan ragu.


Jangan lupa like 💕


__ADS_2