Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
288. Karena aku yang lebih dulu


__ADS_3

Sofyan memberhentikan mobilnya tepat di depan gerbang, sebab istrinya itu sudah berdiri disisi jalan raya bersama Ali.


"Kok kamu nunggu diluar? Panas, May." Sofyan menurunkan kaca mobilnya, dan tak lama Maya langsung masuk ke dalam sana.


"Nggak panas kok Ayank, kan ini masih pagi." Maya memerlihatkan jam pada layar ponselnya yang menunjukkan pukul 10 pagi.


"Terus sekarang kita mau ke mana? Cari angin itu maksudnya gimana?"


"Aku mau pergi ke pantai, Ayank. Apa disekitar sini ada pantai?"


"Pantai? Mau ngapain? Berenang?"


"Dih, kan aku bilang mau cari angin. Ya ke pantai cari angin dong."


"Tapi anginnya asin. Dan kenapa juga harus di pantai? Di sana pasti panas. Kamu kalau mau cari angin kita keliling saja naik mobil, nanti pasti dapat angin."


Maya menggeleng, lalu memeluk tubuh Sofyan. "Nggak mau, aku mau ke pantai. Ayoklah Ayank ... cuma sebentar ini. Katanya Ayank ada waktu untukku. Aku juga belum pernah ke pantai yang di Jakarta. Aku mau lihat suasananya."


"Pantai mah di mana-mana sama, May. Sama-sama asin."


"Iya, tahu. Tapi suasananya 'kan beda."


"Ya sudah, tapi janji nggak berenang, ya?"


"Iya, nggak. Lagian aku juga nggak bisa berenang kok." Maya melepaskan pelukannya, lalu membenarkan posisi duduk. "Ayank memang bisa berenang?"


"Bisa, lah. Masa berenang saja nggak bisa."


"Ya sudah ayok jalan, nanti keburu siang. Setelah cari angin kita sekalian makan siang di sana."


"Iya." Sofyan mengangguk lalu tersenyum, lantas menjalankan mobilnya.


***


Setelah memarkir mobilnya, lalu membayar tiket untuk masuk. Keduanya langsung berjalan menuju pantai Ancol Jakarta.


Meskipun bukan hari Minggu dan tanggal merah, tetapi wisata air itu masih cukup ramai dikunjungi beberapa kalangan. Baik tua, dewasa, remaja mau pun anak-anak.

__ADS_1


Di sana juga banyak rumah makan kayu dan tentunya dengan menu makanan laut. Ada beberapa penjual jajanan, minuman seperti es kelapa dan jus.


Pakaian pantai, mainan, pakaian renang perempuan dan laki-laki dengan berbagai usai serta masih banyak lagi.


Air di laut itu terlihat begitu bersih, sama halnya dengan pasir putih yang saat ini mereka injak.


"Mbak, topi pantainya biar nggak panas." Seorang bocah laki-laki menawarkan dagangannya pada Maya, dia menjual beberapa topi pantai perempuan yang terlihat begitu cantik-cantik, tentu dengan beberapa warna.


"Ayank, apa aku boleh beli satu?" pinta Maya sambil menunjuk.


"Boleh, pilih saja."


Maya mengambil topi yang berwarna cream, lalu dia memakainya di atas kepala sambil tersenyum senang. "Apa aku cantik Ayank?"


"Tentu saja, kamu memang cantik." Sofyan tersenyum manis, lalu mengambil dompet. "Berapa harganya?"


"Dua ratus ribu. Ada topi untuk Om juga, apa Om mau beli?" Bocah laki-laki itu segera merogoh pelastik besar yang sejak tadi dia kalungkan pada lengan kirinya. Lalu mengambil sebuah topi polos berwarna hitam. "Ini mau nggak, Om? Kalau topi ini hanya seratus lima puluh ribu."


"Boleh." Sofyan mengambil topi itu dari tangan bocah itu, kemudian memberikan uang empat ratus ribu.


"Kembaliannya nggak ada lagi, Om."


"Ah benar, nih? Terima kasih, Om."


"Sama-sama."


Setelah bocah pedagang itu berlalu pergi, Maya segera melepaskan sendalnya lalu berjalan menuju bibir pantai. Dia tersenyum saat kakinya bersentuhan dengan pasir putih pantai itu.


"Hei, jangan lepas sendal. Pakai, May. Nanti tertusuk duri." Sofyan memungut sendal Maya, kemudian dia berlari menghampiri Maya yang sudah berhasil mencelupkan kakinya ke dalam air laut. "Hei, kenapa kamu malah masuk ke air? Cepat sini! Katanya nggak mau berenang." Sofyan menggerakkan tangannya, dia ingin meraih Maya tetapi tak berhasil digapai. Sebab dia sendiri tak mau jika ombak laut itu membasahi sepatunya.


"Cuma kakinya doang kok Ayank, rasanya adem banget. Ayok Ayank lepas sepatunya ... terus ke sini. Kita main air sebentar." Maya juga menggerakkan tangannya, tetapi dia justru meminta Sofyan untuk ikut bersamanya.


Disekitar laut itu bukan hanya Maya seorang yang berada disana, melainkan banyak. Namun kebanyakannya beberapa anak kecil yang memakai ban renang.


Sofyan menggeleng, lalu meletakkan sendal jepit Maya di bawah. Setelah itu dia memakai topi.


"Nggak mau ah."

__ADS_1


"Kenapa? Kok nggak mau? Ini seru, Ayank." Maya membungkuk, dengan kedua telapak tangannya dia mengambil sedikit air laut itu lalu menyiramnya ke arah Sofyan. Niatnya ingin jasnya saja, tetapi justru wajah pria itu yang kena.


"Ih, May. Kamu ini ngapain, sih?" Sofyan langsung mengusap wajahnya dan tak lama ombak laut itu berhembus hingga mengenai sepatu dan membuatnya basah. "Duh, basah lagi," keluh Sofyan kesal. Dia merasakan kelengketan pada kakinya lantaran air asin itu.


"Ayank ... maafin aku, Ayank jadi basah gara-gara ... ah! Ayank ngapain?!" Maya terperangah saat tiba-tiba Sofyan menciprati begitu banyak air laut ke dreesnya. Sampai wajahnya juga kena.


"Itu balasan untuk kamu, May," sahut Sofyan sambil terkekeh. Dia merasa puas melihat Maya setengah basah kuyup.


"Dih, Ayank mah ... basah dressku. Tapi terima ini!" Maya membalas lagi untuk memberikan air itu pada Sofyan, tetapi justru pria itu berlari menghindarinya. "Jangan lari dong, cemen amat jadi orang." Maya mengepalkan kedua tangannya dengan kesal saat melihat Sofyan berdiri agak jauh.


"Ayok udahan main airnya, nanti kita beli baju ganti untukmu."


Maya menggeleng. "Nggak mau, aku mau Ayank ke sini dulu." Maya menggerakkan tangannya.


"Nggak ah, kamu pasti mau cipratin aku pakai air itu lagi. Asin tahu rasanya, May." Sofyan membuang ludahnya ke pasir, lalu mengusap-usap bibirnya. "Cepat keluar, kamu laper nggak? Ada banyak makanan laut di sini. Kamu bisa pilih yang mana."


"Eh, topiku." Sebuah angin yang tiba-tiba berhembus membuat topi di kepalanya langsung terbang, lalu jatuh ke air yang berada di tengah-tengah.


Melihat itu—Maya bergegas ingin mengambilkan, tetapi gerakan tubuhnya jauh lebih cepat dari Sofyan yang sudah berlari lalu terjun masuk ke dalam air. Pria itu terlihat mencemaskannya sebab takut jika nanti airnya dalam.


Dan ternyata memang benar, di sana dalam dengan batas sedada. Mungkin kalau Maya yang mengambil, pasti sudah tenggelam.


"Ini, May. Jangan langsung diambil, nanti kamu tenggelam. Di sana dalam." Sofyan memberikan topi itu ke tangan Maya saat menghampiri dengan deru napas yang tersengal. Sekujur badannya basah, dan bibirnya mengecap rasa asin.


"Terima kasih, Ayank." Maya tiba-tiba saja langsung memeluk tubuh Sofyan dengan erat dan mencium dadanya. Jantungnya mendadak berdebar dan dia merasa bahagia sekali melihat kecemasan yang tergambar jelas di wajah suaminya. Sangat jelas jika pria itu sangat mencintainya. "Terima kasih karena telah mencemaskanku. Ayank selalu ada dan selalu hadir saat aku membutuhkan pertolongan. Aku beruntung kenal Ayank dan menjadi istri Ayank."


Awalnya Sofyan begitu tersentuh sekali dengan kata-kata itu, tetapi entah mengapa mendadak ada rasa takut yang menyelimuti hatinya. Takut jika apa yang diucapkan wanita itu hanya dusta, seperti apa yang dulu Diana ucapkan.


Setiap hari bahkan setiap waktu mengatakan cinta, namun nyatanya cinta itu tak pernah ada.


"Sama-sama, May." Sofyan menangkup kedua pipi Maya yang terlihat merona. "Bukan kamu yang beruntung menjadi istriku, tapi aku lah yang beruntung karena bisa memilikimu."


"Itu bukannya sama saja?" Alis mata Maya bertaut.


"Beda, karena aku yang lebih dulu menyukaimu dan memintamu menjadi istriku." Bibir Sofyan langsung mendekat, lalu perlahan-lahan dia pun meraup lembut bibir Maya yang sudah terbuka sedikit dengan mata yang terpejam.


Cup~

__ADS_1


Ciuman dan lumattan yang baru saja terasa asin namun nikmat itu langsung berhenti secara mendadak lantaran seseorang tiba-tiba saja menepuk kasar punggung Sofyan, dan membuatnya sontak terperangah.


"Hei? Apa kalian gila? Kenapa ciuman di tempat umum begini! Mana banyak anak kecil yang nonton!" pekiknya yang mana membuat kedua insan itu cepat-cepat saling melepas bibirnya.


__ADS_2