
"Berita buruk apa, Om?" tanya Ihsan.
"Nella hamil."
"Hamil?"
Terlihat dari ekspresi wajahnya, Ihsan sama sekali tak kaget, malah pria itu tersenyum dan geleng-geleng kepala. Wajah serius Irwan tak membuatnya percaya, sebab Ihsan ingat jika pacarnya itu meminum pil kb, bahkan diwaktu dirinya sedang datang bulan. Rasanya tidak mungkin—jika Nella berhasil hamil oleh ulah Rizky.
"Itu nggak mungkin, Om. Om 'kan tahu Nella dikb."
"Iya, Om tahu. Tapi Om tahu berita ini dari Pak Reymond saat dia berbicara dengan istrinya," jelas Irwan.
"Nggak, itu nggak mungkin. Aku nggak percaya." Ihsan tetap bersikukuh tak percaya dan seolah tak mendengar ucapan dari Irwan, tetapi sang Om masih berusaha untuk meyakinkannya.
"Kalau kamu nggak percaya, coba sekarang telepon Nella. Tanya langsung padanya."
"Nella dari kemarin nggak angkat telepon dariku dan balas pesanku, Om," jawabnya dengan sendu.
"Ya sudah ... sekarang lebih baik kamu temui dia langsung. Kalau sampai Nella benar-benar hamil, kalian nggak bisa bersama dan otomatis Nella dan Pak Rizky nggak bercerai," terang Irwan yang mana membuat mata Ihsan membulat sempurna.
Jantungnya berdetak begitu cepat, perasaannya mendadak tak enak. Ihsan tak bisa membayangkan betapa sakitnya nanti, jika benar Nella hamil.
'Nggak, itu nggak boleh terjadi. Nella nggak boleh hamil anak Rizky, hanya aku ... hanya aku yang boleh membuatnya hamil setelah menikah. Rizky nggak akan pantas menjadi ayah dari anak Nella. Nella hanya milikku, bukan milik Rizky, si pria bej*t itu!' umpatnya dalam hati.
Kedua tangannya sudah mengepal dengan dada yang bergemuruh. Ihsan yang sedari tadi jongkok lantas berdiri.
"Om, aku izin pergi ke rumah Opa Angga, ya? Aku butuh kejelasan, aku ingin bertanya pada Nella."
"Iya, kamu pergi saja. Om do'akan yang terbaik."
Ihsan mengangguk, lalu pergi masuk ke dalam ruangannya untuk mandi sebab tubuhnya bau oli. Setelah itu dia berganti pakaian, mengenakan celana jeans berwarna hitam dan kaos pulih polos dengan jaket jeans berwarna biru nevy, lalu dia menyemprotkan minyak wangi pada jaketnya itu.
Di tempat yang sama, Nella dan Guntur baru saja turun dari mobil yang terparkir begitu rapih di area parkiran bengkel itu. Lantas keduanya berjalan secara bersamaan masuk ke dalam bengkel.
Guntur mengedarkan pandangannya pada sekeliling. Bengkel itu terlihat begitu ramai, banyak beberapa orang menunggu mobilnya yang tengah diservise.
Ada banyak sekali montir juga di sana, dan hampir semuanya menyapa Nella dan tersenyum padanya. Wanita itu juga melakukan hal yang sama, dia bersikap begitu ramah seperti biasa ketika datang mengunjungi Ihsan.
__ADS_1
'Sepertinya Nella sering datang ke bengkel Ihsan. Ah itu sudah jelas, mereka saja sudah berpacaran selama satu tahun,' gumam Guntur.
"Mbak Nella baru kelihatan, kemana saja, Mbak?" tanya seorang pemuda berusia 20 tahun, dia salah satu junior montir.
"Iya, aku sibuk, Lim," jawab Nella sembari tersenyum. Dia masih melangkah di samping Guntur.
Seketika langkah mereka terhenti saat melihat Irwan yang tengah duduk di sofa single sembari membaca majalah.
"Pagi, Om," sapa Nella pelan. Tetapi bisa didengar oleh pria itu bahkan langsung membuatnya menoleh.
Irwan membulatkan matanya setelah tahu jika yang menyapanya tadi adalah Nella. Gegas dirinya bangkit lalu berdiri. Nella pun mencium punggung tangannya.
Guntur memperhatikan wajah pria itu dari bawah sampai atas. Wajah Irwan terlihat begitu familiar sebab sering bolak-balik ke kantor Reymond disaat Guntur ada meeting dengannya.
"Siapa dia?" tanya Guntur dengan suara datarnya pada Nella.
"Dia Om Irwan, Pa. Omnya Kak Ihsan."
'Papa?' Irwan baru menyadari jika pria di depannya itu adalah Guntur alias papanya Rizky. Tetapi hal tersebut membuatnya bertanya-tanya, untuk apa Nella datang bersama mertuanya?
"Pagi. Di mana Ihsan?" Guntur tak mau basa basi, dia ingin langsung bertemu dengan pria itu dan membuat hubungannya hancur, supaya Rizky tak disakiti lagi oleh Nella.
"Dia ...."
"Cantik, ternyata kamu ke sini?" Orang yang mereka cari sudah datang, dia adalah Ihsan.
Pria bule itu hendak menghamburkan pelukannya pada sang kekasih, tetapi dengan cepat tubuh Guntur menghalanginya. Seorang papa yang sangat menyayangi anak pertamanya itu tentu tak akan rela, jika istrinya dipeluk oleh pria lain.
Ihsan sudah membentangkan tangannya, tetapi lengan Guntur menepisnya dengan kasar.
Nella yang tengah berdiri di belakang tubuh Guntur hanya diam dan pasrah, dia tak mau banyak tingkah dan banyak bicara di depan papa mertuanya. Salah bicara sedikit, mungkin akan membuat pria paruh baya itu sewot.
"Bapak siapa? Kok menghalangiku untuk memeluk pacarku?" tanya Ihsan dengan nada kesal.
"Apa kau bilang?" Guntur menaikkan dagunya sambil melotot. "Apa kau tahu Nella punya suami? Kau nggak pantas menyebutnya sebagai seorang pacar!" Suaranya terdengar begitu keras dan tegas, jari telunjuknya menodong tepat di wajah tampan Ihsan.
"Aku tahu itu, tapi sebentar lagi dia akan menjadi istriku," jawab Ihsan dengan penuh percaya diri. Dia tidak tahu saja, jika kedatangan Nella ingin memutuskan hubungan dengannya.
__ADS_1
Guntur bersedekap. "Hebat juga kau, ya! Bisa bicara seperti itu. Aku datang ke sini dengan Nella ada perlu denganmu."
"Bapak ini siapa? Jawab dulu pertanyaanku."
"Aku mertuanya Nella."
'Mertua? Berarti dia papanya Rizky, kan?' Ihsan langsung berdecih. 'Setelah meminta bantuan Om Sofyan untuk bisa mengambil Nella, dan meminta bantuan ibunya untuk menganggu waktu pacaranku, sekarang dia menyuruh papanya datang bersama Nella menemuiku. Rizky memang cemen! Dia bukan pria gantle seperti diriku. Orang seperti itu apakah pantas dengan wanita sesempurna Nella? Jelas sekali nggak! Hanya aku yang pantas bersamanya. Hanya saja aku tak punya harta sebanyak Rizky. Ah tapi ... paling kekayaan Rizky bersumber dari orang tuanya. Apanya yang perlu dibanggakan? Jelas nggak ada!'
"Kenapa kau diam seperti patung pebinor!"
Celetukan yang terlontar dari mulut Guntur membuat pria bule itu seketika menepis gumaman dalam hatinya, dan tentu dia pun merasa tak terima jika disebut sebagai perebutan bini orang.
"Jaga ucapan Bapak! Siapa di sini yang menjadi pebinor? Jelas Rizky lah yang merebut calon istriku!" tegasnya.
"Banyak bacot!" umpat Guntur, lalu menoleh sebentar pada Nella yang masih diam di belakangnya dan menggeserkan tubuhnya supaya wanita itu dapat berhadapan dengan pria yang sebentar lagi menjadi mantan kekasihnya.
"Katakan sekarang, Nell!" perintah Guntur tegas. Dia sudah begitu muak melihat wajah Ihsan.
"Apa kita bisa mencari tempat, Pa? Jangan di sini," ucap Nella dengan nada memohon.
"Memang kenapa?" Guntur menatap Nella dengan sinis.
Nella menatap sekeliling tempat itu, memang banyak sekali orang. Mungkin suaranya dapat mereka dengar dan rasanya Nella malu. Malu jika akan menyakiti Ihsan di depan banyak orang. "Di sini banyak orang, aku ...."
"Papa ingin kamu bicara di sini. Kalau kamu nggak mau ... lebih baik nggak usah bicara sekalian! Papa anggap ini adalah jawaban kamu memilih Ihsan!" Kedua kalinya Guntur mempertegas, dia mulai jengah dengan sikap menantunya itu.
'Dia pasti ragu untuk memutuskan si Ihsan. Nella benar-benar egois! Dia tak mau melihat Rizky bersama Mitha, tapi dia juga berat untuk meninggalkan pacarnya. Aku sepertinya salah memilih menantu,' gerutu Guntur.
"Aku akan bicara di sini, Pa." Nella menarik lengan Guntur, mencegah pria itu saat hendak melangkah meninggalkannya.
"Cepat katakan!" titah Guntur dengan nada penekanan.
...Jangan lupa like dan komentarnya...
...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya....
...1142...
__ADS_1