
Sofyan membulatkan matanya dengan lebar saat bibirnya terasa lembut menyentuh bibir Maya. Nalurinya ingin tubuhnya bangkit dan melepaskan semua itu, tetapi dorongan hawa nafsu seakan menguncinya.
Sofyan langsung meraup kasar bibir Maya, atas bawah secara bolak balik. Dilihat Maya begitu pasrah, bahkan dia malah ikut membalas ciuman itu meski terbilang masih amatir.
'Manis, enak. Ah Maya ....,' batin Sofyan.
Kedua siku Sofyan menahan tubuhnya supaya tak menindih tubuh gadis itu, lalu perlahan dia melepaskan lilitan handuk itu kemudian kedua tangannya mengenggam dua gunung kembar itu.
Pas, sangat pas digenggam Sofyan. Terasa lembut dan begitu kenyal dia rasakan.
'Memang susu perawan nggak ada duanya,' batinnya.
"Eemm ...." Maya mendessah dalam sesi ciumannya itu saat merasakan puncak dadanya seakan diputar-putar oleh Sofyan. Sungguh sensasi yang baru pertama kali dia rasakan dan itu membuat seluruh tubuhnya meremang tak karuan.
Sofyan mengangkat tubuhnya hingga ciuman itu terlepas, lantas segera dia melepaskan seluruh benang di tubuhnya hingga tak tersisa.
Umurnya tak lagi muda, tetapi tubuhnya masih kekar dan berotot. Bahkan bisa dibilang lebih bagus ketimbang saat masih berstatus menjadi suami Diana. Sofyan juga selalu pergi ke tempat gym, untuk berolahraga dan sekalian membentuk otot. Empat potong roti sobek itu begitu jelas terlihat dan sangatlah seksi.
Perlahan Sofyan membungkuk ke arah dada gadis itu, lalu melahap salah satunya dengan rakus.
"Ah!" Suara desahhan itu langsung lolos begitu saja pada bibir Maya, refleks kedua tangannya meremmas rambut kepala Sofyan.
Sofyan seperti bayi yang tengah haus, dia menyesap dada gadis itu berulang-ulang dan silih berganti. Tak lupa memberikan jejak kepemilikan di atasnya.
Kemudian, sekarang dia pun turun ke inti tubuh gadis itu. Indah, sangat sangat indah. Sofyan berkali-kali menelan saliva karena benar-benar menginginkan.
Perlahan salah satu tangannya meraba rawa indah itu, terasa begitu lembab sekali di sana. Manik mata Sofyan melirik ke arah Maya, gadis itu sudah memejamkan mata sambil terus mengigit bibir bawahnya. Dia benar-benar mabuk, dan sepertinya tak ingat apa-apa.
Kedua paha Maya dia buka lebar-lebar, lalu Sofyan mendekatkan wajahnya hingga tenggelam pada inti tubuh yang beraroma mawar itu. Dia melahapnya dengan rakus dan menyapukan lidahnya pada lubang kecil itu.
"Ah! Ini ... ini sangat enak," racau Maya seraya meremmas bantal, keringat di seluruh tubuhnya sudah banjir. Dia bagaikan mandi keringat.
__ADS_1
Sofyan yang sudah ahli tentu tak pernah gagal, dia paling bisa memuaskan teman ranjangnya.
Setelah beberapa menit dia berkutat di sana, Maya pun langsung menarik pinggulnya dengan tubuh yang menegang. Sesuatu yang sejak tadi tertahan kini berhasil meledak dengan sempurna, dan langsung menghangatkan mulut pria itu.
"Aahh ... ini nikmat. Aku ... aku suka, aku suka sama Pak ... eeugh!"
Entah apa yang dikatakan gadis yang tengah mabuk itu, tetapi bisa disimpulkan jika saat ini dia sudah berhasil Sofyan puaskan.
"Suka sama siapa? Apa padaku?" tanya Sofyan, sayangnya pertanyaan itu tak mendapatkan jawaban.
Sofyan langsung naik lagi ke atas tubuh gadis itu. Miliknya yang berukuran super dan berurat itu sudah dia tempelkan pada milik Maya.
Namun, baru saja Sofyan hendak mendorongnya ke dalam, rasa ragu itu langsung terlintas dalam otaknya.
Bukan hanya ragu, dia juga takut jika nantinya Maya akan marah setelah apa yang telah dilakukannya.
"Ah nggak. Aku nggak boleh melakukan ini." Sofyan langsung menarik tubuhnya hingga turun dari kasur, lalu cepat-cepat menarikkan selimut sampai di atas leher gadis itu. Dia mengurungkan niatnya untuk menyentuh gadis itu. "Dia belum menjadi istriku. Tapi, apa yang telah aku lakukan barusan? Ah bodoh sekali!"
Ya, kalau mungkin tidak mabuk Maya tak mungkin bisa pasrah seperti tadi.
"Ini gila, aku harus menuntaskannya sendiri dan dengan sabun mandi." Sofyan meraba miliknya yang masih tegak bagaikan tihang listrik, lalu cepat-cepat dia pun memunguti semua pakaiannya yang berserakan di lantai.
Sofyan mengusap wajahnya pelan, lalu berjalan menuju kamar mandi. Tetapi langkah kakinya seketika terhenti lantaran mendengar suara Maya yang kembali meracau.
"Aku suka sama Pak Hersa, tapi kenapa Bapak ... eeugh!" Kalimatnya kembali terputus lantaran dia cegukan.
Namun, apa yang dia ucapkan cukup jelas di telinga Sofyan, bahkan sampai masuk ke relung hatinya yang terdalam dan membuatnya sakit hati.
Pria itu diam mematung di ambang pintu, dadanya terasa bergemuruh.
'Hersa? Maya suka sama Hersa? Apa Hersa asisten Rizky?'
__ADS_1
Cukup lama Sofyan berdiri hingga dirinya masuk ke kamar mandi dan segera mandi. Dia sampai tak jadi menuntaskan birahinya sebab rasa keinginannya itu hilang seketika, seolah sirna lantaran nama 'Hersa'.
***
Keesokan harinya.
"Halo, Riz. Maaf Papa menganggumu pagi-pagi," ucap Sofyan lirih.
Dia tengah duduk di meja restoran hotel ditemani secangkir kopi hitam dan sandwich. Sekarang sudah pukul jam 05.00, di Singapura.
"Halo, Pa. Nggak pagi-pagi kok. Ini sudah jam 6. Oh ya, Pa. Apa Maya sudah ketemu? Benar nggak perempuan di poster itu Maya?" tanya Rizky penasaran. Dia sempat diberitahu jika Sofyan datang ke Singapura demi mencari gadis yang dia yakini adalah Maya.
"Iya, itu benar. Dia Maya, Riz."
"Sekarang Papa ada di mana? Kapan pulang?"
"Nanti, Papa masih nunggu kabar dari Aldi. Dia belum pulang dari semalam karena mencari identitas Maya. Oh ya, Papa mau nanya tentang Maya, Riz. Apa dia sudah punya pacar?"
"Aku nggak tahu. Memang kenapa? Oh ... apa jangan-jangan Papa dan dia sudah jadian, ya? Eh, apa jangan-jangan Papa dan dia semalam sudah—"
"Papa lagi tanya serius, Riz," sela Sofyan cepat dengan suara datar. Dia hari ini tak ada mood untuk bercanda. Hatinya berkecamuk, antara senang karena telah menemukan Maya dan mengetahui jika Maya mencintai pria lain.
"Eh, Papa kenapa? Ah maaf. Sepertinya Papa ada sedikit masalah, ya? Tapi memang aku nggak tahu Maya sudah punya pacar atau belum, Pa," jelas Rizky apa adanya.
"Memang kamu nggak tanya pas awal kamu mengenalkan dia sama Papa? Harusnya kamu tanya dulu, Riz. Sepertinya dia sudah punya pacar. Untung saja semalam Papa nggak kebablasan," lirih Sofyan gusar. Wajahnya tampak sendu.
"Aku nanya dia kok sebelum kukenalkan sama Papa, tapi Mayanya yang nggak jawab. Kata dia itu bersifat pribadi. Eemm ... memang dia ada bilang punya pacar?"
Sofyan menggeleng. "Nggak sih, tapi semalam dia mabuk, dan dia sempat bilang kalau dia suka sama Hersa, Riz. Sepertinya Hersa asistenmu." Sofyan menjeda sebentar ucapannya sebab membuang napasnya dengan kasar. "Papa ... Papa kalah saing dong. Hersa lebih muda, sedangkan Papa kakek-kakek. Papa makin merasa nggak pantes mendapatkan Maya, Riz," ujarnya sedih.
"Nanti aku tanya Hersa dulu deh, ya. Tapi aku nggak yakin sih kalau mereka pacaran. Ah tapi Papa jangan menyerah dulu kalau memang Papa suka sama Maya. Kan ini Papa sedang berjuang, dan cinta butuh perjuangan juga, kan?"
__ADS_1
Rizky langsung menyemangati mertuanya. Dia tak mau lagi mendengar keluh kesah serta kesedihan yang keluar dari bibir Sofyan. Yang dia inginkan Sofyan bahagia, dia yakin papa mertuanya itu tentu berhak bahagia. Seperti sebuah kebahagiaan yang dia alami saat ini.