
"Singapura," sahut kedua gadis itu yang mana membuat Maya menganga.
***
Di sebuah bar yang begitu megah yang berada di pusat kota negara itu—ada tiga orang gadis yang tengah duduk manis di atas panggung.
Mereka tiada lain adalah Maya, Kiky dan Nadda. Ketiganya itu memakai gaun yang begitu mini dan seksi. Lekukan tubuhnya sangat terlihat dengan jelas, bahkan dada dan kedua paha putih mereka.
Maya serba salah, ingin menarik roknya ke bawah untuk menutupi paha, tetapi yang di atas tertarik hingga mungkin sedikit lagi puncak dadanya akan terlihat. Sedangkan kalau ditarik ke atas, cellana dalamnya akan ke mana-mana. Benar-benar begitu tak nyaman dan duduknya pun sangat gelisah.
Kiky dan Nadda juga sama, memakai pakaian seperti Maya. Hanya beda warna saja.
Di belakang mereka ada ketiga pria berbadan kekar, dan di tengah-tengah ada wanita yang dipanggil Mami. Dia berdiri sambil memegang mic.
Dentunan suara musik DJ itu tak terlalu menggema, karena memang sengaja supaya suara wanita itu dapat didengar semua orang.
"Selamat malam para pria tampan," sapa Mami dalam bahasa Singapura, dia menyapa para pria hidung belang yang tengah duduk dengan rapih disebuah kursi di depan mejanya masing-masing.
Mereka semua asli orang Singapura, jumlahnya ada 10 orang. Kulitnya putih dan tampan. Usianya banyak yang tak sama, antara 30, 40 sampai 60.
Mereka semua dari kalangan bos besar yang punya banyak harta melimpah. Mereka memang sangaja ingin mencari seorang perempuan yang masih perawan, bahkan rela memberikan penawaran tertinggi untuk bisa berhasil mendapatkannya.
Itu semua dilakukan semata-mata hanya ingin menuntaskan birahinya, tetapi jika diantara mereka sudah bosan—gadis itu akan dibuang begitu saja.
Dan Mami, dia adalah seorang mucikari yang biasa menjual para gadis itu. Sebelum Maya dan dua gadis itu, dia sudah sering melakukan pelelangan seperti ini. Sebuah bisnis haram yang tertutup. Dia juga sering mengiklankan para gadisnya disitus rahasia, dan tak sebagian orang dapat mengetahuinya.
Para gadis yang dia dapatkan juga melalui orang dalam, bisa dari pihak keluarga gadis itu, rekannya atau bahkan dari gadis itu sendiri. Yang memang sengaja ingin menjual diri dengan harga fantastis.
"Aku akan mengenalkan tiga gadis yang akan menghangatkan ranjang kalian. Mereka bernama Melisa, Kiky dan Nadda," ujar Mami memberitahu. Sebenarnya tak perlu diberitahu juga ada sebuah papan nama digaun mereka masing-masing. Tetapi mungkin tak akan terlihat di mata mereka semua, sebab papan namanya terlalu kecil.
10 orang pria itu langsung menatap lapar ketiga gadis yang kini duduk sambil menundukkan wajah, tetapi dengan cepat tiga pria yang berada di belakang mereka mengangkat dagu ketiganya.
"Tatap ke depan, kalau tidak aku akan menyuntikmu!" ancam pria yang berada di dekat Maya.
__ADS_1
Maya melirikkan matanya ke arah tangan kanan pria itu. Seketika bulu kuduknya merinding, tubuhnya langsung lemas. Sebuah jarum suntik ada di tangannya, Maya yakin obat di dalamnya akan membuatnya tidak sadarkan diri lagi.
Gadis itu menelan salivanya dengan kelat, lalu menatap pria-pria berjas putih di depannya. Entah mengapa mereka semua terlihat begitu menyeramkan, seperti para buaya yang akan siap kapan saja menerkamnya.
'Ya Allah, aku nggak mau dijual. Aku ingin pulang. Pak Rizky ... Pak Hersa, tolong aku, Pak,' batin Maya sendu.
"Siapa gadis yang pertama kalian inginkan?" tawar Mami.
Semua pria itu lantas bersorak. "Melisa!"
Namanya Melisa, tetapi dia sesungguhnya Maya. Gadis itu langsung membulatkan matanya dengan sempurna.
Bagi mereka yang paling mencolok diantar ketiga gadis itu yaitu Maya, sebab semuanya fokus ke arah buah dadanya yang jauh lebih besar dibanding kedua gadis itu.
"Harga pertama yang aku buka adalah satu setengah juta dollar! Silahkan siapa yang mau berani menawar!" ujar Mami.
Seorang pria berjas dengan rambut yang sudah memutih itu lantas berkata, "Aku akan membelinya lima juta dollar!"
Fantastis sekali, dia langsung menawarkan dengan penawaran tinggi. Tetapi masih ada yang berani menawarnya.
"Enam setengah juta dollar!" Pria yang brewok, usianya 40 tahun.
"Tujuh juta dollar!" Ada lagi yang memberikan menawaran.
"Karena dia sangat cantik dan seksi, aku mau dia jadi milikku! Berikan padaku dengan harga sepuluh juta dollar!" seru pria beruban lagi. Dan seketika semua pria itu terdiam. Tampaknya mereka sudah tak mau memberikan penawaran lagi.
"Apa nggak ada yang mau menawarkan lagi? Sebelum gadis ini diambil?" tawar Mami setelah beberapa detik berlalu. "Dia juga pintar mendes*h. Kalian pasti nggak akan kecewa." Kembali dia menawarkan, tetapi sepertinya harga diri Maya sudah mentok diharga 10 juta dollar yang mungkin jika dirupiahkan menjadi 146 milyar lebih. Cukup tinggi menurutnya, bisanya paling besar Mami menjual gadiss hanya sampai 9 juta dollar.
Mami menoleh pada Maya yang sudah berkeringat dingin. Wajahnya memang full make up, tetapi terlihat begitu pucat. Tampaknya dia begitu ketakutan.
Mami menarik turunkan dagunya ke arah pria yang berada di belakang Maya, seolah memberikan isyarat.
"Saya nggak mau dijual, Pak. Tolong lepaskan saya," lirih Maya. Tangannya ditarik kasar oleh pria itu sampai tubuhnya berdiri.
__ADS_1
"Sekarang Melisa sudah menjadi milik ...." Ucapan Mami mengantung kala merasakan ponselnya yang sejak tadi dia genggam berdering dengan hebat. Segera dia mengangkat panggilan itu yang ternyata dari anak buahnya yang berjaga di depan pintu keluar masuk. "Sebentar ...saya angkat telepon dulu," ucapnya izin, lalu mengangkat panggilan itu.
"...." Entah apa yang anak buahnya itu ucapkan dari seberang sana, tetapi terlihat wajah Mami langsung berbinar, kedua sudut bibirnya tertarik dan dia tersenyum lebar.
'Aku kaya,' batin Mami.
"Oke, oke," ucap Mami lalu mematikan sambungan telepon. Setelah itu dia pun melihat kepada pria beruban yang baru saja berjalan ke arahnya. Sepertinya dia mau mengambil Maya.
"Aku akan bayar dia sekarang juga, aku sudah nggak sabar ingin bersamanya," ucapnya seraya mengambil ponselnya disaku jas.
"Ah mohon maaf, Pak. Sepertinya Bapak kurang beruntung. Melisa sudah ada yang menawarkan lima belas juta dollar, Pak," ujar Mami dengan suara lembut.
Tak lama bunyi notifikasi pesan masuk di ponselnya, sebuah nominal uang bayaran Maya terisi disaldo rekeningnya.
Maya membulatkan matanya dengan lebar. 'Lima belas juta dollar? Tapi siapa? Perasaan tadi nggak ada yang nawar segitu?'
"Siapa? Siapa yang menawarkan segitu? Melisa sudah menjadi milikku, Mi." Pria beruban itu lantas menarik lengan Maya, tetapi segera ditepis kasar oleh pria yang berbadan kekar.
"Maaf, Pak. Bapak bisa menawar gadis yang lain saja. Mereka juga nggak kalah cantik." Mami menoleh ke arah Kiky dan Nadda sambil tersenyum. Lalu dia pun menatap anak buahnya yang saat ini mengenggam lengan Maya. "Bawa dia pergi dari sini. Antarkan ke bos yang membelinya."
"Di mana, Mi?" tanyanya.
"Nanti kukirim alamat hotelnya. Tapi bawa dia sampai masuk ke dalam hotel. Jangan sampai dia kabur, awas saja kalau itu sampai terjadi!" ancam Mami sambil melotot.
Lantas segera Maya ditarik kasar olehnya, lalu membawanya keluar dari bar itu.
Maya berkali-kali memberontak, kakinya bahkan menahan langkahnya. Tetapi tetap saja pria itu begitu kokoh menarik tubuhnya hingga masuk ke dalam mobil.
"Ayok, jalan!" titahnya pada pria yang duduk di kursi kemudi.
"Pak, tolong lepaskan saya. Saya nggak mau dijual," pinta Maya sambil menangis.
Sejak tadi dia menahan air matanya supaya tak jatuh, tetapi kali ini sudah tak bisa. Tubuhnya benar-benar bergetar hebat, jantungnya juga berdebar. Dia tak bisa membayangkan bagaimana nanti, bagaimana nanti jika keperawanannya direnggut oleh pria yang bukan suaminya. Maya pasti akan sangat terpuruk, sedih dan hancur.
__ADS_1
'Aku ingin pulang. Ya Allah selamatkan aku. Aku nggak mau menyerahkan harga diriku ke pria asing,' batinnya.