Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
298. Aku ingin melahirkan


__ADS_3

"Hei sudah!" Irwan langsung menepuk bahu Ihsan, padahal pria itu hendak menghayal awal pertemuannya dengan Nella. "Kalau dikhayalin begitu yang ada kamu makin ingat dan nggak bisa move on, San. Ayok turun. Katanya kamu bilang sakit perut gara-gara diare."


Irwan lebih dulu turun dan tak lama Ihsan juga turun. Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


"Tapi Om. Semisal aku kuliah di Bandung ... nanti bengkelnya bagaimana? Dan aku kerja apa di sana? Nggak mungkin juga 'kan aku nggak kerja."


Irwan terdiam beberapa saat sambil memikirkan usulannya itu. Apa yang dikatakan Ihsan memang benar, lagi pula kalau Ihsan tak ada, tak akan ada yang menunggu bengkelnya nanti. Tetapi dia sendiri merasa kasihan jika Ihsan terus menerus mengingat Nella.


"Nanti Om pikirkan lagi deh, sambil cari kerjaan di sana. Om juga ada temen sih, San. Paling kamu sampai kuliah dan pokoknya sampai bisa mengikhlaskan Nella. Ya syukur-syukur sampai menikah sama orang sana," ujarnya sambil terkekeh.


"Aku sih terserah Om saja. Aku tahu semua yang dilakukan Om yang terbaik." Ihsan tersenyum hangat, lalu mengelus sebentar lengan Irwan.


***


Beberapa bulan kemudian....


"Menurut Mama Maya ... ini sambelnya kurang pedes nggak?" tanya Nella seraya mencolek potongan buah mangga muda pada sambel rujak di atas piring.


Dia, Maya, Gita dan Sindi tengah merujak bersama di rumah Angga. Awalnya mereka berempat hanya berencana masak-masak untuk makan siang.


Namun, saat sudah matang dan makan bersama justru dua ibu hamil itu berencana mengajak Sindi dan Gita merujak. Dan jadilah mereka merujak bersama, duduk lesehan di di teras rumah Angga.


"Sudah pas, Nell. Kamu memangnya kasih cabe berapa?" tanya Maya. Memang yang membuat sambel itu adalah anak sambungnya, dan dia yang mengupas mangga.


"Enam, tapi cabenya kurang tua, jadi kayaknya kurang pedes aja gitu." Sambil merem melek Nella mengunyah makanan di dalam mulut. Antara asem, pedas dan manis itu menyatu jadi satu.


"Segini mah pedes, Nell. Kamu dan Maya jangan terlalu banyak makan pedeslah. Kan udah hamil tua," ujar Sindi.


"Iya, sih."


"Oh ya, Ma. Ciri-ciri orang yang mau melahirkan itu bagaimana, ya?" tanya Maya pada Sindi. Dia yang baru hendak menjadi ibu tentu tak tahu ciri-cirinya, dan masih butuh banyak ilmu pengetahuan.


"Bisa dari mules, kram bagian perut dan pinggang. Terus bawaannya mau pipis. Itu sih yang Mama sering alami saat hamil 3 anak Mama," jelas Sindi memberitahu.


"Oh. Apa nanti pas melahirkan rasanya sakit banget, Ma? Dibanding saat diperawanin lebih sakitan mana?"


"Ya jelas melahirkan lah, Ma." Nella ikut menyahut sambil terkekeh. "Melahirkan bertaruh nyawa, kalau diperawanin mah beda cerita. Awalnya saja sakit, kesananya enak."

__ADS_1


"Dih, mesum kamu, Nell. Sudah seperti Rizky saja omongannya." Gita ikut nimbrung lalu dia pun bergelak tawa.


"Mas Rizky yang ajarin kok."


"Eemm ... Ma, Nella, Bu Gita. Aku mau ke kantor Ayank Sofyan dulu, ya? Ini 'kan sudah mau jam makan siang ... jadi sekalian mau antar makanan," ujar Maya seraya menatap layar di ponselnya yang memperhatikan pukul 11.


"Mau Mama antar nggak? Nanti sekalian bareng sopir," tawar Sindi.


Maya menggeleng. "Nggak usah, Ma. Aku sama Pak Ali saja."


"Ya sudah tunggu sebentar ... Mama akan minta tolong Bibi untuk mengambil makanan hasil kita masak tadi." Sindi berdiri.


"Nggak usah, Ma. Biar aku saja." Maya ikut berdiri dan mencekal lengan Sindi.


"Ya sudah, ayok Mama antar ke dapur."


"Sama aku saja, Oma. Aku juga mau siapin bekal untuk Mas Rizky." Nella juga ikut berdiri. Memang sisa makanannya masih banyak, dan mereka juga sengaja membuat banyak karena untuk para suaminya.


Lantas, Maya dan Nella masuk kemudian menaruh menu makan siang itu ke dalam kotak makanan.


"Kamu mau ke kantornya Rizky juga, Nell? Ayok bareng sama Mama," ajak Maya saat keduanya telah membawa kantong berwarna merah dan berjalan meninggalkan dapur.


"Nggak nyangka kita hamilnya barengan ya, Nell."


"Iya, Ma. Semoga kita melahirkannya barengan juga." Nella tersenyum dan terkekeh kecil.


"Iya, sepertinya akan lucu." Maya ikut terkekeh.


*


*


Tibanya di kantor, Maya langsung menghampiri resepsionis.


"Maaf, Mbak. Apa Ayank Sofyan ada di ruangannya?" tanya Maya pada wanita berambut pendek yang berdiri di sana.


"Eh, Bu Maya. Selamat siang Bu. Pak Sofyan sedang meeting saat ini. Tapi mungkin setengah jam lagi selesai." Wanita itu tersenyum.

__ADS_1


"Oh begitu, ya." Maya terdiam beberapa saat sembari mengusap perut buncitnya. "Aku mau tunggu di ruangannya saja deh, Mbak. Apa aku boleh minta antar? Aku nggak tahu soalnya."


"Bisa, mari ikuti saya, Bu." Wanita itu mengangguk, lalu berjalan lebih dulu dan Maya mengekorinya. Keduanya langsung masuk ke dalam lift.


*


*


"Ini ruangannya, Bu. Ibu bisa langsung masuk saja. Kalau begitu saya permisi." Wanita itu membungkuk sopan. Maya menanggapinya dengan anggukan kepala dan senyuman manis, kemudian wanita itu pergi dari sana.


Maya melangkah untuk mendekati pintu, lalu mengetuknya.


Tok ... tok ... tok.


"Ayank!"


Padahal, wanita tadi sudah memberitahu jika Sofyan sedang meeting. Otomatis kemungkinan besar tak ada di ruangannya, melainkan di ruang rapat yang berada di sebelah. Ingin rasanya Maya langsung masuk, tetapi ada perasaan ragu sebab merasa tak enak.


"Apa nggak apa-apa aku masuk? Tapi Ayanknya nggak ada di dalam."


Mendadak Maya ingin buang air kecil, dan pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi mencari toilet umum untuk karyawan.


Namun, saat sudah duduk di kloset duduk, bukan hanya dia ingin buang air kencing saja. Tetapi juga buang air besar, tetapi anehnya tak ada sama sekali yang dia keluarkan. Hanya mules saja.


Mendadak, Maya merasakan perut dan pinggangnya kram dan secara tiba-tiba terlintas ucapan Sindi akan ciri-ciri wanita yang akan melahirkan. Ciri-ciri itu rasanya begitu mirip seperti apa yang dia alami saat ini, mengingat sekarang usia kandungannya juga sudah memasuki 9 bulan.


"Apa jangan-jangan aku akan melahirkan sekarang?" gumam Maya. Merasa panik dan takut jika dia nantinya melahirkan di dalam toilet, Maya bergegas membersihkan inti tubuhnya lalu membereskan celana. Setelah itu dia bergegas pergi dari sana dan menuju ruangan Sofyan.


Berbeda dengan awal dia datang, kali ini Maya langsung masuk tanpa mengetuk pintu sebab jantungnya sudah berdebar kencang dan takut. Dia ingin cepat-cepat menemui suaminya, memberitahu perihal melahirkan.


"Kok Ayank belum selesai meeting juga? Terus bagaimana dengan nasibku? Masa aku nggak ditemani pas mau melahirkan?" Maya menutup kembali pintu ruangan Sofyan, kemudian berjalan beberapa langkah menuju ruang rapat. Dia langsung mengetuk pintu itu sambil menyentuh perutnya yang lagi-lagi terasa kram.


Tok ... tok ... tok.


Tok ... tok ... tok.


Enam kali ketukan baru lah pintu itu dibuka oleh seseorang yang berada di dalam. Dan yang membukanya sekertarisnya Sofyan.

__ADS_1


"Ayank! Aku mau melahirkan! Antar aku ke rumah sakit!" pekikan Maya terdengar begitu lantang hingga membuat orang-orang di dalam sana terperangah dan langsung menatap ke arahnya.


Sofyan yang tengah minum segelas air putih langsung menyemburkan isi di dalam mulutnya lantaran terkejut, dan tak sengaja menyemprotkannya ke wajah Rizky yang berada di depan.


__ADS_2