Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
128. Hapus air matamu


__ADS_3

Mendengar erangan kesakitan dari sang anak, membuat Guntur terperanjat, segera dia mengulurkan tangannya. "Kamu kenapa, Riz? Ayok cepat naik."


"Kakiku, kakiku tertusuk. Sakit, Pa," jawabnya sambil meringis. Rizky yang berada di tengah-tengah kolam hendak mengulurkan tangannya pada Guntur, tetapi kakinya yang terasa sakit membuatnya susah bergerak.


Sofyan yang merasa kasihan tanpa pikir panjang langsung ikut menyebur ke dalam kolam, lalu menaruh lengan menantunya ke bahu. Perlahan dia mengajaknya berjalan menuju ketepian.


"Pelan-pelan jalannya, Riz," ucap Sofyan.


Setelah agak mendekat dengan Guntur, lantas pria paruh baya itu menarik lengan Rizky dibantu Hersa dan Sofyan dari bawah, sampai akhirnya mereka berhasil mengeluarkan Rizky dari kolam.


Guntur menarik kaki anaknya yang sudah berlumuran darah. Tepat pada jempol kaki sebelah kanan, tersangkut kail pancing dan itu membuat mereka yang melihat bergidik ngeri sebab sampai tembus keluar.


"Bawa ke rumah sakit, Pa. Cepat!" Nella berteriak histeris, dia merasa takut dan juga bersalah. Tanpa sengaja dialah yang menyebabkan semua ini terjadi pada suaminya.


Guntur dan Sofyan buru-buru memapah tubuh Rizky, membawanya keluar dari tempat pemancingan itu.


"Hersa, tolong masukkan ikan ini ke dalam plastik."


Yang lain sibuk dengan kondisinya, Rizky justru sibuk memegangi jaring dengan satu ikan di dalamnya, dia segera memberikan pada asistennya, dan Hersa pun menerimanya.


"Iya, Pak." Hersa berlari menuju orang yang menjaga tiket untuk membungkus satu ikan gurame itu ke dalam plastik yang berisi air. Lantas dia menaiki mobil bersama Gita dan Diana untuk menyusul mobil Guntur yang lebih dulu pergi membawa Rizky.


***


"Kok lu nangis? Kan gue udah dapet ikannya, nanti Hersa berikan sama lu." Rizky menatap heran pada Nella yang sejak tadi menangis dalam pelukannya. Tubuhnya bahkan basah dan bau amis, tetapi tak membuat Nella merasa mual.


"Maafkan aku, Mas. Gara-gara aku Mas Rizky kecelakaan," ucap Nella dengan sedih.


"Kecelakaan apaan sih? ini 'kan hanya tersangkut. Dicabut juga beres," jawab Rizky santai sembari menunjuk jempol kakinya yang tersangkut kail pancing.


"Sudah jangan banyak bicara, katanya tadi sakit," omel Guntur yang tengah mengemudi.


Sampainya di rumah sakit, Rizky langsung disuruh duduk pada kursi roda dan secepat kilat Sofyan mendorongnya hingga masuk ke ruang IGD.


"Dok, tolong menantu saya," ucap Sofyan cemas, dia menghampiri seorang Dokter yang tengah memakai masker.


"Silahkan berbaring, Pak."


Sofyan membantu Rizky untuk naik ke atas tempat tidur, lalu perlahan membantunya untuk berbaring.


"Kalian habis tenggelam atau bagaimana? Kok basah kuyup?" tanya Dokter.

__ADS_1


"Saya habis menangkap ikan, Dok. Dan jempol kaki saya tertusuk kail pancing," terang Rizky sambil meringis. Jempol kakinya itu masih bercucuran darah dan terasa berdenyut nyeri.


Sementara itu diluar ruangan itu, tepat di kursi tunggu—Nella tengah duduk merenung bersama Guntur di sampingnya, dia merasa cemas dan sekaligus bersalah pada Rizky.


'Mas Rizky, maafkan aku, Mas,' batin Nella.


"Yang mengajak mancing itu kamu atau Rizky sebenarnya?" tanya Guntur tiba-tiba yang mana membuat Nella menepis semua apa yang ada di dalam hatinya.


Nella menoleh. "Aku, Pa. Aku yang mengajak Mas Rizky memancing. Maafkan aku," sesalnya.


Guntur menghela nafasnya dengan gusar.


"Kalau sampai kamu bukan hamil anaknya Rizky dan Rizky kenapa-kenapa, Papa nggak akan memaafkan kamu!" tukasnya kesal.


"Papa sampai sekarang belum percaya kalau aku hamil cucu Papa?" Nella menatap wajah Guntur dengan sedih sembari menyentuh perutnya, rasanya teramat sakit. Padahal, dia tahu betul jika Guntur menginginkan cucu. "Maafkan aku kalau punya salah sama Papa, tapi aku mohon ... percaya padaku." Perlahan linangan air mata itu mengalir membasahi kedua pipinya.


"Sudahlah, hapus air matamu itu. Siapkan nanti kalau bertemu Rizky," ketus Guntur dengan wajah masam. "Kamu pikir ... Papa bodoh seperti Rizky, bisa luluh dengan air matamu?" Guntur menggeleng. "Itu nggak akan terjadi, Papa juga akan mengawasimu kalau sewaktu-waktu bertemu kembali dengan Ihsan!"


"Aku nggak pernah bertemu lagi dengannya, Pa. Menghubunginya pun, nggak." Nella menggeleng samar sambil menyeka air matanya.


"Iya kalau sekarang, nggak tahu nanti."


Terdengar suara pintu yang baru saja terbuka, Sofyan keluar sambil memapah lengan Rizky. Mereka yang sejak tadi duduk langsung berdiri dan melihat jempol kaki pria tampan itu sudah dibalut kain kasa.


"Apa Mas Rizky baik-baik saja?" tanya Nella seraya memeluk tubuh Rizky.


"Gue baik-baik saja, lu nggak perlu khawatir." Rizky mengusap pelan puncak kepala Nella, lalu menciumnya singkat.


"Kamu disuruh pulang apa dirawat dulu?" tanya Guntur.


"Pulang. Lagian ... aku nggak apa-apa kok, Pa."


"Ya sudah, tapi pakai kursi roda dulu saja sampai ke parkiran."


Guntur memanggil seorang perawat pria yang baru saja lewat untuk membawakan kursi roda. Setelah kursi roda itu datang, Rizky lantas duduk di sana dan Sofyan yang mendorongnya.


Mereka juga sama-sama berjalan keluar rumah sakit hingga masuk ke dalam mobil.


"Malam ini kamu mau tidur di mana? Rumah Papa atau rumahmu?" tanya Guntur seraya menyetir.


Sedangkan Sofyan yang berada di sampingnya sedang menghubungi Diana supaya tak perlu menyusul sebab mereka sudah ke arah jalan pulang.

__ADS_1


"Rumahku saja," jawab Rizky.


"Kamu rawat Rizky ya, Nell. Kasihan dia," tegur Sofyan.


"Iya, Pa." Nella masih memeluk tubuh Rizky, baju pria tampan itu bahkan sudah kering sendiri.


***


Setelah sampai di rumah Rizky, Nella yang tengah memapah lengan Rizky lantas menghentikan langkahnya tepat di ruang makan, sebab aroma ikan bakar begitu harum menyapu indra penciumannya dan membuat perut yang sejak tadi kosong kini menjadi berbunyi.


"Itu pasti ikan bakar yang gue tangkep, mau makan dulu nggak? Gue juga laper," ucap Rizky menoleh ke arah Nella.


Tetapi bukannya menjawab pertanyaan Rizky, Nella justru memanggil Bibi pembantu.


"Bi! Bi Yeyen!" pekik Nella. Tak lama wanita paruh baya itu menghampirinya.


"Iya, Nona ... ada apa?"


"Apa Bibi sedang membakar ikan hasil tangkapan Mas Rizky? Harusnya jangan." Wajah Nella seketika memerah, rasanya dia tak ikhlas jika ikan itu sudah dimasak orang lain. Padahal niat Nella, dia menginginkan supaya dirinya lah yang memasak. Sebab Rizky juga pasti ikut memakannya.


Bi Yeyen menggeleng cepat. "Bukan, yang Bibi masak ikan dari Pak Hersa. Ikannya Pak Rizky masih ada di baskom, bahkan masih hidup."


Wajah masam Nella berubah menjadi ceria sampai dia menghela nafasnya dengan lega. Ternyata Bi Yeyen begitu mengerti Nella yang suka sekali memasak untuk suaminya.


"Oh begitu, syukurlah. Biar aku saja yang memasaknya, Bi."


"Iya, Nona." Bi Yeyen mengangguk.


"Ayok, Mas. Mas Rizky mandi dan berganti pakaian dulu," ajak Nella.


"Iya." Rizky mengangguk, lalu berjalan tertatih-tatih mengikuti langkah Nella yang pelan menaiki anak tangga sampai masuk ke kamar. "Lu merasa pegal nggak, sih? Kasihan perut lu, Nell."


"Nggak kok biasa saja." Nella mengajak Rizky masuk kamar mandi, lalu memintanya duduk di kloset yang tertutup.


Perlahan Nella meraih kancing kemeja Rizky dan membukanya satu-persatu hingga terlepas semua.


...Jangan lupa like dan komentarnya...


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...


...1088...

__ADS_1


__ADS_2