Terjerat Cinta CEO Nakal

Terjerat Cinta CEO Nakal
144. Cukur botak


__ADS_3

"Kalau pintu lift ini terbuka bagaimana, Mas? Mas Rizky mau mempermalukan aku?" tanya Nella dibarengi dessahan yang lolos di bibirnya.


"Tenang saja, gue nggak bakal biarkan itu terjadi."


Rizky masih melaju dan mempercepat ritmen. Lengannya perlahan terulur untuk memencet tombol yang berada di samping pintu. Tombol itu akan menjeda lift yang mereka taiki. Sehingga tak akan terbuka dan itu juga berarti tak akan ada orang yang bisa naik turun lift. Sebelum sesi bercinta mereka usai.


"Tapi, Mas ... aku ...." Nella ingin meneruskan ucapnya, tapi rasanya tak sanggup. Guncangan yang Rizky perbuat membuat tubuhnya meremang dan seakan terbang ke udara.


Dimenit kelima, pinggul Rizky langsung terhenti sebab sudah berhasil mencapai pelepasan dan berbarengan dengan Nella.


Mereka pun melenguh dan perlahan Rizky mendekap tubuh istrinya.


"Luar biasa 'kan, Nell? Ini enak sekali," tanya Rizky seraya berbisik di telinga kirinya.


"Enak sih enak, tapi terlalu ekstrim, Mas. Mas Rizky nggak tahu tempat!" Nella mendengus kesal, lalu membuka tas jinjing miliknya untuk mengambil tissue. Setelah menarik beberapa lembar tissue, perlahan dia membersihkan inti tubuhnya dan begitu pun dengan Rizky.


"Malah yang ekstrim begini gue tambah semangat. Bercinta harus di tempat yang berbeda-beda, Nell. Biar rasanya tambah nikmat. Lu juga keluar 'kan tadi."


"Nggak, kata siapa," jawabnya berbohong.


Seusai membereskan celana, Rizky segera memencet tombol itu kembali dan tak lama pintu lift itu terbuka di lantai dasar.


Ting~


Tepat di depan pintu, hampir sebagian karyawan Rizky berkerumun sembari menenteng plastik. Mungkin isinya adalah makanan untuk makan siang.


Mereka semua jelas menunggu pintu lift yang tak kunjung terbuka akibat kelakuan atasannya.


"Pak Rizky, apa Bapak dan Nona Nella terjebak di lift?" tanya Hersa. Kebetulan dia juga ada di sana.


"Iya, tadi liftnya mendadak mati sendiri," jawab Rizky seraya merangkul bahu istrinya dan melangkah keluar dari lift. Lalu beberapa orang segera masuk.


"Tapi tadi saya sudah menemui teknisi untuk mengecek, dia bilang nggak ada kerusakan, Pak. Bapak dan Nona Nella nggak apa-apa, kan?" Wajah Hersa terlihat cemas, sebab mendengar nafas pria dan wanita itu tersengal-sengal, juga terlihat wajah keduanya bercucuran keringat.


Namun seketika dia mengerutkan keningnya saat pandangannya jatuh ke bibir Rizky. Ada bekas lipstik di sana.


"Bibir Bapak kok merah? Wah apa jangan-jangan ... ah, saya nggak enak meneruskannya." Hersa terkekeh sambil geleng-geleng kepala.


Rizky segera mengulas bibirnya dengan punggung tangannya. "Kalau sudah mengerti ya bagus, ya sudah ... gue mau pergi kencan dulu."


"Hati-hati, Pak ... Nona Nella."

__ADS_1


"Iya," jawab Rizky sambil tersenyum, tetapi Nella hanya mengangguk sedikit. Setelah itu mereka pergi keluar kantor.


***


"Sekarang kita mau pergi ke mana? Salon dulu atau makan dulu?" tanya Rizky ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil, lalu dirinya menyalakan mesin dan mengemudi.


"Aku mau ke mall saja, Mas," jawab Nella seraya menoleh.


"Kok jadinya ke mall? Nggak jadi ke salon?"


"Dih, kan di mall juga ada salon, dan di depan mall ada restoran. Salon langganan aku juga di dalam mall, Mas," terang Nella.


"Oke deh, kita ke sana." Rizky tersenyum dan menarik gasnya dengan kecepatan sedang.


"Mas ... apa boleh aku minta sesuatu?" tanya Nella setelah beberapa detik berlalu.


"Apa? Bicara saja."


"Aku mau dipanggil sayang sama Mas Rizky."


"Sayang," ucap Rizky cepat. "Sudah, hanya itu?"


"Nggak mau sekali, tapi berulang kali."


"Sayang, sayang, sayang. Apa kurang? Mau berapa kali?"


"Ih, bukan seperti itu." Nella mendengus kesal sembari memalingkan wajahnya yang sudah memerah.


"Terus apa? Katanya berulang kali?" Rizky mengerenyitkan dahinya heran.


"Lupakan saja deh." Nella bersedekap sambil merenggut.


'Aku ingin Mas Rizky memanggilku dengan sebutan sayang, bukan Nella. Mas Rizky nggak peka!' gerutunya dalam hati.


Tiga puluh menit kemudian, akhirnya mereka sampai dipusat perbelanjaan yang cukup besar di kota Jakarta. Tetapi sebelum masuk ke sana, mereka pergi ke restoran yang berada di depan mall untuk makan siang.


Setelah itu mereka sama-sama masuk dan menaiki eskalator dengan saling bergandengan tangan.


Meskipun bukan hari Minggu, tetapi mall itu terlihat begitu ramai. Banyak sekali orang yang berdatangan. Entah mereka sekedar melihat-lihat, atau benar-benar belanja.


Tiba-tiba Rizky merasa dejavu saat langkah kakinya melewati sebuah toko jam, tepat di sana adalah untuk pertama kalinya dia bertemu Ihsan dan terbakar api cemburu lantaran istri tercintanya dirangkul begitu mesra.

__ADS_1


Tapi kini, wanita itu telah benar-benar menjadi miliknya.


Bukan hanya raga, tetapi juga hatinya. Ternyata memang sebuah usaha tidak akan mengkhianati hasil. Sekarang Rizky berhasil mendapatkan Nella dan membuatnya seakan tergila-gila padanya.


Mereka kini menghentikan langkahnya di sebuah salon, dan disebelah salon tersebut ada pangkas rambut untuk pria. Tak lama pintu pangkas rambut itu dibuka oleh seorang pria yang baru saja keluar, pria itu berkepala botak bahkan licin seperti bolham lampu.


Nella yang melihatnya pun langsung takjub, dia sampai mengukir senyum pada sudut bibirnya dan kini matanya melirik ke arah Rizky.


'Kalau Mas Rizky botak, pasti tambah keren,' batin Nella.


"Kok nggak masuk?" tanya Rizky. Dia merasa heran dengan Nella yang sejak tadi memandanginya sambil tersenyum, bukannya langsung masuk ke dalam salon.


"Mas ... aku mau Mas Rizky cukur rambut."


"Rambut gue belum panjang kok, gue juga belum pengen cukur rambut." Rizky menggeleng pelan.


"Tapi aku mau melihat Mas cukur rambut."


"Dih, kok gue?" Rizky menunjuk wajahnya sendiri.


"Iya, Mas Rizky." Nella pun menarik lengan Rizky, mengajak pria tampan itu masuk ke dalam tempat pangkas rambut.


Lama-lama Rizky merasa Nella semakin aneh dan meminta hal yang nggak kalah aneh. Jelas dia yang meminta untuk diantar ke salon, tetapi sekarang malah meminta Rizky cukur rambut.


"Selamat siang, silahkan duduk, Mas." Seorang pemuda yang memakai masker mempersilahkan Rizky untuk duduk di kursi, di depan cermin besar. Tempat untuk sesi mencukur rambut.


Di sebelah kursi kosong itu ada kursi lagi yang tengah diduduki seorang pria yang seumur dengan Rizky. Rambut kepala pria tersebut dicukur botak oleh pemuda yang memakai masker, rekan dari pemuda yang menyapa Rizky tadi.


"Nella, gue nggak mau cukur rambut," tolak Rizky dengan gelengan kepala.


"Mas harus cukur rambut, biar tambah tampan." Setelah itu Nella melihat ke arah pemuda yang diyakininya tukang cukur. "Kak ... tolong cukur rambut suamiku."


"Baik, Mbak. Silahkan Masnya duduk dulu." Lengan pria itu pun mengarah ke arah kursi.


Nella segera menarik tangan Rizky dan mendorong tubuhnya hingga duduk di kursi tersebut, kemudian pemuda bermasker itu memakaikan Rizky kain kep ke lehernya.


"Mas mau cukur model apa?" Pemuda itu menunjuk poster gambar beberapa gaya rambut yang berada di samping cermin. Rizky pun memperhatikan poster itu dan melihat-lihat gaya rambut yang sekiranya cocok untuknya.


"Cukur botak saja, Kak. Bila perlu sampai licin," ujar Nella. Dan seketika itu pun—mata Rizky membulat sempurna lantaran kaget.


...Jangan lupa like dan komentarnya...

__ADS_1


...Follow juga IG Author @rossy_dildara untuk intip visual novel dan karya yang lainnya~...


...1090...


__ADS_2