
"Gue nggak ngerti maksud lu, Nell. Tapi—"
"Nella, Rizky!" sergah Gita yang baru saja berjalan cepat menghampirinya, dia datang bersama Guntur.
Nella langsung melepaskan pelukannya pada tubuh Rizky, kemudian dia mencium punggung tangan mertuanya.
"Pagi, Pa, Ma," sapa Nella sambil tersenyum.
"Pagi," jawab Gita. "Bagaimana kondisi Papamu? Ayok kita masuk, Mama mau lihat." Gita menarik lengan Nella begitu saja sampai masuk ke dalam kamar inap Sofyan. Padahal Nella sendiri masih punya urusan dengan Rizky. Ditambah sepertinya pria tampan itu marah padanya.
"Kamu mau ke kantor, Riz?" tanya Guntur.
"Aku nggak tahu, Pa. Tapi aku mau ke rumah Papa Sofyan dulu terus ke kantor polisi."
"Oya, Riz ... kira-kira Mitha sudah di masukkan ke penjara belum, ya?" tanya Guntur penasaran.
Rizky menggeleng pelan. "Nggak tahu, Hersa belum memberitahuku. Mangkanya aku mau ke kantor polisi, Pa."
"Yasudah, nanti kalau urusanmu sudah selesai ... kita pergi bareng ke kantor polisinya, ya?" Guntur merangkul bahu Rizky, mengajaknya berjalan sama-sama untuk keluar dari rumah sakit.
"Iya, Pa." Rizky mengangguk.
***
Tiga puluh menit kemudian.
Mobil Rizky telah sampai di depan halaman rumah Sofyan. Ali yang sejak tadi berdiri di sana bergegas membukakan pintu mobil itu untuk Rizky keluar.
"Selamat pagi, Pak," sapa Ali sambil tersenyum.
"Pagi."
Tak lama ada sebuah mobil putih terparkir agak dekat dengan mobil Rizky, dan itu membuatnya merasa heran, sebab mobil itu terasa asing di mata Rizky.
Namun saat seseorang di dalam mobil itu turun, seketika mata Rizky membulat. Merasa kaget lantaran dia adalah Diana. Selanjutnya ada yang keluar lagi dari pintu mobil sebelahnya, yaitu Aji.
Mereka berdua benar-benar seperti tak ada urat malu, bisa-bisanya datang ke rumah Sofyan berduaan seperti itu. Rizky yang melihatnya pun sangat muak dan begitu geram, dia juga tak terima papa mertuanya disakiti oleh wanita seperti Diana.
__ADS_1
Wanita yang menurut Rizky benar-benar rendah dan sekarang malah tambah rendah.
Namun, Rizky mempunyai sebuah cara untuk meluapkan emosinya. Dia tentu mengenal bagaimana karakter Diana.
"Wah, wah ... ada yang sebentar lagi jadi janda kembang nih!" seru Rizky dengan tepukan tangan, dia juga tersenyum meledek pada Diana.
"Siapa yang kamu sebut janda kembang?" tanya Diana sambil merenggut.
"Siapa lagi kalau bukan lu!" Rizky menunjuk wajah Diana dengan angkuhnya. "Mantan Mami mertua."
"Aku nggak akan jadi janda, soalnya setelah ini ... aku dan Om Aji akan menikah," ujar Diana dengan bangga, lantas dia pun bergelayut manja di bahu Aji.
Rizky langsung bergelak tawa sambil geleng-geleng kepala. "Hahaha ...."
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Diana, dia merasa heran melihat Rizky yang seperti orang gila. "Memangnya ada yang lucu?" ketusnya.
"Jelas ada, dong," jawab Rizky yang masih terkekeh, kemudian menatap wajah Aji yang begitu tenang. "Aku nggak nyangka sama Pak Aji, ternyata seleranya barang rongsokan! Hahahaha ...." Kembali Rizky tertawa puas dan kali ini suaranya jauh lebih lantang dari sebelumnya.
Diana terbelalak, wajahnya terlihat merah padam dan dadanya begitu bergemuruh. Tentunya apa yang Rizky lontarkan membuatnya sangat emosi.
Merasa direndahkan dan itu membuatnya sakit hati.
Plak!
"Kurang ajar sekali kamu, Riz! Mengataiku barang rongsokan!" berang Diana emosi.
Bukannya marah habis ditampar, Rizky malah tertawa lagi. Merasa senang kalau dia bisa memancing amarah wanita itu.
"Terus lu mau gue kasih perumpamaan apa? Barang mewah? Barang bersegel?" Rizky menggerakkan tangannya. "Jelas lebih cocok barang rongsokan, milik lu saja udah nggak enak saat dipakai," cibir Rizky lagi sambil tersenyum miring.
"Riz! Jaga bicaramu!" bentak Aji sambil melotot. Tangannya sudah mengepal. Ingin menonjok wajah Rizky sebenarnya, tetapi dia tak berani.
"Ah maaf, ternyata ada yang nggak terima." Rizky menutupi bibirnya sambil terkekeh geli. "Maaf ya, Pak. Aku 'kan bicara sesuai fakta."
"Kamu nggak tahu malu banget, Riz! Nggak ngaca! Kamu sendiri pernah menikmati tubuhku!" seru Diana sambil menunjuk-nunjuk wajah tampan Rizky dengan penuh kekesalan. "Kamu juga sama saja barang rongsokan, celap celup sana sini!" imbuhnya lagi.
"Beda kali. Gua celap celup juga bayar orang, bukan dibayar orang. Memangnya elu?" Rizky membalikkan ucapan Diana.
__ADS_1
Sepertinya tak akan ada habisnya jika terus meladeni Rizky, lebih baik Diana masuk ke rumah karena memang niatnya datang untuk mengambil barang-barangnya dan juga menjemput adiknya untuk ikut bersamanya.
"Mau kemana lu?" Rizky mencekal tangan Diana saat melihat wanita itu hendak pergi.
"Lepas!" Diana menghentakkan tangannya supaya tangan Rizky terlepas, tetapi Rizky justru mencengkeramnya. "Sakit beg*! Aku mau ambil barang-barangku!"
"Barang-barang apa maksud lu? Lu nggak punya barang-barang di rumah ini," ujar Rizky. "Semua ini milik Papa Sofyan!"
"Tapi ada pakaianku dan barang-barangku, Riz! Aku mau mengambilnya!" Diana mencoba melepaskan tangan Rizky yang makin keras mencengkeramnya dan itu terasa sakit.
"Rizky, lepaskan Diana! Kamu menyakitinya." Sekarang giliran Aji yang mencengkram lengan Rizky.
Rizky menoleh padanya. "Aku akan lepaskan, tapi Diana harus mengembalikan semua barang-barang yang diberikan oleh Papa Sofyan!" tegasnya sambil melotot.
Padahal, niat awal ke rumah itu adalah memenuhi permintaan Sofyan. Tetapi saat melihat Diana datang bersama Aji—dia langsung berubah pikiran.
Rizky merasa sangat tak rela, jika wanita murahan itu meninggalkan Sofyan tapi tidak dengan hartanya.
Rugilah, benarkan?
"Apa maksudmu, Riz? Kamu ini gila atau bagaimana, sih?" geram Diana.
"Lu yang gila, Jal*ng!" seru Rizky. "Kalau lu mau ninggalin Papa Sofyan, tinggalin juga hartanya. Enak saja lu!"
Diana membulatkan matanya. 'Hartanya Papi?' Diana menggeleng cepat. 'Nggak, aku sudah mengoleksi banyak berlian di rumah, masa aku tinggalkan? Sayang dong.'
"Rizky! Lepaskan!" pekik Diana.
Rizky kembali menoleh pada Aji yang masih mencengkeram lengannya. "Pak Aji nggak bisa biayai Diana memangnya? Sampai dia masih memakai barang-barang pemberian dari Papa mertuaku? Apa nggak malu?"
Aji terbelalak, jelas sekali Rizky sedang merendahkannya. Lantas dia pun menghela nafasnya gusar dan perlahan melepaskan tangan Rizky.
"Diana, nggak perlu ambil barang-barangmu di rumah Pak Sofyan. Nanti aku akan belikan yang baru."
Ucapan Aji langsung membuat Rizky tersenyum dan perlahan melepaskan tangan Diana.
'Kenapa Om Aji malah bicara seperti itu, sih?' batin Diana.
__ADS_1
"Tapi aku mau memanggil Dirga, dia akan ikut denganku, Riz." Diana hendak melangkah, tetapi lagi-lagi lengannya dicekal oleh Rizky.
"Nggak perlu." Rizky pun menoleh pada Ali yang sejak tadi berdiri di sampingnya. "Ali, panggilan Dirga. Suruh dia keluar dari rumah ini tapi pastikan ... hanya pakaian yang ditubuhnya saja yang dia bawa," titah Rizky.