
"Astaga, dokter kenapa?" Guntur segera membantu dokter itu berdiri.
"Ini, lantainya sangat licin. Air dari mana kira-kira ya, Pak?" Dokter itu menatap lantai itu dengan kening yang mengerut. Begitu pun dengan Guntur. "Airnya agak kuning juga, dan bau pesing."
"Nella kencing kali pas melahirkan tadi," tebak Guntur asal.
"Bukan Nella, tapi Rizky yang kencing." Sofyan menimpali. Dan mereka semua yang berada di sana langsung melayangkan pandangan ke arah pria tampan itu.
Wajah Rizky sudah merah padam seperti udang rebus. "Maaf, tadi aku kebelet."
Hanya kalimat itu yang terlontar dari mulutnya sebelum Rizky melarikan diri dari ruangan itu. Dia takut jika nanti dimarahi oleh Guntur, dilihat tadi mata Papanya sudah melotot.
Gita yang melihat Rizky berlari seperti orang gila hanya bisa geleng-geleng kepala. Dia sebenarnya ingin bertanya tadi, tetapi tidak jadi.
Ceklek~
Pintu ruangan itu dibuka oleh Guntur, dia keluar bersama Sofyan lalu duduk di dekat Gita.
"Bagaimana keadaan Nella dan cucu kita, Pa? Dia laki-laki atau perempuan?" tanya Gita dengan wajah sumringah menatap suaminya.
Guntur menggeleng. "Papa nggak tahu. Tadi langsung dibawa pergi sama suster untuk dimandikan."
"Tapi keadaannya baik-baik saja, kan?"
"Iya, Nella dan cucu kita baik-baik saja, Ma."
"Si Rizky lari ke mana tadi, Bu?" tanya Sofyan.
"Pintu keluar kayaknya." Gita menunjuk arah yang dimaksud. Setelah itu Sofyan berlari kecil menyusulnya.
"Rizky kenapa sih, Pa? Kok dia lari-lari."
"Dia kencing di celana itu, Ma. Memalukan banget, mana air kencingnya sampai buat Dokter kepleset lagi," tutur Guntur seraya geleng-geleng kepala.
Gita terbelalak, kemudian dia pun bergelak tawa. "Kok bisa si Rizky kencing di celana? Seperti anak kecil saja."
"Bukannya Rizky dari kecil memang suka ngompol, kan? Mama inget nggak ... waktu sekolah SD dia sering ngompol di celana gara-gara nggak bisa jawab soal? Papa 'kan sering di telepon guru untuk datang bawa celana ganti." Guntur mendengus kesal saat menceritakan masa kecil Rizky yang menurutnya mengesalkan.
Gita kembali terkekeh geli. Itu memang benar, si Rizky suka sekali ngompol bahkan sampai sekolah SMP. Hampir tiap malam sebelum tidur Gita selalu mengingatkannya untuk kencing terlebih dahulu. Sebab kalau lupa kasurnya akan basah esok pagi.
"Mama kira sekarang Rizky sudah nggak begitu lagi, Pa. Dia 'kan sudah dewasa dan menikah. Apalagi sekarang sudah punya anak."
"Harusnya memang begitu, sih. Cuma nggak tahu lagi deh."
"Mungkin kebetulan saja kali, dia itu kebelet kencing bertepatan dengan pas Nella melahirkan."
***
Ceklek~
Rizky membuka pintu toilet lalu membuang plastik yang berisi kolor dan celana dallamnya ke tong sampah. Dia bukan hanya mengganti celana saja, tetapi mandi juga dan kini memakai setelan jas berwarna merah maroon. Dia mengikat rambutnya dengan benar hingga terlihat jauh lebih rapih dan tampan.
__ADS_1
Sofyan juga berada di sana, sedari tadi berdiri sembari bersedekap menunggu menantunya keluar.
"Maafkan aku ya, Pa. Tadi nggak tahan," ujar Rizky tak enak hati. Mereka berjalan sama-sama menuju ruangan bayi.
"Sudah biasa, kamu memang selalu bikin malu," cibir Sofyan sambil terkekeh.
"Enak saja bikin malu. Nggak lho."
Seorang suster membukakan pintu ruangan itu untuk mereka berdua masuk, kemudian dia juga mengajak mereka untuk menemui bayi mungil yang baru lahir itu.
Dari kejauhan, bayi itu seperti tahu jika daddy-nya datang untuk menemuinya. Sebab dia sudah menoleh ke arah Rizky dan Sofyan yang baru saja berjalan menghampiri box bayi.
Mereka berdua langsung memandangi bayi itu yang ternyata berjenis kelamin perempuan. Dia tampak sangat cantik, wajahnya mirip sekali dengan Nella. Putih dan berhidung mancung. Sempurna, tak ada cacat.
"Ada anak perawan, Riz," ujar Sofyan. Dia masih sempat-sempatnya mengajak Rizky bercanda. Padahal saat ini pria tampan itu begitu fokus memandangi anaknya.
"Dia cantik seperti Nella ya, Pa. Mirip seperti dimimpiku."
"Kapan dia ada dimimpimu?" Sofyan mengerutkan keningnya sambil menatap Rizky.
"Dulu, pernah sekali." Tangan Rizky perlahan masuk ke dalam box lalu meraih tubuh kecil itu untuk dia gendong. Dan terlihat bayi cantik itu tengah memamerkan lidah mungilnya kepada daddynya.
"Dia sepertinya mengejekmu, Riz. Katanya begini ... kok Papaku gondrong seperti orang gila," celoteh Sofyan sambil terkekeh. Dilihat Rizky tengah mengecupi kedua pipi gembul bayinya.
"Mana ada dia mengejek. Itu ekspresi karena sangking senangnya bertemu denganku, Pa," ujar Rizky berkilah.
Rizky terlihat begitu kaku menggendong anaknya.
"Aku pernah diajari Mama kok waktu itu. Masih kaku juga wajar karena ini baru pertama kali, kan?"
"Iya, sih. Nanti kalau terbiasa pasti nggak kaku." Sofyan membenarkan ucapan menantunya. Lantas dia pun membungkuk ke arah cucunya, hendak mengecup salah satu pipi, tetapi Rizky justru menggeserkan tangannya.
"Jangan dicium dulu, aku mau mengadzani dia."
"Oh, oke oke." Sofyan manggut-manggut.
Kemudian Rizky pun menghadapkan tubuh anaknya ke arah kiblat seraya mendekatkan bibirnya ke telinga kanan. Pelan-pelan dia menarik napas lalu membuangnya secara perlahan.
Tak lama suara adzan Rizky terdengar. Meskipun suaranya fales, tetapi semua hurufnya benar.
Sesudahnya dia pun mengecup keningnya. "Terima kasih telah menjadi anak Daddy. Kamu sangat cantik, Daddy sayang sekali padamu."
Sofyan membungkuk lalu mengecup pipi kiri cucunya. "Opa juga sayang sama kamu. Perkenalkan nama Opa Iyan." Sofyan menyentuh dadanya. "Oh ya, Riz. Kamu sudah menyiapkan nama belum?"
"Sudah dong."
"Siapa namanya?"
"Jihan Anastasia Putri Cantika Nella Nur Rizky Gumelang."
__ADS_1
"Heh, kepanjangan itu, Riz. Apalagi ada nama Nella dan ditambah nama lengkapmu."
"Itu 'kan bagus, Pa. Ada nama Nella dan namaku. Jadi semua orang tahu kalau dia anakku dan Nella."
"Tapi terlalu panjang, kasihan nanti kalau pas ujian."
"Ujian apa?"
"Ujian sekolah. Nanti temannya sudah beres mengisi soal, tapi dia ketinggalan gara-gara namanya nggak muat. Bagaimana itu?"
"Itu sih gampang, paling ...." Ucapan Rizky menggantung kala terdengar isakan tangis anaknya. Sepertinya bayi mungil itu tak senang diberi nama yang begitu panjang.
"Oe ... oe ... oe."
Tak lama seorang suster datang menghampirinya lalu mengambil alih untuk dibaringkan ke dalam box.
"Bapak-bapak sekarang boleh keluar, nanti besok dia akan dipindahkan ke kamar inap bersama ibunya," ujar suster tersebut.
"Kenapa nggak sekarang saja, Sus?" tanya Rizky seraya berjalan keluar bersama Sofyan.
"Ini sudah malam. Biarkan istirahat. Kalau dipindahkan pasti banyak yang mengajaknya ngobrol, kasihan dia."
"Oh, oke deh." Rizky mengangguk. Lalu suster itu masuk lagi dan menutup pintu.
"Kalian sudah selesai? Papa mau lihat juga dong cucu Papa." Guntur berjalan menghampiri mereka berdua.
"Nanti saja kalau sudah dipindahkan ke ruang inap, Pa. Dia sedang istirahat sekarang." Rizky melarang Guntur, lalu mengajaknya untuk berjalan menuju ruang bersalin.
"Laki-laki atau perempuan dia, Riz?"
"Perempuan." Rizky menjawab.
"Papa kira dia laki-laki, padahal Papa kepengen cucu laki-laki, Riz." Wajah Guntur tampak tak senang mendengarnya. Tetapi dia berusaha tersenyum sebab takut jika Rizky marah.
"Nanti aku buatkan cucu laki-laki untuk Papa, setelah Nella keluar dari rumah sakit." Rizky tersenyum dengan tangan yang mengelus pundak Guntur.
"Dih, mana bisa langsung? Kamu puasa dulu." Sofyan menimpali.
"Puasa apa?" Rizky mengerutkan keningnya.
"Puasa nggak bercinta dengan Nella. Tunggu dia benar-benar pulih."
"Kapan kira-kira? Seminggu? Apa dua Minggu?" tanya Rizky dengan polosnya.
"Papa sih dulu sebulan setengah," jawab Sofyan.
"Papa dua bulan." Guntur ikut menjawab.
Sontak Rizky terbelalak dengan gelengan kepala. Lantas dia pun menyentuh inti tubuhnya yang sudah berdenyut-denyut.
"Haduh, lama sekali. Burungku keburu kering dong, Pa. Mana tahan," keluh Rizky lesu.
__ADS_1