
"Janinnya baik-baik saja, Pak. Dia sehat, hanya saja ibunya yang kurang darah dan maghnya kambuh," jawab Dokter.
***
Waktu sudah menjelang tengah malam, Dokter juga menyarankan Nella untuk menginap malam ini.
Nella tengah berbaring sambil mengunyah bubur yang baru saja diberikan oleh Sindi, wanita tua itu tengah duduk di kursi kecil disampingnya.
Sedangkan Angga dan Sofyan duduk di sofa, terlihat Sofyan seperti cemas dan tak tenang sembari menatap layar ponselnya.
"Di mana si Rizky? Kok sebagai suami nggak ada perhatiannya sama sekali, sih?" gerutu Angga. Dia sudah merasa kesal saat mengetahui sang cucu hamil, sekarang ditambah pria yang menghamili cucunya tak datang, lengkap sudah rasa emosi di dadanya.
Sofyan sendiri sedari tadi memang menunggu Rizky, namun sudah hampir dua jam setelah dirinya menghubungi Guntur—belum ada tanda-tanda Rizky ataupun orang tuanya datang. Dia juga sudah berulang kali menelepon nomor menantunya, tetapi tetap tidak aktif.
"Nomor Rizky nggak aktif, Pa. Tapi aku sudah menghubungi orang tuanya untuk meminta supaya Rizky datang ke sini," jawab Sofyan.
"Itu berarti si Rizky memang nggak mau ke sini!" tukas Angga. "Memang dia tuh nggak pantas jadi suaminya Nella, dia nggak ada perhatiannya, yang ada di otaknya hanya bercinta saja!" cibir Angga.
Sofyan menggeleng cepat. "Rizky nggak seperti itu kok, dia malah sayang banget sama Nella. Mungkin sebentar lagi dia akan datang," sanggah Sofyan seraya melirik ke arah Nella yang masih makan. Wajah wanita cantik itu terlihat sendu, matanya juga berair seperti hendak menangis.
'Apa Nella nggak suka kalau dia hamil? Pasti iya, tapi nggak apa-apa sayang ... dengan begitu kamu dan Rizky nggak jadi bercerai, kamu juga pasti akan bergantung pada Rizky karena bawaan bayi,' batin Sofyan seraya menyunggingkan senyum pada Nella.
Sofyan menebak kalau saat ini Nella tengah bersedih lantaran mengetahui jika dirinya mengandung anaknya Rizky dan keinginannya untuk berpisah tidak jadi, namun kenyataannya salah besar.
'Apa Mas Rizky sudah nggak mau bertemu denganku gara-gara habis bertemu Mitha? Mas Rizky jahat sekali,' batin Nella sedih.
***
Keesokan harinya.
Rizky mengerjapkan matanya perlahan dan menoleh ke arah jam weker yang menunjukkan pukul 7 pagi. Dia pun bangkit dan berdiri, lalu mengambil ponselnya.
Saat tombol yang berada dipinggir ponsel itu dia tekan, ponselnya tak menyala.
__ADS_1
"Lho, kok mati? Apa lowbat, ya?" Rizky menarik laci di bawah nakas, lalu menghubungkan charger dari ponselnya ke stop kontak. Setelah itu dia berjalan masuk ke kamar mandi.
Sementara itu di tempat berbeda, Sofyan menunggu sang menantu hingga hari esok berganti dan sampai sekarang tak ada tanda-tanda Rizky datang.
Merasa kesal lantaran ponsel menantunya belum bisa dihubungi, Sofyan nekat ke rumah orang tua Rizky yang kebetulan jaraknya lebih dekat dari rumah sakit.
Tepat di depan gerbang, Sofyan melihat Rizky hendak masuk ke dalam mobil. Sofyan yang berada di dalam mobilnya segera turun dan memanggil nama pria tampan itu.
"Rizky!" pekiknya dengan lantang.
Rizky menoleh dan menutup pintu mobilnya yang sempat dia buka. Kakinya melangkah menuju gerbang dan gerbang itu juga dibukakan oleh satpam rumah.
"Papa, Papa kok ke sini? Kenapa nggak menungguku ke pengadilan?" tanya Rizky dengan kening yang berkerut. Dia juga merasa heran dengan penampilan sang mertua yang terlihat acak-acakan seperti belum mandi. "Papa juga seperti belum mandi."
Sofyan tak memberikan jawaban, pria itu malah menarik kasar lengan Rizky hingga membawanya masuk ke dalam mobil. Segera dia mengendarai mobilnya yang kebetulan mesinnya sudah menyala.
"Ke mana saja kau bodoh? Ditelepon dari kemarin malam nomornya nggak aktif?" Sofyan mendengus kesal, menoleh sekilas pada Rizky dengan tatapan tajam.
"Ponselku lowbet, Pa."
"Rumah orang tuaku."
"Terus kenapa kau nggak ke rumah sakit? Bukannya Papa sudah beritahu Papamu untuk ke rumah sakit menemui Nella?"
Rizky terbelalak. "Ke rumah sakit? Nella sakit apa, Pa?" tanya Rizky penasaran.
"Dia nggak sakit, tapi hamil."
"Apa?!" pekik Rizky.
Teriakan yang begitu nyaring membuat Sofyan mengerem mobilnya secara mendadak sebab hampir saja menabrak kucing yang lewat.
Ckit!
__ADS_1
"Bodoh sekali kau! Untung nggak tertabrak!" Sofyan menepuk kasar pundak Rizky dengan gemas, kemudian dia melajukan mobilnya kembali dengan kecepatan sedang.
"Papa pasti sedang merencanakan sesuatu supaya aku dan Nella nggak jadi cerai, kan? Jadi Papa berpura-pura bilang Nella hamil?" Rizky benar-benar tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh mertuanya, jelas dia juga tahu jika Nella itu minum pil KB, bahkan sejak sehari setelah datang bulan lalu bercinta dengannya.
"Siapa yang merencanakan sesuatu? Papa ini bicara serius."
"Tapi kok Nella bisa hamil, sih? Aneh sekali." Rizky mengusap dahinya.
"Astaga Riz! Kenapa kau begitu menyebalkan, sih?" Sofyan sedari tadi mencoba untuk bersabar, walau aslinya dia begitu geram pada Rizky. Namun lama-kelamaan ucapan pria tampan itu seperti ngelantur kemana-mana. "Jelas Nella hamil, 'kan kau yang membuatnya! Oh ... apa jangan-jangan kau nggak senang kalau Nella hamil, ha?" berang Sofyan. Jari telunjuknya sudah menodong tepat di depan wajah Rizky yang mana membuat pria tampan itu menggeleng cepat.
"Aku senang, malah sangat senang! Tapi bukannya Papa juga tahu Nella itu diKB? Itu yang membuatku bertanya tadi," terang Rizky. Dia tak mau Sofyan salah paham padanya. Padahal memang Rizky aslinya senang, bahkan ingin berjingkrak-jingkrak.
"KBnya kadaluarsa, jadi kecebongmu berhasil masuk."
Mata Rizky langsung berbinar, bibirnya menggembungkan senyum dengan lebar. "Alhamdulilah ... berarti aku dan dia nggak jadi bercerai dong, Pa? Aku bahagia sekali!"
Sangking senangnya Rizky langsung memeluk Sofyan dan menciumi pipinya, tidak peduli papa mertuanya itu bau asem karena belum mandi.
"Lepas! Aku sedang menyetir!" Sofyan menghentakkan dada menantunya hingga kepala Rizky terbentur kaca. Setelah itu, gegas dia mengusap kasar pipinya bekas bibir Rizky tadi.
"Papa kasar sekali ya ampun." Rizky memegangi dahinya yang terasa berdenyut. Benturan tadi lumayan keras, namun untungnya tidak sampai berdarah, hanya merah saja.
"Lagian kau banyak tingkah, Papa ini sedang menyetir tahu nggak, sih?!" gerutu Sofyan, emosi di dadanya sudah mulai naik, Rizky benar-benar membuatnya naik darah.
"Iya iya, maaf ... aku terlalu bahagia sepertinya, Pa." Rizky menyentuh dadanya mungkin tepat pada hati, dia merasa banyak sekali bunga yang tumbuh didalam sana. "Aku tidak menyangka ... sebentar lagi aku jadi seorang ayah. Aku benar-benar perkasa 'kan, Pa?"
Sofyan membuang nafas gusar, mencoba meredakan emosinya sendiri. Dia harusnya ikut menyambut kebahagiaan menantunya. "Iya, kau memang perkasa. Papa percaya. Tapi ada masalah di sini, Riz."
"Apa masalahnya?"
jangan lupa like dan komentar
Terima kasih juga buat yang kasih vote dan hadiahnya 🤗
__ADS_1
Yuk follow IG Author: @rossy_dildara