
Area 21+
"Mana ada kodok loncat, Riz." Sofyan terkekeh, entah yang dia pikirkan Rizky hanya mengarang saja. "Papa sudah punya koleksi gaya baru, nanti dicoba satu-satu."
Wajah Maya tampak binggung mendengar Sofyan yang tengah mengobrol, jujur saja dia tak mengerti maksud dari pembahasan mereka.
'Yang penting jebol saja dulu, gaya mah gampang,' batin Sofyan.
"Sudah, ya. Papa tutup teleponnya."
"Iya, kalau Papa kesulitan hubungi aku, ya?"
"Oke."
Sofyan langsung mematikan sambungan telepon itu, lalu melemparkan ponsel Maya ke atas sofa. Cepat-cepat dia naik ke atas tubuh gadis itu, Maya sudah menarik napasnya dalam-dalam. Lalu perlahan membuangnya dan Sofyan pun langsung meraup bibirnya dengan lembut.
Cup~
Kedua tangan Sofyan langsung menyingkap selimut dan meraba dadanya, salah satu lengannya menuju punggung untuk melepaskan pengait bra. Tetapi dia terlihat kesusahan.
"Bantuin bukain, May. Kok susah sekali," ucap Sofyan disela ciuman itu, dia meminta bantuan Maya kemudian melanjutkan lagi ciumannya.
Maya mengangguk lalu meraih punggungnya sendiri, dan perlahan melepaskan bra miliknya.
Melihat dua gunung kembar itu sudah tak ada lagi menutup, Sofyan sangat bersemangat untuk segera meremmasnya dengan gemas. Lalu menurunkan kepalanya ke arah sana dan menyesap salah satunya.
Cup~
"Aahh!" Maya membulatkan matanya, dia merasakan sensasi geli-geli tak karuan saat merasakan sentuhan bibir Sofyan yang begitu lihai bermain pada puncak dadanya. Menyesap dan melummatnya dengan kasar dan silih berganti.
'Ini enak. Kencang dan manis,' batin Sofyan.
'Pak Sofyan seperti bayi tua, kenapa dia seperti ini? Geli sekali rasanya.' Maya memejamkan matanya sambil mengigit bibir bawahnya. Namun tak dipungkiri, dia merasakan sensasi kenikmatan yang dilakukan oleh Sofyan. Pria berumur itu benar-benar sangat pandai untuk membuat aliran darah Maya berdesir sangat cepat.
"Aahh!" Kembali Maya mendessah kala puncak dadanya dipilin lembut oleh suaminya, selanjutnya Sofyan mencoba melepaskan kancing celana bahannya. Tetapi terjeda lantaran bunyi ponsel berdering.
Ponsel itu bukan berasal dari ponselnya Maya, tetapi ponselnya Sofyan. Namun pria itu tak menghiraukannya, dia tak peduli karena tak ingin diganggu.
Setelah melepaskan celana bahan istrinya, Sofyan langsung meraba CD berwarna hitam dengan motif brukat bunga-bunga itu. Tangannya hendak menariknya ke bawah, tetapi ditahan oleh Maya.
__ADS_1
"Aku malu," ucap Maya dengan suara yang tertahan.
Sofyan mendongakkan wajahnya ke arah Maya. Wajah pria itu terlihat merah karena terselimuti kabut gairah. Miliknya juga sejak tadi berkedut-kedut, ingin sekali dia cepat-cepat bertemu dengan lahan sempit yang masih bersegel itu. "Malu kenapa? Aku pernah melihatnya, May."
"Tapi aku malu, harusnya dicukur dulu." Maya marapatkan kakinya.
"Kenapa harus dicukur? Nggak terlalu lebat kok, aku pernah melihatnya."
"Tapi aku ...."
"Tutup mata saja kalau malu." Sofyan menutup mata Maya dan gadis itu langsung memejamkan mata. Kembali dia mencoba untuk menurunkan CD istrinya, tetapi lagi-lagi lengannya dicekal oleh Maya.
"Tapi bulunya kriting, aku malu. Izinkan aku mencukurnya dulu sebentar." Maya langsung duduk dan melilitkan selimut pada tubuhnya. "Pinjamkan aku cukuran Ayank." Maya menadah tangan ke arah Sofyan.
Maya merasa tak pede, wajar saja sebab dia sempat melihat sekilas milik suaminya tanpa bulu. Memang tadi saat mandi pria itu mencukur kembali bulunya.
"Nggak perlu cukur deh, May. Lagian aku nggak masalah." Sofyan menggeleng, dia meraih selimut yang berada di tubuh istrinya, tetapi Maya sepertinya seolah menahannya.
"Aku ingin cukur dulu sebentar Ayank. Aku malu."
Sofyan berdecak kesal sambil geleng-geleng kepala, dia pun bangun lalu membuka laci nakas dan memberikan alat pencukur yang masih berbungkus plastik ke tangan istrinya.
"Ini, jangan lama-lama dan jangan dibuat gundul, ya?" pinta Sofyan.
*
*
Tiga puluh menit sudah Maya berada di kamar mandi, tetapi belum keluar juga. Milik Sofyan yang sejak tadi menegang dan besar kini menjadi berkerut dan kecil karena terlalu lama menunggu.
"May! Kenapa lama sekali?!" pekik Sofyan seraya berjalan menuju pintu kamar mandi lalu mengetuknya. "Cepat keluar, May. Aku sudah nggak tahan!"
Ceklek~
Akhirnya Maya keluar dari kamar mandi, dia berjalan perlahan naik ke atas kasur sembari meletakkan alat pencukur di atas nakas. Sofyan langsung menghampirinya.
"Maaf lama, Ayank."
"Nggak apa-apa, tapi nggak dibuat gundul 'kan punyamu?" Sofyan langsung menyingkap selimut pada tubuh istrinya, lalu melemparkannya ke bawah. Miliknya sudah kembali berdiri saat melihat tubuh setengah telanjang itu.
__ADS_1
"Aku sisakan sedikit, Yank," jawabnya sambil membuang napasnya kasar. Dia berusaha menghilangkan rasa takut dan geroginya.
"Nggak apa, lagian aku malah lebih suka yang berbulu, May." Sofyan membantu Maya untuk berbaring kembali, dilihat tubuh gadis itu seketika menegang. "Rileks saja, May. Aku nggak akan gigit. Kamu nggak perlu takut."
"Iya." Maya mengangguk, lalu perlahan memejamkan matanya. 'Tenang, May. Katanya hanya sakit sebentar dan lama-lama akan enak. Pak Sofyan nggak mungkin bohong, kan?' batinnya.
Sofyan sudah sangat penasaran sekali ingin melihat rawa indah milik istrinya, cepat-cepat dia pun menarik CD berenda itu. Dan kedua matanya langsung menatap takjub.
Masih ada yang tertinggal dan bekas cukurannya pun tak rata, tetapi itu justru makin memperindah penampilannya. Perlahan Sofyan membelainya dengan jari jemarinya, salah satu jari tengahnya dia masukkan ke dalam sana pelan-pelan.
Maya terlihat pasrah tetapi makin lama tubuhnya melikuk-likuk kala jari Sofyan makin mempercepat gerakannya maju mundur.
"Aahh!" Desah seksi itu langsung lolos di bibir merah mudanya, cepat-cepat Sofyan naik ke atas tubuh gadis itu lalu meraup kasar bibirnya.
'Apa yang sedang Pak Sofyan lakukan? Kenapa tubuhku menjadi tak karuan begini? Tapi rasanya enak,' batin Maya.
Dia merasakan tubuhnya seperti tersengat listrik, darahnya mengalir begitu cepat dan keringat pada seluruh tubuhnya langsung keluar.
"Aah ... aku, Ayank ...." Mata Maya sudah sayup, merah dan dipenuhi kabut gairah. Dia seperti menahan sesuatu yang bergejolak di dalam tubuhnya.
"Keluarkan Sayang ...." Sofyan tersenyum menyeringai, dia makin menjadi-jadi menarik ulurkan jari tengahnya. Milik istrinya itu sudah sangat basah dan itu makin membuat gairahnya menggebu-gebu.
"Aku ... Aku ... Aahhh." Maya menahan tangan Sofyan untuk menghentikan aktivitas liarnya, dan seketika miliknya berkedut-kedut. Mengeluarkan cairan yang sejak tadi akhirnya berhasil terlepas.
"Eeemm ...." Bibir Maya langsung dilahap oleh Sofyan, dia melummatnya dengan rakus dan sangat puas saat melihat istrinya telah berhasil mencapai pelepasan.
"Bagaimana rasanya? Apa enak?" tanya Sofyan, dia mengecupi seluruh wajah Maya yang sudah berkeringat. Deru napas gadis itu terengah-engah. "Enak nggak? Kok diam saja?"
Maya langsung merona, dia mengangguk kecil sebagai jawaban.
"Ini belum seberapa, baru tangan yang masuk. Belum yang Jumbo." Sofyan terkekeh. "Apa sudah siap, May? Apa bisa aku memasukkannya?" Tangan Sofyan masih setia membelai inti tubuh istrinya, sudah basah dan sangat lembab.
"Pelan-pelan, 'kan?" pinta Maya dengan wajah takut.
Sofyan mengangguk kecil sambil tersenyum. "Iya, pelan-pelan. Kalau sakit kamu tinggal bilang saja."
Maya menelan saliva, dia menatap wajah suaminya yang kini berada di depan wajahnya. Pria itu sudah membuka kedua pahanya lebar-lebar.
Senjata yang berukuran super itu terlihat begitu kokoh, tegang dan berurat. Sungguh membuat bulu kuduk Maya berdiri.
__ADS_1
Sofyan mengusap-usapnya terlebih dahulu, memberikan gesekkan yang mana membuat Maya merem melek.
"Siap, May? Aku masukkan sekarang, ya?" Sofyan mengarahkan helm senjatanya pada inti tubuh gadis itu. Perlahan dia menekannya dan seketika mata Maya melotot.